Waspadai: Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug: PEMBANTAIAN!


(Link : Http://betawi-jaya.mywapblog.com)

Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug!

by Doel Rempug Master on 03:12 PM, 25-Mar-12

Salinan email milis FBR & Pemuda jihad Indonesia
(Rempug-admin@RoemahRempug.org)

Dewan Betawi Rempug wrote:

Bakar ormas Key dan CINA BEKINGNYA, bantai dan abisin aje dari pulau Jawa, tundukan ormas Hindu sesat, salbis ISA anjing, ormas Budha Bangsat, Lumatkan ormas CINA anjing lintah negara, Bante ormas ambon , ormas timor , ormas papua , BETAWI JAYA SELALU!!

Terutama darahnye kaum CINA Kafir halal untuk di minum saatnye kite goncang JAKARTE dan tumpahkan darah kafir CINA, Hindu, Budha sesat dan PEMUDA KEY yang merusak bangsa dimane2!! Ayo bersatu bangkitkan Jihad Islam!

SUDAH SAATNYE ANAK BETAWI BANGKIT!! ANJING CINA DAN AMBON KEY, BATAK DAN BUTON KITE BANTE HABIS DARI JABOTABEK!!!

TGL 27 MARET 2012 JAM 6
ANGGOTA REMPUG & PEMUDA JIHAD FPI WAJIB HADIR DI TEMPAT YANG DISEPAKATI KITE SIAP BIKIN
CINA & PARA KAFIR ANGKAT KAKI DARI JAKARTE! SESUAI HIMBAUAN KEPUTUSAN REMPUG DAN PEMUDA JIHAD SE-JABOTABEK.

Buat teman2 smua hati2 yah…pray for Indonesia .

PPP: Bubarkan Ahmadiyah pertahankan FPI


Sumber: WASPADA ONLINE

JAKARTA – Pro kontra terhadap Ahmadiyah terus bergulir. Partai Persatuan Pembangunan menuntut Jemaah Ahmadiyah dibubarkan tetapi meminta pemerintah mempertahankan organisasi massa Front Pembela Islam (FPI).

“PPP tak setuju apabila FPI dibubarkan. FPI adalah aset bangsa. Pemerintah tidak akan tenang bekerja apabila FPI dibubarkan,” kata Ketua Fraksi PPP yang juga Ketua DPP PPP, Hasrul Azwar, petang ini.

Hasrul menekankan, FPI juga merupakan salah satu elemen masyarakat yang di dalamnya tersimpan aspirasi grassroot. PPP berpendapat, pemerintah sebaiknya berkoordinasi dengan FPI bila ada hal-hal yang dirasa mengganjal. “Jadi pemerintah seharusnya membina, bukan membinasakan FPI,” kata Hasrul.

PPP pun meminta pemerintah merespons dan menindaklanjuti sikap kritis FPI. Di sisi lain, PPP meminta FPI  tidak melakukan tindakan melawan hukum. “Ini adalah sikap tegas PPP. Pemerintah pun harus berani bersikap tegas,” ujar Hasrul.

Sebelumnya, FPI sempat membuat heboh karena jajaran pimpinannya menyuarakan penggulingan Presiden, apabila pemerintah sampai berani menghancurkan ormas Islam, termasuk FPI. Presiden Yudhoyono pun telah menanggapi ancaman FPI. Ia meminta FPI untuk tidak main ancam seperti itu.

Selain meminta pemerintah mempertahankan FPI, PPP juga meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah. “PPP secara resmi meminta kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden, untuk membubarkan organisasi Ahmadiyah dan menyatakan aliran Ahmadiyah terlarang,” kata Hasrul. Menurutnya, berdasarkan UU, Presiden memiliki kewenangan untuk membubarkan suatu organisasi dan menyatakan suatu aliran terlarang.
Editor: HARLES SILITONGA
(dat05/viva)

Mengancam Pemerintah = Menentang Konstitusi


Selasa, 22 Februari 2011

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra menilai pihak yang mengancam pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah adalah bertentangan dengan konstitusi. “Pemerintah tidak bisa diancam oleh kelompok manapun, dan jika ada yang mencoba mengancam maka hal tersebut merupakan makar berbahaya yang harus diatasi,” kata Azyumardi di Padang, Selasa, menanggapi  ormas yang mengancam merevolusi pemerintah jika tidak membubarkan Ahmadiyah pada 1 Maret 2011.

Menurutnya, pemerintah harus menegakan otoritas yang dimilikinya untuk terciptanya kehidupan yang tertib di masyarakat.

“Jika ada pihak yang mencoba mengancam pemerintah harus ditindak tegas karena hal itu adalah makar,” tegasnya. Ia menambahkan, pemerintah juga harus tegas membubarkan ormas anarkis dan meresahkan.

“Pembubaran tersebut dapat dilakukan setelah diproses oleh pengadilan dan merupakan keputusan yang memiliki kekuatan hukum,” katanya.

Dia memperkirakan ormas berprilaku anarkis jumlahnya hanya 10 persen dari seluruh ormas Islam.

“Dalam menegakan kebaikan seharusnya dilakukan dengam cara-cara yang baik dan tidak bertentangan dengan aturan hukum,” kata Azyumardi.

Dia meminta pemerintah untuk tidak memberi peluang sedikit pun kepada masyarakat yang tak memiliki kewenangan menjalankan hukum.(*)
(Antaranews.com)

Nietzsche: Jangan Jadi Kaum Dombawi


Ardus M Sawega

Lalu,/seketika,/menukik lurus,/dengan cakar terhunus,/mencengkeram domba-domba,/dengan lapar membara,/berahikan domba,/masgul pada segala-jiwa domba,/masgul murka pada segala airmuka/yang budiman, dombawi, dungu,/bersifat gumpan bulu,/dan baik budi susu dombawi… (Cuma Pandir! Cuma Penyair!)

Berthold Damhauser (58), pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan editor Seri Puisi Jerman, pada Pembacaan Puisi-puisi Friederich Nietzsche, ”Syahwat Keabadian”, di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (17/2) malam, ditodong pertanyaan, apa yang relevan dari pokok-pokok pemikiran Nietzsche dengan situasi di Indonesia masa kini?”

Nietzsche mengecam manusia-domba dan sikap beragama yang dombawi. Kaum dombawi adalah gerombolan massa. Manusia bertindak seperti domba, dungu, tak bisa berpikir mandiri, dan mudah digiring untuk berbuat kejahatan. Ia mengimbau agar kita hidup dan berpikir mandiri, tidak mudah dipengaruhi atau diperintah orang lain,” jawab Damhauser.

Antusiasme audiens mengikuti acara pembacaan puisi dan diskusi mengiringi peluncuran kumpulan puisi ”Syahwat Keabadian” di Solo—dari rencana acara serupa di lima kota (Semarang, Solo, Magelang, Jakarta, Tanjung Pinang)—menunjukkan apresiasi kalangan terpelajar Indonesia terhadap Friederich Nietzsche (1844-1900).

Nietzsche adalah filsuf Jerman yang pemikirannya punya pengaruh dan berdampak besar pada jagat filsafat dan perkembangan pemikiran di dunia, sejajar dengan Karl Marx dan Sigmund Freud. Selain sebagai filsuf, Nietzsche sebenarnya juga seorang penyair besar. Bahkan, intisari pemikiran filosofisnya banyak ditemukan pada karya-karya puisinya, yang jumlahnya tak kurang dari 500.Menurut Damhauser, di Indonesia, Nietzsche kurang dikenal sebagai penyair. ”Nietzsche membuat pembaruan pada sastra Jerman. Puisi-puisinya menunjukkan kebebasan berbahasa, tetapi sekaligus mengenalkan metafora-metafora baru sehingga menciptakan bahasa sastra yang luar biasa indah. Ia bisa disebut sebagai maestro bahasa setelah Martin Luther dan Johann Wolfgang von Goethe,” kata Damhauser.

Ateis

Karya pemikirannya yang paling menggemparkan dan mengguncang dunia adalah pernyataan: ”Tuhan sudah mati”. Namun, menurut Damhauser, walau Nietzsche seorang yang ”100 persen ateis”, sebenarnya pemikiran tersebut bukan yang pertama kali. Di Jerman, pada saat itu kepercayaan tentang Tuhan memang sudah hilang atau memudar.

Damhauser menuturkan, sejak usia 15 tahun, Nietzsche telah menulis berbagai pemikiran, selain puisi, dan semakin dewasa pemikirannya semakin luas dan liar.

Di mata Agus R Sarjono, editor Seri Puisi Jerman, Nietzsche adalah filsuf sekaligus penyair yang justru paling intens bergumul dengan tema ketuhanan. Dia menjalani banyak tahapan pengenalan sejak dia menjadi calon rahib yang didera demam rindu pada Tuhan, sebelum sampai pada pernyataannya, ”Tuhan sudah mati”.

Simak puisi yang dia tulis saat usia 18 tahun, ”Engkau Memanggil, Tuhan, Kuhampiri”: Engkau memanggil:/ Tuhan: aku bergegas/Dan kini mendamba/Di tangga singgasanaMu/Alangkah ramah/Menyakitkan/Berkilau menembus kalbu:Tuhan kuhampiri… (dari kumpulan Kepada Tuhan yang Tak Dikenal).

Damhauser menyebutkan, walaupun Nietzsche tidak percaya pada akhirat dan metafisika, ia percaya akan roh di seberang kebendaan. Namun, sikap transendentalnya itu ia tuangkan ke dalam keduniaan, keimanenan.

Nietzsche pada dasarnya ingin menebarkan sikap skeptis terhadap apa saja, termasuk tentang kebenaran karena tidak ada kebenaran yang mutlak. Pandangan itu mengkristal dalam mahakaryanya, ”Demikian Sabda Zarathustra”. Melalui tokoh fiktif Zarathustra, Nietzsche ingin menafikan dikotomi tentang baik dan jahat.

Ia juga menolak moralitas nasrani, rasa iba hati, cinta kepada sesama. Namun, menjelang akhir hidupnya, saat dia mulai dihinggapi penyakit jiwa, mendadak ia menunjukkan sikap iba hati. Di Turin, ia memeluk kuda yang dilecuti oleh majikannya.

Walau dia dikenal sebagai ateis dan menolak moralitas agama, beberapa pemikirannya menunjukkan bahwa Nietzsche percaya pada ”keberulangan abadi”, semacam konsep reinkarnasi dalam agama Timur.

Simak sepenggal puisinya, ”Tujuh Materai”, yang dibacakan secara bergantian oleh Berthold Damhauser, Dorothea Rossa Herliany, dan Sosiawan Leak: ….Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian/ dan cincin kawin segala cincin,/ –cincin Sang Keberulangan!// Tak pernah kutemukan perempuan/ yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,/ kecuali perempuan yang kucintai ini:/ karena kucintai kau, oh Keabadian!//.
(Ardus M Sawega, wartawan di Solo)

(Kompas cetak, 20 februari 2011)

Bukan Cerminkan Kegagalan Negara


Sekretaris Kabinet Dipo Alam menegaskan, insiden penyerangan terhadap sejumlah santri di Pondok Pesantren Al’ Ma’hadul yang beraliran syiah di Kecamatan Beji, Pasuruan, Jawa Timur, pada awal pekan ini, tak mencerminkan negara gagal dalam melindungi warga negaranya.

Sebelum ini, ada pula insiden tindak kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, yang memakan tiga korban, serta perusakan gereja di Temanggung, Jawa Tengah. “Kejadiannya kan cuma tiga gitu lho. Tapi kenapa dikatakan Indonesia gagal (melindungi warga negaranya)? Jumlahnya berapa? Jumlahnya kan tiga (insiden), dari 237 juta penduduk,” kata Dipo kepada Kompas.com, Jumat (18/2/2011).

Dipo, yang merupakan bagian dari pemerintah, justru mengaku bertanya-tanya mengapa ada insiden tindak kekerasan antarumat beragama marak terjadi belakangan ini. “Kok dalam waktu dekat ada 3 kejadian, yaitu Ahmadiyah, (perusakan) gereja, insiden antara umat islam. Saya jadi bertanya-tanya. Ini keliatannya setelah tokoh lintas agama ini menggunakan, membawa-bawa agama. Saya berbalik tanya, kenapa kayak gini,” kata Dipo.

Dipo menegaskan, pemerintah pusat tak sepenuhnya bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di daerah. “Yang harus paling tahu itu adalah tokoh agama di sana. Mari tokoh agama di sana juga tidak ikut memanas-manaskan. Kemudian juga komandan teritorial, kapolres, camat, bupati, DPRD. Kan tidak bisa semuanya apa-apa SBY harus tahu semua, dan yang demo di Istana,” kata Dipo.

Mantan aktivis pada tahun 1970-an ini pun meminta semua pihak tak membesar-besarkan insiden di Pasuruan ini. “Kita tak usah memperbesar hal ini. Kan perang Irak sama perang Iran 8 tahun antara Sunni-Syiah. Ini contoh betapa menderitanya. Iran negara pemilik deposit gas terbesar di dunia setelah Rusia. Ekonominya seperti itu karena perang 8 tahun. Apa kita mau kayak gitu,” kata Dipo. (Kompas.com)

Din Syamsuddin: Kerusuhan Diskenario untuk Diskriditkan Tokoh Agama


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mendesak aparat kepolisian menangkap dan mengambil tindakan tegas terhadap dalang tindak kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah.

“Saya sangat prihatin dengan peristiwa-peristiwa kekerasan ini. Tindak kekerasan tidak dapat ditolerir,” katanya usai pengukuhan Pengurus Muhammadiyah Wilayah Kalimantan Tengah, di Palangka Raya, Kamis.

Diungkapkannya, ada beberapa efek yang ingin diperlihatkan oleh dalang kekerasan itu yakni Islam merupakan agama yang keras, tidak toleran dan tidak ramah. Ini adalah suatu upaya untuk mendeskreditkan Islam.

Gerakan itu, ia anggap juga untuk mendiskreditkan tokoh agama, seolah-olah semua yang terjadi atas nama agama, seakan ada pesan yang mau disampaikan, bahwa tokoh-tokoh agama tidak mengurus umatnya.

Ia meminta agar pihak keamanan segera mengusut tuntas dan menemukan aktor intelektual di belakang peristiwa tersebut, karena Agama Islam secara tegas melarang segala bentuk kekerasan.

Dari beberapa kejadian, ia menilai ada semacam rekayasa dan tindak kekerasan terencana, sehingga harus ditemukan aktor intelektual di balik semua peristiwa tersebut.

Dituturkannya apa yang terjadi di beberapa daerah jelas mengganggu stabilitas Indonesia, dan sangat mungkin dilakukan orang-orang yang tidak suka Indonesia stabil, dinamis, maju dan berkembang.

Ia mengimbau, umat Islam agar tidak mudah terprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan.

“Saya tidak berada pada posisi yang bisa menjelaskan siapa tokoh di balik tindak kekerasan tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak dari luar Indonesia yang tidak suka dengan kestabilan Indonesia, jika dihubungkan dengan efek ketiga,” ucapnya.

Oleh karena itu, sekali lagi ia meminta, agar seluruh Bangsa Indonesia, khususnya umat beragama terutama Islam, agar mampu menahan dan mengendalikan diri serta tak terjebak pada provakasi dan hasutan.

Selain itu juga, bagi dalang di dalam negeri yang memprovokasi masyarakat luas, agar menghentikan niat buruknya, karena bertentangan dengan nilai agama serta akan merugikan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ia menyatakan dengan kejadian di beberapa daerah itu, seluruh pihak agar tidak perlu saling menyalahkan dan saling menyudutkan satu sama lain, tapi yang paling penting Pemerintah jangan melakukan pembiaran atau pengabaian.

“Karena sekali Pemerintah melakukan itu dan tidak adil menyelesaikan masalah ini, maka kasus seperti itu akan terulang lagi di masa mendatang,” ujarnya.
(Republika.co.id)

Mengancam Presiden Adalah Makar


Kamis, 17 Februari 2011

Mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto mengemukakan ancaman menggulingkan pemerintah adalah bentuk makar.

“Itu jelas makar,” katanya di Jakarta, Kamis, di sela peluncuran buku “Keliling Indonesia dari era Bung Karno sampai SBY”.

Endriartono menegaskan segala bentuk ancaman terhadap presiden adalah makar. Dia menjelaskan, presiden adalah simbol negara sehingga jika ada yang mengancam presiden, hal itu sama dengan mengancam negara.

“Sebuah ormas yang mengancam presiden tidak perlu ditoleransi lagi,” ujarnya. “Jika memang terbukti anarkis, bubarkan saja.

“Menurut Endriartono, pemimpin harus tegas dan tidak boleh takut mengambil keputusan agar tidak menimbulkan kebimbangan.
(Antaranews.com)