Kronologi Rencana Pembongkaran Gereja-gereja di Aceh Singkil

Strategi ini yang dipakai, silahkan buka dan baca di link ini

http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg05802.html

Di bawah ini peristiwa di Aceh

KRONOLOGI RENCANA PEMBONGKARAN GEREJA-GEREJA DI ACEH SINGKIL

28 April – 2 Mei 2012

———————————————————-

1.. Mulai tgl 28 April 2012 telah beredar luas di kalangan masyarakat Aceh singkil SMS yang berbunyi: Diharapkan kepada umat islam di kab. Aceh Singkil di manapun berada agr berkenan hadir pada hari Senin tgl 30 April 2012 pukul 08.30 wib, tempat Kantor Bupati Aceh Singkil acara aksi damai kpd pmda Aceh Singkil agar gereja yang tidak punya ijin untuk segera di bongkar. Memakai pakaian putih tidak dibenarkan membawa senjata tajam. Tolong sampaikan ketiap babinsa… supaya diarahkan kecik msg’s jangan ikut ikutan. Dan terpropokasi.)

2.. Malam hari pada Minggu 29 April 2012 kami mengadakan rapat di gereja GKPPD Kuta Kerangan bersama guru-guru jemaat membahas sikap yang perlu diambil untuk menghadapi kemungkinan demo yang akan diadakan sebagaimana direncanakan tgl 30 April 2012. Dalam rapat ini kami tekankan agar jangan ada tindakan anarkis seandainya mereka yang berdemo kecewa bahwa pemkab tidak merespon permintaan mereka dan kemudian berusaha menghancurkan gereja-gereja tersebut. Upaya yang bisa dilakukan adalah membuat upaya menjaga gereja dengan menyuruh satu atau dua orang menjaga.

3.. Tgl 30 april 2012 terlihat rombongan menuju singkil (ibu kota kab. Aceh Singkil) dan menurut saksi mata jumlah mereka lebih dari 300 orang, bahkan ada yang mengatakan jumlah mereka ada sampai 1000 orang. Karena ada pengerahan massa 100 orang perkecamatan.

4.. Setibanya di kantor Bupati mereka pun berorasi menuntut ketegasan pemkab Aceh Singkil untuk menerapkan perjanjian tahun 1979 (yang hanya membolehkan 1 gereja di Aceh Singil), atau lebih toleran perjanjian tahun 1999 yang membolehkan 1 gereja dan 4 undung undung (setikat musolah dalam pemahaman islam) untuk Aceh Singkil. Mereka sangat kecewa dengan lembaga FKUB dan MPU yang tidak bertindak demi Islam tapi membiarkan gereja menjamur di mana-mana ( perlu diberitahu bahwa gereja sebenarnya telah ada sebelum SKB 2 Menteri terbit dan sekarang diperkirakan orang Kristen ada 1700 kk (10.000 jiwa dan pertumbuhan inilah yang mengakibatkan bertambahnya gereja, walaupun tidak diakui dan tidak pernah bisa mendapat ijin).

5.. Setelah berorasi lebih kurang 1 jam, AKBP Bambang Syafrianto SiK, Kapolres pun tampil mengusulkan: bagaimana kalau kita berikan toleransi bagi umat kristen membongkar gerejanya yang tidak berijin 3 x 24 jam, dan kalau tidak kita bentuk tim untuk membongkar? Tawaran itupun langsung disetujui peserta demonstrasi. Inilah kesimpulan yang kemudian diambil, dengan thema bahwa pembongkaran ini adalah penertiban bangunan, namun sebelum pembongkaran harus ada monitoring dari tokoh-tokoh Islam bersama muspida dan muspika terhadap gereja-gereja sasaran pembongkaran. Maksudnya adalah memberikan penjelasan niat pembongkaran tersebut.

6.. Pada hari Selasa tgl 1 Mei 2012 pukul 11.00, diketahui rombongan muspida dan muspika beserta ormas FPI Aceh Singkil dan satpol PP bergerak menuju kecamatan Simpang Kanan dan langsung memasuki lokasi gereja GKPPD Siatas yang telah dipenuhi warga jemaat semenjak pagi. Tim kemudian menanyakan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan memang tidak ada. Tim juga menanyakan sumber keuangan pembangunan apakah ada yang berasal dari Luar negeri dan menjawab tidak ada. Rombongan ingin segera menyegel gereja (pada hal ini tidak ada dalam keputusan pada demo tgl 30), melihat tindakan akan diadakan penyegelan para ibu-ibu histeris menangis bahkan sebagian ada yang pingsan. Sehubungan dengan itu ketua pembangunan Jirus Manik dan Guru Jemaat St. Norim Berutu beserta Kepla Desa Siatas dan Pertabas tampil berbicara dengan mengatakan bahwa alangkah tidak baiknya kalau gereja di Segel, sebab kemanalah warga gereja akan melakukan ibadah. Bahkan guru jemaat menegaskan kalau gereja di segel itu telah menempatkan GKPPD Siatas beserta warganya telah dipeti matikan, dan efeknya akan sangat buruk ke depan, dimana warga akan tidak lagi beribadah dan bisa saja menjadi sesat. Kedua kepala desa juga menegaskan bahwa tidak pernah ada masalah di desa tersebut sebab semuanya warga memiliki ikatan kekeluargaan walaupun ada yang Kristen, ada yang Islam. Harmoni di tengah masyarakat telah terbangun puluhan tahun. Masih ada persoalan-persoalan seperti perjudian dan maksiat yang sepatutnya di tangani, bukan menangani masalah gereja tersebut. Melihat betapa ketatnya pengawasan warga jemaat, ketua tim monitoring meminta kepada ketua pembangunan bersama dengan guru jemaat dan 3 kepala desa ( Kepala desa Siatas, Pertabas dan Kuta Kerangan agar besok tgl 2 Mei 2012 jam 10.00 Wib menghadap Bupati (ketiga kepala desa ini tersebut dipanggil sehubungan dengan warga GKPPD Siatas berasal dari ketiga desa tersebut. Di GKPPD Biskang (kec. Danau Paris) tim monitoring juga disambut oleh warga jemaat., tim monitoring mengatakan bahwa di gereja tersebut tetap bisa dilaksanakan walaupun pembangunan harus si setop karena tidak ada ijin membangun, namun Pdt. Ien br Sinamo menjelaskan keberatan mereka mengatakan tidak bisaa membangun, karena kapasitas ruangan yang tidak memungkinkan lagi karena buruk dan terlalu kecil untuk menampung kegiatan ibadah. Pembatasan kegiatan di gereja bertentangan dengan semangan Negara pancasila dan muatan UUD 45. Mendengar perlawanan dari pelayan dan wargta, tim segera meninggalkan gereja tersebut menuju desa Sikoran dan langsung menyegel gereja Katolik yang ada didesa tersebut dengan mengatakan bahwa gereja tersebut tidak boleh dipakai mengingat gereja tersebut tidak ada dalam permufakatan tahun 2001.

7.. Mengetahui bahwa telah diadakan monitoring, terhadap beberapa gereja ( GKPPD Siatas, GKPPD Biskang dan Gereja Katolik Si Koran) pimpinan resort GKPPD Ressort Kt Kerangan dan GKPPD Ressort Kerras mengundang para guru jemaat dan beberapa tokoh masyarakat untuk menyikapi rencana monitoring tersebut perlu sharing antara gereja yang sudh dimonitoring dengan gereja yang belum dimonitorng. Rapat itu diadakan pada tgl 30 Mei 2012 pukul 17.00-22.00 wib bertempat di GKPPD Kuta Kerangan. Pertemuan ini dipadaiti peserta dari jemaat-jemaat, ditambah dengan pengurus gereja Katolik, HKI dan Jemaat Kristen Indonesia (JKI). Pada pertemuan ini dibicarakan dan dimufakati bahwa setiap jemaat hendaknya menerima tim monitoring dengan baik dan ramah jangan ada yang anarkhis. Di hrapkan setiap jemaat segera menyiapkan photo kopi KTP warga dan membundel serta mempersiapkan surat mohon ijin bagi bupati. Ini perlu kalau tim dating jemaat bisa menjawab bahwa pengurusan ijin sedang diupayakan. Diharapkan juga jemaat bisa menjawab dengan baik dn mengutarakan bahwa di jemaat yang warganya adalah dari daerah sekitar yang telah ada disana puluhan tahun. Dan diharapkan pelayan memahami dan mampu menjelaskan sejarah berdirinya gereja dan pelayanan yang dilakukan. Diharapkan juga kepada pelayan untuk bisa menahan emosi jemaat jangan terpancing anarkhis.
Dalam pertemuan tersbut juga dimufakati agar menjawab panggilan tim untuk dating ke kator bupati tgl 2 Mei 2012 janagn dibiarkan hanya ke dua orang tambah 3 kepala desa, perlu disertai juga oleh pendeta.

8.. Karena kebetulan tgl 2 Mei 2012 setiap kecmatan juga merayakan hari pendidikan nasional, keberangkatan ke Singkil terpaksa menunggu ke tiga kepala desa selesai mengikuti acara perayaan tersebut. Oleh karena itu keberangkatan baru bisa dilakukan jam 10.30 dan sampai di kantor bupati jam 11.30 rapat itu diikuti 9 orang dari gereja (tetapi telah ikut 3 kepala desa) rapat dipimpin Bupati dan didampingi Kapolres, KASDIM, ketua MPU, perwakilan DPRK Aceh Singkil dan staf pemkab Aceh Singkil. Dalam pertemuan itu bupati menyambapikan :
– Bahwa masyarakat Singkil adalah masyarakat yang sangat toleran, terbukti puluhan tahun masyarakat berbagai agama tinggal di daerah tersebut. terbukti dengan kerukunan yang selama ini terjadi selama ini walau ada beberapa kali riak terjadi seperti pada tahun 1979 dan tahun 2001, justru riak riak terjadi karena orang Kristen melanggar perjanjian dengan melnggar perjanjian yang dibuat bersama tahun 1979 dan 2001 (perjanjian itu ditanda tangani brsama tokoh Islam dan Kristen yang hanya member tolerns 1 gereja yang telah memiliki ijin dan 4 undung-undung setingkat mushola dalam Islam).

– Keistimewaan aceh yang diakui pemerintah membuah provinsi ini berbeda dengan pfovinsi lain termasuk dalam pengaturan rumah ibadah, hal ini terbukti walau ada SKB 2 Menteri masih ada Pergub. Jadi tidak mudah untuk secar sebebsnya membangun rumah ibadah.

– Tgl 30 April 2012, telah terjadi aksi damai dari umat Islam dan meminta supaya isi perjanjian itu ditegakkan kembali dan meminta pebongkaran gereja-gereja yang tidak memiliki ijin.

– Sehubungan dengan hal tersebut siapa yang melanggar akan menadapat snksi dan kalian sebagai uamt Kristen harus membongkar gereja-gereja tersebut, kalau tidak sesuai dengan msyawarah bersama kami maka dalam tempo 2 minggu ini itu akan dibongkar semua. Ini harga mati yang tidak bisa ditawar tawar.

– Hari ini kita bukan ada dialog tapi menyampaikan pemnjelasan musyararah itu dan tanggal pembongkaran dan gereja mana.. demikian. Tapi kalau ada sedikit tanggapan kepada saudra-sudara kami berikan waktu.

a. Pdt. E. Lingga:

Indonesia turut meratifikasi dokumen hak azasi manusia bersama negar di dunia, dan juga Negara kita menjunjung nilai pancasila dan UUD 45 yang member ruang kepada 5 agama untuk melakukan ibadahnya. Kalau gereja kami dibongkar dan tidak bisa beribadah lagi, dimanakan pelaksanaan kebebasan beragama tersebut. Bahkan di Qanun-Qanun keistimewaan Aceh juga tidak ada pernah kami dengar pembatasan kaku seperti yang terjadi saat ini. Mengenai perjanjian damai thn 1979 dan 2001 yang member kebebasan 1 gereja dan 4 undung undung, kami mengkuinya tapi apakah tidak ada lagi toleransi bagi bpak-bapan dan saudara kami Islam melihat perkembangan keluarga kamis sekarang ini yang telah lebih dari 1500 kk di berbagai desa? Apakah permufakatan itu lebih tinggi dari UU? Apakah keadaan yang begitu toleran dan kondusif selama ini akan ternoda di mata masayarakat Indonesia dengan pembongkaran gereja tersebut. Tolonglah pak dengan penuh arif dan bijaksana, jembatani kami untuk berembuk kembali dengan saudara-saudara kami umat islam mungkin masih banyak titik-titik temu yng bisa kita bangun bersama.

b. Pdt. Erde Berutu

Saya tau sejarahnya pak bahwa perjanjian damai itu berada dibawah tekanan, tidak burni hasil musyawarah. GKPPD adalah gereja yang berbasis budya tersebar di Sumatera Utara Aceh bahkan Jawa. Dalam arti telah menyebar ke seluruh Indonesia. Kalau diadakan pemaksaan dan peruntuhan ini bisa berakibat lain, bukan menyelesaikan masalah melainkan menambah masalah. Kalau jemaat bertahan dan aparat dating merubuhkn bukankah mungkin terjadi seperti ambon? Tolong dipikirkan. Kalau memang ini harga mati, dan tidak ada toleransi lagi, sepatutnya pertemuan ini harus resmi mengundang tokoh-tokoh kami dari semua gereja yang akan di bongkar, bukan hanya beberapa orang. Sebab kami sebenarnhya tidak ada mendapat undangan. Kehadiran kami sebenarnya hanya untuk menemani saudar kami yang dari Siatas saja.

c. Ketiga kepala desa:

Menekankan bahwa di derah tersebut tidak ada umat islam keberatan mengenai keberadaan gereja. Bahkan kalau ini dipaksakan bisa menimbulkan perpecahan di desa dan permasalahan-permasalahan akan dating. Apa salahnya gereja sebgai tempat beribdah itu dibiarkan, dan lebih baik mengurus permasalahan umat yang sekarang ini masih terjadi seperti perjudian, pencurian maksiat dll.

d. St. Norim Berutu-

e. Menjelaskan secara teknis bagaimana gereja itu telah berupaya memenuhi persyaratan yang diminta SKB 2 Menteri dan FKUB, termasuk rekomendasi-rekomendasi yang telah didapat dari berbagai instansi di kab Aceh Singkil. Hanya ijin yang belum keluar.

Setelah member respon kembli kepada bapak Bupati (berbisik-bisik bebarapa saat)

– Bupati: Yang saya maksud harga mati adalah SKB 2 Menteri dan Pergum NAD. Untuk selanjutnya kami serahkan kepada bapak Kapolres.

– Kapolres:

Mohon kata seperti ambon jangan diucapkan lagi. Ini akan menjadi catatan bagi kami. Kami akan menyampaikan ini ke provinsi untuk meminta petunjuk pelaksanaan eksekusi. Biarlah mereka yang menentukan.

Klarifikasi:

Erde: Mohon jangan salah tanggap pak yang saya maksu seperti ambon bukan memancing amarah, hanya keprihatinan kami kalau itu timbul. Kalau ada salah ucap saya mohon di maafkan.

Kapolres: kalau demikin kami maafkan, mohon pra wartawan jangan mencantumkan kata-kata itu lagi.

Demikian secara singkat kronologi ini kami tuliskan

Kuta Kerangan 2 Mei 2012

Pdt. Elson Lingga

Catatan:

1. Hanya satu gereja yang mereka akui yakni GKPPD Kuta Kerangan

2. Gereja yang telah ada tapi tidak pernah mendapat pengakuan adalah:

1. GKPPD 12 unit

2. Katolik 3 unit

3. HKI 1 Unit

4. Kharismatik 3 unit

Yang telah dilak hingga tgl 4 Mei 2012

1. GKPPD Siatas

2. GKPPD Kutatinggi

3. GKPPD Tuhuthen

4. GKPPD Danguren

5. GKPPD Gunung Meriah

6. GKPPD Sanggaberru

7. GKPPD Mandumpang

8. GKPPD Siompin

9. GKPPD Situbuhtubuh

10. HKI Sukamakmur

11. Katolik Napagaluh

12. Katolik Gunug Meriah

13. Katolik Siompin

14. Katolik Lae Mbalno

15. JKI Kuta Kerangan

16. JKI Lae Mbalno

17. GMII Mandumpang

18. GMII Ujung Sialit

19. Rumah Ibadah PAMBI (aliran kepercayaan)

11 Tanggapan

  1. ckckckck kasihan ya gereja-gereja di Aceh…. semoga Tuhan mengampuni orang-orang yang bertindak arogan

    • Andaikan disetiap negara yang jumlah umatnya lebih banyak dari agama lain memperlakukan hal yang sama kepada yang minoritas, saya tidak tahu lagi situasi kehidupan beragama dan bernegara bagaimana?Bagi yang bertindak anarkis dan tidak toleran degan agama lain, tolong pikirkan juga dengan tempat ibadah kalian yang ada ditempat lain. Mari kita bangun sikap saling menghargai satu sama lain. Lebih baik mengusut tuntas masalah maksiat, moral, korupsi, dsb dr pada ribut hanya soal kebebasan setiap orang untuk beribadah menurut keyakinannya masing – masing.

  2. Kasihan bangatnya orang2 kristen yang ada di aceh.Ini sangat keterlaluan untuk tempat ibadah aj susah.Knapa tdk ada toleransi pd agama yang lain seharusnya tempat ibadah itu tdk blh disegal krna bkn untk kalangan pribadi tp tujuan kita semua sama untuk memuji TUhan.Tp biarlah Tuhan yang menilai krna semua tndakn yg tdk baik akn mendapt imbalanya.

  3. di bagian timur banyak yang agamanya bukan kristen,,, tp mereka saling menghormati antara agama yang 1 dengan agama yang lain,,,,,,,,,,,,,,

    • jare sopo..?? di Indonesia Bg. Timur bikin masjid susah…

  4. kayaknya sdh mengarah ke unsur mengislamkan aceh…. pemerintah harus harus harus………….. sangat-sangat serius menanggapi permasalahan ini… semoga

  5. Menurut Alkitab, Islam dan Kristen itu saudara dekat (baca sejarah keturunan dari Nabi Abraham/ Ibrahim dimasing2 Kitab Suci). Cuma, sayangnya penyebaran agama Kristen di Indonesia awalnya dilakukan oleh orang Barat. Sedangkan menurut orang Indonesia, orang Barat itu identik dengan penjajah (kafir). Jadi apapun yg dilakukan oleh orang Kristen selalu dicurigai dan dianggap haram oleh orang Islam, bahkan untuk beribadah pun dilarang dengan berbagai alasan karena malanggar peraturan.
    Mengapa untuk membangun rumah ibadah harus dilarang2, sedangkan membangun rumah esek-esek (bordil, cafe remang2, dan sejenisnya) lancar2 saja malah dibackingi ? (memang sungguh ironis). Cuma, kenapa waktu terjadi Tsunami di Aceh thn 2004 y.l berbagai bantuan dari negara2 / orang2 Kristen tidak dianggap haram ya…?. Itulah aplikasi bahwa Kristen selalu mengasihi Islam, karena memang bersaudara.
    Buat saudaraku terkasih dan se-iman di Aceh… Kuatkanlah hatimu… tekunlah berdoa dan beribadah. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan, Penghakiman itu hak-nya Tuhan.
    Saudaraku yg terkasih (khususnya Organisasi Islam di Aceh), Ketahuilah…, Kita bersaudara, walaupun kita berbeda, Kita tetap se bangsa walaupun kita tidak satu agama. Mari kita lihat bahwa Perbedaan itu bagaikan pelangi yang indah. Tumbuhkanlah damai dihatimu…, sebab damai itu indah, sangat indah. Jangan sampai terjadi lagi murka Allah yang lebih dahsyat terhadap tanah Aceh. Bertobatlah…..! Thks

  6. jangan bicara Pancasila mereka Aceh tdk mengakui krn menganut syariat Islam

  7. seluruh aparat pemerintah bahkan rakyat nya harus memiliki hati yang lapang terhadap perkembangan agama lain. karena pada dasarnya adalah suatu negara terbentuk oleh setiap perbedaan yang ada baik suku, bangsa, bahasa, etnis, dan budaya. Jadi memiliki hati yang dan pikiran yang terbuka, bertobat dari kebiasaan dan ajaran yang mendiskriminasi akan menciptakan kedamaian.

  8. ini bukan karena warga acehnya, namun ini adalah intervensi luar yang negara kita menjadi tidak aman. Contohlah di Flores, anda membangun masjid tidak menjadi masalah selama anda tidak bikin onar walaupun mayoritas Katolik. Kalau mereka mau, cara spt itu bs saja diterapkan. tapi tidak kan??? buat yang tadi bilang “jare sopo, mbangun masjid ae susah kok”, silahkan kita buktikan antara kenyataan dan perkataan anda. apa yang bisa anda beri sbg jaminannya? kepala anda?

  9. Coba diperjelas bagian timur mana? Sy tinggal di wilayah timur tp gak pernah lihat yg kyk gitu.kami di papua sgt menghargai perbedaan,krn kami paham ajaran agama kami yaitu “kasih”. Jd bro yg tadi bilang ” jare sopo” cm dengar kabar sampah. Jd bro jgn asal omong klo gak pny bukti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: