Mencari Bentuk Pendidikan Agama

Pendidikan agama, baik metodologi maupun substansi, menjadi persoalan di Jerman ketika jumlah penduduk beragama Islam yang semula datang sebagai ”pekerja tamu” pada tahun 1960-an semakin meningkat.

”Saat ini jumlahnya sekitar 4,3 juta dari 81,47 juta populasi di Jerman, sebagian besar merupakan generasi kedua dan ketiga,” ujar Nimet Seker, research fellow Teologi Islam dan Kajian Islam di Universitas Münster, Jerman.

”Apalagi pendidikan di Jerman, karena masalah historis, banyak dipengaruhi oleh pedagogi Kristen,” kata Dr Mark Bodenstein, pakar kajian Islam di Universitas Frankfurt/Main. ”Pertanyaannya, bagaimana mengadopsi konsep yang sangat bisa jadi tidak cocok dengan pendidikan Islam.

”Memang di situ persoalannya. Menurut Seker, banyak guru agama di masjid dianggap tak memiliki pengetahuan memadai, baik dalam soal agama maupun pedagogi. Akibatnya, banyak orang mendorong pengajaran agama Islam mengikuti cara pengajaran agama Katolik dan Protestan di sekolah negeri.

Diskusi dalam kelompok kerja pendidikan agama dan rencana pengajaran agama Islam di sekolah negeri di Jerman itu merupakan bagian dari dialog lintas agama bilateral II, Indonesia- Jerman di Berlin, Selasa (11/10) malam WIB.

”Pendidikan agama yang modern harus mampu membangun hubungan antara agama dan kehidupan nyata, menghubungkan nilai-nilai universal Islam dengan pengalaman hidup sehari-hari, sehingga agama menjadi semakin bermakna, membuat orang semakin kaya, semakin matang, dan semakin peka,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 900.000 murid beragama Islam di sekolah negeri dan dibutuhkan sedikitnya 2.500 guru. Namun, hanya tiga universitas yang memiliki fasilitas pelatihan. Tidak adanya pengakuan negara terhadap komunitas agama Islam menyulitkan upaya mengembangkan metode dan isi pengajaran agama Islam di sekolah.

Salah satu solusi yang ditawarkan Kepala Bidang Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Dr Ferimeldi Muslim Kudi adalah kerja sama di bidang pendidikan agama dengan universitas di Indonesia.

Filsafat

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Musa Asy’arie dalam sesi pleno menyatakan kesiapan UIN menerima mahasiswa yang ingin belajar teologi dan kajian Islam.

Ia menekankan pentingnya pemahaman filsafat untuk menghubungkan antara teologi dan realitas sosial, serta menjembatani teks dengan konteks.”Radikalisme lahir karena penolakan terhadap filsafat,” katanya. ”Demoralisasi politik yang menjatuhkan peradaban juga terjadi karena ketakutan pada filsafat.

”Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Dr Bahrul Hayat menjelaskan pentingnya proses pendidikan agama yang berdampak pada hubungan positif dengan keyakinan atau agama lain.

”Generasi saat ini dihadapkan pada miskonsepsi mengenai pengajaran agama, yang berkelindan dengan masalah politik, ekonomi, dan ketidakadilan sosial,” ujarnya.

Namun, ia yakin pendidikan berperan penting dalam upaya mempromosikan penghormatan, toleransi, dan pengertian di antara orang yang berbeda budaya dan keyakinan. (Kompas) ​

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: