Pluralisme Terus Terusik

Konflik sosial dan tindak kekerasan yang mengancam pluralisme terus terjadi di sejumlah daerah. Hal itu merupakan dampak kegaduhan politik dan sistem ekonomi yang tidak adil sehingga dengan mudah dimobilisasi demi kepentingan tertentu.

Kegaduhan politik dan sistem ekonomi tidak adil itu disampaikan Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno dalam acara bedah buku Ahmad Syafii Maarif: Memoar Seorang Anak Kampung di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (18/6). Dalam acara itu hadir pula Ahmad Syafii Maarif serta Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, Pontianak, Aswandi.

”Ketika persaingan ekonomi dan politik menguat, perasaan primordial mudah dimobilisasi untuk berbagai kepentingan. Ini mengancam pluralisme yang selama ini dibangun di Indonesia,” ujar Franz Magnis.

Dia menilai, Syafii Maarif berkontribusi besar dalam menggalang pluralisme di Indonesia. Dalam masyarakat plural sangat perlu dikedepankan sikap saling percaya sehingga setiap kelompok tidak merasa terasing.

Pembawaan diri anggota kelompok yang provokatif bisa mengusik toleransi yang sudah dibangun berbagai kalangan masyarakat. ”Dari sisi agama, misalnya, apa yang kita anggap benar biarlah kita anggap sebagai kebenaran, tetapi jangan sekali-kali memaksakan kebenaran menurut keyakinan kita itu kepada kelompok lain,” katanya.

Pendidikan

Membangun dialog antar-golongan atau kelompok dalam masyarakat yang plural sangat dipengaruhi kualitas pendidikan. ”Kedewasaan berdialog lintas agama, golongan, atau suku ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperoleh seseorang. Ini tidak saja pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter,” ujar Syafii.

Syafii mengakui, awalnya dirinya merupakan salah seorang yang ingin mendorong Indonesia menjadi negara Islam. Namun, setelah menempuh pendidikan di sejumlah tempat, termasuk di luar negeri, keinginannya itu perlahan-lahan hilang. Dia menyadari, Indonesia tidak akan menjadi rumah yang indah untuk semua golongan jika keinginan itu terwujud.

Aswandi menambahkan, kualitas pendidikan Indonesia saat ini masih harus terus diperbaiki karena masih banyak kekurangan. Pendidikan Indonesia belum menonjolkan pendidikan karakter.

”Saya agak miris, suatu saat ada mahasiswa yang mengikuti kuliah kerja nyata menolak ditempatkan di suatu daerah yang keyakinan mayoritas penduduknya berbeda dengannya. Dia berasal dari kalangan pendidikan. Ini menyangkut soal pendidikan karakter,” kata Aswandi.

Pekan lalu, penulis buku Sejarah Tuhan, Karen Armstrong, menolak pandangan bahwa agama merupakan sumber kekerasan. Agama malah memberikan makna hidup dan memperkenalkan seni dan keindahan bagi umat manusia. Jika dipahami secara benar, kata Armstrong, agama bisa mendorong kehidupan yang harmonis. Armstrong mengaku telah mempelajari banyak agama, seperti Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan Konghucu. (Kompas cetak, 19 Juni 2013))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: