GP Ansor: Bom Cirebon adalah Tantangan untuk Berperang


1 Korban tewas sedangkan 28 lainnya menderita luka yang cukup serius.

VIVAnews – Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid, meminta Presiden mengerahkan kekuatan penuh guna membekuk otak dan jaringan di belakang pelaku bom bunuh diri di Cirebon. Bom itu meledak pukul 12.35 WIB, siang ini, tepat saat Salat Jumat. Meledak di dalam Masjid di Mapolresta yang terletak di jantung kota Cirebon.

Nurson menilai bahwa target bom ini adalah negara. “Kantor kepolisian merupakan simbol dan sendi keamanan negara,” kata Nusron, kepada VIVAnews.com, Jumat 15 April 2011. Jadi yang diserang adalah sendi negara yang berurusan langsung dengan keamanan negara dan warga.

Bom di Cirebon itu melukai 28 orang. Para korban luka itu sudah teridentifikasi, termasuk Kapolres Cirebon, Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Herukoco. Pelaku bom bunuh diri itu diduga tewas di dalam Masjid.

Nusron Wahid mempertanyakan kesiapan aparat kepolisian menjaga diri dan menjamin keamanan warganya. Karena yang diserang merupakan kantor kepolisian. “Jika kantor polisi saja bisa diserang, bagaimana menjamin keamanan di tempat-tempat umum lain. Ini jelas-jelas menantang untuk perang,” ujarnya tegas.

Menurut Nusron, aksi bom bunuh diri itu merupakan tindakan keji dan pengecut. Terutama aktor perancangnya. Tindakan ini, katanya, tidak mungkin dilakukan orang biasa. “Ini pasti teroris yang terlatih yang melakukan. Negara harus tegas dan sigap turun tangan,” tegasnya.

• VIVAnews

Bom Meledak di Komunitas Utan Kayu, 3 Luka


Selasa, 15 Maret 2011, 16:19 WIB

Kantor Berita Radio 68 H dikirimi paket berisi buku dan benda aneh yang dicurigai sebagai bom. Paket sampul coklat itu dikirim untuk tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. Sekitar pukul 16.00 WIB, paket yang berisi buku itu meledak saat dipindahkan oleh polisi. Informasi yang diterima VIVAnews.com, menyebutkan bahwa tiga orang luka-luka karena ledakan itu. Semua korban telah dilarikan ke rumah sakit. Paket coklat itu berisi buku lengket yang dkirim seseorang bernama Sulaiman Azhar yang beralamat di Jalan Bahagia, Gg Panser No 29, Ciomas Bogor, Jawa Barat.

Menurut Saidiman, Juru Bicara Komunitas Utan Kayu, kiriman paket itu sampai sekitar pukul 10.00 WIB, Selasa siang, 15 Maret 2011. Paket baru dibuka pukul 13.30 WIB, dan terlihat ada buku dan sejumlah kabel dan batu batre di dalamnya. Mencurigai itu bom, Saidiman melaporkannya kepada polisi.
(Vivanews.com)

Ba’asyir: Pelatihan Senjata Amal Ibadah


Terdakwa teroris, Abu Bakar Ba’asyir, menolak jika pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, disebut sebagai kegiatan terorisme. Ba’asyir mengklaim pelatihan militer dengan peserta sekitar 50 orang itu sesuai dengan perintah Allah.

Ba’asyir menyakini, “Latihan fisik dan senjata di pegunungan Aceh adalah amal ibadah untuk menaati perintah Allah,” kata pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah, itu saat membacakan eksepsi pribadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/2/2011).

Ba’asyir menyebut kegiatan di Aceh sebagai I’dad atau mempersiapkan kekuatan fisik dan senjata untuk melawan musuh-musuh yang dianggap kafir. Selain itu, menurut dia, I’dad tidak kalah penting dengan shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. “I’dad merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh dipandang remeh dalam Islam,” kata Ba’asyir.

Seperti diberitakan, Ba’asyir didakwa melakukan pemufakatan jahat, merencanakan, menggerakkan pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Selain itu, Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu juga didakwa memberikan atau meminjamkan dana sekitar Rp 1 miliar untuk membiayai segala kegiatan di Aceh.

Ba’asyir juga dikaitkan dengan dua perampokan di Medan, Sumatera Utara, yakni perampokan Bank CIMB Niaga dan perampokan Warnet Newnet. Terkait perkara itu, Ba’asyir dijerat pasal berlapis dalam UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme dengan ancaman hukuman maksimal, yakni mati atau penjara seumur hidup. Adapun hukuman paling ringan, yakni penjara selama tiga tahun.
(Kompas.com 24 Feb 2011)

Baasyir: Nabi Muhammad seperti Saya


Jakarta – Abu Bakar Baasyir terlihat tenang saat menunggu sidang. Dia berjubah putih dan berkacamata. Saat disapa wartawan, dia menjawab dengan ramah.

“Kabar saya baik-baik saja,” kata Baasyir di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera, Jakarta, Kamis (10/2/2011).

“Tanggapan Anda atas sidang ini?” tanya wartawan.

“Biasa-biasa saja. Nabi Muhamad juga seperti saya,” jawab ABB singkat sebelum meninggalkan ruang tunggu tahanan menuju ruang sidang.

Hari ini Pemimpin Jamaah Anshoru Tauhid, Abubakar Baasyir, menghadapi dakwaan atas tuduhan tindak pidana terorisme terkait pelatihan militer bersenjata di pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar. Ba’asyir diduga telah merencanakan dan menggerakan orang lain untuk melakukan terorisme maupun dengan sengaja menyediakan dana dengan tujuan untuk digunakan tindak pidana terorisme.

Selain itu, ia juga didakwa telah melakukan permufakatan jahat, percobaan atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme, dengan sengaja memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme dengan cara memberikan bantuan kepada pelaku terorisme, menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme atau menyembunyikan informasi tentang pelaku.

Oleh JPU, Ba’asyir dijerat 7 pasal berlapis, yakni pasal 14 jo pasal 7, 9, 11 dan atau pasal 11 dan atau pasal 15 jo pasal 7, 9, 11 dan atau pasal 13 huruf a, huruf b, huruf c UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (Ari/gah)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/10/091820/1568250/10/baasyir-nabi-muhammad-seperti-saya

Ba’asyir: Pelatihan di Aceh ialah Ibadah


JAKARTA, KOMPAS.com — Amir Jamaah Anshar Tauhid Abu Bakar Ba’asyir, tersangka kasus terorisme, mengirimkan tadzkiroh atau peringatan dan nasihat berupa surat yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Kapolri, dan Komandan Densus 88. Salinan surat yang ditulis pada 30 November 2010 lalu ini juga diterima Tribunnews, Selasa (14/12/2010).

Dalam tadzkiroh-nya, Ba’asyir menjelaskan, camp pelatihan militer di Aceh Besar bukanlah sebuah aksi terorisme, melainkan aktivitas biasa untuk mempertahankan agama.

Ba’asyir: Pelatihan di Aceh ialah Ibadah” tulis Ba’asyir.

Menurutnya, i’dad adalah amal mempersiapkan kekuatan mental dan fisik semampunya untuk menggetarkan musuh Allah dan musuh kaum muslimin agar tidak mengganggu Islam.”

Allah berfirman : (Al Baqoroh : 120), Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sehingga engkau mengikuti millah agama mereka…, Disamping itu bila ada kemampuan, mereka terus-menerus memerangi kaum muslimin untuk dipaksa murtad, Hal ini diterangkan oleh Alloh SWT dalam firmanNya : (Al Baqoroh : 217),” jelasnya.

Lanjut Ba’asyir, Allah memerintahkan i’dad ini dalam firmanNya, “(Al Anfal : 60) Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya….”

Yang dimaksud kekuatan dalam ayat tersebut, menurut Ba’asyir, yang katanya diterangkan Rasulullah SAW, adalah “kecakapan menembak”. Jadi, maksudnya kekuatan senjata.

Ba’asyir menambahkan, latihan senjata di Aceh tujuannya adalah untuk menaati perintah Allah dan rasul-Nya dalam surat Al Anfal ayat 60. Oleh karena itu, menurutnya, latihan tersebut adalah amal ibadah karena sifat orang beriman adalah taat mutlak terhadap perintah Allah dan rasul-Nya, tidak membantah, dan mengamalkan menurut kemampuan.”

Maka saya dan Bapak-bapak kalau mengaku beriman, juga wajib menta’ati perintah i’dad ini bila ada kemampuan, tidak boleh membantah. Perintah i’dad ini kekuatan hukumnya sama dengan perintah salat, puasa, zakat, haji,” tulis Ba’asyir.

Dalam suratnya, Ba’asyir menutup, “Yaa Alloh… berilah petunjuk kepada pemimpin-pemimpin negara ini karena mereka tidak tahu,…Amin. Yaa Allah …saksikan (Allohummasyhad) saya sudah memperingatkan menurut kemampuan saya,..Amin.” ​

Editor: Heru Margianto

​Sumber : Tribunnews

AC Manullang: Penangkapan Ba’asir Adalah Grand Strategi AS


Amir Jamaah Ansharut Tauhid Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali harus berurusan dengan polisi. Ia dicokok dalam perjalanan di Jawa Barat. Sederet pasal dengan hukuman maksimal menunggunya. Ia didakwa polisi sebagai dalang terorisme di Indonesia. Benarkah seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk menjawabnya, inilah wawancara dengan AC Manullang, mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN):

Menurut data intelijen yang Anda miliki benarkah Abu Bakar Ba’asyir terkait tindak terorisme?

Sejak kapan Abu Bakar Ba’asyir terkait teroris? Dari pengamatan intelijen, saya mengatakan, siapa pun di negeri ini, termasuk Polri, dan Kejaksaan Agung, tidak mempunyai data-data apapun juga bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris.

Masa sih, tidak adakah satu bukti pun yang menunjukkan keterkaitan Abu Bakar Ba’asyir dengan salah satu pemboman di Indonesia?

Sampai sekarang tidak ada yang mampu memberikan bukti itu. Yang ada adalah rahasia negara. Siapa itu? Ada di tangan presiden. Mengapa presiden tidak membuka? Dia ada hak untuk membuka itu. Sehingga dapat diketahui ada atau tidak bukti yang menunjukkan Abu Bakar Ba’asyir terlibat.

Bukankah Polri mengatakan penangkapan karena ada bukti?

Polisi mengatakan penangkapan itu sah karena sudah terbukti bahwa dia terlibat menerima dana dari luar negeri untuk mendanai latihan-­latihan terorisme di Aceh demikian juga di tempat-tempat lain. Wah luar biasa itu!

Jadi kemungkinannya Polri mendapat data dari intelijen luar negeri atau asing yang selama ini sudah mengategorikan Abu Bakar Ba’asyir itu the most wanted sebagai teroris. Sebaliknya, SBY mengategorikan dirinya sebagai the most target erancian terrorist, ha… ha… ha…

Jika betul bukti yang dimaksud Polri itu ada, maka penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu tidak perlu dihebohkan,.. cukup panggil saja dia.

Sebenarnya penangkapan tersangka terorisme boleh-boleh saja.

Tetapi mengapa heboh dan menangkapnya di pinggir jalan dan publikasi yang luar biasa?

Timbul pertanyaan, mengapa penangkapan teroris ini dipublikasikan luar biasa besarnya terutama yang diberitakan media televisi. Yang diuntungkan dalam publikasi­-publikasi ini adalah luar negeri. Pencitraan untuk umum khususnya masyarakat bawah mirip seperti sinetron-sinetron di televisi, cukup menarik perhatian bahkan iba kepada pimpinan nasional.

Padahal itu merupakan upaya penggiringan publik agar melupakan kasus skandal rekening gendut pejabat tinggi Polri, kenaikan TDL dan sembako, pilkada yang rusuh di mana-mana, biaya kunjungan luar negeri yang semakin membengkak, skandal Gayus, dan masalah-masalah lainnya yang menunjukkan buruknya kinerja pemerintah.

Maka intelijen menilai bahwa ini merupakan suatu strategi yang sangat penting buat SBY untuk tetap mendapat perhatian dan pencitraan positif dari publik dan Amerika Serikat bahwa Indonesia antiteroris. Ini semua memang bagian dari grand strategy Amerika Serikat yang mengusung neoliberalisme dan neokapitalisme sekaligus mencitrakan Islam sebagai lawannya.

…Dari pengamatan intelijen, tidak ada data-data apapun bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris…

Wah…

Memang aksi-aksi intelijen saat ini cenderung di dalam kerangka deceptions operation intelligent artinya penyesatan- penyesatan intelijen. Nah, grand strategi global ini menunjukkan dan memunculkan penyesatan yang paling terkenal yakni terorisme dan Abu Bakar Ba’asyir sebagai the most dangerous terrorist.

Pertanyaan saya, pertanyaan para intelijen, apa memang betul bahwa penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sebagai penangkapan teroris?

Dari segi intelijen mengatakan sama sekali tidak bisa.

Tapi kan Polri menangkap Abu Bakar Ba’asyir mestilah ada dasarnya. Sudah dua kali dibawa ke pengadilan, namun aparat gagal membuktikan bahwa Abu Bakar Ba’asyir teroris. Apa hal yang sama akan terulang untuk ketiga kalinya?

Bukan tidak mungkin terjadi untuk yang ketiga kalinya. Karena saya berkata yang menjadi otak atau pelaksana adalah agen-agen intelijen asing itu yang ada di Indonesia. Tentu mereka bekerja untuk kepentingan CIA Amerika, Mossad Israel dan ONA Australia. Coba kita lihat, sampai ada polisi yang menjadi agen mereka yang melatih di Aceh. Jadi jangan dibilang Abu Bakar Ba’asyir dong, tetapi ya orang itu.

Tapi bisa saja pengadilan mengambil data-data dari mereka sebagai data yang sah atau tidak sah. Tetapi menurut pengamatan intelijen saya absolutely tidak sah. Mengapa? Karena bila berdasarkan data intelijen, seharusnya penangkapan Abu Bakar Ba’asyir dilakukan secara tertutup bukan malah dihebohkan.

…Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri, tapi sangat merugikan Muslim Indonesia…

Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri. Jadi sebenarnya dengan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir sedemikian rupa sangat merugikan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini, karena Indonesia akan benar-benar dimaknai oleh asing sebagai sarang teroris.

Mengapa bisa terjadi penyesatan intelijen, lantas apa peran BIN Indonesia?

Ya, karena intelijen Indonesia sekarang hanya sebagai pengamat, bukan operator sehingga tidak bisa melakukan operasi kontra intelijen.

Jadi maksud Anda selama ini BIN tidak difungsikan?

Betul. Sejak reformasi, sistem intelijen Indonesia diubah sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi melakukan kontra intelijen.

Bila BIN berfungsi seperti apa kontra intelijen yang seharusnya dilakukan?

Sedari awal dilakukan pencegahan dan tidak ada lagi pencomotan aktivis Islam. Jadi, sebelum terjadi sesuatu itu BIN harus sudah tahu sehingga pemerintah dapat mencegah. BIN melaporkan kepada presiden. Jadi sebelum ditangkap dan dibawa ke pengadilan sudah di-counter terlebih dahulu, diikuti orang itu dan bukan tidak mungkin juga di lapangan bertemu dengan agen-agen asing yang sedang melakukan penyesatan intelijen. Kontra intelijen perlu!

Tapi ingat BIN itu seharusnya bukan bekerja untuk presiden, bukan pula bekerja untuk legislatif, maupun yudikatif tetapi untuk rakyat clan negara Indonesia. Malah saya bilang intelijen berhak menjatuhkan presiden, karena BIN bekerja untuk rakyat dan negara Indonesia.

Mengapa sih asing terus bermain di Indonesia?

Menurut saya negara­-negara terutama Amerika, Israel dan Australia sangat berkepentingan dengan masa depan Indonesia. Karena menurut ketiga negara ini, Indonesia bisa menjadi ancaman, gangguan, tantangan bila umat Islam di Indonesia ini bersatu. Kalau itu terjadi apa bisa Israel tetap berdiri? Jelas tidak bisa. Apakah Indonesia tetap bisa jadi jembatan Asia Pasifik? Tidak bisa karena Indonesia jadi berdaulat, yang lewat harus bayar dong.

Jadi sekarang ini Indonesia selalu diobrak-abrik, dipecah­-pecah. Dari segi intelijen, tidak mungkin pecah Indonesia ini kalau bukan oleh orang Islam sendiri yang dipakai oleh intelijen. Sasaran utamanya memang negara-negara Arab.

Tuhan memang telah memberikan anugerah yang sangat luar biasa kepada Islam. Di seluruh negara-negara Islam ada minyaknya. Amerika mengincar itu. Jadi target utama Amerika itu adalah Turkmenistan, Uzbekistan, Tazikistan, Kargikistan, karena keempatnya merupakan negeri yang tidak akan habis minyaknya sampai berakhir bumi ini. sekarang keempat tempat tersebut sudah aman dikuasai oleh pengusaha‑pengusaha Yahudi. Nah yang dianggap paling mengancam eksistensi Yahudi kelak adalah Indonesia, ketika umat Islam terbesar ini bersatu.

Untuk mencegah persatuan itu, maka salah satu caranya adalah dengan membawa neoliberalisme dan neokapitalisme. Paham inilah yang mengatakan Islam sebagai teroris.

…orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY…

Siapa ”orang Islam sendiri” yang Anda maksud dimanfaatkan intelijen Amerika, Israel dan Australia itu?

Intelijen tidak pernah menyebutkan keterangan apapun karena memang tidak boleh. Yang bisa menyebutkan keterangan hanyalah presiden. Cuma, saya hanya boleh mengatakan orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY! [taz/media umat]

–> dari http://www.voa-islam.com/news/interview/2010/08/25/9528

Konsep Jihad Jamaah Islamiyah


Konsep jihad JI tak sama dengan para pelaku teror bom. Lalu mengapa JI ditakuti?

 

…..

Pesantren Lukmanul Hakim boleh saja diam dalam kesunyian areal perkebunan kelapa sawit. Namun, menurut Fauzan al Anshari, mantan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), organisasi yang pernah dipimpin Abu Bakar Ba’asyir, JI sesungguhnya masih ada. Mereka tetap eksis sampai sekarang. Bahkan mereka memiliki amir (pemimpin).

 

Sang amir yang disebut Fauzan ini bukan Abu Bakar Ba’asyir, sebagaimana ditudingkan banyak orang, termasuk pemerintah Amerika Serikat. “Ustadz Abu tak pernah diangkat menjadi amir JI menggantikan Ustadz Abdulah Sungkar,” kata Fauzan saat berkunjung ke kantor SuaraHidayatullah Senin 10 Agustus lalu.

 

JI memiliki PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Jamaah Islamiyah), semacam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga di kebanyakan organisasi.dalam PUPJI, kata Fauzan, amir harus diangkat oleh Dewan Syuro. Dan, pengangkatan Ba’asyir oleh Dewan Syuro belum pernah terjadi.

…..

 

Dalam PUPJI disebutkan bahwa JI adalah organisasi bawah tanah (tandzim sirri), dengan amir Abdullah Sungkar, dan garis perjuangan dakwah dan jihad. Terdokumentasinya PUPJI ini, kata Fauzan, adalah sebuah kesalahan besar. Seharusnya, sebuah organisasi bawah tanah tak boleh mendokumentasikan apapun perihal organisasi.

 

Pendapat agak berbeda dikemukakan oleh Abu Rusydan alias Thoriquddin alias Hamzah, tokoh JI yang pernah berlatih di akademi militer mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan, seangkatan dengan Mukhlas. Menurutnya setelah Abdullah Sungkar wafat, JI sudah tidak memiliki wujud lagi.

 

“Secara lembaga, JI sudah tidak ada,” katanya kepada Suara Hidayatullah melalui saluran telepon, Rabu, 12 Agustus.

 

Rusydan menegaskan bahwa JI tidak pernah mengangkat amir pengganti Ustadz Abdullah Sungkar sesuai syariat Islam dan ketentuan PUPJI. Tidak ada juga istilah “amir darurat”.

 

Kalau pun saat ini ada yang menyebut dirinya anggota JI, kata Rusydan, itu sekadar sebutan perorangan kerena mereka memiliki sejarah dan pemikiran dasar yang sama dengan JI. Mereka tidak berada dalam satu institusi. Mereka bergerak sendiri-sendiri.

 

 

Konsep Jihad

 

Akan halnya peristiwa pengeboman yang kerap melanda Indonesia belakangan ini, Rusydan menolak jika dikaitkan dengan JI. Memang, jihad adalah bagian dari syariat Islam yang dijalankan JI. Namun, jihad offensif (menyerang) hanya boleh dilakukan di wilayah perang seperti di Afghanistan, Mindanao (Filipina), dan Poso (Indonesia). Itupun harus melalui keputusan lembaga, bukan aksi sendiri-sendiri.

Rusydan mengakui, JI pada masa Sungkar telah mengirimkan 200 orang untuk berjihad ke daerah-daerah konflik, termasuk Afghanistan dan Poso. “Kondisinya pada saat itu berbeda dengan sekarang. Saat itu kaum Muslim butuh bantuan saudaranya sesama Muslim karena sedang teraniaya,” kata Rusydan.

 

Abu Wildan, mantan anggota JI, sependapat dengan Rusydan. Menurutnya, teror bom yang kerap melanda Indonesia beberapa tahun belakangan, melenceng dari ajaran JI. Dalam ajaran JI, katanya, kekerasan itu hanya boleh dilakukan atas membela hak kaum Muslim yang dirampas. Jika kekerasan itu dilakukan di negara yang di dominasi kaum Muslim dan menimbulkan korban kaum Muslim juga, itu bertentangan dengan ajaran JI.

 

Hal yang sama juga dikemukakan Fauzan Al Anshari. Menurutnya JI memiliki garis perjuangan yang berbeda dengan para pelaku teror bom di Indonesia. “Garis perjuangan JI adalah dakwah dan jihad,” katanya.

 

Namun, jihad yang mereka kembangkan bukan bersidat offensif. Jihad seperti itu hanya boleh dilakukan diwilayah dimana kaum Muslim sedang berjuang untuk membebaskan diri dari penjajahan kaum kafir. Selebihnya, mereka melakukan dakwah.

 

Jadi, tidak tepat jika ada yang menyebut pelaku teror bom di Indonesia belakangan ini adalah JI. Sebab, itu tidak sesuai dengan konsep jihad JI.

 

 

Dituding teroris

 

Pendapat yang sangat berbeda dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas dukungan pemerintah Amerika Serikat (AS). PBB telah mencantumkan Jamaah Islamiyah sebagai organisasi paling berbahaya nomor urut 35 di dunia. Ba’asyir disebut-sebut sebagai pimpinannya.

 

Tak jelas dari mana sumber kesimpulan itu. Fauzan menebak, kesimpulan itu muncul karena rasa takut mereka kepada para veteran perang Afghanistan yang banyak terdapat di JI. Para veteran itu dianggap sangat berbahaya bila dibiarkan terus “bergerak”. Mereka bisa membesar dan semakin kuat.

 

Jadi, kata Fauzan, selama kesimpulan PBB itu belum dicabut, JI dan Abu Bakar Ba’asyir akan terus dicap sebagai teroris. “JI tetap menjadi target Amerika Serikat untuk dihancurkan,” kata Fauzan.

 

Selain itu, kata Fauzan, organisasi ini dituding hendak mendirikan Negara Islam Raya yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, dan sebagian Filipina.

 

Rusydan membantah tudingan ini. Menurutnya, JI tidak memiliki strategi perjuangan yang sama dengan kelompok NII (Negara Islam Indonesia), yaitu ingin mendirikan negara Islam. Strategi perjuangan JI adalah membangun masyarakat islami, al-Jamaah al-Islamiyah. Titik perhatiannya pada dua bidang, yaitu pendidikan dan dakwah.

 

Hal senada juga diungkap Fauzan. Katanya, tujuan utama gerakan JI adala enegakan syariah Islam, bukan negara Islam. Enegakan syariat ini diperjuangkan lewat dakwah kepada masyarakat.

 

Lagi pula, kata Fauzan, cita-cita penegakan syariat itu bukan hanya diperjuangkan oleh JI, tapi juga diusung oleh banyak organisasi Islam di Indonesia, termasuk MMI dan Ansharut Tauhid.

 

Fauzan menebak, ada sebuah kekuatan besar untuk menghabisi para veteran Afghanistan yang banyak di Indonesia lewat isu JI. Peluang untuk itu terbuka lebar karena JI sendiri merupakan gerakan tersembunyi (rahasia). Orang tidak tahu siapa yang paling bertanggung jawab di JI.

 

Pendapat senada juga dikemukakan Rusydan. “Kalau kita ingin bicara JI, jangan lepaskan dari sejarah terbentuknya,” ujarnya.

 

 

*Malhadi/Suara Hidayatullah

 

Dikutip dari artikel: “Rumah Lama yang Belum Roboh” majalah Suara Hidayatullah edisi September 2009 hal 28-30 /Milis AIPI