Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian


Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian

Jakarta,15/8(Pinmas)–Guna mengurangi angka perceraian yang terus meningkat, perlu upaya pembekalan bagi calon pengantin melalui kursus pranikah. Pasalnya satu akar penyebab perceraian yang terbesar adalah rendahnya pengetahuan dan kemampuan suami istri mengelola dan mengatasi pelbagai permasalahan rumah tangga.

Demikian dikemukakan Dirjen Bimas Islam Prof Dr Nasaruddin Umar pada pembukaan pemilihan Keluarga Sakinah dan pemilihan Kepala KUA Teladan di Jakarta, Kamis malam (14/8). “Hampir 80 % dari jumlah kasus perceraian terjadi pada perkawinan dibawah usia 5 tahun,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, ketidakmatangan (immaturity) pasangan suami-istri menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya, mengakibatkan mereka kerap menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian ataspelbagai permasalahan di usia perkawinannya yang masih “balita”.

Ia juga menjelaskan, angka perselisihan cenderung meningkat. Data yang diperoleh hingga tahun 2005, dari 2 juta rata-rata peristiwa perkawinan setiap tahunnya, 45 berselisih dan 12-15 bercerai. Peningkatan angka perceraian ini dapat berpotensi menjadi sumber permasalahan sosial.

“Korban yang paling merasakan dampaknya adalah anak-anak yang seharusnya memperoleh pengayoman dari perkawinan tersebut,” kata Nasaruddin.

Meski demikian, kata Dirjen, masih terdapat insane-insan yang demikian besar dedikasi, perhatian dan kepeduliannya kepada pembinaan institusi perkawinan dan keluarga. Mereka ini selama bertahun-tahun membaktikan hidupnya demi cita-cita mewujudkan ketahanan keluarga dalam masyarakat, sebagai pondasi penting dalam tatanan kehidupan berbangka dan bernegara.

“Kita tidak dapat membayangkan bagaimana bangsa ini kelak jika tidak lagi memiliki para Bapak dan Ibu yang setia berperan dalam penasehatan,pembinaan dan pelestarian perkawinan ini,” ujarnya.

Direktur Urusan Agama Islam Muchtar Ilyas mengatakan, tujuan kegiatan pemilihan adalah dalam rangka memotivasi keluarga muslim Indonesia agar berperan aktif dalam pembangunan keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Selain itu terpilihnya kepala KUA teladan di tanah air.

Adapun dewan juri pemilihan kegiatan yang berlangsung hingga 17 Agustus mendatang, yaitu Prof Dr Ahmad Mubarok, Prof Dr Arief Rachman, Prof DR Chuzaemah T. Yanggo, Prof Dr, Zaitunah Subhan, Dr Nurhayati Djamas, Drs Kadi Sastrowiryono, Drs, Ahmed Machfud, M.Mc dan Dra Zubaidah Muchtar. (ks)

Sumber: www.depag.go.id

Malaysia Larang Surat Kabar Katolik Menggunakan Kata “Allah”


Malaysia Larang Surat Kabar Katolik Menggunakan Kata “Allah”

Pemerintah Malaysia menghentikan sebuah surat kabar Katolik yang telah menggunakan kata “Allah” dalam edisi bahasa Melayu, redaktur surat kabar tersebut melaporkan Kamis lalu.

Romo Lawrence Andrew, redaktur majalah mingguan The Herald, mengatakan bahwa pemerintah menyuruh menghentikan terbitan edisi Melayu sampai pihak pengadilan menyelesaikan masalah mengenai larangan penggunaan nama “Allah” untuk merujuk pada Tuhan dalam surat kabar, menurut situs berita Malaysiakini.com.

Menteri Dalam Negeri Malaysia menurut laporan telah mengirimkan surat yang mengatakan bahwa surat kabar tersebut hanya diijinkan menggunakan edisi bahasa Inggris, Mandarin, dan Tamil. The Herald biasanya memiliki empat edisi, termsauk edisi bahasa Melayu.

“Larangan tersebut dinilai sebagai suatu bentuk penganiayaan,”ujar Romo Andrew kepada The Associated Press. “Hal tersebut juga telah membatasi kebebasan kami dalam berekspresi dan mengurangi hak-hak kami sebagai warga negara… Kami merasa dibingungkan akan hal ini dan kami tidak berpikir bahwa larangan tersebut sebagai suatu yang mendasar dan pasti.”

Andrew mempercayai larangan tersebut sebagai salah satu upaya pemerintah untuk membatasi surat kabar tersebut, yang mana merupakan surat kabar mingguan Katolik Roma terkemuka di Malaysia yang mayoritas penduduknya Muslim. Surat kabar tersebut baru saja memperbaharui ijinnnya pada Selasa lalu.

Tahun lalu, surat kabar tersebut hampir saja kehilangan ijin penerbitannya karena telah menggunakan kata “Allah” sebagai terjemahan untuk “Tuhan.” Pihak berwenang berpendapat bahwa kata “Allah” hanya digunakan oleh Muslim.

“Undang-undang Dasar Malaysia menyatakan bahwa Melayu merupakan bahasa nasional, oleh karena itu mengapa kami tidak diperbolehkan menggunakan bahasa nasional di Malaysia,”ujar redaktur surat kabar tersebut kepada Agence France-Presse.

Berdasarkan catatan banyak orang Katolik di Malaysia adalah “bumiputera” atau “putera asli daerah,” yang merujuk pada orang suku Melayu Muslim dan penduduk pribumi di semenanjung Malaysia dan di kepulauan Borneo yang kebanyakan dari mereka adalah Kristiani.

Larangan penggunaan bahasa Melayu untuk sebutan nama “Tuhan” dianggap tidak masuk akal karena sebagian besar orang Katolik di negara tersebut adalah orang bumiputera yang sebagain besar berbicara dalam bahasa Melayu, sanggah Andrew.

“Lebih dari 50 persen dari jemaat kami adalah orang bumiputera dan dua orang di antara uskup kami adalah orang bumiputera,”redaktur tersebut mengatakan.

Andrew mengatakan bahwa surat kabar tersebut telah mengirimkan surat permohonan kepada kementrian Jumat kemarin. Jika tidak ada jawaban dalam tujuh hari atau keputusan tersebut tidak dicabut, maka pihak surat kabar akan mempertimbangkan untuk membawa pemerintah Malaysia ke pengadilan atas tuduhan pelanggaran hak-hak agama minoritas.

Sementara itu putusan pengadilan mengenai larangan penggunaan kata “Allah” akan diputuskan oleh pengadilan bulan depan, menurut AP.

Malaysia, yang 60 persen penduduknya Muslim, memiliki sejarah yang panjang mengenai masalah kebebasan beragama. Beberapa Kristiani yang berkonversi dari Islam telah ditolak hak konversi agamanya dalam kartu penduduk mereka.

Pemerintah juga telah membatasi film Kristiani “The Passion of Christ” yang meledak di pasaran yang mana hanya boleh ditonton oleh Kristiani saja, dan Muslim di Malaysia juga telah menyerukan larangan atas “Evan Almighty.”

Secara umum dapat dikatakan, umat Islam menikmati hak istimewa di Malaysia sebagai agama yang paling dominan.


Ethan Cole
Kontributor Kristiani Pos

Sumber: http://id.christian post.com/dbase.php?cat=asia&id=304

Pernyataan Pers Peringatan 60 Tahun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 10 Desember & Penandatanganan Palermo Protocol 12 Desember


Pernyataan Pers Peringatan 60 Tahun Deklarasi Universal Hak Asasi
 Manusia 10 Desember & Penandatanganan Palermo Protocol 12 Desember: 
“Menuntut Negara Memajukan Penghormatan dan Perlindungan HAM dalam
 Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak”
 
 
Pada Desember 2008, dunia merayakan momen bersejarah 60 Tahun Deklarasi
 Universal Hak Asasi Manusia. Pada momen tersebut pula, negara
 diingatkan kembali pada tanggungjawab menegakkan HAM. Pada bulan Desember pula,
 tepatnya 12 Desember 2000, telah ditandatangani Protocol to Prevent,
 Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and
 Children atau Palermo Protocol. Kelahiran Palermo Protocol sebagai dokumen
 paling komprehensif dalam memandu negara-negara memerangi perdagangan
 orang terutama perempuan dan anak, patut diperingati sebagai cerminan
 komitmen bersama. Itu mengapa negara-negara di dunia memperingati Hari
 Penghapusan Perdagangan Orang pada tanggal 12 Desember. PBB memperkirakan
 bahwa sedikitnya empat juta orang menjadi korban perdagangan orang setiap
 tahunnya. 

Di Indonesia, Catatan Tahunan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada
 tahun 2004 teridentifikasi 562 kasus perdagangan perempuan. Penelitian
 Indonesia Against Child Trafficking pada tahun 2007 menunjukkan bahwa
 usia paling muda anak yang menjadi korban perdagangan adalah 13 tahun.
 Sebagai wujud komitmen penandatanganan Protokol ini pula, Pemerintah
 Indonesia mengundangkan UU No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak
 Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO). 

PBB telah merekomendasikan prinsip keunggulan HAM dalam penghapusan
 perdagangan orang. Diantaranya adalah hak asasi korban sebagai pusat dari
 seluruh upaya mencegah dan memberantas perdagangan orang serta untuk
 melindungi, membantu, dan memberikan ganti rugi bagi para korban; dan
 langkah-langkah yang diambil haruslah tidak berdampak merugikan HAM dan
 martabat manusia, khususnya korban.

Sayangnya, prinsip diatas belum sepenuhnya diakomodir dalam peraturan
 perundangan. Beberapa Perda memberlakukan prosedur ketat dan
 diskriminatif kepada perempuan untuk bermigrasi. Misalnya prosedur pemberian Surat
 Ijin Bekerja Keluar Daerah/Surat Ijin Bekerja Perempuan yang diberikan
 kepada laki-laki dan perempuan yang ingin bekerja keluar daerah
 (ketentuan yang diskriminatif untuk perempuan). Prosedur ini, jelas
 bertentangan dengan hak asasi perempuan yang seharusnya dijamin oleh Negara. 

Dalam konteks perlindungan anak, luputnya definisi perdagangan anak
 dalam UU PTPPO, mengakibatkan anak korban perdagangan tidak mendapatkan
 hak atas perlindungan. Dalam aspek akses terhadap keadilan, ketiadaan
 definisi perdagangan anak dalam UU PTPPO mengakibatkan terhambatnya proses
 pencarian keadilan bagi anak korban perdagangan. 

Oleh karena itu, bersamaan dengan Peringatan 60 Tahun Deklarasi
 Universal Hak Asasi Manusia, kami, INSTITUT PEREMPUAN, menyerukan agar: 

1.      Pemerintah menetapkan 12 Desember sebagai Hari Penghapusan
        Perdagangan Orang terutama Perempuan dan Anak.
2.      Pemerintah meratifikasi Palermo Protocol.
3.      Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengadopsi
         prinsip-prinsip HAM dan perlindungan anak dalam peraturan perundangan, program dan
        anggaran mengenai penghapusan perdagangan orang terutama perempuan dan
        anak.
 
 
Demi Keadilan, Kesetaraan, dan Kemanusiaan
INSTITUT PEREMPUAN
 
 
R. Valentina Sagala, SE., SH., MH.
Chairperson of Executive Board

Sudah Berprestasikah Anda?


SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?

Jika ditilik dari masa kerja, bias jadi anda sudah tergolong senior. namun bisakah anda menyebutkan apa saja prestasi yang sudah diraih selama ini? Apalagi jika anda ingin mengembangkan sayap menuju jenjang karir yang lebih tinggi, baik di perusahaan yang sekarang atau perusahaan yang lebih bonafit?

Deskripsi mengenai prestasi tentu akan jauh lebih menarik ketimbang deskripsi tugas yang selama ini digeluti.Bahkan, akan memberikan nilai tambah bila anda mencantumkannyadalam resume. Paling tidak, akan menunjukkan bahwa anda adalah seorang pekerja yang berkualitas.

Beberapa jenis prestasi yang sangat mungkin dicantumkan dalam resume, antara lain adalah:

Pencapaian target. Kumpulkan beberapa target tersukses yang pernah yang dibebankan oleh supervisor atau perusahaan kepada anda. Akan sangat mudah mendefinisikannya bila proyek itu merupakan target pribadi. Namun bila hal itu merupakan proyek keroyokan, maka definisikan konstribusi anda dalam pencapaian itu secara jelas.

Menepati tenggat waktu. Boleh dikata, hampir semua industri –terutama industri media- harus berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, jangan heran bila karyawan-karyawan yang mampu melaksanakan tugas dengan hasil yang berkualitas dan tepat waktu cenderung lebih dihargai. Cantumkan hal ini dalam resume bila anda termasuk salah satu orang yang disiplin dan menghargai waktu.

Kemampuan dalam memecahkan masalah. Dalam hidup -apalagi bisnis- pasti selalu saja ada masalah. Jika anda pernah menangani masalah pelik dalam bisnis dengan baik, tak ada salahnya jika hal tersebut dikemukakan dalam resume. Tentu saja tak sembarang masalah bisa dipaparkan dalam resume. Pilih yang memang layak untuk dikemukakan.

Kemampuan menangani beberapa tugas sekaligus. Mungkin banyak karyawan yamg bisa mengerjakan tugas dengan baik. Namun hanya segelintir yang mampu mengerjakan berbagi pekerjaan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kualitas yang tetap optimal. Jika anda termasuk salah satunya, biarkan hal tersebut muncul dalam resume.
Jika keempat hal ini ada pada diri anda plus seberkas sertifikat penghargaan sebagai buktinya, maka sudah sepantasnya anda disebut sebagai karyawan yang berprestasi. (AYA/Kompas/Klasika/ 22/20/2008)

GENGSI


GENGSI

Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untu perbaikan dan pengembangan diri, hamper selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga …” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008).

Kenapa Penerima Suap BI dari PKS Luput dari Perhatian Media?


From: abu matta <abumatta@xxx. com>
Date: 2008/8/5
Subject: [mediacare] Kenapa Penerima Suap BI dari PKS Luput dari
Perhatian Media?
To: mediacare@yahoogrou ps.com

Kasus aliran dana BI ke DPR menjadi berita hangat di media sepakan ini.
Bahkan beberapa media menulis daftar anggota DPR periode 1999-2004 yang
menerima duit lengkap dengan jumlahnya. Daftar itu memanjang dan
berurutan dari satu fraksi satu ke fraksi yang lain. Paskah Suzetta
dari Golkar misalnya ditulis menerima Rp 1 miliar. Lalu MS Kaban dari
PBB menerima Rp 300
juta.

Yang jadi pertanyaan, kenapa media tidak kritis kalau anggota DPR dari
PKS juga ada yang menarima. Dia adalah TB Soenmandjaja. Saat itu dia
bergabung dalam Fraksi Reformasi karena Partai Keadilan (sekarang PKS)
tidak cukup kuota menjadi fraksi sendiri. Semua perhatian media fokus
ke partai besar. Pada saat bersama PKS mengambil keuntungan dengan
teriak-teriak sebagai partai bersih.

Pada saat daftar ini muncul dari persidangan Hamka Yandhu, petinggi PKS
sempat kelimpungan dan bikin rapat mendadak di Mampang Prapatan. Tapi,
tidak ada media yang menulis esok harinya. Keresahan petinggi PKS
beralasan sekali. Bukan cuma berdampak pada citra partai, tapi TB
Soenmandjaja sekarang sedang menjadi calon Bupati Bogor yang diusung
PKS.

Kasus Bogor sangat menarik. Untuk pemilihan bupati, PKS mencalonkan
penerima suap BI. Sedangkan untuk pemilihan Wali Kota Bogor, PKS
mengajukan Ahmad Ru’yat sebagai calon
wakil wali kota. Padahal Ahmad
Ru’yat tersangkut kasus korupsi Wakil Wali Kota Bogor Ahmad Sahid yang
sekarang jadi tahanan rumah.

Apakah kasus korupsi PKS yang luput dari media ini merupakan hasil
operasi intelejen PKS yang dijalankan Soeripto? Semua tahu Soeripto
adalah anggota DPR dari PKS. Dia bekas petinggi BAKIN. Mari renungkan
bersama. Jangan sampai kita tertipu oleh pencintraan dan slogan-slogan
bersih yang dikampanyekan PKS.

salam,

abu matta

Abu Bakar Ba’asyir :Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs


Terkait rencana eksekusi terpidana bom bali
http://www.youtube. com/watch? v=DWN3IwXFlIg
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——
Abu Bakar Ba’asyir :
Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs
Wednesday, 30 July 2008

Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir menilai pemerintah Indonesia sangat dzolim jika jadi mengeksekusi mati para pelaku bom bali I. Hal ini dikarenakan pemerintah memberikan hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan Amrozi Cs. Pemerintah dianggap hanya melihat kasus tersebut secara kasat mata. Padahal menurutnya, pada kasus Bom Bali I semestinya dilihat siapa sebenarnya yang memiliki bom yang meledak pada waktu itu.

“Semua ahli bom baik dalam maupun luar negeri menyatakan bom yang meledak dan sampai membunuh banyak orang itu sebenarnya bukan bom biasa tapi mikronuklir,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan lewat internet di situs youtube.com. Video tersebut tercatat dirilis Sabtu (26/7) oleh seseorang yang menggunakan username rofiq1924.

Abu Bakar Baasyir meragukan bahwa Amrozi Cs dapat membuat bom yang memiliki daya ledak sebesar itu. Seraya mengutip pernyataan ahli bom dari Australia yang mengatakan bahwa kalau ada orang yang percaya bahwa Amrozi bisa membuat bom seperti itu bukan orang bodoh, tetapi idiot.

Ustadz yang pernah ditahan di dalam penjara karena kasus imigrasi ini mengaku pernah berdebat dengan pihak kepolisian. “Kalau polisi percaya Amrozi bisa membuat bom seistimewa seperti itu mestinya bukan ditahan tetapi menjadi penasehat militer, dijadikan dosen di sekolah militer mengajari untuk membuat bom tersebut,” ujarnya.

Abu Bakar Baasyir sepakat jika Amrozi Cs dihukum karena kesalahannya melakukan pengeboman yang mengakibatkan kerusakan dan luka-luka. Namun, ia tetap tidak percaya jika bom milik Amrozi bisa membunuh orang. Abu Bakar Baasyir mencurigai bom yang meledak itu milik CIA.

Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki Solo ini khawatir jika pemerintah Indonesia yang tidak takut Allah tapi takut pada George W. Bush ini nekad mengeksekusi mati Amrozi Cs akan mengakibatkan bala’ (bencana besar) yang ditimpakan oleh Allah SWT.

Menurutnya, Amrozi Cs bukanlah teroris namun justru kontra teroris. Mereka merupakan mujahid yang membela Islam dan kaum musliminin dari teror AS dan kawan-kawannya, hanya saja langkah mereka melakukan pengeboman itu keliru.

“Kalau tetap nekad mengeksekusi, jangan orang Islam yang ditunjuk jadi regu tembak eksekusi,” ujarnya menasehati Kapolri. Ia mengkhawatirkan jika orang Islam yang melakukan eksekusi akan mengakibatkannya murtad karena membunuh seorang pejuang Islam. “Tapi saya anjurkan mundur saja, jangan nekad mengeksekusi. Saya khawatir ada bala’ dari Allah kalau tetap nekad. Saya sudah memperingatkan!” pungkasnya.

[ihsan/www.suara-islam. com]