Gereja Katolik Mendesak Untuk Menyangkal Film Angels & Demonds


John Malhotra
Reporter Kristiani Pos

Posted: May. 07, 2009 13:29:32 WIB

Gereja Katolik di India akhirnya mengijinkan peluncuran “Angels & Demons” hanya jika Dewan Sensor memotong beberapa adegan dan tampilan yang ada pada awal dan akhir dalam film tersebut, dengan menyebutkan bahwa film tersebut hanya merupakan sebuah karya fiksi.

 

Pada permulaannya, umat Katolik di India melarang tegas film tersebut, yang mana film tersebut nibuat denga mendasarkan pada buku Da Vinci Code karangan Dan Brown, yang mau menggambarkan kepalsuan dalam gereja.

 

Akibatnya, sebuah sensor khusus dilakukan oleh Central Board of Film Certification (CBFC) untuk para perwakilan Kristiani, terutama dari Konferensi Keuskupan Katolik India.

 

“Sebelumnya, kami telah memutuskan untuk mengajukan film tersebut kepada komite revisi karena kekhawatiran yang makin meningkat, baik nasional dan internasional terhadap film tersebut,” kata Vinayak Azad, seorang petugas regional CBFC.

 

“Kami benar-benar ingin memastikan bahwa sertifikat yang kami berikan sudah tepat. Biasanya kami akan mengajukkan sebelumnya sebuah film kepada komite apabila kami merasa perlu untuk mengadakan suatu konsensus lebih dalam,” tambahnya.

 

Vatikan juga secara tajam mengkritik film tersebut yang berusaha menggambarkan secara negatf suatu komunitas dan bahkan tidak memberikan ijin kepada kru film untuk menggunakan tempat-tempat ibadah untuk tujuan pembuatan film.

 

“Kami dengan jelas telah menyebutkan alasan mengapa film tersebut harus dilarang. Yakni, karena telah dengan sengaja merendahkan Gereja Katolik dan menyinggung umat Katolik,” ujar Pastor Babu Joseph, juru bicara CBCI.

 

Pada Jumat lalu, setelah mereview film tersebut, CBCI memutuskan bahwa “pelarangan terhadap film tersebut justru hanya akan menyulut keingintahuan publik, meskipun demikian tetap merekomendasikan untuk dilakukan beberapa pemotongan beberapa adegan dalam film tersebut dan menuliskan pernyataan kuat bahwa film tersebut adalah fiktif dari awal sampai akhir.”

 

“Film Angels & Demons, yang disutradarai Ron Howard dan dibintangi oleh Tom Hanks, Ewan McGregor dan Ayelet Zurer, rencananya akan menggebrak bioskop-bioskop di seluruh dunia pada tanggal 15 Mei mendatang. Pertunjukkan perdananya akan diputar pada hari Senin di Roma dekat Kota Vatikan.

 

Film yang digarap di Roma tersebut juga memasukkan di dalamnya sebuah plot tentang masyarakat legendaris yang penuh dengan rahasia,” Illuminati,” yang tampaknya telah muncul kembali untuk menghancurkan Kota Vatikan di tengah-tangah situasi pemilihan seorang paus yang baru

Sumber: http://id.christian post. com/culture/films/20090507/4804/Gereja-Katolik-Mendesak-Untuk-Menyangkal-Film-Angels-Demonds/index.html

GENGSI


GENGSI

Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untu perbaikan dan pengembangan diri, hamper selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga …” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008).

M. FADJROEL RACHMAN: JIWA INDONESIA MUDA YANG MERDEKA


Risalah Dukungan Politik Kebudayaan

M. FADJROEL RACHMAN
JIWA DARI KEHENDAK UNTUK HIDUP MERDEKA, DARI SEBUAH INDONESIA MUDA YANG MERDEKA

Nama M. Fadjroel Rachman menyeruak ke dalam ingatan saya, saat suatu malam yang larut, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri masih duduk-duduk di warung Alek Tim – tempat nongkrongnya para seniman itu. Fadjroel mampir bersama Tommy F Awuy, budayawan yang kini membuka warung lukisan di Kemang.

Mereka mampir ke meja kami.

Dari habis nonton, kata Fadjroel sambil senyum.
Jadi inilah orang yang pernah ditangkap itu. Saya masih belum tahu kalau dia sudah membuat buku puisi – sebuah buku puisi yang sangat kuat menyerukan kemanusiaan dari sudut bukan hanya bahasa puisi yang berindah, tapi luput dari kenyataan hidup. Tapi ini sebuah buku puisi dari kehidupan yang keras – sebuah dunia politik Orde Baru yang telah ramai membentuk “piramida kurban manusia”.

Entah mengapa saya langsung terkenang Sukarno – tokoh yang saya kagumi, sebagai pribadi yang memiliki banyak sisi. Sukarno pun suka film, kata saya. Suka lukisan dan bahkan, konon, demikian kawan saya pernah mengatakan, pernah pula membuat cerita-cerita pendek.

Jadi seniman.

Waktu Sukarno dibuang ke Bengkulu, tokoh besar ini pernah pula membuat naskah sandiwara.

Jadi seniman.
Jadi inspiratif.

Jadi begitulah orang keras kepala itu membuat Indonesia Menggugat dan menggerakkan sebuah teks besar ke dalam laku bangsa: Revolusi Inonesia yang telah mengguncangkan dunia.

Jadi sebuah perubahan, atau angan-angan akan perubahan, datang dari sebuah kemampuan imajinatif, yang terberi dari rahim mereka yang berjiwa seni – sebuah rahim yang dimasak oleh kehidupan – dimatangkan oleh kawah kehidupan politik kebangsaan yang keras.

Imajinasi, berpikir imajinatif, seperti yang saya lihat dalam diri tokoh pemberontak abadi semacam Che (Rimbaud itu Che-nya sastra, begitu SMS Fadjroel kepada saya, saat saya ingatkan dia itu “Rimbaud”-nya politik), atau penyair yang menjadi presiden di Eropa Timur itu, atau ya, seperti Sukarno itu sendiri. Mereka yang mampu mewujudkan pemikiran imajinatif – sesuatu yang masih in absentia. Belum hadir. Tapi dalam bayangan imajinasinya, seperti telah tergenggam tangan. Sudah milik kita saat ini dan sekarang ini.

Maka kemerdekaan itu, janganlah ditunda lagi.

Dan imajinasi semacam itulah, saya lihat dalam diri seorang Fajdroel Rachman.

Tetapi imajinasi bisa dipatahkan oleh sebuah kehidupan politik yang keras, dan makin mengeras, saat imajinasi dari anak-anak muda yang dicoba ke dalam aksi-aksi mahasiswa yang radikal, pada zaman Orde Baru itu.
Lalu apakah hasilnya? Anak-anak muda itu ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Dari tempat saya berdiri, dunia sastra, saya mengamati lalu-lintas tokoh-tokoh di Indonesia. Menilainya dengan sebuah perbandingan, dan bahkan banyak perbandingan. Dari sejarah masa lalu maupun sejarah yang dekat-dekat di seputar kita.

Saya mencari buku puisinya Fadjroel, Catatan Bawah Tanah, yang langsung pula mengingatkan saya dengan Catatan Subersiv Mochtar Lubis, atau kisah-kisah pembangkangan yang kerap lahir di bawah rejim bengis di Uni Soviet itu. Juga di Cina.

Semua catatan-catatan itu mengandung dan memendam sama. Sama-sama merindukan kemanusiaan yang lebih baik, lebih cerah dan lebih bijak menangani apa yang disebut dengan paradoks dunia modern – rentang antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, saat berada di tangan orang-orang politik dalam praktek, dalam hidup nyata, yang telah melahirkan kisah-kisah memilukan dari orang-orang yang kalah, atau dikalahkan.

Kekuasaan boleh mematahkan, atau mengalahkan, gerak dan gerik, atau percoban perlawanan. Tapi kekuasaan tidak bisa mematahkan, atau mengambil jiwa, dari kehendak untuk hidup merdeka.

Jiwa dan kehendak untuk hidup merdeka itu, terbaca dengan sejelas-jelasnya dari Catatan Bawah Tanah Muhammad Fajdoel Rachman. Yang telah dipotret dengan bagusnya oleh aktivis hukum Todung Mulya Lubis yang juga penyair. Barangkali karena sesama penyair, maka potret Mulya Lubis terhadap Fadjroel bagi saya, sama kuatnya dengan puisi yang telah dilahirkan oleh rahim Fadjroel Rahcman itu sendiri.

Dengarlah kata-kata penuh retorik perlawanan dari Mulya Lubis, dalam buku Fadjroel Catatan Bawah Tanah itu.

“Apakah yang dapat ditulis tentang seorang anak muda yang tengah mendekam dalam penjara selain rasa iba? Bayangkan, dalam usianya yang produktif, tak bisa bergerak selain dari satu sel ke sel lain, dari kamar mandi ke wc, dari dapur ke mushola. Tetapi rasa iba akan ditolak oleh anak muda ini karena di dalam penjara ini ia lebih arif dan menemukan darah kepenyairannya dan watak dirinya. Dengan getir ia mengungkapkan dirinya…”

Dan memang Fadjroel di dalam penjara itu bukan menghiba-hibakan dirinya, tapi menemukan bentuk pemberontakan dirinya ke dalam kata-kata. Ke dalam puisi. Yang jiwa kata dan pusinya, adalah jiwa kata dan puisi dari hidup yang dirasakan oleh banyak orang. Mereka yang kalah dan dikalahkan oleh sejarah sebuah orde. Sebuah tata yang membenamkan siapa saja yang hendak berbeda. Yang menyemaikan diri ke dalam apa yang disebut sebagai kemiskinan, sebagai mereka orang-orang kalah di kota besar, di desa-desa, yang oleh konstitusi diwakilkan melalui bahasa “bumi dan alam milik rakyat tercinta, dikuasai oleh negara untuk sebesarnya bagi kemakmuran bersama”.

Tetapi negara telah mengambil semuanya. Meratakan semuanya mereka yang ingin melawannya.

Maka berteriaklah Fadjroel di jalanan dan di dalam penjara, menyuarakan pemberontakannya, dan kita mendengar sebuah suara dari mulut anak muda yang rindu akan kebenaran, dari hidup yang selalu mengelak untuk menjadi benar.

Apa kabar ikan asin, sayur kangkung dan segelas
teh pahit di cangkir berkarat?
Apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan
aku?
Kesetiaan, cita-cita atau sekedar lapar dan
kebahagiaan kecil?

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib dirinya. Ah, tidak, nasib bangsanya.

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib bangsanya.
Dan nasib bangsa itu dipotretnya dalam sebuah sejarah yang merentang jauh. Dalam sebuah puisinya bertajuk Sketsa Penjara XXII, ia menalikan juga perjuangan batinnya ke dalam gerbong sejarah itu – Sukarno, narapidana blok timur atas nomor 01

Pandangilah, namun jangan menitikkan airmata
Di luar jendela-jeruji selmu, di luar jendela-jeruji
selku.
Serdadu-serdadu berbaris dalam
mimpi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu
Serdadu-serdadu berbaris mencincang akal
budi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu;
Langit, bebatuan, rerumputan dan udara yang
kita hisap mengucurkan darah
menenggelamkan segala impian manusia

Kini orang ramai berupaya, kini orang ramai hendak merayakan perubahan atas negeri sendiri. Orang-orang tak lagi hendak menjadi budak dalam belenggu oleh bangsa sendiri.

Saya teringat suatu malam, saat saya dan Fadjroel hendak menghadang sebuah belenggu atas nama pemikiran tertantu dalam bidang budaya (ah, budaya! bukankah engkau juga akan bergesek-gesekan dengan segala denyut dari debu hidup, hidup yang nyata!), saya merancang sebuah memo dan Fadjroel secepat kilat mengirimkan kabar: brengkets, kirimlah ke seluruh dunia!

Itulah dunia memo. Dunia catatan. Dunia ingatan. Dunia Memo Indonesia. Dari sebentuk kehendak untuk bebas, menyongsong Indonesia Muda yang baru, bebas dari belenggu penjajahan pemikiran dari arah-arah manapun.

Tapi itulah juga pribadi dari M. Fajdroel Rachman, rajawali politik yang mengepakkan sayapnya sendiri, dalam asap gelap perpolitikkan Indonesia, dan politik dunia juga.

Sebuah napas segar telah ditiupkan ke paru-paru anak negeri sendiri. Dari seorang yang tidak kehilangan rasa humor meskipun saat-saat kelam sedang mendera hidupnya, seperti terbaca dalam puisi Sketsa Penjara II ini – doa manis buat Tuhan.

Dari ujung sel kudengar lagu dangdut merintih-
rintih tentang penderitaan hidup, lalu
kudengar desah genit si penyair wanita,
“Salam kompak selalu dan selamat
menempuh hidup baru buat X di jalan Y dari
gadis Z di gubuk derita”.

“Hai siapakah yang berbahagia dan
Siapakah yang menderita?”

Majulah, majulah maju Rajawali Politikku, kepakkan sayapmu dan keluarkan kami dari gubuk derita ini.

Jemputlah Indonesia Muda kita itu.

(Hudan Hidayat)
– Manajer Kampanye M. Fadjroel Rachman untuk Presiden RI 2009

ANGKA DI ATAS KUBURAN


ANGKA DI ATAS KUBURAN

 ( Pormadi Simbolon) 

"Aku yakin … Ucok pasti bisa  menamatkan diri dari SMU. Ia cukup pintar, meskipun sekolah tingkat atas di pedesaan Sidikalang. Lagi pila ia sangat rajin  belajar dan membantu  ibunya  di ladang". Inilah kata-kata yang keluar dari mulut Halomoan melihat anaknya  si Ucok pergi ke sekolah.         

Tengah hari itu, seusai pulang sekolah dan makan siang, Ucok langsung  menyusul ayah dan ibunya bekerja di ladang. Mereka menyiangi padi  yang sudah di tanam sebulan yang lalu bersama-sama dengan tetangga. Rencananya hasil padi itu akan digunakan  sebagai biaya  sekolah  masuk perguruan tinggi, selain biaya untuk hidup. Dengan padi, ditambah dengan sedikit hasil kopi yang harganya sangat murah, menjadi bekal penerus hidup keluarga  Halomoan. "Ucok, pulang kita dulu,  sudah sore,  bah…. Lagipula aku masih harus mengambil tuak  kita  di tepi tepi jurang  pinggir ladang kita" pinta  Halomoan. Ladangnya  memang di daerah berlembah-lembah dan bergunung-gunung. Itulah memang keadaan dataran tinggi Sidikalang, daerah tertinggal di Sumatera Utara. Di daerah bergunung-gunung demikian, terdapat  deretan pohon enau yang menjadi sumber tuak bagi penduduk.          

Tuak menjadi minuman penghangat badan sebelum istirahat malam. Tuak termasuk minuman pesta dan minuman khas penduduk Sidikalang, sama seperti di tempat lain. Ayah Ucok, Halomoan senang minum tuak, meskipun sedikit, selebihnya dijual di emperan, dan menjadi tempat penduduk berkumpul sambil minum tuak. Kadang-kadang  kalau pohon enau lagi tidak  "bertangan",  Halomoan  mengolah tuak dari "tangan" pohon kelapa. Tuak dari kelapa, merupakan hal biasa. Rasanya juga, kadang-kadang lebih enak dibandingkan dengan tuak dari pohon enau. Hal itu sudah dibuktikan para tetangga. "Rasanya, lebih enaklah, tuak kelapa" kata Sinaga pelanggan setia tuak  Halomoan.           

Hampir setiap sore hari,  para bapak-bapak  berdatangan ke "warung mini" Halomoan.  Tuak kadang-kadang membawa rejeki bila lagi banyak airnya.  Lumayan,  bila tuak sampai 5 liter per hari. Tuak menjadi  penghasilan tambahan, meskipun  hanya untuk  membeli gula pasir dan minyak goreng  masing-masing satu kilo. Ya… mengurangi pengeluaran.

Pagi-pagi benar Halomoan cepat bangun. Ia membuatkan kopi untuk dirinya. Membuatkan  kopi bukanlah haruas dilayani istri. Itulah  kebiasaan  keluarganya. Lalu langsung berangkat ke ladang memulai pekerjaannya. Sedangkan istrinya, Ria Uli  memasak sarapan pagi untuk suami dan anak-anak yang sudah siap pergi ke sekolah. Maklum anak-anak harus cepat bangun karena jarak rumah dengan sekolah cukup jauh. Lagi pula harus ditempuh dengan jalan kaki. Kalau betis-betis anak-anak sekolah besar-besar ukurannya, maka itu disebabkan latihan jalan setiap pagi dan pulang dari sekolah.          

Setelah anak-anak   sarapan dan  pergi ke sekolah,  barulah Ria Uli  menyusul suaminya ke ladang  sambil membawa sarapan. Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi.  Ia tidak langsung mengajak suaminya sarapan. Ia ikut  membantu suaminya menyiangi  tanaman padi mereka. "Ibu Ucok,  sarapanlah dulu kita, sudah  pukkul sepuluh !" ajak Halomoan kepada istrinya. Perut memang sudah lapar dan  harus diisi. Begitulah  kebiasaan penduduk setempat yang mayoritas bermata pencaharian dari hasil ladang atau pertanian. Itulah gambaran kebanyakan petani-petani ladang di Sidikalang, kota kabupaten yang bergunung-gunung atau berbukit-bukit.         

Sore itu Sinaga bersama  tetangga lain kembali datang memesan tuak. Sitanggang , salah satu teman Sinaga, ikut juga hadir di warung mini Halomoan.  Sitanggang yang masih serumpun dengan marga Halomoan yakni Simbolon, merupakan  pecandu tuak. Selain pecandu tuak, Sitanggang mempunyai misi judi togel, judi dengan tebak angka, dulu dikenal SDSB atau Porkas. Ia menawarkan dan menjual lembaran togel kepada semua orang yang ikut minum tuak. Judi togel  memang  sudah terkenal dimana-mana. Tak terkecuali di pedesaan Sumatera Utara. Togel menjadi pembahasan penduduk, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga ke pemuda-pemuda pengangguran.  Kalau dulu para parmitu (Peminum tuak) berbicara lapo (lapangan politik), main catur dan lomba tarik suara, sekarang togel menjadi pembahasan utama.  Barangkali togellah yang membuat  berkurangnya pengaruh keramaian demo politik atau demo buruh di daerah ini. Kalau di daerah lain, banyak penduduk  ikut demo apalagi ada yang menjarah toko-toko orang-orang  Cina yang dikenal sangat  tertutup dengan kelompoknya.          

"Tadi malam aku bermimpi bah ! Mimpiku tentang orang gila". Kata Sinaga  setelah  membaca buku tafsir mimpi, yang disediakan Sitanggang.  "Orang gila ? Mari kita bahas, buku ini memang menyediakan seribu satu tafsir mimpi" jelas Sitanggang.  Lalu ia menunjukkan dalam buku tafsir yang mereka sebut juga buku esek-esek nipi (buku tebak mimpi),  sebuah gambar orang gila  dan di atasnya terdapat  angka  delapan tujuh. Lalu Sinaga  membeli  lima lembar kertas togel dengan maksud menuliskannya dalam lima tebakan. Menurut Sitanggang, tafsir mimpi tidak boleh ditafsirkan bulat-bulat dengan satu kali tebakan. Angka dari mimpi harus dibahas lagi dalam aneka tebakan.  Kiat tersebut  ternyata berhasil. Sinaga mendapat Rp 75.000,- untuk satu lembar dengan tebakan dua angka.          

Menyaksikan Pak Sinaga yang mendapat rejeki tersebut, Halomoan akhirnya tertarik dengan judi togel. Harganya murah kok per lembar. Setiap lembar untuk tebakan versi  dua angka hanya Rp 500,- saja, untuk versi tiga angka Rp 1.000,- dan untuk versi empat angka  Rp 5.000,- dan untuk versi enam angka  Rp 10.000,-. Itulah yang muncul dalam benaknya. Lebih menarik lagi, hadiah-hadiahnya cukup besar, untuk dua angka  sebesar 75.000 rupiah, untuk tiga angka  sebesar 300.000 rupiah, untuk empat angka sebesar 10.000.000,  untuk lima angka sebesar  50.000.000,- dan untuk enam angka sebesar  100.000.000,-. Saya bisa kaya dan membiayai  sekolah anakku, pikirnya.

Tak lama kemudian, Halomoan  mewujudkan angan-angannya.  Diam-diam, ia mempunyai mimpi yang selama ini selalu menemaninya dalam pembaringan.  Selama ini Halomoan sudah berkali-kali menceritakan mimpi anehnya. Dalam mimpi ia selalu melihat kuburan di ladangnya. Mimpi tersebut membuat ia penasaran. Apa arti mimpi saya. Syukurlah togel ini ada, dan bisa menjadi tempat  penyalurannya. Demikian pemikiran akhirnya. Buku tafsir mimpi togel pun ia pinjam. Dalam buku tersebut, tampak ada kuburan.  Empat angka yang berbeda  terdapat di samping gambar tersebut. "Empat angka ? … semakin besarlah hadiahku nanti" tanyanya dalam hati bercampur hati gembira. Tanpa ragu-ragu ia membeli lima puluh lembar kertas togel, versi empat angka dengan harga seribu rupiah per lembar. Diam-diam Halomoan berkeyakinan, bahwa dengan semakin banyak tebakan, semakin banyak kemungkinan untuk menang. Ia belajar dari teman-temannya yang membeli sedikit  lembaran togel dan  jarang sekali menang. Ia berani menghabiskan hasil penjualan tuaknya. Ia mengacak  keempat angka tersebut menjadi lima puluh tebakan versi empat angka. Ucok yang sibuk melayani pelanggan  warung mini ayahnya, hanya menjadi penonton dan tidak mungkin mencampuri urusan orang-orang tua. Ucok  hanya diam ketika melihat rencana ayahnya, dan ia sebagai anak mendoakan "usaha" ayahnya berhasil. Namun Ria Uli tidak tahu-menahu tentang langkah suaminya, sebab ia sibuk memasak  di dapur untuk makan malam mereka. Halomoan sudah menyerahkan semua lembaran togel ke Sitanggang, tinggal menunggu pengumuman pada minggu berikutnya.

Dalam penantian penuh harapan, Halomoan tetap melakukan pekerjaannya. Kali ini begitu luar biasa semangatnya bekerja di ladang  yang berada di antara dua perbukitan indah. Dalam benaknya, ia punya segudang angan-angan. Salah satu angan-angannya  jika menjadi pemenang togel nanti adalah akan menggunakan uang tersebut untuk membeli seratus lembar togel lagi dalam versi enam angka.          

Satu minggu berlalu tanpa terasa. Halomoan langsung mendatangi  rumah Sitanggang, agen togel desanya. Ternyata  satu dari lima puluh tebakan Halomoan benar dan ia menjadi satu-satunya pemenang di desa itu. Betapa mendalam kegembiraannya. Kegembiraan tersebut ia bagikan juga dengan Sitanggang. Ia memberikan  lima ratus ribu kontan kepada agen togel tersebut. Lalu ia pulang sambil membawa uangnya.  "Enak sekali hidup ini, dalam seminggu aku bisa mendapatkan uang sebesar 10.000.000 rupiah" ucapnya dalam hati. Dekat rumah, istri dan anaknya, Ucok melihat  Halomoan berjalan cepat-cepat dan dengan gembira. Ucok tidak curiga, ia tahu ayahnya pasti dapat uang karena togelnya.  "Ayah, minggu lalu membeli  togel, ia pasti menang", kata Ucok pada ibunya. Halomoan langsung menunjukkan plastik kresek tempat uang tersebut pada istrinya. "Kita akan menjadi kaya, dan akan semakin kaya lagi dalam minggu-minggi mendatang" katanya dengan suara meyakinkan. " Pak, bernasib benar kita hari ini, bapak pasti setuju jika sebagian  uang tersebut untuk dana  melanjut  ke Perguruan Tinggi di Medan" kata Ucok sambil merayu bapaknya. Halomoan hanya senyum, tanpa mengatakan sepatah kata juga. Rencana Halomoan kali ini makin bertambah. Dengan uang kurang lebih sepuluh juta, ia membangun tugu nenek moyangnya di Samosir dengan biaya  enam juta, belum termasuk acara adat dan makan bersama, yang besarnya  satu juta. Memang  membangun tugu nenek moyang atau marga merupakan suatu kebanggaan orang-orang Toba. Dengan membangun tugu, status sosial menjadi lebih terpandang dan dihargai penduduk. Halomoan menjadi terkenal karena bisa menaikkan status keluarganya. "Kehebatan" Halomoan menjadi pembicaraan penduduk.

Tanpa pikir yang lain-lain, diam-diam Halomoan akhirnya mewujudkan rencananya. Ia membeli  seratus lembar togel versi enam angka, jadi  seharga satu juta rupiah. Kali ini ia bermaksud  menajdi pemenang seratus juta rupiah. Betapa tingginya impian Halomoan. Rencananya membuat ia selalu berdoa supaya mendapat mimpi lagi. Tiap malam ia berdoa minta kepada Tuhan supaya diberi mimpi versi enam angka. Satu minggu berlalu, namun mimpi belum juga datang. Hal itu tidak membuat ia putus asa.  Sejenak ia merenung. Lalu akalnya muncul. Ia pergi ke Datu atau dukun peramal. supaya diberi angka atau petunjuk. Dukun, yang mereka sebut datu memberi syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya Halomoan harus menyediakan dan menyembelih ayam berwarna hitam pekat dan tak bercacat. Ayam itu harus disajikan di atas lemarinya dengan mengucapkan permohonan mimpi.

Malam itu juga, ia memenuhi seperti perintah datu tersebut. Setelah  mencari ayam hitam, lalu menyembelih dan menyajikannya dalam talam di atas lemarinya dan  mengucapkan permohonannya.  Pagi-pagi hari Minggu itu ia agak telat bangun, sedang istrinya sudah lama bangun dan memasakkan ubi untuk sarapan mereka. Sekali lagi,  ia kembali bermimpi tentang kuburan di tengah-tengah ladangnya. Keanehan mimpi tersebut tidak membuat Halomoan heran dan ragu-ragu. Halomoan langsung membahas mimpinya dengan buku tafsir mimpi di tangan kirinya.  Kelihatanlah tetap empat angka yang sama dan tidak berubah. Lagi-lagi ia tidak terlalu heran. Barangkali keempat angka ini harus diacak dan menjadikannya seratus tebakan versi enam angka. Demikian timbul dalam pikirannnya. Semua angka hasil bahasannya ia tuliskan satu persatu pada lembaran yang sudah tersedia di kamar tidurnya. Dalam tiga jam, ia dapat menyelesaikan "pekerjaannya". Pada hari itu juga ia pergi ke rumah Sitanggang menyerahkan lembaran-lembaran togelnya. Ia rela tidak masuk gereja demi seratus juta rupiah. 

Minggu itu merupakan minggu pertama dalam bulan Mei. Ucok yang memilih jurusan ilmu eksakta selama ini sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir nasional. Ucok merasa yakin sudah siap menghadapinya. Selain pintar, ia rajin belajar baik pada malam hari maupun pada pagi-pagi kira-kira pukul empat. Ia membagi jadwal begini : malam hari mengerjakan pekerjaan rumah atau soal-soal latihan. Pagi-pagi  ia mempelajari bahan yang akan diberikan gurunya. Hal itu dijalankannya seturut nasehat gurunya si Pandiangan.Tidak sia-sia semua usaha Ucok selama ini. Ia dapat menamatkan diri dengan nilai ujian akhir nasional  dengan total nilai empat puluh sembilan. "Hebat juga saya …. bah. Aku bisa  mencapai nilai rata-rata tujuh. Aku hampir menyamai  kedudukan juara umum se- Kabupaten Dairi dengan nilai lima puluh empat dari jurusan ilmu eksakta" puji Ucok pada dirinya. Tahun ini menurut panitia ujian, nilai-nilai ujian akhir nasional merosot, sama seperti di beberapa daerah lain. Tahun lalu nilai tertinggi mencapai  63 untuk jurusan ilmu sosial.          

Ucok bangga karena dapat memenuhi harapan ayahnya selama ini. Langkah berikutnya, tinggal memikirkan jenjang ke perguruan tinggi.  

Sebagian impian Halomoan sudah terwujud. Kali ini kembali teringat bahwa ia harus menyekolahkan anaknya sampai setinggi-tingginya. Sebab bagi mereka, anakkhon ki do hamoraon di au. Semboyan yang berarti "anakku merupakan kekayaan bagiku" tersebut  merupakan prinsip bagi kebanyakan orang Toba. Banyak orang Toba rela tanpa ganti pakaian baru dan dengan makanan yang sederhana, asal saja anaknya dapat melanjut  sekolah setinggi-tingginya. Demikianah pula prinsip Halomoan terhadap anak tunggalnya. Impian untuk menyekolahkan anaknya tersebut digantungkan pada  togel versi enam angka yang akan diumumkan besok Minggu.         

Ketika hari pengumuman togel tiba, ia dengan penuh harapan  menuju rumah Sitanggang  yang jaraknya kira-kira sepuluh rumah dari sebelah kiri rumahnya. Sitanggang, yang pernah mendapat persenan, menyambutnya dengan  sangat hormat dan hati-hati. Lalu ia memberi lembaran pengumuman yang datang dari bandar  pukul tujuh pagi tadi. Halomoan menerima lembaran tersebut seraya bertanya "Angka berapa keluar Tanggang". Namun, ia tidak mempedulikan jawaban pertanyaannya. Ia langsung melihat dan melihat sungguh-sungguh kertas berwarna-warni dan berukuran kwarto tersebut. Tak percaya, ia melihat kembali  semua angka tebakannya dan mencocokkannya dengan  versi enam angka yang keluar. Akhirnya, ia baru yakin. Tak satu pun angka tebakannya persis mengena dengan pengumuman. Namun ada satu tebakan yang membuat ia penasanan. Dari enam angka tebakannya, angka paling di ekor tidak mengena, selebihnya persis mengena. Inilah yang membuat wajahnya semakin memerah. Ia mulai marah dan hendak membunuh datu peramal si pembohong. Sambil heran dan tak percaya ia pulang  ke rumah. Semakin lama, ia semakin marah dan pusing-pusing. Ia melangkahkan kaki dengan tidak teratur. Ucok dan  Ria uli, ibunya sudah menanti sang bapak. Suasana tempat mereka berubah. Ucok dan Ria Uli memahami bahwa sang bapak pasti ketiban sial. Tanpa mengeluarkan kata-kata, Halomoan langsung menuju kamarnya, ia tergeletak, pusing dan stres berat. Ria Uli tidak bisa berkata apa-apa, sebab selama ini perbuatan ayahnya sudah diketahui melalui cerita Ucok.          

Berhari-hari Halomoan tidak selera makan dan minum. Ia sudah lama berbaring dan mengurung diri di kamar tanpa boleh diganggu siapapun. Akhirnya Halomoan tidak bisa bergerak. Menurut mantari (dokter) desa, ia kena stroke. Ia harus opname di rumah sakit. Cepat-cepat Ucok menghentikan mobil penumpang di depan rumahnya, dan membawa ayahnya ke rumah sakit umum di kota Sidikalang, yang jaraknya dua jam perjalanan angkutan desa.

Sebagian penduduk bisa memahami  mengapa Halomoan jatuh stroke.  Sebagian lagi, memandang sebelah mata. Itulah nasib orang yang mengandalkan judi.  Kalau dulu  pujian berdatangan kepada keluarga Halomoan, kini hinaan datang menimpanya.  Mengapa tidak gara-gara togel, Halomoan melalaikan tanaman padinya, yang selama ini hanya dikerjakan Istrinya dan Ucok anaknya.

          Ucok tertegun memandang ayahnya  yang belum sadar di rumah sakit. Impian untuk melanjut ke perguruan tinggi di Medan sudah pupus. Uang untuk biaya pengobatan ayahku pun sudah membengkak.  Ucok hanya dapat mengeluh dalam hatinya. Semuanya pupus hanya karena angka di atas

* Kutulis sewaktu masih kuliah di malang