Semangat Imlek untuk Membangun NKRI


Sejak pencabutan larangan perayaan Tahun Baru Imlek oleh  almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid, semarak dan gaung perayaan tersebut bisa dirasakan dan dijumpai di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semakin tegas lagi, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Hari Tahun Baru  Imlek sebagai hari libur nasional pada tahun 2003.  Perayaan imlek semakin meriah dan mewarnai suasana kehidupan NKRI. Pengakuan pemerintah atas Hari Raya Imlek sebagai Hari Nasional (Keppres No.19 Tahun 2002) memperteguh amanat konstitusi yang menekankan Bhinneka Tunggal Ika.

Perayaan Imlek atau sering disebut juga Xin Nian, zheng yue, Sin Cia pada mulanya merupakan perayaan bagi perani Tionghoa pada awal musim semi. Dalam perjalanan waktu, bangsa Jepang, Korea, Vietnam dan lainnya ikut merayakan. 

Pemahaman Dasar

Menurut Pastor Agung Wijayanto SJ (Kompar, 24/01/2009 dan Kompas, 13/02/2010) merayakan imlek berarti merayakan kehidupan. Dalam pemahaman orang Tionghoa, hidup itu pada dasarnya baik dan indah. Ada beberapa pemahaman dasar orang Tionghoa tentang kehidupan. Pertama, hidup yang sejati bersumber dari kesucian, kebaikan dan keindahan. Pada kesempatan Imlek, mereka saling mengucapkan salam, berbagi makanan dan uang sebagai ungkapan syukur atas kemurahan Sang Sumber kehidupan.

Kedua, pengikat dan sumber daya kehidupan adalah kasih yang mengalir dan merasuki semua hal yang ada di alam raya (Dao) agar hidup itu menjadi baik dan indah. Pada perayaan Imlek, generasi muda langsung mengalami kebaikan dari yang lebih tua (menerima angpao/ hong bao = kasih sarana kehidupan). Yang muda mempersembahkan bai gui (hormat kepada pemberi kasih kehidupan). Pada kesempatan itu juga orang tua berdoa bagi kedamaian dan kesejahteraan baik mereka yang telah meninggal dunia maupun yang masih hidup di dunia.

Ketiga, hidup harus dirayakan di dalam kebersamaan dengan orang lain dan leluhur. Di sini diungkapkan peryaan syukur dan sujud kepada sumber-sumber pemberi kehidupan, kepada langit, bumi, leluhur, orang lain dan sumber kehidupan yang lain.

Di saat perayaan Imlek, kehidupan yang baik dan indah itu dirayakan, sehingga tali-temali persaudaraan diawetkan. Di sana semua doa dan harapan akan damai, selamat, sehat, lancar usaha dan reformasi ditegaskan.

Membangun NKRI

Kurang lebih tujuh tahun terakhir, kelompok etnis Tinghoa benar-benar percaya diri dapat  mengekspresikan identitas mereka melalui kesenian, kebudayaan, dan sosial politik. Adanya perasaan takut sebagai sisa peninggalan penjajahan dan perlakuan diskriminatif pemerintahan sebelumnya pelan-pelan mulai menghilang. Adanya pengakuan diri sebagai bagian dari NKRI mendorong  kelompok turunan juga semakin berani menunjukkan diri dalam hidup bernegara dan berbangsa dalam bingkai NKRI.

Sebagai bagian dari warga NKRI, etnis Tionghoa dan bersama semua kelompok suku bangsa lain di Indonesia memiliki tanggung jawab dan komitmen untuk pembangunan bangsa dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik dan keamanan.

Semua etnis di Indonesia seyogiyanya memberikan kontribusi dalam mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang maju, makmur-sejahtera, adil, demokratis dan bermartabat.

Segala praktek curang seperti korupsi, kolusi dan nepotisme dalam bisnis dan kehidupan bernegara, paham hidup eksklusivisme harus dibuang jauh dalam kehidupan bersama. Kesetaraan dan kesamaan hak adalah prinsip kebersamaan. Semangat solidaritas dan setia kawan perlu dibangun. Apalagi menurut keyakinan orang Tionghoa, tahun 2010 adalah Tahun Macan, dimana banyak tantangan dan peluang. Harapannya tidak terjadi lagi peristiwa Mei 1998 dimana tehun itu merupakan Tahun Macan.

Semangat dan perayaan imlek yang dipandang oleh kelompok keturunan sebagai semangat dan perayaan kehidupan yang baik dan indah amat relevan  dan tepat menjadi semangat bersama dalam membangun NKRI yang lebih baik dan indah. Hidup yang baik dan indah itu tampak bila hidup dirayakan dalam kebersamaan di dalam solidaritas dan perjuangan mewujudkan NKRI yang damai, sehat, sejahtera dan adil serta bermartabat. Semoga. (Pormadi Simbolon, ditulis pada bulan Februari 2010)

arti simbol imlek/ capgomeh/ sin cia


PESTA RAKYAT – CAPGOMEH

PENDAHULUAN

Hari Raya Capgomeh, sebagai akhir dari serangkaian Hari Raya Tahun Baru Imlek, tahun ini jatuh pada tanggal 9 Pebruari 2009. Capgomeh sebagai bagian terpenting dan titik klimaks dari pesta agama yang oriental (bersifat ke timuran). Hari Raya Imlek dan teristimewa Capgomeh sejak abad ke 19 sampai perang dunia ke II pecah, boleh dikatakan telah menjadi pesta rakyat semua golongan. Bahkan keadaan demikian itu sampai tahun 1955 di Bogor, Sukabumi, Jakarta Kota, Jatinegara mau pun Tangerang masih terlihat sebagai pesta agama yang merakyat menjadi milik semua golongan. Orang-orang yang berusia di atas 55 sampai 65 tahun tentunya dapat banyak bercerita tentang pesta agama yang nyaris menjadi pesta rakyat itu.

Walau pun Capgomeh sebagai titik klimaks pesta Tahun Baru Imlek di Semarang sudah jarang dirayakan, tetapi tentu tidak salah jika kita mengintip sejenak sebagai “kuriosita” (sebagai keingintahuan) saja, mumpung belum dimuseumkan.

HARI RAYA TIMUR PURBA

Hari Raya Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009 merupakan Hari Raya Agama Paleo-oriental (Timur Purba) yang berazaskan pada mite dan kosmogoni (kepercayaan tentang penciptaan alam semesta berserta seluruh isinya oleh Tuhan Yang Maha Esa). Paleo-orientalisme itu universal, merupakan kepercayaan dan agama yang dianut di dunia lama yang bersifat Asiatic dan Oceanic sekaligus. Namun di banyak bagian dunia lama itu kemudian menyimpang, maka kepercayaan dan agama yang pada mulanya berazaskan mite dan kosmogoni itu sekarang hanya tinggal dan terdapat di Asia Timur dan tercecer di kawasan Pasific.

Maka Hari Raya Tahun Baru Imlek ini merupakan perayaan yang memperjuangkan atau berusaha mengarah untuk bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa berazaskan mite dan kosmogoni sebagai “Kejadian” (Genesis) dan “Realita Suci” yang diakui. Hari Raya Tahun Baru Imlek atau biasa disebut Sincia merupakan Pesta Awal Musim Semi yang mengandung semua anasir pergantian tahun. Pesta Tahun Baru ini juga merayakan hidup kembalinya alam semesta, yang sebelumnya dalam keadaan mati selama musim dingin yang gelap dan suram itu, yang seolah-olah mendapat jiwa yang baru, maka umat Tuhan merasa girang, dan kegirangan itu yang menjadi asal-usul Perayaan Tahun Baru oleh bangsa Tionghoa.

Hari Raya Tahun Baru bukan merupakan Hari Lahir yang historik nostalgis yang mengenang kejadian sejarah, tetapi merupakan reaktualisasi kejadian Cosmogony Mytical (Pembabaran Jagad Raya) yang bertujuan untuk mendapatkan pembebasan, pembetulan, penertiban, penyembuhan, pensucian, permurnian, peremajaan dan pembaharuan yang kita ringkas saja artinya menjadi “Kembali pada yang orisinil”. Yang orisinil (asli) itu tidak lain ialah “Awal mula dan Asal usul” yaitu Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

Maka yang menciptakan Hari Raya Tahun Baru itu bukan manusia tetapi Tuhan sendiri yang menjadi arkhitekNya, sedangkan Pembabaran Langit dan Bumi itu merupakan penjabaran denahNya yang dipakai untuk landasan Hari Raya Tahun Baru, bahkan merupakan pedoman tata krama dan agama Timur yang melibat, melingkupi dan mengatur segala kebutuhan hidup manusia dalam daur waktu dan jagad yang dikeramatkan itu.

Maka Hari Raya Tahun Baru dan tak terkecuali Hari Raya lainnya, kesemuanya adalah dari dan mengarah kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian semua sarana atau wahana atau perangkat nilai yang dipakai untuk menjadi Hari Raya dan perayaannya, pada kenyataannya merupakan usaha yang mengikuti dan meniru-niru tata alam semesta (Imago Mundi).

Itulah sebabnya mengapa semua komponen yang terdapat di dalam Hari Raya merupakan rangkaian yang sanggup menampilkan formalitas ritual, liturgi, prosesi, keramaian, pertunjukan wayang dan berbagai macam hiburan lain-lainnya, tidak dapat dikatakan penampilan hura-hura saja. Tetap merupakan usaha untuk menerima kehadiran Yang Suci dan Keramat dalam keadaan utuh-seutuhnya serta selengkap mungkin. Tuhan menurut agama timur itu bukan kemiskinan, bukan kesedihan, tetapi merupakan kegembiraan, menghibur, suka cita dan lain sebagainya.

Jagad itu hidup dan berjiwa, bersama-sama dengan Daur Waktu merupakan dwi-tunggal; kedua-duanya itu menitis, berkembang dan mati pada akhir tahun dan lahir kembali pada awal tahun Baru; jagad dan daur waktu itu memang bertumimbal lahir (berinkarnasi) setiap tahun. Menurut persepsi Timur, jagad dan daur waktu diterima sebagai jabaran Tuhan, di mana Tuhan sendiri terlibat dan turut aktif berkarya di dalamnya. Ini bukan berarti bahwa persepsi Timur terlibat dalam memuja atau mengkultuskan alam. Langit dan Bumi itu dianggap suci bukan sebagai sekedar benda mati yang tak berjiwa. Langit dan Bumi dipuja, tepatnya karena nyata-nyata merupakan satu “Perwujudan Sakral”. Sebab, mereka tidak hanya tampil sebagai Langit dan Bumi in-natura saja, tetapi masih ada nilai-nilai yang menunjukkan adanya kesaktian yang dalam menampilkan kenyataan sangat luar biasa, yaitu rahim. Oleh karena itu dianggap sakti dan suci; penampilannya yang nyata, jelas dan langsung, selalu disertai perwujudan supranatural yang juga nyata, gamblang dan mudah dimengerti, dan memang seluruh alam semesta mempunyai kemampuan luar biasa dalam menjabarkan diri sebagai satu kesucian kosmik yang maha dasyat; Langit dan Bumi sebagai Jagad Raya dalam keseluruhannya dapat merupakan gerak perwujudan adanya kekuatan Tuhan Yang Maha Sakti dan Maha Rahim.

HARI RAYA TAHUN BARU

Hari Raya Tahun Baru merupakan pementasan kembali kegiatan Cosmogony Mythical; merupakan ritual yang menunjukkan lagi revolusi chaos-cosmos; satu perjuangan yang mengambil ruang, tempat dan daur waktu yang primordial dan asli (orisinil), dengan diakhiri oleh keberhasilan Tuhan dan para dewaNya. Maka, Tahun Baru sebetulnya menunjukkan satu kegiatan “perwujudan baru” Jagad Raya; itu berarti perbaikan kembali (restorasi) daur waktu primordial yang murni dan terjadi pada saat “Kejadian Besar” (pembabaran jagad). Inilah sebabnya mengapa Tahun Baru merupakan kesempatan untuk mengadakan kegiatan “pemurnian” baik yang dapat dilakukan dengan penyucian air putih, mau pun dengan pembakaran api merah. Maka, perayaan ini bukan pesta hura-hura, atau sekedar menghapus yang lama menyambut tahun yang baru, atau sekedar “pemurnian” saja. Tetapi lebih dari itu, seluruh nista noda, dosa, kesalahan, kesialan dan malapetaka, celaka dan bencana individu, keluarga, masyarakat dan alam lingkungan dapat dianulir seluruhnya.

Turutserta mengambil bagian dalam pesta, berarti: turutserta dalam usaha penghancuran chaos, nista, dosa dan lain-lain malapetaka, dan perjuangan untuk menerima kembali dunia baru yang tertib, teratur dan damai; membuat penerimaan baru, hubungan baru, kebangkitan baru, ikatan baru, pembebasan baru, pembabakan baru dan Firman baru; semua orang merasa terolah menjadi baru; mereka merasa lahir kembali dan dengan semangat baru mengawali kehidupan baru. Dengan setiap kali diadakan upacara Tahun Baru, mereka merasa lebih suci, lebih bersih dan murni, karena mereka telah merasakan dibebaskan dari dosa dan malapetaka, mereka telah menyatu dengan “saat kejadian yang mujizat” dan lagi pada saat yang sangat kuat dan sakti; sakti karena dihadiri oleh Tuhan, kuat karena babak waktu yang dimasuki merupakan “Karya Besar” yang pernah dan sedang diselesaikan lagi, yaitu “membangun Jagad Baru”. Secara simbolis mereka berada bersama-sama dengan kosmogoni, artinya turut hadir juga pada waktu dunia/jagad baru dibabarkan, bahkan turut berjuang meniru para dewata mengikuti kehendakNya dalam pembabaran dunia/jagad baru (manunggal).

Mudah dimengerti mengapa orang mengunjungi daur waktu yang romantis namun penuh dengan kesaktian itu, dan mengapa mereka selalu berusaha untuk secara berkala kembali lagi kepadanya. Ini disebabkan karena dalam daur waktu yang demikian itu, Tuhan tampil dengan kekuatan dan kuasaNya yang paling besar, merupakan perwujudan kosmogoni ke-illahian yang paling unggul, merupakan pula kegiatan paradigmatis (model pola) yang kreativitas dan kekuatannya berlimpah-limpah. Masyarakat Timur itu selalu haus akan kenyataan-kenyataan itu, mereka akan berikhtiar untuk mengambil tempat pada sumber yang paling dekat dengan perwujudan yang primordial, atau pada waktu dunia sedang tengah menitis (in statu nascendi).

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK

Beberapa hari sebelum Tahun Baru tiba, pada waktu Jagad Raya menunjukkan kekalutan dan para dewa sibuk memerangi kepunahan alam semesta, sambil membangun bahtera baru untuk menyelamatkan benih-benih kehidupan bagi Jagad Baru yang tertib dan tenteram, begitu pula manusia pun sibuk membersihkan rumah dari kekotoran dan memperbaiki (mereparasi) kerusakan agar semua yang kotor, rusak dan jelek turut hanyut terbawa oleh tahun lama yang sebentar lagi akan berakhir. Inilah yang namanya “Tuhan dan manusia berada di dalam satu kecocokan/keselarasan” atau ”Persatuan yang tepat antara Tuhan dan Manusia”.

Pekerjaan pembersihan itu biasanya dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, di bawah pimpinan seorang nenek yang pada hari-hari itu bersikap ekstra cerewet, tidak mengenal kompromi, sedangkan pekerjaan harus dilakukan secara cepat dan kontinu tanpa boleh mengomel sedikit pun, apalagi protes.

Pekerjaan itu terdiri dari mengapur/mengecat dinding, membetulkan/ mengganti kerusakan walau pun tidak ada yang rusak, membersihkan prabot rumah tangga dan jika perlu dipindah-pindahkan untuk sementara agar tempat-tempat yang biasanya terlindung oleh prabot-prabot dapat juga turut dibersihkan.

Pembersihan seluruh rumah itu berjalan terus, dan pada tanggal 29 Imlek ditambah lagi dengan persiapan untuk sembahyang dan belanja untuk keperluan hari-hari Tahun Baru. Pada hari ke 30 bulan Imlek terakhir jam satu siang semua aktivitas pembersihan harus sudah berhenti, perhatian sekarang tercurah pada upacara akhir Tahun Lama, maka dipanggilkan arwah leluhur untuk diberi tahu bahwa Tahun telah berakhir dan anak cucu telah selamat berhasil melewati saat-saat yang penuh bahaya dan beberapa saat lagi akan mencapai Jagad Baru yang sejahtera.

DEWA DAPUR NAIK KE LANGIT/SURGA

Lebih kurang 1 (satu) pekan sebelum hari Tahun Baru, yaitu dengan “perjalanan ke langit Sang Dewa Dapur, Chao Kun Kong”. Pada tanggal 23/24 bulan ke 12 naiklah sang Dewa Dapur ini kelangit untuk melaporkan kepada Thian mengenai sepak terjang para penghuni rumah yang dihuninya. Sebelumnya seluruh keluarga penghuni rumah tersebut melakukan pembersihan lingkungan rumah di mana mereka tinggal. Banyak keluarga yang tidak menyapu dalam rumahnya pada hari Tahun Baru dan dua hari berikutnya, supaya rezekinya tidak ikut tersapu keluar. Dan masih ada tabu lainnya yang bertalian dengan perayaan Tahun Baru Imlek, yaitu tiga hari lamanya orang tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau berkelahi, karena rezeki bisa hilang.

Tempat Dewa Dapur, ya, di dapur. Dari kedudukannya ini, dipercaya bahwa sang Dewa ini memperhatikan segala tindak tanduk para penghuni rumah tersebut. “Naik” nya Dewa Dapur dihantar dengan membakar batang dupa (hio) dan mempersembahkan sesajian. Upacara ini lalu ditutup sambil mengucapkan selamat jalan sambil membunyikan mercon. Merconlah yang pertama-tama membawa berita gembira tentang kedatangan “Kedamaian dan Kemakmuran”. Mercon mewakili api, lambang kehidupan dan kebangkitan, maka mercon merupakan juga penghalau kematian dan menyambut kehidupan, memecahkan kesunyian, meledakkan keramaian, menghapus kesedihan, mengisi kegembiraan, mengganti kegelapan dengan memancarkan penerangan dan cahaya.

Satu hari menjelang Tahun Baru tiba, orang Tionghoa melakukan “Sembahyang Tahun Baru”. Keluarga yang memelihara abu leluhur atau papan arwah leluhur mengadakan sembahyang di muka meja abu tersebut dengan rangkaian prosesi yang cukup panjang. Bagi yang tidak memelihara abu atau papan arwah leluhur, biasanya meletakkan sebuah meja menghadap pintu muka rumahnya dan di atas meja ini ditempatkan semua keperluan (uba-rampe) untuk keperluan sembahyang tersebut yang dilakukan dengan sederhana. Sembahyang Tahun Baru ini harus diselenggarakan dengan sebersih-bersihnya. Bukan saja bersih lahir, melainkan juga bersih batin.

Di atas meja sembahyang biasanya diletakkan kue tahun baru yang dinamakan “nien kao”, atau di Indonesia dikenal dengan nama “kue keranjang”, karena kue tersebut dibuat dalam keranjang-keranjang budar dengan berbagai macam ukuran. Kue ini dapat disimpan lama tanpa menjadi busuk.

Di Jakarta ada pula semacam uba rampe yang khas untuk Sembahyang Tahun Baru berupa Ikan Bandeng yang disatukan dengan kue keranjang.

Besok paginya hari pertama bulan pertama Tahun Baru Imlek, yang sebetulnya juga merupakan Hari Raya Kebangkitan; pulihnya kembali unsur api sebagai lambang kehidupan, maka membanjirlah sitat-sitat (kutipan/nukilan) yang ditulis di atas kertas merah yang kemudian menghiasi jendela dan daun pintu dengan tulisan, seperti :

Mentari terbit di atas Cakrawala,

Fajar menyingsing di ufuk Timur,

Negara tertib, aman sentosa,

Rakyat senang hidup makmur.

DEWA DAPUR TURUN

Pada hari keempat orang dapat mendengar suara petasan (mercon) yang meletus dan menggelegar, hal ini dikarenakan untuk menyambut Dewa Dapur yang kembali dari perjalanannya ke langit. Hari ini dinamakan “Hari Dewa Dapur Turun”.

SEMBAHYANG TUHAN ALLAH (KING THI KONG)

Pada tanggal 8 malam ada orang Tionghoa yang mengatur meja sembahyang di depan pintu rumahnya. Orang ini melakukan “Sembahyang Tuhan Allah”, untuk menghormati Giok Hong Siang Te, Kaizar Pualam, yang hari ulang tahunNya jatuh pada esok harinya tanggal 9 bulan 1 Imlek, di mana sembahyang ini biasanya selesai setelah larut malam.

Sebetulnya seluruh Hari Raya Imlek itu adalah perayaan “Lahirnya unsur api”. Di angkasa api diwakili oleh Sang Mentari (Matahari) dan Sang Rembulan (Bulan); pada Hari Tahun Baru dilambangkan dan diperagakan dalam bentuk mercon sebagai pemberi tanda pertama pulihnya kembali siklus daur waktu satu tahun kosmik. Kemudian, menyusul api lilin, api dupa, api dapur, api lampu/lampion dan kemudian api unggun untuk upacara injak api pada pesta Capgomeh.

PESTA CAPGOMEH

GOAN SIAO adalah sebutan lain dari Goan Meh, yang berarti Malam Goan. Kata GOAN ini singkatan dari Siang Goan. Dan Siang Goan ini berarti bulan pertama tanggal 15. Sehingga Goan Meh berarti Malam Tanggal 15 atau Cap Go Meh. Cap Go = 15; Meh = malam. Malam tanggal 15 di mana sang rembulan berbentuk bulat penuh sempurna (purnama).

Jika Tahun Baru Imlek sebagian besar merupakan pesta keluarga, yang upacaranya dilakukan di dalam masing-masing rumah, maka Capgomeh merupakan pesta masyarakat yang upacaranya dilakukan di luar bangunan gedung rumah dan di jalan-jalan, berpusat pada kelenteng (tempat ibadat agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa).

Di pulau Jawa pesta Capgomeh terkenal juga sebagai pesta tengloleng (tanglung); oleh orang Belanda disebut “Lampionen feest” dan memang pada malam hari itu terlihat banyak berbagai macam bentuk lampu yang terbuat dari kertas atau kain yang dibawa oleh anak-anak atau para remaja di sepanjang jalan. Rumah penduduk pun rata-rata juga turut memasangnya, dan digantung di depan rumah.

Pesta Capgomeh memang terdiri dari banyak bagian yang mempunyai kaitan erat dengan agama, teristimewa yang cukup penting dan sentral, yaitu bagian prosesi yang intinya terdiri dari tandu (”kio”) Toapekkong dan para Sinbing, diiringi oleh Liong (naga), Barongsay dan Samsi, dan menyusul karnaval dan balmasque (pesta bertopeng).

Tandu atau joli (kio) digotong, dikirab dan dibawa keliling untuk pesiar di dalam kota, melambangkan perluasan lingkungan dan radius Jagad Baru. Upacara kirab gotong Toapekkong adalah arak-arakan ritual yang bertujuan untuk menganulir atau meruwat alam lingkungan setempat untuk menolak bala, wabah, kesedihan dan lain-lainnya untuk diganti dengan kegembiraan, pembaharuan, kesuburan, ketertiban dan sebagainya.

Jaman dulu di kota Semarang upacara kirab sebagai arak-arakan ritual yang tampil di muka umum, minimal pasti ada seperangkat alat musik gamelan yang dimainkan (ditabuh) mengikuti jalannya upacara sambil turut dalam arak-arakan.

Pada umumnya semua penduduk di kepulauan Nusantara menyukai permainan tari Naga (Liong) dan merasa simpati karena arti perlambangnya juga baik yang mengarah kepada persatuan seperti mosaik dengan lingkungan yang ada, mengarah kepada persatuan bentuk terpadu dalam segala perbedaan sesuai dengan yang diserukan oleh Empu Tantular yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

Gagasan gambaran Naga adalah pesan suci agar supaya manusia mengerti cara hidup damai dalam segala perbedaan. Damai antar manusia, damai dengan lingkungan, damai dengan diri sendiri. Karena semua perbedaan itu berasal dan kembali mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

LIONG (Naga) adalah binatang fabel, merupakan benih-benih yang diangkut dan diturunkan untuk turut memberi kesuburan pada Jagad Baru. Sepasang Naga yang biasa terdapat di atas bangunan Kelenteng adalah sepasang naga jantan dan naga betina yang bertanduk menjangan, berbadan ular, bersisik ikan, bercakar garuda, bertapak macan, berkumis kucing, berjenggot kambing, berperut katak, bermoncong buaya, dan bertaring singa. Naga adalah Avatar yang selalu muncul dalam pembuatan Jagad Baru yang ”tata-titi-tenterem, gemah ripah lohjinawi, kerta raharja”. Naga bernafaskan api merah dan air putih, dua unsur kehidupan yang saling bertentangan tetapi saling memerlukan. Naga dikatakan bangkit dari air putih dan timbul, bangkit mengejar mentari merah, melambangkan chaos menjadi kosmos, dan melambangkan pula “kehendak Tuhan dalam mengatur masyarakat dan keluarga”.

BARONGSAY merupakan makhluk fabel yang tampil dengan membawa tugas suci. Makhluk yang merupakan Avatar ini sebetulnya juga merupakan Utusan. Ia tampil dan muncul dari dasar sungai sambil membawa kitab Pakua untuk mengajarkan rahasia hukum alam semesta kepada manusia agar supaya dapat bebas dari kebodohan dan mendapatkan pengetahuan. Barongsay berarti kuda naga berkepala singa yang Guru. Ba/Be (Ma) berarti kuda, Long (Liong/Lung) berarti naga, sedangkan Say berarti singa/(Tze) berarti Guru.

SAMSI adalah semacam singa yang harus dimainkan dengan tiga kaki, kaki keempat selalu tidak boleh menyentuh tanah. Seperti Barongsay, Samsi juga dimainkan oleh dua orang. Di atas batok kepalanya selalu dilukiskan huruf ONG (WANG) yang berarti “Raja”. Terdiri dari 3 (tiga) garis horisontal, atas-tengah-bawah, dan garis keempat vertikal sebagai penghubung. Tiga garis horisontal melambangkan Langit, Bumi dan Manusia, atau sorga dunia masyarakat, garis keempat melambangkan “Satu Hukum Tuhan”.

API UNGGUN yang juga merupakan salah satu atraksi khas agamis ini diselenggarakan di depan klenteng. Api dibuat dari kayu atau arang. Di atas api itu lalu orang-orang yang intrance boleh berjalan, tetapi orang yang berjalan di atas api itu tidak selalu intrance (biasa disebut tangsin/tatung). Jika air yang beberapa hari sebelum Tahun Baru dipakai untuk menyucikan dan menyuburkan, api juga dipakai untuk memurnikan dan menumbuhkan. Api membakar semua sisa kekotoran dosa, nista, kesalahan dan sebagainya yang tidak dapat dicuci oleh air.

Sebelum acara prosesi di mulai, masih ada satu upacara simbolis yang cukup penting, yaitu upacara membanting ular. Upacara ini melambangkan “penghancuran terhadap kekalutan (chaos)”. Belakangan ini, yang dibanting bukan ular sesungguhnya tetapi boneka ular yang dibuat khusus untuk keperluan itu, dan upacara ini saat ini jarang dilakukan.

Perayaan itu ditutup dengan membanjirnya rakyat dari semua golongan, baik yang berjalan-jalan saja untuk menonton Lampu (lampion/tengloleng/tanglung), maupun untuk mengikuti karnaval atau prosesi, atau pun berkaul atau memohon enteng jodoh dengan melintasi tujuh jembatan atau ngibing di jalan-jalan sambil menyaru dengan topeng (balmasque). Di jalan-jalan, tua, muda berbaur merayakannya dengan berombongan. Biasanya tiap rombongan mengurung diri dalam lingkungan tali agar supaya tidak ada ”anggotanya” yang kesasar dan hilang dalam lautan manusia di pesta Cap Go Meh itu. Dalam pesta ini biasanya orang-orang menyamar dengan menggunakan pakaian yang aneh-aneh atau memakai topeng. Pria memakai pakaian wanita, wanita berdandan seperti pria. Orang menyamar dalam pesta Capgomeh ini katanya untuk “membuang sial”. Dan ada yang berpendapat, apabila orang sudah mulai berbuat demikian, maka orang itu harus melakukannya berturut-turut hingga sampai 7 kali, jadi harus menyamar pula selama 6 kali perayaan Capgomeh berikutnya. Yang wanita berjalan-jalan dengan membawa beberapa batang dupa (hio) dan mencari 7 buah jembatan. Pada tiap jembatan mereka mengibas-kibaskan pakaiannya agar semua kesialan yang ada dalam dirinya hilang/dibuang dan membakar batang dupa. Hal ini dianggap mendatangkan kebaikan.

Khususnya pada perayaan Capgomeh di mana Sang Rembulan untuk pertama kalinya mencapai kesempurnaan, hampir semua orang Tionghoa khususnya di Jawa Tengah menikmati makanan Lontong Capgomeh (opor Capgomeh), yaitu makanan Jawa yang dibuat dan dihidangkan khusus untuk malam Capgomeh.

PAGELARAN WAYANG KULIT

Kelenteng-kelenteng di Nusantara sudah lama menghadirkan seni budaya asli pada berbagai macam pesta-pesta keagamaan. Baik yang terbuka untuk umum mau pun tidak. Di Jawa Tengah, Jawa Timur dan pulau Madura teristimewa pada Hari Raya Tahun Baru Imlek, kelenteng pada umumnya mengikutsertakan unsur seni budaya asli setempat, dalam hal ini terutama adalah pagelaran wayang kulit yang juga diketahui oleh umat kelenteng sebagai sarana yang sakral. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di kelenteng telah menjadi adat kebiasaan atau menjadi bagian dari tradisi peribadatan Kelenteng di pulau Jawa dan Madura.

Demikianlah pesta agama yang sudah merakyat itu, yang sebetulnya tidak lain adalah, memohon terbentuknya Jagad Baru yang tata-titi-tenterem, gemah-ripah, loh-jinawi, kerta raharja, dan merupakan cita-cita manusia yang waras.

Thian adalah “rahasia kehidupan yang paling agung, rahasia dari rahasia, gerbang rahasia semua kehidupan”. Ia memberi tanpa batas baik kepada alam semesta mau pun kepada manusia. Karena itu, Ia disebut sebagai “Bunda Jagad Raya”. Ia adalah kaidah, irama dan kekuatan pendorong dalam seluruh jagad raya, dan azas penata yang berada di belakang semua yang ada.

SIN CHUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I

1 Cia Gwee 2560

Semarang, Januari 2009 – R. SOENARTO (Pemerhati Budaya Tionghoa)

MAKANAN DAN SESAJI

UNTUK MENYAMBUT TAHUN BARU IMLEK

PENDAHULUAN

Masyarakat Tionghoa pada umumnya merayakan datangnya Tahun Baru Imlek, biasa disebut Sincia atau pesta awal musim semi yang dimulai tanggal 1 Cia-gwee dan berakhir pada tanggal 15 Cia-gwee saat dirayakan Cap Go Meh atau Pesta Goan Siauw, melakukan beberapa upacara ritual keagamaan berupa sembahyang menyambut Tahun Baru Musim Semi (Imlek), sembahyang King Ti Kong (Tuhan Allah) dan dilajutkan dengan pesta Cap Go Meh, walaupun sebelumnya mereka juga melakukan upacara sembahyang untuk para Sinbing seperti Dewa Dapur (Cao Kun Kong), Dewa Bumi (Thouw Te Kong) dan Malaikat Kota (Shia Hong Sin) dan lain sebagainya.

Masyarakat Tionghoa yang ada di Nusantara ini terdiri dari berbagai suku seperti, suku Hokkian, Khek (Hakka), Tiociu, Hokcia, Kongfu (Kanton), dll. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini pun mereka merayakan dengan beberapa perbedaan. Sedangkan suku Hokkian merupakan mayoritas yang ada di Jawa Tengah. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini, suku Hokkian yang ada di Jawa Tengah pasti berbeda dengan suku Hokkian yang ada di Medan, Surabaya, Jakarta, Palembang, Pontianak dan Manado.

Tulisan ini banyak menggunakan bahasa atau dialek Hokkian.

MAKANAN DAN SESAJI

Orang-orang Hokkian pada umumnya membuat makanan dan sesaji yang mempunyai makna dan lambang-lambang untuk kemakmuran, panjang umur, kebahagian dan limpahan rezeki.

Beberapa makanan dalam bentuk kue (berasal dari dialek Hokkian “kwe” atau “guo” dalam bahasa Mandarin), biasanya juga wajib dipersembahkan di altar sembahyang, meja abu atau Kong-po. Demikian pula makanan atau sesaji untuk upacara ritual di Jawa Tengah sebenarnya agak berbeda antara Jawa Tengah pesisir utara dan pedalaman. Di pedalaman Jawa Tengah, pengaruh lokal jauh lebih terasa daripada di pesisir. Selain itu ragamnya pengaruhnya lebih kaya dan ukurannya pun lebih kecil dan cantik.

Sesaji pedalaman terdiri dari :

· Wajik Ketan, terbuat dari ketan dan gula Jawa, Jadah Ketan

· Kue Ku (kue bentuk kura-kura berisi kacang tanah untuk yang berwarna hitam, dan kacang hijau untuk yang berwarna merah)

· Tape Ketan

· Kue Mangkok

· Kue Lapis, Sengkulun, Persikan, Lemper, Jongkong

· Kue Keranjang

· Dll

Sesaji pesisiran terdiri dari :

· Kue Keranjang

· Kue Ku (ukurannya lebih besar)

· Wajik Tumpeng (warna merah atau coklat gula Jawa)

· Kue Moho atau “Hwat-kwe” warna merah jambu (yang tanpa isi merekah, dan/ atau yang berisi kacang hijau manis)

· Kue Mangkok

· Kue Lapis

· Kue Lapis Legit

· Kue Nagasari

· Kue Bugis, lemper, Madu Mongso, Corobikang

· Bongko Cunduk, Bongko Meniran, Bongko Kopyor

· Dll.

Manisan :

· Tong-kwa atau Tang-kwee (manisan Beligo)

· Ang-co

· Kit Pia

· Manisan Belimbing

· Atap-seng (manisan kolang-kaling)

· Dll.

Buah-buahan :

· Pisang Raja atau Pisang Mas 1 (satu) sisir

· Tebu Wulung

· Srikaya

· Jeruk Bali (lengkap dengan tangkai dan daunnya)

· Delima yang berwarna Merah

· Kelengkeng

· Jeruk Mandarin

· Belimbing

· Dll.

Makanan untuk dimakan :

· Siu-mie (Mie Panjang Umur) (untuk disajikan dalam makan malam bersama keluarga menjelang tahun baru), orang Hokkian biasa membuat Lo-mie.

· Masakan yang dicampur dengan rumput laut seperti rambut (Fucai)

· Lontong Opor Cap Go Meh (untuk disajikan dalam pesta Cap Go Meh)

Minuman :

· (Arak) To So Ciu

Cemilan :

· Kwaci, Kacang Kulit, Permen, dll.

SIMBOLISME MAKANAN DAN SESAJI

Tujuan daripada sembahyang dengan persembahan makanan dan sesaji ini adalah, merupakan wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan memperoleh tambahan rezeki yang lebih baik, kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, panjang umur, dan limpahan rakhmat, karunia, pertolongan dan perlindungan dari Thian Yang Maha Kuasa, serta untuk menjamu para leluhur, dan berkumpul bersama seluruh keluarga.

Makanan dan sesaji sembahyang yang dipersembahkan di atas altar atau meja sembahyang baik yang murah maupun yang berharga tinggi sekali pun hanya merupakan lambang untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Thian Yang Maha Kasih, yang telah memberikan berkah dan karunianya, sehingga manusia dapat memperoleh penghidupan yang layak. Seluruh sesaji persembahan yang diletakkan di atas altar tersebut, semuanya adalah hasil ciptaan Thian Yang Maha Kuasa di bumi ini.

Segala makanan dan sesaji ini mempunyai arti dan lambang-lambang seperti beberapa contoh sebagai berikut :

WAJIK TUMPENG (WAJIK KETAN)

Melambangkan pengetahuan yang luhur, supaya disebarluaskan sesuai dengan bentuknya yang runcing pada puncaknya dan makin melebar dan luas ke bagian bawahnya. Dapat disimpulkan bahwa, seorang pemimpin atau kepala tentunya dipilih dari orang-orang yang beriman dan berpengetahuan luhur dan berbudi, mengerti dan dapat membedakan antara yang benar dan salah. Yang baik dan benar supaya disebarluaskan, sedangkan yang jelek atau salah supaya diberi bimbingan dan pengarahan menuju ke arah kebenaran dan kebaikan.

KUE KU

Melambangkan panjang umur.

KUE MOHO (HWAT KWE)

Melambangkan sumber rezeki untuk amal. Bentuk kue ini merekah (megar, bhs. Jawa) di bagian atasnya menjadi empat bagian yang mengibaratkan sumber rezeki yang berlimpah ruah, sebab sumber rezeki merupakan pokok utama untuk kehidupan manusia sehari-hari. Tanpa sumber rezeki kita takkan dapat bertahan hidup.

KUE LAPIS LEGIT ATAU KUE LAPIS

Melambangkan datangnya rezeki yang berlapis-lapis.

KUE KERANJANG

Rasa manis kue keranjang melambangkan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya. Lengketnya melambangkan eratnya hubungan antar anggota keluarga dan orang sekitarnya. Bentuk kue yang bulat melambangkan kesatuan dan kesatuan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya.

Kue keranjang yang disusun ke atas dengan kue Moho berwarna merah di bagian atasnya, melambangkan harapan agar kehidupan dan penghidupan menjadi manis dan kian menanjak dan mekar seperti Kue Moho.

Kue keranjang secara keseluruhan melambangkan keharmonisan, kekentalan, keeratan, kesatuan yang utuh, hubungan antara manusia dengan lingkungannya, selaras dengan alam semesta secara menyeluruh (bulat) dan universal.

MANISAN TANG-KWEE (BELIGO)

Merupakan simbol ketulusan.

MANISAN ANG-CO

Disebut sebagai salah satu makanan para Dewa, melambangkan berkah.

MANISAN KOLANG KALING (BUAH ATAP)

Melambangkan agar manusia senantiasa berhati tetap dan mantap serta “eling” (ingat).

KIT-PIA

Kata “Kit” diartikan selamat.

PISANG RAJA ATAU PISANG MAS

Diartikan melambangkan kerukunan dalam rumah tangga dan masyarakat untuk membina persatuan dan kesatuan agar supaya hidup akur dan saling mengasihi.

JERUK MANDARIN (LOKAM)

Dalam bahasa Mandarai disebut Chi-tze, artinya buah keberuntungan.

SRIKAYA

Pengharapan menjadi kaya.

DELIMA MERAH

Agar hidup keluarga rukun.

BELIMBING

Melambangkan ketajaman pikiran.

JERUK BALI

Melambangkan kebahagiaan.

TEBU WULUNG

Melambangkan keselamatan. (khas suku Hokkian)

SIU-MIE (MIE PANAJANG UMUR) ATAU LO-MIE

Melambangkan panjang umur dan hidup bahagia serta murah rezeki.

TO SO CIU

Arak yang dicampur dengan berbagai ramuan obat-obatan Tiongkok, disajikan bersama menikmati Siu-mie. Melambangkan kehangatan dalam keluarga dan kehidupan yang sehat.

Penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek ini ada pada saat Cap Go Meh, dimana masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah biasanya menyajikan dan menyuguhkan Lontong Cap Go Meh.

Demikian makanan dan sesaji untuk perayaan Tahun Baru Imlek yang merupakan rangkaian upacara ritual dan sembahyang yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan khususnya kaum suku Hokkian di wilayah Jawa Tengah yang begitu beragam dan penuh dengan nilai-nilai filosofi yang tinggi.

Selamat menikmati bersama keluarga, sanak saudara, teman dan sahabat.

o GONG XI FA CAI

o SIN CUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I

o SIN CIA JU I (TANG-TANG JU I)

o KHIONG HI KUO SIN NYAN

o KHUNG HEI FAT CHOY

o KONG HE SIN SHI

DA-DI-HUI-CHUN

TANAH LUAS MULAI SUBUR/BERSEMI

(JAGAD KEMBALI MAKMUR)

CHUN-LAI-NIAO-YÜ-HOA –XIAN DONG-JU-SHAN-MING-SHUI-XIU

MUSIM SEMI TIBA, MUSIM DINGIN PERGI BERLALU,

BURUNG MULAI BERKICAU, GUNUNG KELIHATAN JELAS,

BUNGA HARUM SEMERBAK. AIR KELIHATAN JERNIH.

“SELAMAT TAHUN BARU IMLEK“

1 CIA GWEE 2560

SEMOGA MAKMUR DAN SEJAHTERA

sumber: milis budaya tionghoa

POLITIK PEMERINTAH INDONESIA DAN ETNIK TIONGHOA


Politik Pemerintah Indonesia dan Etnik Tionghoa

Beberapa Perkembangan Terkini

(Eddie Lembong)

Tulisan ini dimaksudkan untuk membahas politik pemerintah Indonesia terhadap etnik Tionghoa terutama dalam hubungannya dengan keadaan dan perkembangan mutakhir. Tetapi sebagaimana ditunjuk oleh Wang Gungwu dalam salah satu bukunya, �Tidaklah mungkin memahami apa yang dipandang baru tanpa merujuk pada masa lalu.�[1] Karena itu sebelum membicarakan berbagai politik pemerintah, lebih dulu akan saya paparkan latar belakang sejarahnya.

Asal Mula Ketegangan Etnik

Sebelum dan Masa Penjajahan

Orang-orang Tionghoa datang ke berbagai tempat di Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya, jauh sebelum kehadiran kekuatan Barat. Sebagian di antara mereka terdiri dari pemeluk agama Islam. Jumlah mereka meningkat selama abad ke-15, secara kebetulan bersamaan dengan tujuh kali pelayaran muhibah (1405-1432) Laksamana Cheng Ho. Kelompok orang Tionghoa yang bergama Islam tersebut dengan mudah berasimilasi dengan penduduk Indonesia setempat tanpa timbul persoalan berarti.[2]

Sekalipun demikian posisi orang-orang Tionghoa mulai berubah setelah datangnya orang-orang Barat, terutama setelah orang Belanda membangun kekuasaan kolonial mereka. Pemerintah kolonial Belanda membagi penduduk Hindia Belanda (nama Indonesia di masa penjajahan Belanda) setidaknya ke dalam tiga kelompok rasial: Eropa (terutama Belanda), Timur asing (terutama Tionghoa) dan penduduk pribumi. Ketiga kelompok ini memainkan peran ekonomi yang berbeda-beda. Orang Belanda bergerak dalam bisnis perdagangan besar, orang-orang Tionghoa dalam perdagangan perantara antara penghasil dan pembeli, sedang kaum pribumi sebagai petani dan pedagang kecil asongan.[3]

Dari kenyataan tersebut maka Belanda telah menerapkan politik Divide et Impera alias politik pecah belah dan menguasai, politik untuk mendukung kekuasaan penjajahan. Mereka takut jika terdapat persatuan antar-ras yang berbeda itu yakni antara kelompok Tionghoa dengan kaum pribumi, hal itu dapat mengancam bahkan dapat mengakhiri kekuasaan kolonial.

Terpisahnya golongan ras yakni kelompok etnik Tionghoa di negara jajahan Indonesia merupakan suatu kenyataaan kehidupan.[4] Sementara itu kelompok Tionghoa sendiri setidaknya terbagi dalam golongan singkek atau totok dan peranakan (lahir di Indonesia dengan darah campuran). Kebangkitan nasionalisme Tiongkok pada permulaan abad ke-20 memberikan dampaknya terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia dengan orientasi baru dalam memandang Tiongkok. Sekolah-sekolah modern Tionghoa mulai didirikan, banyak anak-anak Tionghoa mulai mempelajari bahasa dan budaya Tionghoa. Gerakan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), sering dikenal sebagai gerakan Pan-Tionghoa, cepat berkembang.[5] Penguasa Belanda berusaha menekan �nasionalisme Tionghoa perantauan� ini dengan mengeluarkan peraturan kewarganegaraan Belanda serta mendirikan sekolah-sekolah Belanda dan pribumi bagi anak-anak Tionghoa.[6] Secara politik dan budaya kaum etnik Tionghoa terbelah.

Selama pendudukan tentara Jepang di Indonesia (1942-1945), penguasa Jepang menerapkan politik baru yang memperlakukan seluruh penduduk tanpa dibagi-bagi, hal ini berpengaruh juga terhadap kelompok etnik Tionghoa. Sekolah-sekolah Belanda tidak diizinkan lagi, semua anak Tionghoa dipaksa mempelajari bahasa Jepang dan Tionghoa.[7] Dengan demikian anak-anak kaum peranakan Tionghoa berada dalam proses �menjadi Tionghoa kembali� (resinicization).

Dalam bulan Agustus 1945 Jepang menyerah. Belanda datang dengan tujuan memulihkan kembali kekuasaan mereka di seluruh bekas Hindia Belanda. Kaum nasionalis menolak menerima mereka. Ketika terjadi bentrokan antara pribumi Indonesia dengan Belanda, golongan etnik Tionghoa terjepit di tengah. Di masa penjajahan, etnik Tionghoa berangsur-angsur berkembang menjadi minoritas pedagang yang bertempat di antara Belanda dan penduduk pribumi. Mereka sering dianggap oleh penduduk pribumi sebagai �binatang ekonomi� dan secara politik dianggap lebih dekat pada Belanda daripada kaum pribumi.

Selama revolusi bersenjata (1945-1950), pihak penguasa Belanda dengan sengaja menciptakan kesan bahwa orang Tionghoa berada di pihak mereka serta menentang kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian hal itu menimbulkan kebencian di antara kaum pribumi terhadap etnik Tionghoa. Serangkaian insiden anti-Cina meletus. Dalam kenyataannya situasi jauh lebih rumit, etnik Tionghoa bukanlah komunitas yang homogin, demikian halnya dengan masyarakat pribumi yang multi aspek.

Indonesia Merdeka

Politik Pemerintah dan Kekerasan Anti-Tionghoa

Masa Presiden Sukarno (1950-1965), Politik Diskriminasi Awal

Kalaulah etnik Tionghoa itu sebelum masa kemerdekaan bersifat heterogin, sesudah kemerdekaan mereka terbagi sama secara kultural dan ekonomi. Sekalipun demikian dalam ekonomi secara umum minoritas Tionghoa nampak tetap kuat, kalau tidak malah lebih kuat. Karena Republik muda itu dengan perlahan memusatkan diri pada pembangunan bangsa, tidak ada kejelasan tentang politik terhadap golongan Tionghoa. Di satu pihak pemerintah baru berkehendak memasukkan etnik Tionghoa juga ke dalam proses pembangunan bangsa. Akan tetapi di pihak lain, pemerintah menerapkan perlakukan diskriminatif, terutama di bidang ekonomi menghadapi minoritas etnik Tionghoa.

Terdapat dua peraturan pemerintah yang sangat jelas memberikan dampak pada politik ekonomi Indonesia. Salah satunya apa yang disebut sebagai Sistim Benteng yang diperkenalkan pada permulaan 1950-an yang melarang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa melakukan bisnis impor dan ekspor. Hal ini menyebabkan apa yang disebut dengan sistim Ali Baba, yakni orang-orang Tionghoa yang dilarang tersebut menggunakan orang pribumi untuk dipasang namanya di depan alias �kompanyon tidur� yang tidak kerja apa-apa. Yang kedua berbentuk PP No.10 tahun 1959 yang melarang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa melakukan perdagangan eceran di daerah pedesaan. Peraturan ini telah menyebabkan eksodusnya orang-orang Tionghoa dari pedalaman negeri ini, membuat ekonomi Indonesia kacau. Dua macam tindakan tersebut tidak membuat kekuatan ekonomi etnik Tionghoa menjadi lemah.[8]

Banyak pemimpin pribumi yang cemburu terhadap status ekonomi etnik Tionghoa juga melakukan kampanye perlawanan. Gerakan penentangan yang paling menonjol dipimpin oleh Assaat, salah seorang pemimpin Republik yang kemudian meloncat ke dalam bisnis.[9] Persoalan menjadi lebih rumit karena bergolaknya Perang Dingin antara kubu Barat berhadapan dengan kubu Komunis yang saling menjatuhkan. Golongan etnik Tionghoa sering digambarkan dengan tuduhan sebagai �kaki tangan� Tiongkok Komunis. Sesungguhnyalah banyak kekerasan anti-Cina termasuk sejumlah kerusuhan dalam periode ini dipicu oleh politik, hal itu merupakan juga manifestasi dari rasa tidak puas terhadap kelompok minoritas tersebut.

Masa Suharto (1966-1998)

Pada 1966 Jenderal Suharto menjadi penguasa baru Indonesia yang memerintah negeri ini selama 32 tahun. Sukarno yang anti-kolonialis itu kemudian dijatuhkan oleh kaum militer Indonesia yang pro-Barat. PKI juga disapu bersih dari percaturan kekuasaan politik Indonesia.

Politik Suharto terhadap etnik Tionghoa mengandung dua dimensi: budaya dan ekonomi. Dalam bidang budaya ia memperkenalkan politik asimilasi total dengan menghapuskan tiga pilar budaya Tionghoa, yakni sekolah, organisasi dan media Tionghoa. Dalam bidang ekonomi penguasa baru ini memberikan kesempatan kepada etnik Tionghoa. Hal ini berhubungan dengan strategi besarnya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan Indonesia untuk memberikan legitimasi kekuasaannya. Dengan begitu ia membuka pintu Indonesia serta menerapkan politik pro-bisnis. Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa jelas sangat bermanfaat dalam bidang ekonomi, maka ia menggiringnya ke arah itu, sedang secara politik mereka dicurigai. Sementara di bidang ekonomi etnik Tionghoa dapat menikmati kebebasan, tetapi di bidang politik mereka didiskriminasikan. Akibat yang tidak direncanakan dari politik ini ialah meningkatnya kekuatan ekonomi etnik Tionghoa. Pada saat yang sama secara politik mereka menjadi sangat rentan terhadap serangan, keamanan mereka berada di tangan penguasa pribumi. Sejumlah peristiwa anti-Cina setiap kali terjadi, umumnya dalam skala kecil.

Krisis ekonomi pada 1997 menyebabkan timbulnya kerusuhan tahun berikutnya. Kerusuhan dalam skala besar � beberapa di antaranya direkayasa dengan sengaja � kekerasan anti-Cina meledak di Jakarta, Sala dan beberapa kota besar Indonesia lainnya.[10] Kerusuhan bulan Mei 1998 ini berbeda dari peristiwa kekerasan sebelumnya, bukan saja berupa penjarahan, pembunuhan dan pembakaran harta benda, tetapi juga terjadinya perkosaan sistimatik terhadap kaum perempuan Tionghoa. Kekerasan itu punya motif politik, dalam beberapa hal berhubungan dengan persaingan kekuasaan. Hal ini telah meninggalkan lembaran hitam dalam sejarah Indonesia.

Setelah kerusuhan Mei 1998, situasi begitu porak poranda, akhirnya Suharto dipaksa turun panggung dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Habibie yang memimpin pemerintahan pertama setelah lengsernya Suharto.

Era Reformasi:

Perubahan Politik dan Kemajuan Posisi Etnik Tionghoa (1998-kini)

Masa setelah era Suharto terjadi bersamaan dengan perubahan dunia internasional. Terjadi globalisasi dan demokratisasi yang berdampak terhadap Indonesia dan banyak bagian dunia lainnya. Citra negeri Tiongkok juga telah berubah, negara itu tidak lagi dipandang sebagai pengekspor �revolusi�, tetapi mereka dipandang sebagai negara yang menghendaki situasi status quo.

Perlu dicatat bahwa Perang Dingin telah berakhir pada 1989/1990, ideologi Komunisme tidak lagi menjadi masalah dalam hubungan Indonesia-Tiongkok. Bahkan selama bagian terakhir kekuasaan Suharto, hubungan Indonesia-Tiongkok mengalami kemajuan, tetapi kejatuhan Suharto memicu kecepatan proses hubungan baik.

Bangkitnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi tidak saja punya pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga punya dampak ke seluruh dunia. Kekuatan ekonomi Tiongkok tidak lagi dapat diremehkan, �kekuatan perangkat lunak� (soft power) mereka disambut baik secara luas.

Di Indonesia telah terjadi demokratisasi. Terdapat juga kemajuan fundamental secara bertahap dalam bidang hukum dan status politik etnik Tionghoa. Kemajuan ini sebagai dampak dari perubahan situasi Indonesia maupun internasional yang terjadi sebelumnya. Pemerintah baru menyadari bahwa guna meningkatkan kondisi ekonomi Indonesia, partisipasi etnik Tionghoa sangat menentukan. Pemerintah Indonesia pasca Suharto telah menerapkan berbagai tindakan yang memberikan juga peluang bagi kaum etnik Tionghoa. Ada manfaatnya untuk meninjau langkah-langkah politik tersebut.

Masa Presiden Habibie

Habibie mengeluarkan Instruksi Presiden No.26/1998 yang mencabut penggunaan istilah pribumi dan non-pribumi. Selama kekuasaan Suharto kedua istilah ini dengan bebasnya digunakan oleh media massa untuk merujuk berturut-turut pada orang �Indonesia asli� dan �Indonesia keturunan Cina�, pada saat itu berbagai peraturan pemerintah bagi keuntungan golongan pertama.

Masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Habibie digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999 melalui pemilihan umum. Selama pemerintahannya, Gus Dur mengeluarkan Peraturan Presiden No.6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden No.14/1967 yang jahat itu yang dikeluarkan pemerintahan Suharto. Inpres itu melarang segala bentuk ekspresi agama dan adat Tionghoa di tempat umum. Dengan pencabutan larangan tersebut maka terbuka jalan bagi etnik Tionghoa untuk menghidupkan budaya tradisional mereka.

Dalam tahun 2000, Gus Dur juga mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional sukarela. Selama kekuasaan Suharto, tahun baru itu tidak dirayakan, etnik Tionghoa dilarang merayakannya secara terbuka. Toko-toko milik etnik Tionghoa dilarang tutup dalam Tahun Baru Imlek.

Masa Presiden Megawati

Gus Dur tidak sampai menyelesaikan masa kepresidenannya dan digantikan oleh wakilnya, Megawati Sukarnoputri. Megawati memaklumkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional, berlaku mulai 2 Februari 2003. Hal ini tidak berubah sampai pergantian presiden berikutnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Pada 2004, SBY dipilih sebagai presiden baru. Selama pemerintahannya telah dikeluarkan dua undang-undang penting, UU No.12/2006 tentang kewarganegaraan Indonesia dan UU No.23/2006 tentang pendaftaran penduduk. Dr Frans Hendra Winarta telah membahas kedua undang-undang ini secara mendalam (dalam buku yang memuat artikel ini). Sekalipun demikian saya hendak menyampaikannya secara singkat bahwa undang-undang kewarganegaraan baru ini telah menyerap prinsip-prinsip demokrasi. Sedang undang-undang tentang kependudukan dengan menggunakan konsep dasar nasional dan bukan etnik dalam pendaftaran penduduk Indonesia.

Perkembangan selama Masa Reformasi sangat memberikan harapan. Berbagai peraturan pemerintah dalam hubungannya dengan masalah etnik Tionghoa menggunakan pendekatan demokratis dan multikultural, dengan sudut pandang guna lebih memakmurkan Indonesia. Saya pribadi percaya multikulturalisme akan bermanfaat bagi Indonesia melalui peneyerbukan silang budaya.

Sebenarnyalah budaya Tionghoa di Indonesia mulai hidup kembali dalam masa pasca Suharto yang dibuktikan dengan pemulihan kembali tiga pilar budaya Tionghoa. Mari kita tengok secara singkat tiga pilar itu.

Pemulihan Kembali Tiga Pilar Budaya Tionghoa

Media

Era Reformasi telah membawa permulaan baru bagi media Tionghoa. Telah muncul kembali tidak kurang dari delapan koran berbahasa Tionghoa seperti Guoji Ribao, Shang Bao dsb. Tetapi hampir separonya telah tutup karena kurangnya iklan dan pembaca. Untuk gambaran rinci tentang media Tionghoa, lihat bahasan Dr Aimee Dawis dalam buku yang memuat artikel ini. Perlu dicatat juga telah dihidupkannya kembali radio dalam bahasa Tionghoa serta siaran televisi dalam bahasa Mandarin seperti Metro Xinwen di Jakarta.

Pendidikan Tionghoa

Sekolah Tionghoa seperti sebelum Orde Baru tidaklah dihidupkan kembali, akan tetapi telah dibuka sekolah-sekolah dengan dwi-bahasa dan tri-bahasa. Pelajaran bahasa Mandarin diizinkan di berbagai sekolah, memberikan kesan akan kebangkitan kembali budaya Tionghoa. Untuk bahasan rinci tentang pendidikan Tionghoa, baca tulisan Aimee Dawis.

Organisasi Etnik Tionghoa[11]

Komunitas Tionghoa telah juga memanfaatkan iklim demokrasi dengan membentuk partai politik etnik Tionghoa seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti) dan Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (PBI), meskipun dewasa ini tidak aktif.

Nampaknya orang Indonesia suku Tionghoa lebih memilih bergabung dengan partai-partai yang didominasi suku pribumi daripada memilih partai suku Tionghoa. Di pihak lain mereka lebih suka bergabung dengan organisasi sosial dan budaya Tionghoa. Sementara orang mengatakan setidaknya terdapat 400 organisasi semacam itu, termasuk yang didasarkan pada provinsi atau wilayah (baik di Tiongkok maupun di Indonesia ), atau berdasar klan/keluarga/ marga, agama Tionghoa, hobi dan alumni. Sekalipun demikian sebagian besar organisasi itu bersifat lokal, kecuali dua yang bersifat nasional yakni Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), belakangan dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia Keturunan Tionghoa.

Organisasi Bisnis

Sesudah kejatuhan Suharto, kalangan bisnis Tionghoa juga membentuk organisasinya sendiri. Setidaknya terdapat empat organisasi bisnis, baik yang didominasi oleh etnik Tionghoa, atau adanya partisipasi kuat dari kalangan suku Tionghoa: (1) Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial & Budaya Indonesia-China (LIC); (2) Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT); (3) Persatuan Pengusaha Indonesia-Tionghoa (PERPIT); dan (4) Indonesia -China Business Council (ICBC).

Munculnya organisasi-organisa si bisnis ini bertepatan waktunya dengan berakhirnya Perang Dingin dan merebaknya globalisasi. Baik situasi dalam negeri maupun iklim internasional memungkinkan perkembangan semacam itu. Berbeda dengan masa Suharto yang sering menganggap pembangunan hubungan ekonomi dan investasi ke Tiongkok sebagai bertentangan dengan kepentingan Jakarta , kini melakukan bisnis dengan Tiongkok dipandang sebagai bermanfaat bagi kedua pihak. Organisasi-organisa si bisnis tersebut jelas memberikan sumbangannya dalam percepatan perkembangan hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Tiongkok.

Catatan Kesimpulan

Terlihat jelas bahwa politik pemerintah Indonesia terhadap etnik Tonghoa banyak mengalami perubahan sejak tercapainya kemerdekaan. Di waktu lampau banyak undang-undang dan peraturan yang tidak menguntungkan etnik Tionghoa. Tetapi sejak jatuhnya Suharto dalam masa reformasi telah banyak membawakan perubahan – politik, budaya dan hukum � yang bermanfaat bagi suku Tionghoa.

Orang-orang suku Tionghoa tidak lagi dipaksa melakukan asimilasi, mereka tetap boleh memelihara budaya dan identitas etnik, tetapi diharapkan berintegrasi dalam masyarakat Indonesia yang lebih besar. Iklim yang lebih maju ini akan berlanjut menjadi dorongan bagi suku Tionghoa untuk bekerja bagi Indonesia yang lebih baik.


[1] Wang Gungwu , China and the Chinese Overseas, Singapore , Times Academic Press, 1991:vii.

[2] Chen Dasheng (Tan Ta Sen), �Zheng He, Dongnanya De Huijiao Yu �San Bo Long Ji Jing Li Wen Biannianshi�� (Cheng Ho, Kaum Muslim Asia Tenggara, dan �Catatan Perjalanan Melayu, Semarang dan Cirebon�), dalam Zheng He yu Dongnanya (Cheng Ho dan Asia Tenggara), editor Liao Jianyu (Leo Suryadinata) , Singapore International Zheng He Society, 2005:52-83; Sumanto Al Qartuby, Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara abad XVI,Yogyakarta, Inspeal Ahimsakarya Press, 2003.

[3] WF Wertheim, �Social Change in Java, 1900-1930�, dalam East-West Parallels, The Hague, W Van Hoeve Ltd, 1964:211-237.

[4] Lea A Williams, Overseas Chinese Nationalism: The Genesis of the Pan-Chinese Movement in Indonesia , 1900-1916, Glencoe, Free Press, 1960:13-16.

[5] Idem:54-113.

[6] William Skinner, �Java�s Chinese Minority: Continuity and Change�, Journal of Asian Studies 20, No.3, 1961:353-362.

[7] Li Quanshou (Lie Tjwan Sioe), �Yindunixia Huaqiao Jiaoyu Shi� (Sejarah Pendidikan Tionghoa Perantauan di Indonesia), Nanyang Xuebao 15, No.1-2, 1959.

[8] Uraian ringkas kedua peraturan ini, lihat Leo Suryadinata, Indigenous Indonesians, the Chinese Minority and China : A Study of Perceptions and Policies, Kualalumpur dan London , Heinemann Asia, 1978:129-153.

[9] Lihat Leo Suryadinata, Pribumi Indonesians, the Chinese Minority and China : A Study of perceptions and Policies, Kualalumpur , Singapore dan London , Heinemann Asia, 1978:25-28.

[10] Banyak penerbitan seputar kekerasan anti-Cina Mei 1998, seperti Jemma Purdy, Anti-Chinese Violence in Indonesia 1996-1999, National University Press of Singapore, 2006; Kerusuhan Mei 1998, Data dan Analisa: Mengangkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Jakarta, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, 2007.

[11] Uraian singkat tentang organisasi etnik Tionghoa sesudah kejatuhan Suharto, lihat Leo Suryadinata, �Resurgence of Ethnic Chinese Identity in Post-Suharto� s Indonesia : Some Reflections�, Asian Culture 31, Juni 2007.

Penerjemah: Harsutejo

Dari Leo Suryadinata (ed), Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia, Chinese Heritage Centre & Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2008 (?).