INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU


dari google.comKetika saya menonton film-fil Amerika Serikat (AS), ada satu hal yang tidak pernah hilang dari pengamatanku. Satu hal itu adalah kebanggaan warga AS. Ialah bendera Amerika. Kadang terlihat tergantung di depan pintu rumah, kadang di tempel di kemeja atau topi,  dan pasti bendera kebanggaan mereka itu selalu ada.

Akhir-akhir ini saya coba surfing blog di blogspot, saya sering ketemu blog-blog warga Malaysia. Mayoritas mereka juga selalu memasang foto bendera mereka di sisi kanan atau kiri blog mereka. Sebuah bendera Malaysia, dan di sampingnya bertuliskan “JAYA MALAYSIAKU”.

Bagi kita di Indonesia, kebanggaan itu menurut saya ada pada jaman Soekarno.  Bendera itu selalu tertempel di topi atau seragam pemerintah. Setiap kali bertemua antara yang satu dengan yang lain, selalu berteriak, “Merdeka Bung! Atau Hidup Indonesia Raya!

Bila kita amati situasi bangsa dan negara ini sekarang, hampir rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia hilang, meskipun selalu didelorakan, “Aku Cinta Produk Indonesia!” atau ketika kasus Ambalat yang memicu kerenggaran hubungan antar negara dengan Malaysia, baru rasa kebanggaan itu muncul pada warga Indonesia.

Yang lebih tidak enak lagi, para oknum pejabat negeri ini sibuk memikirkan untuk mempertahankan kekuasaan atau jabatan. Sedangkan rakyat atau mereka yang dilayaninya dibiarkan hidup sengsara dan menderita. Apa lagi yang menjadi kebanggaan mereka sebagai warga Indonesia? Mereka hanya bangga dengan kekuasaannya.

Kita salut terhadap warga AS yang bangga dengan negaranya, Malaysia dengan kebanggaannya sendiri.

Sebenarnya, di Indonesia banyak hal yang sangat membanggakan yang dipuji oleh manca negara. Pancasila adalah salah satu yang dipuji sebagai kebanggaan Indonesia karena bisa mempersatukan warga negara indonesia yang majemuk, plural, mutlikultural atau apa saja sebutannya.

Bila dikaji lebih dalam,  soal kebanggaan Indonesia ada beberapa hal: bendera merah putih lambang negara Indonesia.   Ada aneka agama (sekurangnya 6 agama) dan dengan berbagai bahasa dan dipersatukan bahasa Indonesia.

Kebanggaan itu bisa terpatri dalam lubuk Indonesia bila menyadari aneka kebanggaan yang dimilikinya itu. Suatu saat nanti para warga negara Indonesia suatu saat mengatakan;

  1. INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU;
  2. INDONESIA NEGARAKU, KATOLIK AGAMAKU;
  3. INDONESIA NEGARAKU, KRISTEN AGAMAKU;
  4. INDONESIA NEGARAKU, BUDDHA AGAMAKU;
  5. INDONESIA NEGARAKU, HINDU AGAMAKU;
  6. INDONESIA NEGARAKU, KONGHUCU AGAMAKU; dst.

Kebanggaan itu tidak perlu mengurangi rasa, nilai dan jiwa keindonesiaan kita dan kehidupan keagamaan kita. Sebab Pancasila adalah pedoman atau prinsip hidup bersama dalam bernegara dan berbangsa  di tengah keberbedaan kita. Nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaa, perdsatuan, kerakyatan yang dipimpin kebijaksanaan dan keadilan sosiak menjadi prinsip dalam hidup bersama sebagai warga negara.

Agama adalah perekat hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan horizsontal dengan sesama dan seagama.  Agama lain  harus dihormati.

Apakah kita masih bangga dengan dengan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia? Apakah anda masih bangga dengan Pancasila? Wallahualam. Bila masih bangga, insyaallah. (Pormadi S)

PEMIMPIN YANG BISA MEMIMPIN


Saya terkesan ketika seorang CEO sebuah perusahaan memberi arahan kepada bawahan-bawahannya, bahwa dalam menghadapi krisis sekarang justru program-program yang menyangkut pengembangan kepemimpinan perlu digalakkan. “Nasib perusahaan ada di tangan anda, di setiap departemen dan semua unsur organisasi. Sekaranglah waktunya anda membuktikan kepemimpinan”.

 

Pemimpin memang sudah seharusnya: memimpin. “The leaders have to lead”. Nampaknya memang banyak kasus, dimana individu yang diharapkan memimpin sekadar melaksanakan tugasnya dan tidak mengadapi secara konfrontatif segala kompleksitas, ambiguitas dan “unpredictabilities”,  di samping tentu saa me-manage timnya. Terkadang saya jadi bertanya-tanya, bahkan berterima kasih kepada individu-individu yang bersedia, sampai-sampai agak “ngotot” untuk memegang tampuk kepemimpinan suatu lembaga, bahkan Negara. Meminam istilah Karen Agustiawan, mereka pastinya sangat paham dan jago dalam bukan saa “plan the work”, tetapi juga “working the plan”. Nah dalam working the plan inilah baru akan teruji daya adaptasi, inovasi, kejelian menangkap peluang, serta kecerdikan  dalam mengelola kegiatan operasional dalam situasi yang sangat berubah-ubah dan rumit dengan bimbingan yang sangat minimal.

 

Tidak Bisa Bilang: “Tidak Bisa”

 

Dalam setiap pembahasan mengenai kepemimpinan, para ahli sering menyebutkan bahwa pemimpin yang tidak punya visi dan tidak berpegang pada misi yang diemban tidak mungkin bisa sukses mengarahkan anak buah. Kitapun banyak membaca bahwa pemimpin yang berhasil adalah mereka yang membuat keputusan-keputusan yang cemerlang. Hal yang tidak banyak disebut-sebut adalah kesulitan pemimpin dalam menghadapi kompleksitas di lapangan.

 

Bisakah kita berempati pada Obama yang menghadapi musuh-musuh politiknya? Bisakah kita membayangkan Perdana Menteri Australia, menghadapi kebakaran hutan yang menewaskan paling sedikit 166 orang? Bagaimana dengan Karen Agustiawan, yang diberi tanggung awab memimpin lembaga paling produktif secara financial di Negara ini, Pertamina, dengan tujuh anak perusahaan? Dengan sedikit upaya, kita tentunya bisa membayangkan betapa ribet-nya kita bila masuk dalam posisi para pemimpin tersebut. Bahkan saya bertanya dalam hati, “Kok mau-maunya ya orang masuk dalam situasi sesulit itu?”

 

Harapan masyarakat terhadap seorang pemimpin tidak pernah memperkirakan dan mempertimbangkan kesulitannya, namun hanya permasalahannya tuntas. Pemimpin diharapkan menjadi tokoh yang selalu “be there” kalau ada kesulitan dan menyediakan solusi. Dalam keadaan yang terjepit secara financial dan perusahaan dituntut untuk menalankan program, kata-kata “tidak ada budget” bisa diungkapkan oleh departemen keuangan, tetapi pmimpin tertinggi tetap tidak bisa mengelakkan kalau program harus dialankan. The show must go on. Uangnya dari mana, pemimpinlah yang harus putar otak dan mengarahkan semua sumber daya untuk mencari solusi.

Pemimpin dipilih justru bukan karena ia bertugas menjalankan  tugas yang manis-manis. Justru dalam menentukan pilihan pada seorang pemimpin, pemegang saham ataupun rakyat sudah membayangkan pe-er yang mungkin tidak mudah, tentang hal-hal yang bukan saja terjadi di masa lalu tetapi juga yang kita tidak tahu di masa mendatang. Pemimpin ini pun tidak pernah diharapkan untuk sedikit-sedikit berkonsultasi, karena secara prinsip itulah bedanya pemimpin dengan bawahan: ia tidak mempunyai atasan tempat bertanya. Dalam situasi sulit begini, pemimpin juga tidak diharapkan untuk sedikit-sedikit excuse atau mengatakan alasan-alasan bahwa ia perlu waktu belaar, mempelajari atau menganalisa, karena gelombang perubahan yang lebih keras pun akan menyapu kondisi sekarang bila ia tidak menggerakkan organisasinya. “Things are going to go wrong and some crazy things are going to happen”.

 

Kompleksitas yang Menuntut Pengembangan Kekuatan dari Segala Aspek

 

Dalam merencanakan kegiatan assessment center, mengurai aspek-aspek kepemimpinan yang dituntut oleh suatu organisasi terkadang bisa menjadi diskusi yang sangat a lot. Minimalnya seorang pemimpin diharapkan bisa menampilkan kemampuan meneropong masa depan (visi), komitmen, akuntabilitas, integritas, fleksibilitas, keterampilan interpersonal, keterampilan komunikasi, serta mengelola sumber daya yang memberdayakan tim untuk mencapai sasaran.

 

Saat mengukur dan memetakan “kurang lebih”-nya keadaan orang yang dinilai dengan aspek kepemimpinan yang diukur, saya sering membatin, apakah mungkin seorang pemimpin bekera all out bila ia tidak mempunyai kekuatan full spectrumi dalam menghadapi kompleksitas yang ada. Bukan zamannya lagi kita menyebut-nyebut peran pemimpin dengan berperan ganda atau beberapa peran sekaligus, karena setiap pemimpin memang diharapkan berperan secara multifacet. Tiada maaf bagi pemimpin yang lemah dalam sisi tertentu, karena seluruh lembaga akan diserang di sisi lemah tersebut, otomatis lemahlah seluruh organisasi atau negaranya.

 

Bahkan, sambil menggerakkan, seorang pemimpin juga perlu meyakinkan diri dan tim, bahwa pasokan dan kebutuhan tim serta anak buah bahkan rakyat cukup. Bukankah ini yang diharapkan rakyatnya atau pemegang saham? Jadi pemimpin perlu bisa memainkan banyak peran dari penggerak, pemasok, pengelola sumber daya yang efisien, penyemangat, pemecah masalah, pengayom dan masih berpuluh-puluh peran yang memang perlu tampil dimainkan. Kelihatannya tuntutan terhadap seorang pemimpin belum berubah dari zaman dahulu seperti yang dituliskan Mark Twain dalam Life on the Mississippi: “the man has got to learn more than any one man ought to be allowed to know”  dan “that he must learn it all over again in a different way every 24 hours”. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 14/02/2009).

Akhirnya, Vatikan Mengakui Teori Evolusi Charles Darwin


Akhirnya, Vatikan Mengakui Teori Evolusi Charles Darwin

Richard Owen, RomeTimesonline, February 11, 2009

 

[Rome 11/2/09]Vatikan telah menerima teori Charles Darwin bahwa manusia berasal dari kera.

A leading official declared yesterday that Darwin’s theory of evolution was compatible with Christian faith, and could even be traced to St Augustine and St Thomas Aquinas. “In fact, what we mean by evolution is the world as created by God,” said Archbishop Gianfranco Ravasi, head of the Pontifical Council for Culture. The Vatican also dealt the final blow to speculation that Pope Benedict XVI might be prepared to endorse the theory of Intelligent Design, whose advocates credit a “higher power” for the complexities of life.

Organisers of a papal-backed conference next month marking the 150th anniversary of Darwin’s On the Origin of Species said that at first it had even been proposed to ban Intelligent Design from the event, as “poor theology and poor science”. Intelligent Design would be discussed at the fringes of the conference at the Pontifical Gregorian University, but merely as a “cultural phenomenon”, rather than a scientific or theological issue, organisers said.

The conference is seen as a landmark in relations between faith and science. Three years ago advocates of Intelligent Design seized on the Pope’s reference to an “intelligent project” as proof that he favoured their views.

Conceding that the Church had been hostile to Darwin because his theory appeared to conflict with the account of creation in Genesis, Archbishop Ravasi argued yesterday that biological evolution and the Christian view of Creation were complementary.

Marc Leclerc, who teaches natural philosophy at the Gregorian University, said that no scholar could “remain indifferent” to the 200th anniversary of Darwin’s birth tomorrow. There was, however, “no question of celebrating” it.

The Vatican would “take the measure of an event, which has left its mark for ever on the history of science and has influenced the way we understand our humanity”. The “time has come for a rigorous and objective valuation” of Darwin by the Church, he said.

Professor Leclerc said that too many opponents of Darwin – above all Creationists – had mistakenly claimed that his theories were “totally incompatible with a religious vision of reality”, as did proponents of Intelligent Design.

 

Darwin’s theories had never been formally condemned by the Roman Catholic Church, Monsignor Ravasi insisted. His rehabilitation had begun as long ago as 1950, when Pius XII described evolution as a valid scientific approach to the development of humans. In 1996 John Paul II said that it was “more than a hypothesis”.

Father Giuseppe Tanzella-Nitti, Professor of Theology at the Pontifical Santa Croce University in Rome, said that Darwin had been anticipated by St Augustine of Hippo. The 4th-century theologian had “never heard the term evolution, but knew that big fish eat smaller fish” and that forms of life had been transformed “slowly over time”. Aquinas had made similar observations in the Middle Ages, he added.

He said it was time that theologians as well as scientists grappled with the mysteries of genetic codes and “whether the diversification of life forms is the result of competition or cooperation between species”. As for the origins of Man, although we shared 97 per cent of our “genetic inheritance” with apes, the remaining 3 per cent “is what makes us unique”, including religion.

“I maintain that the idea of evolution has a place in Christian theology,” Professor Tanzella-Nitti added.

Creationism remains powerful in the US, however, notably among Protestants, and its followers object to evolution being taught in state schools.

The Church of England is seeking to bring Darwin back into the fold with a page on its website paying tribute to his “forgotten” work in his local parish, to illustrate how science and Church need not be at odds. Several pages celebrate Darwin’s “significant scientific progress” to mark his bicentenary and also the 150th anniversary of On the Origin of Species.

The Church wants to correct the impression that Darwin’s relationship with Anglicanism was contentious. The Anglican Church as a whole did not condemn Darwin or his beliefs. It says that although he lost his faith, he did not become antiChurch or antireligious. [Timesonline]

Sumber: http://mirifica.net/printPage.php?aid=5601

Ilmuwan Inggris: Anak Terlahir sudah “Mengimani” Tuhan


Thursday, 11 December 2008 08:41

Penelitian ilmiah Dr. Justin Barrett menunjukkan bahwa mengimani
Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir

Hidayatullah. com– Pernyataan bahwa keyakinan kepada Tuhan dalam
kepribadian anak adalah hasil indoktrinasi semata dibantah oleh Dr.
Justin Barrett, peneliti ahli di Centre for Anthropology and Mind,
University of Oxford, Inggris. Hasil penelitian ilmiahnya bertahun-
tahun menunjukkan bahwa mengimani Tuhan merupakan tabiat bawaan anak sejak lahir. Temuan ini sekaligus membantah pandangan kaum Ateis.

Laporan ini diliput Martin Beckford di media kondang Inggris,
Telegraph, 24 November 2008 dengan judul “Children are born believers in God, academic claims” (Anak terlahir mengimani Tuhan, kata akademisi). Menurut Dr. Barrett, manusia berusia muda menganggap bahwa setiap sesuatu di dunia diciptakan dengan sebuah tujuan. Ini menjadikan mereka memiliki kecenderungan meyakini keberadaan Dzat Mahatinggi.

Anak-anak yang masih belia telah memiliki keimanan kepada Tuhan
bahkan meskipun mereka belum diajarkan tentang hal itu oleh keluarga
mereka atau oleh guru mereka di sekolah. Mereka yang dibesarkan
sendirian di pulau tak berpenghuni sekalipun akan menjadi beriman
kepada Tuhan, kata Dr. Barrett yang juga tercatat namanya di
Institute for Cognitive and Evolutionary Anthropology, Oxford
University , Inggris.

Bukti ilmiah berlimpah

Sebagaimana disiarkan BBC Radio 4 tanggal 24 November lalu, pendapatDr. Barrett ini menyanggah pandangan sebagian kalangan ateis. Kalangan yang mengingkari Pencipta itu berpendapat bahwa keyakinan agama didapatkan anak melalui indoktrinasi dalam keluarga.

Hal ini telah dibantah ilmu pengetahuan modern. Menurut Dr. Barrett,
bukti-bukti ilmiah selama kurang lebih 10 tahun terakhir lebih kuat
menunjukkan bahwa lebih banyak faktor tampak mempengaruhi
perkembangan alamiah pola pikir anak. Ini di luar dugaan semula.

Di antara faktor ini adalah kecenderungan melihat dunia alamiah
sebagai sesuatu yang memang telah dirancang dan punya tujuan, dan
bahwa suatu wujud cerdas ada di balik tujuan itu, kata Dr. Barrett.

Dr. Barrett memiliki bukti-bukti hasil temuan ilmiah di bidang
psikologi yang melibatkan anak-anak. Menurutnya, kumpulan bukti ini
menunjukkan anak-anak memperlihatkan keyakinan naluriah bahwa hampir segala sesuatu telah sengaja dirancang untuk suatu tujuan tertentu.

Di antara bukti ilmiah yang mendukung adalah percobaan pada bayi-bayi berusia 12 bulan. Perilaku keterkejutan teramati pada bayi-bayi itu
saat diperlihatkan film di mana sebuah bola gelinding tampak tiba-
tiba saja mencipta sebuah tatanan teratur rapi dari tumpukan acak.

Dalam kajian ilmiah lain, anak-anak usia 6 dan 7 tahun ditanya
mengapa burung pertama ada di dunia ini. Mereka menjawab “untuk
membuat musik yang indah” dan “karena hal itu menjadikan dunia tampak indah “.

Dr. Barrett memaparkan fakta tambahan mengenai penelitian tersebut.
Ada bukti bahwa anak-anak yang usianya belum melebihi 4 tahun
sekalipun telah paham bahwa meskipun sejumlah benda dibuat oleh
manusia, namun dunia alamiah sungguhlah berbeda.

Ateis merasa terganggu

Bisa ditebak, kalangan intelektual ateis sangatlah terganggu dengan
temuan ini. Di antaranya adalah Anthony Grayling, Profesor Filsafat
di Birkbeck College, University of London , Inggris. Di koran
Guardian, 28 November 2008, ia menuliskan sanggahannya terhadap
pernyataan-pernyata an Dr. Barrett tersebut.

Namun sanggahan tersebut lebih banyak berisi kecaman terhadap
organisasi pemberi dana penelitian Dr. Barrett, yakni Templeton
Foundation. Sanggahan semacam ini tentu saja tidak ilmiah dan tidak
bisa sama sekali digunakan untuk menyanggah hasil penelitian ilmiah.

Misalnya, adalah hal wajar dan biasa di dunia ilmiah bahwa perusahaan
farmasi mendanai kajian ilmiah mengenai obat-obatan, lembaga
pertahanan mengucurkan dana penelitian tentang teknologi
persenjataan, dsb. Namun untuk mengatakan bahwa hasil penelitian
ilmiah itu keliru karena didanai oleh lembaga-lembaga tertentu
sangatlah tidak ilmiah. Menyanggah suatu hasil kajian ilmiah haruslah
dengan kajian ilmiah pula.

Evolusi tidaklah alamiah

Dalam bukunya “Why Would Anyone Believe in God?” (Mengapa Orang
Percaya Tuhan?) Dr. Justin Barrett memberikan jawaban sederhana atas
pertanyaan yang menjadi judul bukunya tersebut: itu karena pola pikir
kita sudah dirancang demikian. Penulis memaparkan hal ini disertai
bukti berlimpah dari bidang ilmu kognitif (cognitive science), yakni
ilmu yang mempelajari perihal pola pikir dan kecerdasan.

Di samping itu, pakar antropologi telah menemukan bahwa di sejumlah
masyarakat tertentu anak-anak mengimani Tuhan bahkan ketika ajaran-
ajaran mengenai agama tidak diberikan kepada mereka, kata Dr. Barrett.

Hasil kajian ini berarti bahwa anak-anak lebih cenderung percaya
mengenai penciptaan daripada evolusi, terlepas apa yang dikatakan
para guru atau orang tua mereka. “Pola pikir yang mengalami
perkembangan secara wajar dan alamiah pada diri anak-anak menjadikan mereka lebih mudah meyakini penciptaan ilahiah dan perancangan cerdas. Sebaliknya, evolusi tidaklah alamiah bagi nalar manusia; relatif sulit untuk dipercaya”, imbuh Dr. Barrett.

Teor evolusi menolak keberadaan Pencipta, penciptaan dan adanya
perancangan sengaja di balik keberadaan alam semesta dan kehidupan
ini. Dalam kacamata teori evolusi, dunia seisinya adalah mutlak
bersifat materi semata. Keberadaannya bukan karena ada Tuhan yang
menciptakan, namun muncul menjadi ada dengan sendirinya, tanpa tujuan dan tanpa makna keberadaan. [wwn/telegraph/ guardian/ bbc-
radio4/www.hidayatu llah.com]


Organisasi Pembelajar: “Shared Experiences”


Organisasi pembelajar merupakan organisasi ideal

Organisasi pembelajar merupakan organisasi ideal

ORGANISASI PEMBELAJAR

Sebuah perusahaan yang sukses, namun kegiatan manajemennya dipandang terlalu terlalu “praktis”,  menyelenggarakan program bisnis dan manajemen kepada karyawan, yang dilakukan ekstra di malam hari seusai aktivitas kantor. Salah satu peminat program tersebut dalam acara kick-off program menanyakan pada saya mengenai “agenda” top manajemen dalam mengadakan program ini. Ternyata, beberapa karyawan di perusahaan yang sudah mencantumkan “learning organization” dalam falsafah perusahaannya selama hampir 10 tahun, program yang beragenda untuk memintarkan karyawan ini masih dipandang aneh.

Di tengah dunia yang kini menjadi begitu kompetitif dan terus berubah, di mana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa individu dan organisasi yang senantiasa belajar-lah yang bisa survive. Namun, sekadar menambah kelas training atau mengirimkan sejumlah karyawan untuk sekolah, nyata-nyata tidak semata lantas membuat organisasi menjadi learning organization. Sebuah lembaga pemerintah bergengsi, yang secara terprogram membiayai karyawannya untuk meningkatkan gelar pendidikan ke jenjang S2, bahkan sangat lumrah sampai ke jenjang PhD, dan sangat rajin mengirimkan para ahlinya ke luar negeri, tetap belum dapat digolongkan sebagai learning organization karena budaya belajarnya tidak kelihatan dari luar, maupun tidak terasa di dalam.

Menurut para ahli,  “In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can get smarter”. Ternyata dalam organisasi pembelajar, tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan namun pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan, kalau dalam sebuah organisasi saja proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?

Organisasi Pembelajar: “Shared Experiences”

Dari beberapa organisasi pembelajar yang sukses, kita bisa mem-bench mark beberapa praktik yang sebetulnya sudah kita laksanakan, walaupun belum sistematis. Dalam organisasi pembelajar yang sudah jadi, saya amati individunya menampilkan tindakan yang terkontrol dan kata-katanya tidak sekadar “asbun” (asal bunyi), namun lebih bisa dipertanggungjawabkan, terkait “lesson learned” dan informasi kunci untuk menampilkan pemikiran terbaiknya. Yang jelas, setiap individu di dalam perusahaan  menampilkan sikap “tidak pelit ilmu” dan juga meyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi pembelajar tidak muncul dalam suasana “sinau” (belajar intensif, bahasa Jawa), namun lebih tampak pada diskusi  seru, komunikasi intensif, keinginan untuk updating, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Darimana kamu dapat ide itu?”, “Bagaimana kalau …”, berkumandang di rapat-rapat, yang membuat setiap orang di perusahaan seperti berada di sebuah laboratorium raksasa yang tiada hentinya menyambut tantangan  yang berasal dari masalah dan kesempatan  yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan di lapanganlah yang menjadi fokus untuk memperoleh “lesson learned”, bukan semata teori.

Organisasi boleh berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak biaya untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tetapi kalau suasana kerja tidak “customer friendly”, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berperilaku tidak sejalan dengan misi perusahaan alias penuh birokrasi dan sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma. Tampaknya, organisasi pembelajar tercipta hanya bila suasana  kerja mendorong “pengembangan pribadi” dan “personal mastery” secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk “problem solving” dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.

Senantiasa Tumbuhkan Aura “Waspada”

Kalau kita ingat di masa sekolah dulu, kita akan belajar lebih intensif bila guru sering membuat pertanyaan tiba-tiba. Sayangnya di perusahaan kita sering lupa menghidupkan aura kewaspadaan ini. Ada yang berpikir harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir: “ Ah, belajar hal baru itu tidak penting.  Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya”. Sikap “layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunnya spirit belajar dari organisasi.

Seorang yang kuat belajar pasti meyakini bahwa ia bisa belajar kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apapun. Hanya saja karena proses belajar tidak dilakukan dalam waktu tertentu dan disengaja, maka kita sebagai individulah yang perlu aktif menangkap signal atau gejala yang secara signifikan bisa menambah wawasan kita, sendiri.  Di sinilah sikap waspada kita sangat diperlukan.

Belajar Formal Hanya Efektif Bila Semangat Pengembangan Diri Sudah Bangkit

Sebuah perusahaan mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas customer service-nya melalui program jumpa pelanggan, riset kepuasan pelanggan dan membuka jalur keluhan langsung. Hasil dari program tersebut adalah “brutal facts” dan “bad news” yang bertubi-tubi dan dan membuat semua orang shock, sehingga terdorong mencari jalan keluarnya bersama-sama. Tanpa diduga, pada saat inilah organisasi merapatkan barisan, bertekad untuk belajar dan mengembangkan diri.

Sebuah studi menemukan bahwa 70% dari pembelajaran di tempat kerja bersifat informasi, misalnya dari observasi dan refleksi dari pengalaman individu, tim, perusahaan dan pihak lain. Kita lihat bahwa dalam proses pembelajaran di tempat kerja, dosis “action” dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Pencanangan target dan dan tujuan, rotasi jabatan dan kerjasama lintas fungsi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat untuk belajar, memperbaiki diri dan berubah sudah bangkit dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan pembelajaran formal bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/ Kompas/ Klasika/26/07/2008).