Pengamat: Sikapi Ahmadiyah dengan Kekerasan Kontraproduktif


Minggu, 20 Februari 2011

Tindakan anarkis dalam menyikapi keberadaan kelompok Ahmadiyah dinilai kontraproduktif karena dapat mencoreng kerukunan umat beragama yang telah terjaga dengan baik di tanah air, kata pengamat sosial politik dari Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Ansari Yamamah.

“Cukup banyak nilai kontraproduktif yang akan muncul,” kata pengamat sosial politik dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Ansari di Medan, Minggu.

Di satu sisi, kata Ansari, cara anarkis yang dilakukan untuk menolak keberadaan kelompok Ahmadiyah akan menyebabkan nilai kerukunan beragama menjadi rusak.

Cara itu juga akan memberikan nilai negatif kepada pihak yang menolak yakni umat Islam yang menjadi mayoritas di tanah air.

Di sisi lain, cara tersebut justru akan semakin menguatkan dan mempersatukan anggota kelompok Ahmadiyah karena merasa ditindas.

Dari perspektif ideologis psikologis, sebuah keyakinan akan semakin kuat tertanam dalam hati sanubari pengikut sebuah faham jika mengalami tekanan terus menerus.

Kondisi itu diperkirakan akan terjadi pada pengikut atau anggota kelompok Ahmadiyah yang berupaya menyatukan kekuatan dan kebersamaan karena terus didesak dan mendapatkan perlakuan anarkis.

“Dalam teori aqidah, kegetiran yang dialami akan menjadi energi perjuangan,” kata Ansari yang juga Ketua Green Dai tersebut.

Ia menganalogikan kondisi tersebut dengan teori menancapkan galah di sungai. “Semakin digoyang atau ditekan, galah itu akan semakin kuat tertanam,” katanya.

Menurut Ansari, untuk menghadapi problematika Ahmadiyah perlu pedekatan ideologis persuasif dengan mengutamakan kearifan lokal dan pendekatan hukum yang tegas.

Sebagai anggota masyarakat yang tidak terlibat dalam pemutusan hukum, sebaiknya menahan diri (cooling down) dan menyerahkan urusannya kepada pemerintah dan lembaga terkait untuk mengatasinya.

“Kita tetap yakin bahwa pemerintah akan mampu mengatasinya sesegera mungkin,” kata pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tersebut.(I023/A025/S026
(Antaranews.com)

Menag: Semua Masukan Soal Ahmadiyah akan Dikaji


Minggu, 20 Februari 2011

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan bahwa pemerintah tengah mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah.

“Pemerintah saat ini mendengarkan berbagai aspirasi yang nantinya akan dikaji untuk mencari solusi yang terbaik,” kata Menag usai berdialog dengan sejumlah tokoh agama di Temanggung, Jawa Tengah, Minggu.

Ia menyebutkan, ada sejumlah aspirasi tentang keberadaan Ahmadiyah, antara lain tetap mempertahankannya, ada yang menginginkan menjadi sekte tersendiri, ada yang ingin membubarkan, dan ada aspirasi untuk membiarkannya.

Menurut dia, semua aspirasi tersebut akan dikaji dan akan diambil jalan terbaik. “Semua aspirasi akan dikaji dan nanti pada waktunya pemerintah akan mengambil keputusan,” katanya.

Namun, katanya, kapan keputusan tersebut akan diambil belum bisa ditentukan. “Saya tidak bisa menjanjikan waktunya, karena hal ini harus dilihat dari berbagai segi. Bukan hanya segi agama saja, tetapi aspek-aspek lain harus dilihat,” katanya.

Sementara itu, dalam dialog dengan sejumlah tokoh agama di Temanggung, Menag menyatakan prihatin dengan kejadian kekerasan di daerah ini karena agama mana pun tidak menginginkan kekerasan.

Ia berharap para tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menyejukkan keadaan karena masyarakat memerlukan ketenangan, kerukunan dan suasana sejuk.

Indonesia memang majemuk dan keberagaman itu harus dijadikan sebagai kekuatan bukan sebaliknya. Untuk itu dia menyampaikan apresiasi kepada tokoh agama dan pemuka masyarakat yang dengan cepat menyelesaikan kerusuhan di Temanggung.

Ia mengatakan, akibat peristiwa itu semua pihak mengalami kerugian. Untuk itu, diharapkan silaturahmi dapat ditingkatkan sehingga semua pihak dapat saling menghormati.

Menag berharap fungsi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dapat dioptimalkan karena forum itu sangat positif, sekurangnya para tokoh agama dapat duduk bersama dan saling membantu jika ada gesekan dan dicarikan solusinya. Efektif atau tidaknya forum itu, tergantung pada para tokoh agama itu sendiri.

Pada kesempatan tersebut Kementerian Agama memberikan bantuan kepada sejumlah gereja yang menjadi korban kerusuhan, yakni Gereja Santo Pentrus dan Paulus Rp100 juta, Gereja Pantekosta di Indonesia Temanggung Rp125 juta, Graha Shekinah Rp75 juta, Gereja Pantekosta Tegowanuh Rp50 juta, dan Badan Kerja Sama Umat Kristen Rp25 juta.

(ANTARANEWS.COM)

Nietzsche: Jangan Jadi Kaum Dombawi


Ardus M Sawega

Lalu,/seketika,/menukik lurus,/dengan cakar terhunus,/mencengkeram domba-domba,/dengan lapar membara,/berahikan domba,/masgul pada segala-jiwa domba,/masgul murka pada segala airmuka/yang budiman, dombawi, dungu,/bersifat gumpan bulu,/dan baik budi susu dombawi… (Cuma Pandir! Cuma Penyair!)

Berthold Damhauser (58), pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan editor Seri Puisi Jerman, pada Pembacaan Puisi-puisi Friederich Nietzsche, ”Syahwat Keabadian”, di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (17/2) malam, ditodong pertanyaan, apa yang relevan dari pokok-pokok pemikiran Nietzsche dengan situasi di Indonesia masa kini?”

Nietzsche mengecam manusia-domba dan sikap beragama yang dombawi. Kaum dombawi adalah gerombolan massa. Manusia bertindak seperti domba, dungu, tak bisa berpikir mandiri, dan mudah digiring untuk berbuat kejahatan. Ia mengimbau agar kita hidup dan berpikir mandiri, tidak mudah dipengaruhi atau diperintah orang lain,” jawab Damhauser.

Antusiasme audiens mengikuti acara pembacaan puisi dan diskusi mengiringi peluncuran kumpulan puisi ”Syahwat Keabadian” di Solo—dari rencana acara serupa di lima kota (Semarang, Solo, Magelang, Jakarta, Tanjung Pinang)—menunjukkan apresiasi kalangan terpelajar Indonesia terhadap Friederich Nietzsche (1844-1900).

Nietzsche adalah filsuf Jerman yang pemikirannya punya pengaruh dan berdampak besar pada jagat filsafat dan perkembangan pemikiran di dunia, sejajar dengan Karl Marx dan Sigmund Freud. Selain sebagai filsuf, Nietzsche sebenarnya juga seorang penyair besar. Bahkan, intisari pemikiran filosofisnya banyak ditemukan pada karya-karya puisinya, yang jumlahnya tak kurang dari 500.Menurut Damhauser, di Indonesia, Nietzsche kurang dikenal sebagai penyair. ”Nietzsche membuat pembaruan pada sastra Jerman. Puisi-puisinya menunjukkan kebebasan berbahasa, tetapi sekaligus mengenalkan metafora-metafora baru sehingga menciptakan bahasa sastra yang luar biasa indah. Ia bisa disebut sebagai maestro bahasa setelah Martin Luther dan Johann Wolfgang von Goethe,” kata Damhauser.

Ateis

Karya pemikirannya yang paling menggemparkan dan mengguncang dunia adalah pernyataan: ”Tuhan sudah mati”. Namun, menurut Damhauser, walau Nietzsche seorang yang ”100 persen ateis”, sebenarnya pemikiran tersebut bukan yang pertama kali. Di Jerman, pada saat itu kepercayaan tentang Tuhan memang sudah hilang atau memudar.

Damhauser menuturkan, sejak usia 15 tahun, Nietzsche telah menulis berbagai pemikiran, selain puisi, dan semakin dewasa pemikirannya semakin luas dan liar.

Di mata Agus R Sarjono, editor Seri Puisi Jerman, Nietzsche adalah filsuf sekaligus penyair yang justru paling intens bergumul dengan tema ketuhanan. Dia menjalani banyak tahapan pengenalan sejak dia menjadi calon rahib yang didera demam rindu pada Tuhan, sebelum sampai pada pernyataannya, ”Tuhan sudah mati”.

Simak puisi yang dia tulis saat usia 18 tahun, ”Engkau Memanggil, Tuhan, Kuhampiri”: Engkau memanggil:/ Tuhan: aku bergegas/Dan kini mendamba/Di tangga singgasanaMu/Alangkah ramah/Menyakitkan/Berkilau menembus kalbu:Tuhan kuhampiri… (dari kumpulan Kepada Tuhan yang Tak Dikenal).

Damhauser menyebutkan, walaupun Nietzsche tidak percaya pada akhirat dan metafisika, ia percaya akan roh di seberang kebendaan. Namun, sikap transendentalnya itu ia tuangkan ke dalam keduniaan, keimanenan.

Nietzsche pada dasarnya ingin menebarkan sikap skeptis terhadap apa saja, termasuk tentang kebenaran karena tidak ada kebenaran yang mutlak. Pandangan itu mengkristal dalam mahakaryanya, ”Demikian Sabda Zarathustra”. Melalui tokoh fiktif Zarathustra, Nietzsche ingin menafikan dikotomi tentang baik dan jahat.

Ia juga menolak moralitas nasrani, rasa iba hati, cinta kepada sesama. Namun, menjelang akhir hidupnya, saat dia mulai dihinggapi penyakit jiwa, mendadak ia menunjukkan sikap iba hati. Di Turin, ia memeluk kuda yang dilecuti oleh majikannya.

Walau dia dikenal sebagai ateis dan menolak moralitas agama, beberapa pemikirannya menunjukkan bahwa Nietzsche percaya pada ”keberulangan abadi”, semacam konsep reinkarnasi dalam agama Timur.

Simak sepenggal puisinya, ”Tujuh Materai”, yang dibacakan secara bergantian oleh Berthold Damhauser, Dorothea Rossa Herliany, dan Sosiawan Leak: ….Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian/ dan cincin kawin segala cincin,/ –cincin Sang Keberulangan!// Tak pernah kutemukan perempuan/ yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,/ kecuali perempuan yang kucintai ini:/ karena kucintai kau, oh Keabadian!//.
(Ardus M Sawega, wartawan di Solo)

(Kompas cetak, 20 februari 2011)

Jumlah Pemeluk Katolik Bertambah di Seluruh Dunia


Minggu, 20 Februari 2011

Jumlah pemeluk Katolik Roma di seluruh dunia meningkat 1,3 persen menjadi 1,181 miliar orang pada 2009 dari tahun sebelum itu, demikian Vatican mengumumkan dalam publikasi terakhirnya seperti dikutip AFP.

Komunitas Katolik terbesar ada di Amerika Latin yang menjadi rumah bagi 13,6 persen penduduk dunia, namun satu dari setiap 2 orang penduduknya (49,4 persen) beragama Katolik.

Di Eropa hampir satu dari setiap 4 orang (24  persen) adalah pemeluk Katolik atau sekitar 10 persen dari total penduduk dunia, demikian keterangan Vatican.

Dia Asia yang merupakan 60,7 persen dari total penduduk dunia, 10,7 persen penduduk menganut Katolik, sedikit lebih banyak dibandingkan tahun 2008.

Di Afrika dan Oseania, jumplah pemeluk Katolik mencapai 15,2 pesen atau 0,8 persen dari total penduduk dunia.Vatican mengatakan jumlah biarawati menurun drastis dari 739.068 pada 2008 menjadi 729.371 pada 2009, justru di tengah meningkatnya jumlah pemeluk Katolik di Afrika dan Asia.

Jumlah uskup meningkat 1,3 persen menjadi 5.065 orang, dengan Afrika dilaporkan mencapai kenaikan tajam 1,8 persen dan Asia terendah dengan hanya  0,8 persen.

Jumlah keseluruhan pendeta meningkat tipis 0,34 persen, namun turun lebih dari 0,8 persen di Eropa, berkaitan dengan menurunnya ketertarikan kalangan muda.(*)
(Antaranews.com)