Studi: Irlandia, Negara Paling Islami di Dunia


Hossein Askari, seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, AS, melakukan sebuah studi yang unik.

Askari melakukan studi untuk mengetahui di negara manakah di dunia ini nilai-nilai Islam paling banyak diaplikasikan. Hasil penelitian Askari yang meliputi 208 negara itu ternyata sangat mengejutkan karena tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar.

Dari studi itu, Askari mendapatkan Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru sebagai negara lima besar yang paling Islami di dunia. Negara-negara lain yang menurut Askari justru menerapkan ajalan Islam paling nyata adalah Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Islam? Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Sementara itu, negara Islam lain di posisi 50 besar adalah Kuwait di peringkat ke-48, sedangkan Arab Saudi di posisi ke-91 dan Qatar ke-111.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Askari mengatakan, kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara.

“Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami,” ujar Askari.

Askari menambahkan, justru negara-negara Barat yang merefleksikan ajaran Islam, termasuk dalam pengembangan perekonomiannya.

“Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,” lanjut Askari.

Dalam melakukan penelitiannya, Askari mencoba membandingkan idealisme Islam dalam hal pencapaian ekonomi, pemerintahan, hak rakyat dan hak politik, serta hubungan internasional.
Hasil penelitian Profesor Askari dan Profesor Scheherazade S Rehman ini dipublikasikan dalam Global Economy  Journal.

Di Irlandia, diperkirakan sebanyak 49.000 warganya memeluk Islam. Dr Ali Selim, anggota senior Pusat Kebudayaan Islam Irlandia (ICCI), mengatakan, umat Muslim dan warga Irlandia lainnya bisa hidup berdampingan karena sama-sama memiliki kesamaan sejarah.

“Irlandia pernah menjadi wilayah jajahan dan banyak rakyat Irlandia menderita diskriminasi rasial dan selalu diasosiasikan dengan terorisme. Umat Muslim juga mengalami hal serupa,” ujar Selim.

Selain itu, lanjut Selim, para imigran Muslim di Irlandia mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri, termasuk dalam bidang ekonomi.

“Al Quran menganjurkan umat Muslim untuk hidup sejahtera dan Dublin merupakan salah satu pusat investasi Islam terbesar di Eropa,” ujar Selim.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2014/06/10/2151008/Studi.Irlandia.Negara.Paling.Islami.di.Dunia

PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA: MendukungKeputusan Mahkamah Konstitusi untuk Menolak Outsourcing!


PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA

Nomor:404/PS/KP-PRP/e/I/12

Mendukung Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk Menolak Outsourcing!

Salam rakyat pekerja,     .

Pada tanggal 17 Januari 2011, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan aturan untuk buruh kontrak (outsourcing) dalam UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Keputusan tersebut tentu saja akan disambut dengan sukacita oleh seluruh buruh di Indonesia, yang selama ini dijajah dengan sistem kerja kontrak/outsourcing.     

Buruh selama ini hanya dianggap sebagai sebuah komoditas oleh para pemilik modal. Buruh selama ini dianggap sebagai satu elemen kecil dari mesin produksi yang akan mendatangkan keuntungan. Dalam cara pandang seperti ini, maka tidak aneh jika para pemilik modal ingin merasakan keuntungan yang sangat besar, maka buruhlah yang akan menjadi objek pertama yang ditindas.

Sistem kerja kontrak/outsourcing yang dijalankan oleh rezim neoliberal selama ini telah membuat kepastian kerja bagi buruh menjadi hilang, karena sewaktu-waktu buruh bisa saja di PHK atau diberhentikan. Dengan tidak adanya jaminan kepastian kerja, maka rakyat pekerja di Indonesia juga akan pasrah ketika rezim neoliberal menerapkan politik upah murah. Inilah akhirnya yang dinamakan rakyat pekerja di Indonesia sebagai penjajahan gaya baru bagi rakyat pekerja.

Praktik sistem kerja kontrak/outsourcing selama bertahun-tahun terhadap rakyat pekerja di Indonesia tentu saja akan berakibat kepada menurunnya kualitas hidup rakyat pekerja di Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar rakyat di Indonesia adalah pekerja atau buruh. Dengan penerapan sistem kerja kontrak/outsourcing selama ini, cukup menunjukkan bagaimana rezim neoliberal melihat rakyatnya di Indonesia. Rakyat Indonesia hanya dijadikan sapi perahan bagi pemilik modal, dan direstui oleh penguasa yang duduk di rezim neoliberal.     

Keputusan MK terhadap aturan pekerja kontrak (outsourcing) hanyalah salah satu buah perjuangan rakyat pekerja di Indonesia selama ini.

Namun perjuangan tersebut tentu saja tidak berakhir dengan adanya keputusan MK tersebut. Selama kesejahteraan bagi rakyat pekerja belum tercapai, selama itu pula perjuangan rakyat pekerja akan dijalankan. 

Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap:

1. Mendukung sepenuhnya keputusan MK yang menyatakan aturan pekerja kontrak (outsourcing) bertentangan dengan UUD 1945.

2. Kementerian Tenaga Kerja dan Disnaker di berbagai daerah harus menghentikan praktik perusahaan dan agensi penyalur outsourcing yang selama ini menyediakan supply bagi hubungan kerja yang bertentangan dengan UUD 1945.

3. Menyerukan kepada seluruh rakyat pekerja dan seluruh serikat buruh/pekerja untuk melakukan pendataan bagi mereka yang masih berstatus outsourcing untuk dialihkan menjadi pekerja tetap dengan diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tempat kerjanya.

4. Mendorong penyebarluasan kabar baik tentang pelarangan outsourcing ini ke seluruh tempat kerja, seperti pabrik dan perusahaan serta pemukiman buruh agar semua pihak mentaati sistem hubungan kerja sesuai dengan konstitusi UUD 1945.

5. Mengajak seluruh unsur rakyat pekerja di Indonesia untuk berkonsolidasi menyongsong Hari Buruh Internasional 1 Mei 2012 (Mayday) dengan target seluruh praktik outsourcing segera dihapuskan.

6. Kapitalisme-neoliberalisme telah gagal untuk mensejahterakan rakyat pekerja di Indonesia, dan hanya dengan SOSIALISME lah maka rakyat pekerja akan sejahtera.

Jakarta, 19 Januari 2012

Komite Pusat – Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP)

Ketua Nasional-ttd.(Anwar Ma’ruf)

Sekretaris Jenderal- ttd(Rendro Prayogo)

Contact Persons:

AnwarMa’ruf – Ketua Nasional (0812 1059 0010)

Irwansyah– Wakil Ketua Nasional (0812 1944 3307) 

Indonesia Perlu “Restorasi Meiji”


Indonesia perlu melakukan gerakan restorasi di segala bidang untuk mencapai kebangkitan nasionalisme, kata mantan Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Dawam Rahardjo.

“Hal itu perlu dilakukan karena Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi yang ditandai dengan pengangguran massal, krisis kepemimpinan, dan instabilitas politik akibat konflik antarpartai politik,” katanya di Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta, pada diskusi “Kebangkitan Ekonomi Nasional”, Jumat. Gerakan restorasi yang dilakukan dapat menyerupai Restorasi Meiji yang pernah dilakukan Jepang.

Kegiatan pembangunan di Indonesia harus dikembalikan ke tangan anak bangsa dengan industrialisasi dan modernisasi berbasis teknologi yang dihasilkan usaha bangsa sendiri.

“Restorasi yang dilakukan harus menuju pada pola pembangunan yang berkepribadian dan mandiri. Selain itu, juga menghidupkan kembali program pengembangan ekonomi kerakyatan yang didukung oleh pengembangan ekonomi kreatif,” katanya.

Ia mengatakan, restorasi politik juga perlu dilakukan untuk mencapai kestabilan politik, negara yang kuat, dan kepemimpinan yang efektif dalam demokratisasi.

“Banyaknya kasus korupsi yang melanda anggota DPR itu terjadi akibat belum adanya mekanisme undang-undang pembiayaan partai,” katanya.

Hal itu, sambungnya, menyebabkan banyak anggota DPR menjadi calo proyek untuk membiayai partai.  Hampir 70 persen anggota DPR adalah pengusaha dan artis.”Banyak dari mereka menjadi calo proyek untuk membiayai partai. Partai politik itu seharusnya mengembangkan diri sebagai partai kader, bukan partai massa, sehingga diisi orang-orang ahli,” katanya.(Antaranews.com)

Akademisi: Tak Penuhi Janji, Pemerintah Tidak Tahu Malu


Jakarta, Pemerintah dinilai sudah tidak tahu malu karena banyak janji yang tak ditepatinya. Pemerintah diminta untuk tak mengabaikan peringatan dari rakyatnya.

“Pemerintah tidak tahu malu karena tidak memenuhi janjinya dan masih banyak orang miskin,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong.

Hal tersebut dikatakannya saat diskusi dengan tokoh Lintas Agama, Akademisi dan Forum Rektor di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (4/2/2011).

Menurut sejarawan ini, upaya untuk mewujudkan kesejahteraan adalah tugas dari negara. Sayangnya, kebijakan pemerintah tidak menyentuh bidang strategis untuk memperbaiki kesejahteraan, salah satunya pendidikan.

“Kesejahteraan adalah janji setelah kemerdekaan. Saya tidak melihat perbedaan antara tidak memenuhi janji setelah merdeka dengan kebohongan,” jelasnya.

Sementara itu, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara Romo BS Mardiatmadja mengkhawatirkan peringatan dari  tokoh lintas agama dan akademisi tidak membuat pemerintah tersadar atas permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Peringatan itu seperti jam weker. Seringkali sudah kita pasang tapi tidak membuat terbangun. Kalau peringatan kebohongan ini tidak diperhatikan nanti kondisi akan semakin parah. Karena komunikasi apapun tanpa dilandasi kejujuran takkan berhasil. Apalagi komunikasi politik,” tutur BS Mardiatmadja.

Hadir pula dalam acara itu tokoh lintas agama antara lain Franz Magnis Suseno, Din Syamsuddin, Romo Benny Susetyo, Syafii Maarif dan Efendi Gazali.
(Detiknews.com)

SURAT DARI JALANAN : Kepada Para Reformis 98


Dengan Nama Allah Sang Pengasih Sang Penyayang

Akubertanya kepada kalian, Para Reformis 1998 yg telah memenangkan perjuangan Reformasi dan berhasil melengserkan Presiden Soeharto, padatanggal 21 Mei 1998 :

Mengapa kalian tinggalkan gelanggangperjuangan reformasi dan kalian biarkan Negara kita, Tanah Air danangkasa kita, dikuasai oleh orang-orang yg tidak berhak!

Apa yg terjadi dengan kalian, duhai Para Aktivis Reformasi 1998!

Sebagiandari kalian telah melupakan 6 Visi Reformasi. Mereka merendahkan diri mereka menjadi anggota-anggota parpol-parpol dan pegawai-pegawai pemerintahan yg tidak sesuai dengan nilai-nilai reformasi kalian!

Sebagian yg lainnya merendahkan diri mereka, berbalik lagi menjadikorlap-korlap demonstrasi recehan! Sebagian yg lainnya lagi termangu-mangu di warung-warung kaki lima di pingir-pinggir jalanan meratapi kehancuran negeri dan penderitaan rakyat yg makinmenjadi-jadi..

Makin banyak rakyat yg jadi fakir miskin! Makin banyak rakyat yg jadi gembel dan gelandangan. Makin banyak anak-anak ygtidak mendapat pendidikan. Banyak rakyat yg kelaparan, banyak rakyat yg terpaksa menjadi babu-babu dan kuli-kuli di luar negeri, karena dinegeri sendiri yg kaya raya, mereka hanya jadi objek teori-teori politik dan ekonomi yg palsu dan jadi tumbal kesewenang- wenangan dan keserakahan pejabat-pejabat Negara dan para pejabat pemerintahan ygmelanggar amanah, buas, serakah dan korup!

Sebagian dari mereka,rakyat yg jadi babu-babu dan kuli-kuli itu, disiksa, dipukuli, diperkosa bahkan dibunuh! Dan ketika mereka pulang ke Tanah Air, mereka menjadi objek pemerasan para pejabat yg berkomplot dengan calo-calo dibandar-bandar udara. Tak ada pembelaan yg sungguh-sungguh bagi mereka dari pemerintah, kecuali statement omong kosong di media massa! Banyak gadis-gadis kita yg seharusnya menjadi bunga-bunga bangsa, mereka terpaksa menjadi perek-perek dan pelacur-pelacur, hanya untuk membantu orang tua mereka yg berada di jurang gelap kemiskinan! Banyak rakyat ygkelaparan, banyak yg putus asa dan bunuh diri!

Wahai Para Reformis! Aku, Teguh Esha, Sastrawan Jalanan, menggugat kalian!

Demi Proklamasi Kemerdekaan, demi Pancasila, demi Undang-undang Dasar 1945dan demi 6 Visi Reformasi yg kalian sendiri rumuskan; aku gugat kalian yg melepaskan tanggung jawab nasional kalian!

Aku seorang rakyat Indonesia yg merdeka dan berdaulat menegaskan, aku tidak mau menerima alasan apapun dari kalian untuk ketidaknyambungan kata dengan perbuatan kalian! Untuk kelalaian kalian serta pelepasan tanggung jawab reformasi kalian; kecuali jika kalian menyadari kelalaian kalian tersebut dan secara terbuka meminta maaf kepada seluruh rakyat yg mengharapkan perbaikan keadaan melalui reformasi yg kalian gerakkan, tapi ternyata kalian kecewakan!

Wahai Para Reformis: kalian dengarlah !Apakah kalian tidak merasa malu? Apakah kalian tidak tergugah membaca berita-berita tentang Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh lintas agama, yaitu: Prof.DR. Syafii Maarif, Prof. Din Syamsuddin, Mgr.MD. Situmorang, Pendeta Andreas A. Yewanggoe, Bhikku Sri Pannyavaro, Nyoman Udayana Sangging, KH. Solahuddin Wahid, Franz Magnis Suseno dan DR Djohan Effendi, yg bersama-sama menyatakan, bahwa ada kesenjangan antara ucapandan tindakan yg dilakukan oleh pemerintah dengan Undang-Undang Dasar 1945!

Apakah kalian tahu dan mengerti artinya? Dan hubungannya dengan keberadaan dan kelangsungan hidup rakyat, bangsa dan negara kita! Apakah kalian berfikir, bahwa pengingkaran terhadap UUD 1945 adalah suatu pelanggaran dan makar terhadap keseluruhan bangunan kenegaraan kita, dan terhadap existensi kita sebagai bangsa? Jika seandainya, kalian para reformis yg melakukan pengingkaran terhadap UUD 1945, apakah kalian akan dibiarkan saja? Apakah kalian tidak ditangkap dan tidak dimasukkan ke dalam penjara dan kemudian kalian tidak dihadapkan ke depan sidang pengadilan dan dikenai vonis yg setimpal dengan kejahatan nasional kalian sebagai akibat dari pengingkaran kalian terhadap UUD1945?

Wahai Para Reformis, aku tegaskan kepada kalian, bahwa aku setuju dan aku menyokong Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh lintas agama tersebut. Aku bersedia menjadi saksi dan memberikan bukti factual tentang kebenaran pernyataan mereka. Aku tegaskan, bahwa aku berpihak kepada tokoh-tokoh lintas agama tersebut.

Para Reformis di manapun kalian berada! Jika kalian masih setia kepada Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila, UUD 1945 dan Nilai-nilai Reformasi 1998 dan kalian kembali bertanggung jawab atas perjuangan reformasi kalian; aku panggil kalian, Para Reformis! Aku menyeru kalian, agar secara tertulis dan terbuka, kalian membuat pernyataan, bahwa kalian menyetujui dan menyokong dan berpihak kepada tokoh-tokoh lintas agama tersebut.

Aku tunggu jawaban kalian! Aku seorang rakyat Indonesia yg merdeka dan berdaulat tersebut menyatakan:
Sekali merdeka tetap merdeka !

Pujian untuk Allah Tuan al alamin

Jakarta, 1 Februari 2011

Teguh Esha, Penulis Novel ’Ali Topan Anak Jalanan’
(dibacakanpada acara : Ungkapan Pikiran & Perasaan Seniman Budayawan

Senin 1 Februari 2011 di Warung Apresiasi – Bulungan – Jakarta)

Tak Toleran akibat Ekonomi Kurang Merata


Intoleransi masyarakat pada dasarnya tidak dipengaruhi oleh organisasi-organisasi radikal yang suka memakai kekerasan, tetapi karena masyarakat mengalami frustrasi sosial dan alienasi.

“Masyarakat itu tidak puas terhadap pemerataan pembangunan dan ekonomi,” ujar Ismail Hasani, peneliti SETARA Institute, Rabu (22/12/2010) di Jakarta.

Dalam studi yang dilakukan SETARA Institute, keberadaan organisasi radikal dinilai tak terlalu berpengaruh banyak bagi ketidaktoleransian masyarakat. Sebab, mayoritas warga menolak kekerasan sehingga otomatis dukungan terhadap organisasi radikal tidaklah signifikan.

Menurut Ismail, di tengah kesulitan ekonomi, organisasi radikal yang mengatasnamakan agama hadir untuk membuat masyarakat menjadi intoleran. Untuk itulah, pemerintah dan swasta perlu terlibat dalam pemberian insentif ekonomi kepada masyarakat.

“Sebagai contoh di Tasikmalaya, pemerintah setempat memberikan kanal ekonomi, berupa penyuluhan ternak lele. Masyarakat kemudian jadi sibuk bekerja dan merasa puas secara ekonomi,” kata Ismail.

Studi SETARA Institute ini berfokus pada organisasi radikal yang bersifat lokal. “Kami mengacu pada fakta bahwa organisasi tersebut sering melakukan aksi-aksi kekerasan dan mengancam kebebasan beragama/berkeyakinan,” kata Wakil Ketua Umum SETARA Institute Bonar Tigor Naipospos.

Menurut Bonar, sampai saat ini belum ada kajian khusus dan komprehensif tentang organisasi radikal lokal serta implikasinya terhadap jaminan kebebasan beragama/berkeyakinan. Dalam konteks jaminan kebebasan beragama/berkeyakinan, kelompok radikal menunjuk pada aksi-aksi kekerasan terhadap kaum minoritas agama/keyakinan, penyerangan rumah ibadah, dan penegakan syariat.
(Kompas.com)

Pesan Natal PGI dan KWI 2010


PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010

“Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”
(bdk. Yoh. 1:9)

 

Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

•1.    Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: “Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”2. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dunia”.

•2.    Saudara-saudari terkasih,

Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam ke-rukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan “peradaban” yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; “peradaban” yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka tidak memiliki kesempatan bersuara; “peradaban” yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian dari pada budaya cinta yang menghidupkan.

Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penang-gungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kiner-ja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. So-rotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terung-kap dengan praktek korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat mempri-hatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.

Kenyataan ini yang berlawanan dengan keadaan masyarakat yang sema-kin jauh dari sejahtera,  termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin mem-perparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.

Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus menjelma menjadi ma-nusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang  menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengha-rapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu me-numbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kege-lapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”3.

Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, „Ÿ dan demikian juga menya-tukan diri kita dengan „Ÿ  karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.

Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di da-lam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.

•3.    Saudara-saudari terkasih,

Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan ber-sama.

•·         Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan”6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.

•·         Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejah-tera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.

•·         Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.

•·         Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik iba-dat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetap-kan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.

Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:

 

SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011

Jakarta, 12 November 2010

Atas nama

 

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA    KONFERENSI  WALIGEREJA
DI INDONESIA  (PGI),             INDONESIA (KWI),

 

 

Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                 Mgr. M.D. Situmorang OFMCap.

Ketua Umum                                   Ketua

 

 

Pdt. Gomar Gultom, M.Th.                      Mgr. J.M. Pujasumarta

Sekretaris Umum                      Sekretaris Jenderal

 


[1] Yoh.8:12; 2Lih.Yoh.1:9-11; 3Luk.4:18-19; 4Lih.Ef.1:10; 5Lih.Kej.1:10;6Rom.12:21;7Lih.Yoh.12:36.