MAGNIS- SUSENO


Romo Franz Magnis-Suseno, seorang filsuf dan staf pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, genap berusia 75 tahun pada 26 Mei 2011. Romo Magnis telah 50 tahun di Indonesia. ”Kompas” mewawancarainya untuk mendapatkan pemikirannya mengenai berbagai persoalan bangsa. 

Apakah Romo berolahraga atau melakukan olah batin?

Tentu, dari sudut rohani, yang terus mempertahankan saya adalah bahwa saya merasa dilibatkan dan terlibat dalam nasib bangsa ini. Nasib bangsa ini ada pasang-surut, tetapi tidak pernah membosankan. Selalu ada sesuatu yang baru dan menantang. Saya juga terlibat dengan Gereja Katolik. Saya menganggap sangat penting gereja saya menempatkan diri secara benar dalam masyarakat Indonesia yang plural dengan struktur tertentu, yaitu bahwa kalau umat saya bisa melakukan itu (menempatkan diri secara benar dalam masyarakat), dia bisa menyumbangkan sesuatu bagi perdamaian, kesejahteraan, dan suasana baik dalam masyarakat. 

Apa pandangan Romo terhadap kondisi bangsa saat ini?

Saya belum pesimistis. Soalnya, saya sudah 50 tahun lebih di Indonesia, mengalami beberapa guncangan paling serius dalam sejarah Indonesia. Jadi, bayangkan tahun 1965-1966, lalu macam-macam peristiwa, sampai 1998, dan perkembangan demokrasi. Kesan saya, sebetulnya bangsa Indonesia memiliki lebih banyak substansi dan stamina daripada yang sering dikatakan orang. Jadi, tidak betul bahwa nasionalisme sudah menguap. Itu kadang-kadang kelihatan. Saya melihat bahwa Indonesia biasanya keluar dari krisis sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Memang tidak ada kemajuan lurus, tetapi situasi tidak menjadi lebih jelek. Itu masih pada umumnya.

Saya juga punya latar belakang perbandingan dengan negara lain. Jangan mengharapkan bangsa seperti Indonesia yang secara mendadak dengan irama yang dipaksakan dari neokolonialisme dan imperialisme keluar dari tradisinya, dipaksa menjadi bangsa modern—modernitas untuk sebagian berarti lahan eksploitasi luar negeri—bahwa itu lalu berjalan mulus. Katakanlah, ada proklamasi kemerdekaan, lalu kami makin lama makin cepat menjadi demokrasi yang mantap, ya tidak.

Mengapa sejak reformasi korupsi dan radikalisme agama terus berkembang?

Itu yang menjadi tantangan yang paling besar. Kita sudah memiliki kemajuan dalam struktur demokrasi meskipun belum mantap, terutama hak asasi manusia betul-betul berakar dalam konstitusi. Namun, yang tidak berhasil adalah justru reformasi KKN dan itu serius. Kalau kelas politik kita dipersepsi oleh masyarakat sebagai orang-orang yang hanya penuh pamrih memanfaatkan keberuntungan pribadi untuk menjadi kaya. Apabila ada kesan seperti sekarang setiap bulan tidak ada satu proyek pun orang tidak mengotori tangannya. Mengapa orang menolak gedung baru DPR karena orang sudah mengandaikan—dan itu pasti—bahwa anggota DPR sudah memperhitungkan mendapat potongan sekitar 15 persen dari gedung itu. Kalau itu berjalan terus, demokrasi kita akan gagal, dan itu akan sangat serius. Jadi, saya menganggap korupsi itu tantangan terbesar.

Anda bertanya, apa dasar korupsi. Itu pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Menurut saya, itu kompleks. Yang pertama, waktu reformasi, reformasi itu hanya setengah-setengah. Penurunan pengaruh Pak Harto dan pengaruh langsung politis geng Pak Harto diakhiri dan diadakan demokrasi. Tapi, kepentingan-kepentingan ekonomis lain, termasuk keluarga Pak Harto dan sebagainya, tidak tersentuh sehingga setelah ada otonomi daerah yang dilakukan secara sangat sembrono malah korupsi meluas dan sekarang situasi malah lebih buruk. Itu satu unsur.

Seluruh masyarakat sepertinya merasa bahwa yang penting bukan bekerja dengan rajin mencari kompetensi dengan tanggung jawab. Tetapi, yang perlu adalah mencari bos yang sudah di atas dan kita dengan kolusi bisa ikut di situ. Itu tentu saja sangat fatal.

Kepemimpinan lemahKita juga menderita kepemimpinan yang lemah. Sebetulnya, sudah sejak sesudah Pak Habibie. Jadi, sejak sesudah Pak Habibie, kita tidak punya kepemimpinan yang memberi kesan bahwa mereka kuat. Termasuk Gus Dur. Gus Dur punya banyak jasa, tetapi justru dalam hal korupsi tidak banyak dasarnya. Saya tidak mengatakan mereka bersalah. Kita punya lembaga pemberantasan korupsi yang lebih baik daripada yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. KPK masih baik juga dan banyak orang tertangkap, terutama sejak SBY berkuasa. Itu juga harus dilihat. Tetapi, tetap korupsi berjalan. Yang jelas, tanpa kepemimpinan yang bertekad betul mengambil tindakan, didukung public opinion, kita tidak akan berhasil dan itu bisa meruntuhkan.

Soal radikalisme agama?

Mengenai pertanyaan ekstremisme, itu juga tentu ada kaitan. Kebanyakan warga bangsa menurut saya tetap tidak ekstrem dan mungkin malah tidak akan pernah menjadi ekstrem. Tapi, kalau mereka mengalami bahwa lebih 10 tahun demokrasi tidak menjamin masa depan yang lebih baik dan kenegaraan lebih terhormat, apakah kita heran kalau mereka ikut penawar-penawar alternatif yang mengatakan, mengapa tidak ikut kami. Kami sudah punya blue print bagaimana bisa diatasi. Tentu saja radikalisasi memanfaatkan keterbukaan demokratis. Radikalisme di Indonesia selalu ada. Dulu, ada Darul Islam. Sebuah gerakan di Jawa Barat yang kuat betul.Tentu ada macam-macam perkembangan internasional yang juga memainkan peranan. Kita melihat menguatnya ekstremisme religius tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di banyak tempat lain. Latar belakang masalah itu sering kompleks. Misalnya saja, saya mendengar bahwa Islam orang-orang Turki di Jerman lebih fundamentalis daripada Islam di Turki sendiri. Ini tentu masalah kultural barangkali. Di Indonesia juga kompleks.

Negara Pancasila berarti, dalam pandangan saya, negara boleh saja ada warna Islami. Menurut saya, Indonesia akan menjadi lebih Islami, tetapi tidak dalam arti mengancam kebebasan beragama. Salah satu masalah adalah bahwa negara membiarkan kekerasan atas nama agama berjalan. Itu serius karena itu memengaruhi masyarakat. Masyarakat sendiri bingung. Andai kata negara sedikit meniru Malaysia dengan tegas mengatakan zero tolerance, saya kira kebanyakan kekerasan tidak akan jadi. Kita juga harus memerhatikan imbauan dari pimpinan NU maupun Muhammadiyah agar negara tidak membiarkan kekerasan berjalan. Kasus Ahmadiyah memang ada perbedaan pendapat. Tetapi, baik NU dan Muhammadiyah sudah jelas mengatakan, kami tidak ingin ada kekerasan terhadap Ahmadiyah.

Dari sisi masyarakat, toleransi sudah berkembang baik?

Kesan saya toleransi sekarang terancam tidak berkembang justru karena ada pembiaran sehingga tendensi intoleransi bertambah. Saya punya kesan intoleransi bertambah. Misalnya, dulu, kalau pembangunan gereja digagalkan biasanya argumennya kristenisasi. Tapi, sejak beberapa tahun, tidak lagi. Argumennya, kami tidak mau orang Kristen beribadah di dekat kami. Ini kan tanda penambahan intoleransi. Itu intoleransi murni.

Mengapa ada pembiaran dari pemerintah?

Tanya sama pemerintah. Saya tidak mengerti. Saya bisa membayangkan bahwa pemerintah melakukan tindakan tegas. Aparat kepolisian diberi perintah tegas bahwa segala konfrontasi fisik atas nama agama tidak diizinkan terjadi. 

Bagaimana Romo melihat liberalisasi di bidang ekonomi?

Saya tidak mau secara rinci mengomentari kebijakan perdagangan internasional karena saya bukan ahli. Saya berpendapat, perdagangan yang lancar menguntungkan daripada tidak. Tapi, saya sebagai awam heran. Saya mendengar pemerintah mengatakan bahwa hubungan dagang sesama ASEAN, Asia Timur semakin lancar, tanpa menjadi acuan sama sekali terhadap dampak kepada orang kecil. Acuannya adalah menaikkan kesejahateraan bagi 50 persen rakyat Indonesia yang belum sejahtera. Jadi, yang penting adalah pertama membantu pekerjaan masyarakat memiliki nilai lebih, seperti di sektor pertanian. Mesti ada kebijakan bahwa petani padi, petani buah, dan sebagainya bisa lebih menghasilkan lebih banyak.

Kedua, sangat sederhana, membangun ekonomi yang menghasilkan tempat kerja. Misalnya, Freeport. Saya adalah orang yang tidak menentang asing. Tapi, saya tidak pernah mendengar pembelaan pemerintah terhadap kritik yang mengatakan bahwa kita menjual diri terlalu murah. Itu perlu ditanggapi. Perlu dikatakan bahwa kami memberikan kepada perusahaan asing karena menguntungkan Indonesia. Itu satu-satunya argumen. Kalau tidak, harus diubah.

Sejauh mana konsumtivisme memengaruhi masyarakat, khususnya kalangan elite?

Menurut saya, mereka terpengaruh. Kita melihat orang dituduh korupsi. Ada empat mobil mewah di tempat kerja. Mengapa empat? Apa gunanya? Tidak pernah bisa dipakai. Ini berarti nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya mengenai kehidupan mutu—yang juga bisa mewah—sudah menguap dan dikendalikan oleh promosi yang tentu menguntungkan produk-produk yang bukan ciptaan kita sendiri.

Saya juga tidak mengerti banyak buah luar negeri. Padahal, kita punya buah yang enak. Saya juga tidak mengerti mengapa jeruk kita sendiri kalah dengan jeruk luar negeri. Mengapa tidak ditingkatkan kualitasnya. Jeruk luar bisa enak karena pengembangan teknologi. Mengapa kita tidak buat jeruk kelas prima. Mengapa jeruk Malang atau Brastagi tidak dibuat lebih baik dan harus mengimpor? Saya tidak mengerti. Itu kegagalan pemerintah.

Apakah nilai moral dan spiritual semakin hilang sehingga konsumtivisme dan hedonisme merebak?

Mungkin, godaan terlalu besar. Orang tidak sadar. Itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Ekonomi modern menciptakan kebutuhan yang sebetulnya kita tidak dibutuhkan.

Apakah kalangan elite memiliki contoh?

Secara pribadi, saya tidak mau menilai dan tidak mau mengatakan ini semua preman. Siapa saya menilai mereka? Tapi, gambaran yang diperoleh terus-menerus, terutama sejak tiga tahun, hanya negatif, hanya rakus, dan serakah. Kalau itu menjadi pemimpin kita, bagaimana masyarakat bisa diharapkan.

Parpol lemah

Apakah partai politik dan politisi masih menyuarakan kepentingan rakyat?

Menurut saya, parpol-parpol kita masih sangat lemah. Kelemahan pertama bahwa masing-masing partai tidak punya cita-cita atau ideologi partai. Partai hanya melihat kepentingan partai, bukan rakyat. Tapi, partai pun hanya menjadi wahana bagi individu sehingga ada kutu loncat. Kita belum punya partai dengan sosok yang jelas. PDI-P ada semacam perasaan dekat dengan orang kecil, tetapi sudah hilang. Yang lain, sama saja.

Saya berpendapat, tidak ada demokrasi tanpa partai karena memberi sosok dan arah, tapi kita masih sangat lemah. Misalnya, Demokrat. Memperjuangkan apa? Kita tidak tahu. Kita tahunya Demokrat, SBY. Itu boleh saja, tapi lama-lama harus punya sosok mereka. Golkar sama saja. Golkar, mereka dari dulu itu, tapi bagaimana ideologi mereka.

Saya berpendapat, beberapa tindakan struktural perlu. Pertama, saya mendukung kenaikan ambang masuk parlemen. Itu cara paling sederhana untuk menyingkirkan partai kecil. Tidak usah memerhatikan keluhan mereka. Mereka tidak kita perlukan. Kalau bisa partai kecil bergabung dengan partai besar dan ditampung di dalamnya. Alangkah baiknya kita punya 5-6 partai bisa muncul.

Kedua, negara harus membiayai partai. Bagaimana mau memberantas korupsi kalau mau menjadi politisi harus membayar luar biasa dan terfokus pada uang dan dia harus dapat uang untuk membayar kembali. Atau memberi keuntungan kepada sponsor. Jadi, sistem bahwa negara tidak membiayai partai itu mengalahkan dirinya sendiri. Negara harus membiayai. Itu mungkin tidak populer, tapi perlu.

Masih ada harapan?

Kita harus membarui diri kita. Kalau ada tokoh penyelamat tahun 2014, alhamdulillah, tetapi kita harus bersama SBY sampai 2014. Tidak ada alasan pemakzulan sama sekali, kecuali kalau beliau melanggar UUD atau kriminal berat. Saya harapkan tidak. Kita harus meyakinkan SBY dan memperkuat mereka di sekitar dia. Saya tidak melihat alternatif lain.

Apakah ada tokoh nasional yang bisa diharapkan?

Saya tidak ingin masuk ke situ. Saya tidak melihat itu sekarang. Sekarang, kita harus bersama SBY meskipun dia memiliki beberapa kelemahan.

Lalu, apakah kritik diperlukan, seperti yang dilakukan tokoh lintas agama?

Kalangan kami keberatan dengan istilah kebohongan, di mana saya tidak hadir. Menurut saya, tidak begitu tepat memakai kata moral itu. Yang boleh kami lakukan adalah mengkritik. Seperlunya, mengatakan itu salah, tidak diurus dengan baik. Saya kira kami juga seperlunya menuntut. Ini perlu dilaksanakan atau ini tidak penting. Tapi, jangan katakan bohong. Saya merasa bahwa kata itu tidak menguntungkan.

Apa yang Romo rasakan setelah berusia tiga perempat abad?

Saya tidak pernah memikirkan tua dan muda. Saya sangat puas dengan situasi saya sendiri. Saya anggap umur tahun-tahun di atas 75 tahun sebagai diskon. Di Jerman, ada kebiasaan, kalau konser sudah selesai dan mendapat banyak tepuk tangan, mereka tambah main lagi sebagai diskon. Saya anggap setiap tahun adalah diskon dari Tuhan. Setiap saat Tuhan mau memanggil saya, it’s okay. Seluruh hidup, saya nikmati kesehatan dan kekuatan fisik yang bagus. Saya sangat berte- rima kasih dapat menikmatinya. Kalau tidak, ya tidak apa-apa.

Sebagai rohaniwan, mengapa Romo tetap bertahan dalam Serikat Jesus (SJ) dan Imamat?

Saya kira itu mudah saya jawab. Saya sepenuhnya hidup dari cita-cita Serikat Jesus. Jadi, saya seorang Yesuit sampai di tulang sumsum. Gagasan untuk meninggalkan ordo saya tidak pernah muncul. Saya merasa ordo SJ-lah ordo yang bagus dengan segala macam kelemahan, baik kolektif maupun pribadi. Saya bersyukur hidup saya penuh makna. Saya tidak pernah memikirkan untuk memilih cara hidup lain.
(Kompas, 5 Juni 2011)

Gerakan Lintas Agama Bentuk Perlawanan Terhadap Perusuh


Jumat, 11 Februari 2011

Gerakan tokoh lintas agama bentuk perlawanan secara damai terhadap rusuh massa di Temanggung, Jawa Tengah, pascasidang kasus penistaan agama, Selasa (8/2), kata Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo.

“Gerakan lintas agama ini memberikan perlawanan damai terhadap provokator yang berdampak negatif di Temanggung, kesatuan dan kerukunan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya saat dialog sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, di Magelang, Jateng, Jumat sore.

Rusuh massa di Temanggung telah mengakibatkan sejumlah gereja dan kompleks sekolah Kristen di daerah itu rusak. Polisi telah menetapkan delapan tersangka dan memeriksa puluhan orang yang diduga terkait dengan kejadian tersebut.Ia mengatakan, rusuh di Temanggung telah merusak citra bangsa. Tindakan pelaku penistaan agama Antonius Richmond Bawengan (50), warga beralamat di Jakarta, yang telah divonis hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Temanggung, katanya, bukan hanya penodaan terhadap agama Islam tetapi juga semua agama.

Pada kesempatan itu Budi menyampaikan keprihatinan Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta, atas rusuh massa di Temanggung.

“Beliau menyampaikan keprihatinannya baik kepada teman-teman sesama maupun umat Islam yang tercoreng karena peristiwa itu,” katanya.

Ia menyatakan dukungan terhadap gerakan mewujudkan persaudaraan sejati lintas iman dan agama.

Kekerasan, katanya, dilawan bukan dengan kekerasan tetapi melalui dialog dan seruan persaudaraan sejati serta perdamaian.

“Kami mendukung ajakan deklarasi persaudaraan sejati, persaudaraan sejati menjadi gerakan berkat bagi bangsa ini,” katanya.

Ia menyebut, kekerasan di Temanggung dan daerah lain di Indonesia tidak meruntuhkan pandangan gereja bahwa Islam membawa kedamaian untuk sesama dan semesta.

“Banyak umat Islam yang berkehendak baik dari pada kelompok kecil yang mengatasnamakan Islam yang merusak kehidupan. Islam juga berwatak damai, tidak ada faedahnya kekerasan dilawan dengan kekerasan. Lebih mengedepankan cinta kasih dari pada kebencian, ampuan dari pada balas dendam, perselisihan hanya menghancurkan kerukunan,” katanya.

Tokoh Gerakan Gusdurian yang juga putri sulung mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum), Alissa Qotrunnada Wahid, mengatakan, kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

“Penistaan dan perbedaan keyakinan selalu ada, tetapi penyelesaiannya bukan dengan kekerasan, melainkan melalui dialog,” katanya usai dialog itu.Ia mengemukakan, hingga saat ini masyarakat cenderung masih bicara soal golongan dari pada keindonesaian.

“Padahal harus ada porsi bicara, misalnya menyangkut kelompok, NU (Nahdlatul Ulama), Islam, Jawa, Indonesia. Yang tidak ada adalah bicara porsi sebagai orang Indonesia,” katanya.

Ia mengimbau perlunya bangsa Indonesia merevitalisasi dan menghidupi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dialog lintas agama yang rencananya berlangsung di Pendopo Pengayoman Rumah Dinas Bupati Temanggung, Jumat, dibatalkan karena tidak mendapat izin dari kepolisian. Sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng mengalihkan kegiatan itu di aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang.(*)(U.M029/Z002. (Antaranews.com)

PERNYATAAN SIKAP: MENOLAK PEMBANGUNAN TEMPAT IBADAH


Foto: Y. Pujasumarta (facebook)

Humor: Kumpulan Ankedot Kenang-kenangan Gus Dur


KUMPULAN ANEKDOT KENANG-KENANGAN DARI GUS DUR

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang ceplas-ceplos dan senang humor, nyaris di setiap omongannya Gus Dur selalu mampu memancing tawa hadirin. Ada yang tersenyum senang adapula yang tersenyum kecut karena merasa tersindir.

Kesan humoris benar-benar terasa di hampir semua liputan Kabari tentang sosok yang satu ini. Termasuk ketika Kabari bertemu Gus Dur di tahun 2007 dalam sebuah acara.

Bahkan Gus Dur ketika itu mau membagi sebuah anekdotnya khusus untuk Pembaca Kabari yang kemudian dimuat dengan judul “Do You Like Salad?”.

Berikut ini beberapa anekdot dari Gus Dur yang disampaikan beliau dalam beberapa kesempatan terpisah,

Kuli Dan Kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.

BABI HARAM

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Humor DPR

Ini guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah ‘turun pangkat’ setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.

“DPR dulu TK sekarang playgroup,” kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).

Media Salah Kutip

Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.

Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.

Gus Dur Dan Orang Mati

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya. 

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur. 

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” katanya.

Do You Like Salad?

Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

Humor NU

Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.

“Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” jelasnya tentang jenis yang pertama.

Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU.”
 
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Humor Polisi

Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.

“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur,” selorohnya.

Humor Umat Beragama

Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.

“Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor Jihad

Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan ‘menjamin’ tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.

“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.

Gus Dur pun menjawab, “Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi.”

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34310

Sumber: Kabari News.com

Non Muslim Masih Sulit Memperoleh IMB Rumah Ibadah


Masih sulitnya memperoleh surat Izin Mendirikan Rumah Ibadah (IMB) bagi Non-Muslim dan minimnya koordinasi pemerintah dengan FKUB merupakan topik yang mendominasi Workshop “Penguatan Kapasitas Tentang Hubungan Antaragama Berbasis Toleransi” yang digelar The Wahid Institute.

Acara workshop digelar bekerjasama dengan Lembaga Kajian Hukum Islam (LKHI) Fakultas Syariah, IAIN Raden Fatah Palembang, bertempat di Hotel Swarnadwipa, Palembang 24-26 Oktober 2009.

Narasumber yang hadir diantaranya Dr. Moqsith Ghazali, Dr. Rumadi (keduanya peneliti senior the Wahid Institute) dan Prof. Cholidi (guru besar Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang ) ini diikuti oleh sekitar 13 perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan tujuh tokoh agama Sumatera Selatan.

Bukan hanya di Jakarta dan sekitarnya masalah sulitanya memperoleh surat Izin Mendirikan Rumah Ibadah (IMB) bagi Non-Muslim secara umum juga dikemukakan oleh hampir semua peserta dari perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Kabupaten Sumatera Selatan seperti FKUB Banyuasin, FKUB Musi Rawas, FKUB Musi Banyuasin, FKUB Lubuk Linggau, dan FKUB Prabumulih.

Perwakilan FKUB Banyuasin menuturkan, sejak 2006, umat Hindu dan Buddha di wilayahnya tak bisa mendirikan pura dan vihara lantaran koordinasi antara Departemen Agama dan FKUB setempat lemah. Ia menganggap, pihak Depag kurang akomodatif dalam hal persyaratan administratif. “Setelah syarat administrasi IMB diajukan, pihak Depag meminta sarat 60 KTP yang telah dilegalisir dan harus mewakili masing-masing 15 pemeluk di bagian utara, timur, selatan, dan barat kampung tempat tinggal mereka. Setelah dipenuhi pihak Depag mensyaratkan lagi bahwa ke-60 KTP tersebut harus KTP pemeluk baru. Aturan macam apa ini?” katanya dengan nada meninggi.

Selain isu Izin Rumah Ibadah, isu lain yang dibicarakan adalah seputar peran dan fungsi FKUB serta pemerintah dalam menjamin kebebasan melakukan peribadatan. Terkait FKUB, peran dan fungsi yang menjadi sorotan adalah terkait dengan hubungan internal pemeluk agama, hubungan eksternal atau antarumat beragama, dan antarumat beragama dengan pemerintah

Meski dari sisi kuantitatif jumlah pelanggaran kebebasan beragama terkait pendirian rumah ibadah relatif minim dibanding kasus-kasus yang mencuat di Jawa Barat seperti Kuningan, Tasikmalaya, Cirebon, dan Depok, tapi berdasarkan hasil analisa FGD dan pengalaman yang disampaikan para peserta, potensi ketegangan dan pelanggaran di wilayah ini masih berpeluang terjadi, terutama terhadap kalangan minoritas.

Sumber : Kristiani Pos (http://www.christian post.co .id/europe/europe/20091015/5039/Non-Muslim-Masih-Sulit-Memperoleh-IMB-Rumah-Ibadah/index.html

Radikalisme Islam Menyusup ke SMU


 Radikalisme Islam Menyusup ke SMU

Friday, 23 October 2009

BEBERAPA hasil penelitian menemukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme Islam telah lama menyusup ke sekolah umum,  yaitu  SMU.

Siswa-siswi yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideologi radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi-organisa si siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (rohis).

Tampaknya jaringan ini telah mengakar dan menyebar diberbagai sekolah, sehingga perlu dikaji dan direspons secara serius, baik oleh pihak sekolah,pemerintah, maupun orang tua. Kita tentu senang anakanak itu belajar agama. Tetapi yang mesti diwaspadai adalah ketika ada penyebar ideologi radikal yang kemudian memanfaatkan simbol, sentimen, dan baju Islam untuk melakukancuciotak( brainwash) pada mereka yang masih pemula belajar agama untuk tujuan yang justru merusak agama dan menimbulkan konflik.

Ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua.

Pertama, para tutor penyebar ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintahan. Bahwa pemerintahan Indonesia itu pemerintahan taghut, syaitan, karena tidak menjadikan Alquran sebagai dasarnya.  Pemerintahan manapun dan siapa pun yang tidak berpegang pada Alquran berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan dilawan. 

Kedua, para siswa yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera.  Kalaupun mereka melakukan,itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi hatinya mengumpat. Mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya, dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan dari ritual beragama.

Ketiga, ikatan emosional pada ustaz,senior, dan kelompoknya lebih kuat daripada ikatan keluarga dan almamaternya.

Keempat, kegiatan yang mereka lakukan dalam melakukan pengajian dan kaderisasi bersifat tertutup dengan menggunakan lorong dan sudutsudut sekolah, sehingga terkesan sedang studi kelompok. Lebih jauh lagi untuk pendalamannya mereka mengadakan outbond atau mereka sebut rihlah, dengan agenda utamanya renungan dan baiat.

Kelima, bagi mereka yang sudah masuk anggota jamaah diharuskan membayar uang sebagai pembersihan jiwa dari dosa-dosa yang mereka lalukan. Jika merasa besar dosanya, maka semakin besar pula uang penebusannya.

Keenam, ada di antara mereka yang mengenakan pakaian secara khas yang katanya sesuai ajaran Islam, serta bersikap sinis terhadap yang lain.

Ketujuh, umat Islam di luar kelompoknya dianggap fasik dan kafir sebelum melakukan hijrah: bergabung dengan mereka.

Kedelapan, mereka enggan dan menolak mendengarkan ceramah keagamaan di luar kelompoknya. Meskipun pengetahuan mereka tentang Alquran masih dangkal, namun mereka merasa memiliki keyakinan agama paling benar, sehingga meremehkan, bahkan membenci ustaz di luar kelompoknya.

Kesembilan, di antara mereka itu ada yang kemudian keluar setelah banyak bergaul, diskusi secara kritis dengan ustaz dan intelektual diluar kelompoknya, namun ada juga yang kemudian bersikukuh dengan keyakinannya sampai masuk ke perguruan tinggi.

Menyusup ke Kampus

Mengingat jaringan Islam yang tergolong garis keras (hardliners) menyebar di berbagai SMU di kotakota Indonesia, maka sangat logis kalau pada urutannya mereka juga masuk ke ranah perguruan tinggi.

Bahkan, menurut beberapa sumber, alumni yang sudah duduk sebagai mahasiswa selalu aktif berkunjung ke almamaternya untuk membina adik-adiknya yang masih di SMU.

Ketika adik-adiknya masuk ke perguruan tinggi, para seniornya inilah yang membantu beradaptasi di kampus sambil memperluas jaringan.

Beberapa sumber menyebutkan, kampus adalah tempat yang strategis dan leluasa untuk menyebarkan gagasan radikalisme ini dengan alasan di kampuslah kebebasan berpendapat, berdiskusi, dan berkelompok dijamin. Kalau di tingkat SMU pihak sekolah dan guru sesungguhnya masih mudah intervensi, tidaklah demikian halnya di kampus.

Mahasiswa memiliki kebebasan karena jauh dari orang tua dan dosen pun tidak akan mencampuri urusan pribadi mereka. Namun karena interaksi intelektual berlangsung intensif, deradikalisasi di kampus lebih mudah dilakukan dengan menerapkan materi dan metode yang tepat. Penguatan mata kuliah Civic Education dan Pengantar Studi Islam secara komprehensif dan kritis oleh profesor ahli mestinya dapat mencairkan paham keislaman yang eksklusif dan sempit serta merasa paling benar.

Sejauh ini kelompok-kelompok radikal mengindikasikan adanya hubungan famili dan persahabatan yang terbina di luar wilayah sekolah dan kampus. Hal yang patut diselidiki juga menyangkut dana. Para radikalis itu tidak saja bersedia mengorbankan tenaga dan pikiran, namun rela tanpa dibayar untuk memberikan ceramah keliling. Lalu kalau berbagai kegiatan itu memerlukan dana, dari mana sumbernya? Ini juga suatu teka-teki.

Disinyalir memang ada beberapa organisasi keagamaan yang secara aspiratif dekat atau memiliki titik singgung dengan gerakan garis keras ini. Mereka bertemu dalam hal tidak setia membela NKRI dan Pancasila sebagai ideologi serta pemersatu bangsa. Mereka tidak bisa menghayati dan menghargai bahwa Islam memiliki surplus kemerdekaan dan kebebasan di negeri ini.

Di Indonesia ini ada parpol Islam, bank syariah, UU Zakat dan Haji, dan sekian fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pengembangan agama. Kalaupun umat Islam tidak maju atau merasa kalah, lakukanlah kritik diri, tetapi jangan rumah bangsa ini dimusuhi dan dihancurkan karena penghuni terbanyak yang akan merugi juga umat Islam. Kita harap Menteri Pendidikan Nasional maupun Menteri Agama menaruh perhatian serius terhadap gerakan radikalisasi keagamaan di kalangan pelajar. (*)

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT

Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Sumber: Koran Sindo ( Jumat, 23 OKTOBER 2009 )

Utang Indonesia pada Umat Islam


Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 01:12:00

Utang Indonesia pada Umat Islam  

Oleh Herry Nurdi
Penulis, Wartawan Islam

Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran  live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.

Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.

Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.

Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).

Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.

Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat  Bismillahirrahmanir rahim dan ditutup dengan  Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
 Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
 Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
 Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
 Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
 Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
 Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
 pertjajalah saoedara-saoedara,
 Toehan akan melindungi kita sekalian
 Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan  Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.

Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?

Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.

Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.

Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.

Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam.  Wallahu a’lam .

(-)