Waspadai: Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug: PEMBANTAIAN!


(Link : Http://betawi-jaya.mywapblog.com)

Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug!

by Doel Rempug Master on 03:12 PM, 25-Mar-12

Salinan email milis FBR & Pemuda jihad Indonesia
(Rempug-admin@RoemahRempug.org)

Dewan Betawi Rempug wrote:

Bakar ormas Key dan CINA BEKINGNYA, bantai dan abisin aje dari pulau Jawa, tundukan ormas Hindu sesat, salbis ISA anjing, ormas Budha Bangsat, Lumatkan ormas CINA anjing lintah negara, Bante ormas ambon , ormas timor , ormas papua , BETAWI JAYA SELALU!!

Terutama darahnye kaum CINA Kafir halal untuk di minum saatnye kite goncang JAKARTE dan tumpahkan darah kafir CINA, Hindu, Budha sesat dan PEMUDA KEY yang merusak bangsa dimane2!! Ayo bersatu bangkitkan Jihad Islam!

SUDAH SAATNYE ANAK BETAWI BANGKIT!! ANJING CINA DAN AMBON KEY, BATAK DAN BUTON KITE BANTE HABIS DARI JABOTABEK!!!

TGL 27 MARET 2012 JAM 6
ANGGOTA REMPUG & PEMUDA JIHAD FPI WAJIB HADIR DI TEMPAT YANG DISEPAKATI KITE SIAP BIKIN
CINA & PARA KAFIR ANGKAT KAKI DARI JAKARTE! SESUAI HIMBAUAN KEPUTUSAN REMPUG DAN PEMUDA JIHAD SE-JABOTABEK.

Buat teman2 smua hati2 yah…pray for Indonesia .

Menempuh Jalan Tuhan


Oleh Saiful Amin Sholihin Al-Ishaqy

Islam, sebagaimana agama lain, merupakan agama dakwah; agama yang mengajak ke jalan Allah SWT, jalan Tuhan.

Namun, dakwah Islam harus dilakukan dengan bijak, penuh hikmah, dengan pelajaran (al-mau’idlah) dan contoh (al-uswah) baik. Seruan berdakwah itu tak harus dilakukan setiap orang. Cukup sebagian orang saja.

Ajakan menuju jalan Allah merupakan nilai sangat luhur. Suatu ajakan untuk beribadah kepada Allah serta menginternalisasi dan mengaktualisasi nilai-nilai Ilahiah. Setelah shalat, manusia diharap bisa ikhlas, sabar, serta berbuat baik kepada manusia dan makhluk lain, tanpa membedakan identitas.

”Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dan, bantahlah mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih tahu tentang orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surat An-Nahl, 16: 125).

Bagi anak-anak di pesantren, ayat ini terkategori muta’addi; kata kerja (fi’il) yang membutuhkan obyek (maf’ul). Namun, dalam ayat itu tak disebutkan siapa yang harus diajak ke jalan Allah. Sebagian ulama ahli tafsir menambahkan ”manusia” sebagai obyek dalam Surat 16: 125 tadi. Seruan ini untuk Nabi Muhammad SAW, tetapi berlaku bagi para pengikut Nabi.

Begitu pula obyek ayat tersebut. Meski tak disebutkan, ditafsirkan secara umum, yaitu manusia. Lalu, manusia seperti apa yang diajak menuju jalan Allah? Tentu saja manusia yang belum mengenal atau belum menempuh jalan Allah. Bukan manusia yang sudah mengenal, apalagi yang sudah menempuh jalan Allah.

Dengan demikian, ada pertanyaan: apakah ceramah agama yang digelar di forum-forum formal terkategori dakwah dalam Surat 16: 125 tadi atau bukan? Sebab, yang hadir dalam forum itu sudah mengenal jalan Allah. Bahkan, ada yang sudah menempuh jalan Allah. Jika demikian, kenapa harus diajak menempuh jalan Allah lagi?

Dalam hal ini, penulis berpendapat, pengajian-pengajian di masjid, langgar, pengajian akbar, apalagi di TV, bukan termasuk dakwah dalam kategori Surat 16: 125 itu. Pengajian itu terkategori pembelajaran ilmu keagamaan (al-ta’lim), bukan dakwah (al-da’wah).

Dalam Islam, pembelajaran ilmu agama berkedudukan tinggi dan sangat mulia.Ironisnya, banyak penceramah tidak proporsional: semestinya memberi pelajaran dan pengetahuan agama, tetapi materi ceramah malah materi dakwah. Mengajak orang miskin bersabar, tetapi si penceramah kaya raya. Mengajak sederhana, tetapi ia hidup mewah. Ironis lagi, bukan ilmu agama atau dakwah yang disampaikan, tetapi lelucon berbungkus agama.

Efektivitas penyisipan lelucon bisa diperdebatkan. Ada yang setuju, ada yang menolak. Penulis termasuk yang setuju sebagai metode pembelajaran dan ceramah. Namun, lebih banyak lelucon juga naif. Sebab, pendengar lebih teringat lelucon, bukan inti ilmu agama dari si penceramah.

Fanatisme buta

Ada pula ceramah yang tidak disisipi lelucon, tetapi dipenuhi provokasi berbalut dalil agama sehingga para pendengar membenci kelompok lain. Hasilnya bukan pencerahan keagamaan, melainkan sikap fanatisme buta suatu kelompok terhadap kelompok lain. Selalu merasa benar dengan menyalahkan kelompok lain. Padahal, menjadi benar tak harus menyalahkan yang lain.

Dakwah juga bisa berbentuk nonceramah, yaitu dengan tindakan. Organisasi keagamaan semisal NU, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad juga memiliki agenda dakwah Islam. Mendirikan lembaga perekonomian, pendidikan, rumah sakit, mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi melawan koruptor, menolak terorisme, termasuk bagian dari dakwah Islam. Saat ini, hal-hal itu semestinya menjadi prioritas dakwah.

Ajakan ke jalan Allah juga harus dengan cara bijak, penuh hikmah, serta dengan pelajaran dan contoh yang baik. Tak seharusnya mengajak orang menuju jalan Allah, tetapi yang dilakukan cara-cara tidak benar. Semisal menyerang, mengusir, melukai, dan bahkan membunuh mereka yang hendak diajak ke jalan Allah.

Dalam konteks ini, para pegiat ormas yang terkadang kerap memakai cara kekerasan harus mereformulasi pola dakwah. Sebab, dakwah dengan model seperti itu terbukti ditolak masyarakat. Tak hanya masyarakat non-Muslim, umat Islam juga menolak. Semisal yang terjadi di Jombang dan Kediri, Jawa Timur, serta Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dari perspektif ini pula tuntutan pembubaran FPI harus dilihat. Bagi penulis, tuntutan pembubaran FPI dan ormas sejenis sebangun dengan yang dilakukan FPI dan ormas sejenis tadi. Jika tetap memilih cara-cara anarkistis, semakin kuat pula penolakan itu. Jika santun, menghargai keragaman Indonesia, tentu akan disambut masyarakat. Alhasil, akhiri kekerasan di Indonesia.

Saiful Amin Sholihin Al-Ishaqy Pengasuh GD Mambaul Hikmah, Kota Mojokerto, Jawa Timur​
(Kompas, 28 Feb 2012)

Atas Nama Agama


Azyumardi Azra

Anarkisme dan terorisme atas nama agama merupakan salah satu gejala sosio-religius paling menonjol sejak awal milenium 21. Gejala ini terus berlanjut di berbagai bagian dunia, khususnya di negeri semacam Afganistan, Irak, Pakistan, dan—sayangnya—juga di Indonesia.

Di negara kita, ketika terorisme kelihatan kian berhasil diatasi aparat kepolisian, anarkisme atas nama agama cenderung terus bertahan, yang sewaktu-waktu menampilkan diri dalam skala mengkhawatirkan.

Namun, gejala mengkhawatirkan itu kini terlihat berhadapan dengan gejala lain, yaitu bahwa masyarakat Indonesia yang cinta damai tampaknya tidak bisa lagi menerima aksi kekerasan. Hal ini terlihat, misalnya, dari penolakan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah atas kedatangan sejumlah petinggi Front Pembela Islam (FPI) di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, 11 Februari. FPI yang tidak menerima kejadian yang tidak menyenangkan bagi mereka segera melaporkan Gubernur Kalteng dan Kapolda Kalteng serta dua pimpinan komunitas Dayak kepada pihak kepolisian.

Peristiwa Palangkaraya itu kelihatan menjadi titik katalis penolakan terhadap anarkisme yang kerap dilakukan FPI. Ini terlihat dari aksi kalangan masyarakat bertema ”Indonesia Tanpa FPI” di Bundaran HI, Jakarta, 14 Februari, yang kemudian disusul pernyataan para pimpinan NU, Muhammadiyah, Ansor, dan Pemuda Muhammadiyah yang menolak anarkisme FPI. Mereka beserta pejabat tinggi—mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai Menko Polhukam Djoko Suyanto—mengimbau agar FPI melakukan introspeksi.

Hemat penulis, imbauan pimpinan ormas Islam dan pejabat tinggi yang juga Muslim, dari perspektif Islam, seyogianya dipandang pimpinan dan massa FPI sebagai taushiyyah bi al-haq, pesan kebenaran sesama Muslim. Sikap terbaik yang bisa diambil FPI adalah merenungkannya dengan kepala dingin sembari bermuhasabah atau introspeksi diri, yang juga sangat ditekankan Islam.

Agama terlihat jahat

Mengapa harus ada kekerasan atas nama agama? Para pemimpin FPI biasanya menyatakan, aksi kekerasan adalah bagian dari dakwah nahi mungkar, mencegah masyarakat dari kemungkaran dan maksiat. Dalam pemahaman FPI, ormas-ormas Islam lain dalam menghadapi kemungkaran lebih terpaku pada amar makruf, menyeru kepada kebaikan yang sering tidak efektif. Bagi FPI, nahi mungkar paling efektif dilakukan dengan menggunakan yad, ”tangan” atau kekuatan.

Lebih jauh FPI berargumen, mereka ”terpaksa” menggunakan ”tangan” karena menurut mereka aparat kepolisian tidak peduli dan gagal memberantas maksiat, semacam judi dan pelacuran, yang kian merajalela. Atau, bahwa pemerintah tidak tegas atau gagal membubarkan komunitas agama, semacam Ahmadiyah, yang dalam pandangan mereka menyimpang dari Islam. Oleh karena itu, bagi FPI tidak ada jalan lain kecuali menyelesaikan berbagai masalah tersebut dengan ”tangan” mereka sendiri.

Tujuan yang ingin dicapai FPI boleh jadi sah dalam pemahaman Islam tertentu. Akan tetapi, jumhur (mayoritas) ulama menolak penggunaan yad yang dalam praktiknya sering terwujud dalam kekerasan.

Bagi para ulama otoritatif, umumnya, dakwah sebagai upaya menyeru kepada kebajikan dan mencegah atau memberantas kemungkaran harus berdasarkan pada hikmah (kebijakan), maw’izah hasanah (pelajaran yang baik), dan mujadalah (diskusi dan perdebatan yang beradab), seperti digariskan Al Quran, Surat 16 al-Nahl, ayat 125.

Jika tidak berdasarkan ketiga prinsip ini dan sebaliknya lebih menekankan kekuatan, meminjam kerangka Charles Kimball (When Religion Becomes Evil, 2003), Islam bisa terlihat ”jahat” dan menakutkan bagi banyak orang, termasuk mayoritas umat Islam sendiri. Kimball dengan mengangkat pengalaman Yudaisme, Kristianitas, dan Islam sepanjang sejarah mengingatkan, setiap agama ini dapat mengalami kerusakan dan menakutkan ketika di kalangan penganutnya ada lima gejala dan pertanda berikut.

Pertama, klaim kebenaran absolut oleh individu dan kelompok bahwa pemahamannya sendiri paling benar dan mereka saja yang punya akses kepada kebenaran.

Kedua, penetapan waktu sekarang sebagai paling pas bagi individu atau kelompok yang mengklaim memiliki restu Tuhan untuk mengakhiri segala kemungkaran.

Ketiga, taklid buta pada pemahaman, ketentuan praktik keagamaan, dan komando tertentu.

Keempat, menghalalkan cara apa pun untuk melakukan perubahan yang diyakini diperintahkan Tuhan.
Kelima, pemakluman holy war (jihad) terhadap individu atau kelompok yang dianggap ”menyimpang” dari agamanya sendiri atau untuk menyucikan dunia dari kemungkaran.

Adanya kelima gejala itu di lingkungan ketiga agama tadi pastilah tak representatif mewakili agama-agama tersebut. Namun, jelas gejala itu sedikit banyak memberikan kontribusi bagi adanya prisma citra negatif bagi agama bersangkutan.

Penanganan komprehensif

Anarkisme atas nama agama tidak berdiri sendiri. Meski pemahaman keagamaan seperti di atas terbukti membawa ke dalam kekerasan, ada faktor-faktor lain yang membuat kekerasan atas nama agama menjadi lebih mudah terwujud dan bahkan meningkat dari waktu ke waktu.

Salah satu faktor pokok adalah lemahnya penegakan hukum di Tanah Air dalam disorientasi kebebasan masyarakat, berbarengan dengan penerapan demokrasi. Eksplosi kebebasan terbukti tidak disertai peningkatan kapasitas aparat kepolisian untuk menjamin tegaknya penghormatan kepada hukum, ketertiban dan keadaban secara tegas, berkesinambungan, dan konsisten.

Disorientasi, fragmentasi, dan kontestasi politik di kalangan para pejabat tinggi untuk mendapat simpati massa membuat mereka tidak jarang mengirim pesan keliru kepada publik. Ini terlihat, misalnya, kecenderungan kalangan pejabat tinggi untuk lebih bersikap akomodatif dan kompromistis terhadap ormas anarkistis. Sikap seperti ini pada gilirannya membuatnya merasa ”di atas angin” dan seolah memiliki kekebalan (impunity) di depan hukum.

Mempertimbangkan berbagai faktor itu, perlu dilakukan penanganan komprehensif sejak dari reorientasi pemahaman keislaman dan praksis dakwah yang lebih dapat diterima publik secara keseluruhan, penguatan penegakan hukum, sampai pada peneguhan sikap para pejabat publik untuk tidak permisif terhadap anarkisme. Jika tidak, bukan tidak mungkin anarkisme atas nama agama terus berkelanjutan.

Azyumardi Azra Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Council on Faith, World Economic Forum, Davos

Sumber: Kompas, Sabtu, 25 Februari 2012

Sampang Panas, Rumah, Sekolah dan Musholla Dibakar Massa


Konflik keberadaan Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang, Sampang, memanas. Ratusan massa dari Islam Sunni yang dipimpin KH Rois, membakar rumah, sekolah dan musholla milik tokoh Islam Syiah, KH Tajul Muluk, Kamis (29/12/2011), di Dusun Nangkrenang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang.
Melihat hal ini, sekitar dua kompi petugas kepolisian dari Polres Sampang yang diterjunkan, hanya bisa melihat dari kejauhan karena lokasi yang sudah diblokir warga dengan senjata tajam, petugas juga menunggu bantuan dari Sabhara Polda Jatim serta Brimob Pamekasan.

Sebab dari pantauan beritajatim.com di lapangan, siapapun orang tidak dikenal yang hendak mendekat ke lokasi, kerap mendapat serangan massa yang sudah dilengkapi senjata tajam.

Bahkan, petugas dari Koramil Karang Penang, sempat mendapat serangan massa lantaran berusaha mendekat.

“Karena situasi tidak memungkinkan untuk ke lokasi, kita hanya bisa menunggu bantuan dari Polda serta Polres Pamekasan,” kata Kabag ops Polres Sampang, Kompol Zainuri. [kun]

Sumber: beritajatim.com

Bom Solo: Sebelum Beraksi, Pelaku Buka Laman Alqaeda


Sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, diduga pelaku terlebih dahulu mampir di warung internet Solonet yang letaknya tidak jauh dari Gereja Kepunton. Bahkan, terduga pelaku tersebut diketahui sempat membuka laman Alqaeda dan Arrahman.

Menurut penjaga warnet, Rina Ristriningsih, berdasarkan ciri-ciri foto pelaku bom bunuh diri sama persis dengan salah satu pengunjung warnet.

“Ciri-cirinya sama dengan foto pelaku bom yang beredar. Yakni, rambut agak botak, pakai jaket krem, pakai kaca mata, berumur setengah baya dan mengenakan celana hitam,” kata Rina saat ditemui di lokasi, Solo, Minggu 25 September 2011.

Orang yang diduga pelaku bom bunuh diri tersebut, dikatakan dia, datang ke warnet sekitar pukul 8.30 WIB, langsung masuk ke bilik no 9. Setelah itu mulai log in internet sekitar pukul 08.37 WIB.

“Main internet sekitar satu jam dengan nama log in Oki,” terang dia.Selanjutnya, pada pukul 09.30 WIB kembali melakukan log in dengan berganti nama Eko.

“Main tidak sampai 10 menit langsung keluar. Ketika keluar dia menitipkan tas dengan pamit mau ke WC,” ujarnya.

Menurut pengakuan orang tersebut, dikatakan Rina mengaku orang Jakarta dan bekerja di Solo. “Dia memang sempat ngobrol-ngobrol sebentar. Logat bahasanya kayak orang Jakarta,” ujarnya.

Setelah itu, orang tersebut menitipkan tas berwarna hijau. “Setelah ada kabar bom meledak dan foto beredar. Orangnya memang mirip dengan orang yang datang kesini tadi pagi,” katanya.

Mengetahui orang tersebut mirip, selanjutnta tas yang dititipkan pun digeledah dan isinya Alquran, sarung, masker, charge hp dan lap kacamata. “Tas tersebut langsung dibawa polisi,” jelasnya.

Sedangkan berdasarkan pantauan history di bilik warnet yang dipakai orang tersebut, ternyata sempat membuka laman alqaeda dan arrahman. (Vivanews.com)

Inilah Daftar Gereja-Gereja yang Diganggu pada Tahun 2011


From: Theophilus Bela

Dear all, bersama ini kami berikan daftar gereja-gereja yang diganggu tahun 2011 hingga saat ini sebagai berikut : 

1. Sekolah dan Gereja Katolik di Tapung, Kabupaten Kampar, Riau pada hari Jumat, tanggal 21 Januari 2011    mendapat hasutan dari seorang tokoh setempat bernama Datuk Suhaidi untuk ditutup . Namun hal tersebut    dapat dicegah oleh aparat keamanan Pemerintah Daerah setempat. 

2. Gereja Katolik Petrus dan Paulus di Tamanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal     8 Februari 2011 (kejadian ini menyusul keputusan pengadilan di Temanggung tentang penodaan agama dan     juga menyusul kasus penyerangan atas warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten pada hari     Minggu, tanggal 6 Februari 2011) 

3. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Temanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal    8 Februari 2011 seperti kasus nomor 2 diatas 

4. Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Temanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal    8 Februari 2011 seperti kasus nomor 2 di atas 

5. Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Galilea, di Taman Galaxi, Bekasi, Jawa Barat diserang massa    pada hari Rabu, tanggal 9 Februari 2011 

6. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Sleman, Jogyakarta dari Bapak Pdt. Nico Lomboan karena      mendapat gangguan massa maka harus pindah dan mengadakan kebaktian hari Minggu di sebuah gedung     milik Pemda setempat . Kejadian tanggal 10 Februari 2011 

7.  Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Pondok Aren, Banten dari Bapak Pdt. Kaunang dipaksa     massa untuk menurunkan papan nama gereja pada tanggal 22 Februari 2011 

8. Gereja Katolik Paroki Santa Maria di Kalvari, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur hari Minggu    tanggal 20 Februari 2011 pukul 8 pagi didatangi serombongan orang yang menyatakan protes tentang    keberadaan gereja 

9. Kapela Katolik Santo Antonius di Air Molek, Teluk Kuantan, Riau dibakar pada hari Senin, tanggal    11 April 2011 oleh massa yang kecewa karena calon mereka kalah dalam Pilkada setempat . Juga kantor     Komisi Pemilihan Umum setempat dibakar massa . 

10. Hari Kamis tanggal 14 Apri 2011 sebuah gereja baru di Dukuh Ubalan, Desa Panutan, Kecamatan      Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur diserang massa yang menyebabkan dinding gereja rusak .      Gereja belum bisa diketahui namanya hingga kini 

11. Hari Kamis tanggal 21 April 2011 ditemukan bom 150 kg didekat gereja Bethel “Christ Cathedral”      di Serpong, Tangerang, Banten . Bom tersebut diletakkan oleh kaum teroris yang telah ditangkap      polisi. 

12. Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Sengenge, Riau       dibakar massa pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2011 pukul 23 WIB . Massa sebanyak 100 orang       mula-mula mengancam jemaat gereja dengan senjata tajam lalu menyiramkan bensin dan membakar       gereja . Informasi ini diberikan oleh Klasis Riau/Sumbar Pdt. Sahat Tarigan

13. Sebuah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dilokasi yang hanya berjarak 5 km dari gereja nomor 12 diatas      juga dibakar oleh massa yang sama pada hari Senin, tanggal 1 Agustus 2011 malam 

14. Gereja Katolik di Stasi Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah akhir-akhir ini sering dilempari batu       oleh warga dari sebuah kampung tetangga .Genteng dan kaca jendela pecah karena lemparan batu dan       kondisi gereja sangat memprihatinkan dan umat gereja mulai merasa takut . Polisi di Tanjung-Brebes pura       pura tidak tahu apa-apa . Informasi kami terima dari seorang kawan tanggal 15 Juni 2011 15.  Aprilia Diyah Kusumaninggrum yang biasa dipanggil Lia (usia 22 tahun), alumni Sekolah Tinggi Teologi (STT)       di Magelang pimpinan Bapak Pdt. Nico Lomboan (Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI) Sleman, Jogyakarta       diculik orang tak dikenal pada tanggal 9 Juni 2011 malam di Situbondo, Jawa Timur . Lia ditinggalkan dalam       keadaan tidak sadar di perkebunan tebu di Madiun . Setelah sadar Lia dibantu warga setempat dan naik bus       menuju Jogyakarta dan dijemput Ibu Pdt. Esther Lomboan dari GPdI Sleman, Jogyakarta 

16. Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat dari Pdt. JW Shino diancam      akan disita tanahnya oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 6 Agustus 2011 . Eksekusi ditunda atas      bantuan aparat pemerintah terkait.

17. Gereja Alkitabiah Maranata, Jalan Kacang Tanah, Bojong Indah, Rawa Buaya, Jakarta Barat dari Pdt. Silas      Kusah pada hari Minggu tanggal 31 Juli 2011 didatangi massa sekitar 100 orang yang ingin memaksa      gereja ditutup karena belum punya izin . Setelah diadakan perundingan maka disepakati bahwa papan nama      gereja diturunkan dan kegiatan gereja untuk sementara dihentikan sampai keluar izin dari Wali Kota Jakarta      Barat . 

18. Perayaan Paskah disebuah Sekolah Kristen di Cirebon, Jawa Barat dibubarkan oleh sekelompok orang      yang menamakan diri GAPAS (Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat) pimpinan Andi Mulya pada      hari Senin, tanggal 16 Mai 2011 . Polisi hanya menonton kejadian tersebut . 

19. Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Dukuh Jambon, Desa Sabranglor, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten,      Jawa Tengah dilempari bom molotov yang meledak dan menimbulkan kebakaran diatap gereja . Diduga      kejadian sekitar pukul 2 pagi tapi jemaat gereja baru mengetahui kejadian tersebut pada hari Kamis Pesta      Kenaikan Yesus tanggal 2 Juni 2011 siang . Barang bukti berupa pecahan botol, sumbu yang terbakar dan      botol air minum berisi bensin sudah diamankan polisi .      September 2010 gereja tersebut juga telah dilempari bom molotv tapi tidak meledak . 

20. Gereja Masehi Injili (GMI) didusun Sungai Langsat, Desa Pasaribu Pangean, Kabupaten Kuantan Sengge,      Riau pada tanggal 2 Agustus 2011 pukul 11 malam dibakar massa . Bangunan gereja dari kayu habis      terbakar . Ada 15 anggota jemaat gereja yang biasa mengadakan kebaktian digereja tersebut . Berikut ini ada 5 buah gereja di Surabaya yang pembangunannya dilarang oleh Pemda setempat, menurutlaporan majalah Kristen Gaharu, September 2011, dihalaman 10 -11 . Kelima gereja tersebut ialah : 
1. Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Kota Madya Surabaya 

22. Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gayung Sari di Kota Madya Surabaya 

23. Gereja HKBP Sedati Sidoarjo di Kabupaten Sidoarjo 

24. Gereja Katolik Sukolilo (yang akhirnya pindah ke Galaxi Bumi Permai, Kota Madya Surabaya) 25. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kota Madya Surabaya Itulah ke-5 gereja yang dilaporkan majalah rohani Kristen Gaharu edisi September 2011 

26. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Perumahan Cituis Indah, Blok E No. 42, Desa Surya Bahari,       Kecamatan Paku Haji, Tangerang Utara, Banten dengan Bapak Pdt. William Laoh (49 tahun) diancam       akan ditutup . Pada hari Minggu tanggal 4 September 2011 terjadi demonstrasi menentang kehadiran       gereja oleh massa lalu pihak Camat mengeluarkan surat perintah penutupan gereja . Gereja sudah berada       dilokasi sudah 13 tahun dengan jemaat sekitar 40 orang . Menurut rencana pada hari Minggu tanggal 11       September 2011 akan diadakan demontrasi massa lagi tapi berkat kesigapan pihak polisi dan aparat       keamanan terkait demontrasi tidak terjadi . 

27. Gereja Kristen Baptis Jakarta (GKBJ) Pos Sepatan dengan Pdt. Bedali Hulu di Perumahan Sepatan       Residens Blok I No. 7 desa Pisangan Jaya, Kecamatan Sepatan, Tangerang Utara Banten mendapat       ancaman akan diserang massa pada hari Minggu tanggal 11 September 2011 tapi hal ini batal karena       kesigapan polisi dan aparat keamanan terkait . Atas petunjuk Kapolsek Sepatan kebaktian gereja untuk       sementara diadakan dari rumah kerumah anggota jemaat . Gereja ini sudah sering sekali mendapat       gangguan dari warga disekitar gereja . 28. Gereja Katolik Santa Theresia di Poso, Sulawesi Tengah diserang massa hari Jumat tanggal 16 September       2011 . Hanya pintu gereja yang terbakar karena kesigapan pihak polisi mengamankan lokasi gereja . 

29. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Poso, Sulawesi Tengah dilempari bom molotov oleh massa pada hari       Jumat tanggal 16 September 2011 . Untung bom molotv tidak meledak sehingga gereja selamat . 

30. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Ranca Ekek, Kelurahan Mekar Galih, Kecamatan      Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan Bapak Pdt. Bernard Maukar, gereja ini ditutup Pemda setempat tanggal 29 Juli 2011 . Jemaat gereja berjumlah 300 jiwa termasuk anak2 dan      gereja telah berada dilokasi 24 tahun lamanya . Bapak Pdt. Christ Hutabarat dari Badan Pengurus GPdI      mengunjungi gereja tanggal 20 September 2011 dan melaporkan kejadian tersebut .Kejadian ini sudah      ditangani pihak polisi dan aparat keamanan terkait secara serius . Dalam tahun 2010 yang lalu kami telah melaporkan 47 buah gereja yang diganggu ditanah air Semoga gangguan terhadap pihak gereja segera berhenti ditanah air kita tercinta ini Demikianlah doa kami

KALAU GEREJA ANDA ATAU GEREJA TETANGGA ANDA MENDAPAT ANCAMAN MAKA JANGAN RAGU-RAGU MENGHUBUNGI KAMI JUGA PADA HARI MINGGU ATAU HARI RAYA Salam hormat, Theophilus BelaKetua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)Sekjen Religions for Peace IndonesiaDuta Besar Perdamaian

Bocoran Wikileaks: FPI Itu “Attack Dog’ Polri


Wikileaks kembali membocorkan sejumlah dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait dengan Indonesia. Kali ini dalam dokumen terbarunya, Wikilekas memaparkan mengenai hubungan antara polisi dengan ormas Front Pembela Islam (FPI).

Bocoran rahasia yang diungkapkan Wikileaks itu menyebutkan bahwa sejak lama polisi di Indonesia telah memanfaatkan FPI sebagai ‘attack dog’ mereka, untuk berbagai kepentingan.

Walaupun sebenarnya bocoran itu bukanlah hal yang baru, namun dalam informasi yang diungkapkan Wikileaks itu dipaparkan sejumlah informasi detail mengenai hubungan antara polisi dan FPI.

Salah satu informasi rahasia yang diungkapkan Wikileaks menyebutkan bahwa seorang pejabat senior di Badan Intelijen Negara (BIN), Yaya Asagaf, memiliki “kedekatan yang cukup” dengan sejumlah tokoh di FPI.

Karena itulah ia kemudian bisa memberi peringatakan kepada pejabat Kedubes AS di Jakarta, bahwa Kedubes AS akan diserang oleh FPI pada 19 Februari 2006 silam, lantaran pemuatan kartun Nabi Muhammad di sebuah media di AS. (Tribunnews.com)