Tidak Boleh Saling Melukai

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, keharmonisan hidup ber- agama yang tercapai selama ini tidak terjadi begitu saja, tetapi berkat kerja keras. Presiden menegaskan pentingnya menahan diri untuk tidak saling melukai satu sama lain.”

Saat menerima panitia hari raya Nyepi, Presiden menyampaikan, dalam masyarakat majemuk yang meliputi beragam agama, tentu keharmonisan yang kita capai tidak diperoleh begitu saja, tetapi berkat upaya kita, tekad kita,” kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, Rabu (16/3) di Kantor Presiden, dalam jumpa pers setelah mendampingi Presiden menerima Panitia Dharma Santi Nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1933. Ketua Panitia Erlangga Mantik, Sekretaris Umum Panitia Wayan Koster, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik ikut dalam pertemuan itu.

Erlangga mengatakan, dalam pertemuan, Presiden mengungkapkan kesediaannya untuk hadir dalam perayaan Dharma Santi pada 21 Maret 2011 di Jakarta. Dharma Santi merupakan acara penutup dari rangkaian perayaan hari raya Nyepi. Tahun ini, hari raya Nyepi jatuh pada 5 Maret. ”Bapak Presiden juga mendorong agar umat Hindu tetap memberi teladan hidup beragama dalam kemajemukan,” tutur Erlangga.

Secara terpisah, terkait razia jemaah Ahmadiyah yang dilakukan aparat Kodam Siliwangi, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, posisi TNI netral dan memperlakukan sama setiap anggota masyarakat di depan hukum. Tugas sosialisasi surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri adalah tugas aparat pemerintah daerah, TNI hanya mendampingi.

”Untuk sosialisasi SKB tiga menteri, TNI ikut mengawasi saja. Yang bekerja sosialisasi aparat pemerintah daerah. Kami mendampingi agar tidak ada tindakan anarkis dari kelompok-kelompok tertentu,” katanya. ”Tidak ada operasi sajadah,” kata Agus Suhartono tegas.

Kehadiran TNI, sesuai pernyataan Pangdam Siliwangi Mayjen Moeldoko, bukan untuk mengintimidasi. ”Kehadiran TNI agar tidak terjadi tindak kekerasan,” kata Agus Suhartono.

Dalam seminar ”Islam Indonesia dan Islam Timur Tengah”, sehari sebelumnya, pengajar FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ali Munhanif, mengatakan, sikap lemah pemerintah terhadap kekerasan telah menciptakan inkubator bagi gerakan ekstrem antisistem demokrasi. ”Mereka menanti momen- tum untuk mengambil alih kekuasaan dan mengubah negara. Jaringan ekstrem ini mengembangkan semangat eksklusif dan mengembangkan tribalisme yang mengedepankan identitas kelompok,” kata Ali.

Dia menjelaskan, negara demokrasi semestinya mengayomi seluruh warga negara. Kondisi pemerintahan yang lemah dan tidak berani bersikap tegas terhadap tindakan kekerasan telah dimanfaatkan kelompok yang ingin melakukan penyeragaman terhadap seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Direktur Program Pascasarjana UIN Jakarta Azyumardi Azra, yang turut berbicara, mengingatkan, kekayaan Islam di Nusantara mampu mencampurkan budaya dalam ritual. Produk budaya India yang berasal dari periode pra-Islam seperti wayang, ujar Azyumardi, dapat dimanfaatkan sebagai media penyiaran agama Islam dengan efektif. Sejarah membuktikan, masyarakat Islam Indonesia pada umumnya toleran dan memelihara kebudayaan mereka. (Kompas, 17 Februari 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: