Deprivatisasi

Kamis, 17 Februari 2011

Hamid Fahmy Zarkasyi

Ketika Ahmadiyah ditolak oleh umat Islam Indonesia dan ketika Saksi Jehovah ditolak oleh umat Katolik dan Protestan, negara ikut campur menjadi wasit. Ketika gelombang penistaan agama menyeruak di Amerika, pemerintah negara bagian Massachusetts di Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang yang menghukum dan mendenda penista agama.

Pada saat Taslima Nasrin di Bangladesh menulis di koran The Statesman (tahun 1994) Alquran harus direvisi secara menyeluruh. Negara memvonis hukuman mati. Empat tahun kemudian, Ghulam Akbar menghina Nabi Muhammad dan segera dihukum mati. Pada 2000, kelakuan Ghulam Akbar ditiru oleh Abdul Hasnain Muhammad Yusuf Ali. Pengadilan Pemerintah Provinsi Lahore pun memutuskan hukuman mati. Di Mesir, seorang yang mengaku Nabi langsung dihukum mati dan selesai. Di sini, kisah-kisah itu membuktikan peran negara dalam menyelesaikan konflik agama mutlak perlu dan terus berjalan.

Bagi penganut sekularisme dan liberalisme kaaffah , negara tidak boleh mengurusi agama dan sebaliknya. Ini harga mati. Sebab, agama dianggap sebagai domain pribadi. Privatisasi agama adalah sekularisasi. Sekularisasi telah menjadi tren sosial politik di Barat Eropa sejak abad Pencerahan (1720-1880). Setengah abad yang lalu, Smith (1970-1976) mendeklarasikan sekularisasi sebagai perubahan struktur dan ideologi yang sangat mendasar dalam proses pengembangan politik dan tren global modernisasi. Acuannya adalah figur-figur ilmuwan sosial abad 19, seperti Marx, Durkheim, dan Weber. Jadi, desakralisasi agama adalah satu paket dengan sekularisasi dan modernisasi masyarakat. Ketika itu memang agama telah kehilangan relevansi sosial dan politiknya. Sebab, politisi dari para pemuka agama semakin tidak cakap dan malah semakin tirani.

Kekuasaan tidak lagi ditangan agama, tapi ilmu. Dari situlah keluar jargon knowledge is power, ilmu adalah kekuasaan. Lebih-lebih, kalangan gereja menganggap pemisahan itu hampir seperti keniscayaan. Doktrin gereja itu sudah terdikotomi, berikan hak kaisar kepada kaisar dan hak tuhan kepada tuhan. (Luke 21-25). Ditambah lagi, suasana reformasi politik Eropa pada waktu itu begitu dominan sehingga ketegangan antara gereja dan negara adalah warna sejarah Eropa yang kelam.Tapi pada 1979, setelah terjadi revolusi Iran, orang baru sadar bahwa tafsir modernisasi ternyata tidak tunggal dan kaku. Sejak saat itu, agama dan politik yang sempat talak tiga di Eropa dan negara-negara jajahannya, rujuk kembali, tapi masih dalam status nikah siri. Orang mengakui, tapi tidak berani terbuka. Tapi, kenyataan sosial seperti mendorong ke arah sentralisasi agama ke ruang publik.

Orang, misalnya, bertanya-tanya mengapa Perdana Menteri Inggeris David Cameron mesti sowan ke Paus Benedict XVI. Di situ ia mengungkapkan penyesalannya atas berkembangnya kultur relativisme dan sekularisme di Barat. Ia juga menghargai sikap Paus yang menurutnya telah menggugah semua negara untuk bangkit dan berpikir melawan itu.

Di Amerika, pada tahun 60-an, JF Kennedy menyatakan bahwa agama dan keyakinan presiden adalah urusan pribadi dan tidak bisa diberlakukan kepada bangsa dan sebaliknya. 50 tahun kemudian, senator Pennsylvania Rick Santorum menyanggahnya. Dalam kuliahnya di University of St Thomas, ia menegaskan pemisahan gereja dan negara secara mutlak, bukan dan tidak pernah menjadi model Amerika. Itu hanya model yang dipakai oleh negara-negara seperti Perancis dan Turkey, tapi tidak laku di Amerika, kecuali setelah Hakim Hugo Black melempar hal ini ke dalam wacana publik

.Jeff Haynes, profesor di Department of Politics and Modern History University of London, mencoba menganalisis. Ormas keagamaan menjadi aktor politik karena agama merasa terancam oleh kebijakan-kebijakan sekuler. Fenomena ini tersebar luas dan perlu kajian secara kasus per kasus. Konsekuensi dari intervensi itu bisa bermacam-macam. Agama terkadang menjadi sangat berperan dalam rekayasa politik. Demokrasi di Amerika Latin dan Eropa Timur pada tahun 80-an tidak lepas dari peran gereja Katolik.

Jika Jeff diminta komentar revolusi di Mesir baru-baru ini, ia pasti melihat peran agamawan Islam maupun Kristen Koptik sangat besar. Salat jamaah para pendemo dan doa para pemimpin Koptik di Lapangan Tahrir adalah no comment new, Kesuksesan menumbangkan Husni Mubarak dirayakan dengan sujud syukur, bukan dengan minumminum atau dansa. Di situ agama menjadi etos kerja pendemo.

Fenomena yang disebut Jeff terjadi di Inggris. Di sana agama mulai menolak menjadi urusan pribadi. Gereja-gereja Katolik muncul kembali membawa suara moral, social, dan bahkan politik. Pada 1996, misalnya, mereka menyebarkan pamflet berjudul The Common Good and the Catholic Churchs Social Teaching. Pamflet itu adalah intervensi gereja terhadap konflik antara Partai Buruh dan Partai Konservatif. Menurut klaim mereka, ini adalah kekuatan spiritual agama dan juga relevansi agama Katolik dengan demokrasi liberal, pluralisme, dan ekonomi pasar.

Memang dalam soal hubungan negara dan gereja, Kristen berbeda dari Islam. Dalam Islam, masjid bukan gereja dan tidak punya otoritas. Maka sebenarnya, menurut PJ Vatikiotis (Lihat Islam and the State), apa yang dituntut gereja sebagai komunitas moral, penjaga hukum Tuhan, institusi kependetaan, dan sekaligus komunitas politik, lebih cocok dituntut oleh orang Islam. Hidup dalam worldview Islam sebagai realitas fisik adalah ekspresi kehendak Tuhan.

H Dabashi (dalam T Robbins & R Robertson (ed), Church-State Relations) bahkan tegas menyatakan, Tidak ada dalilnya dalam Islam yang memisahkan kesalehan dan politik. Keduanya adalah perintah Tuhan.

Meskipun dalam Islam otoritas agama dan politik dapat dipisahkan menjadi dua institusi sosial yang berdiri sendiri-sendiri, keduanya selalu berhubungan. Jadi, yang masih membela privatisasi agama jelas set back setengah abad atau bahkan tiga abad. Kini agama telah berubah dari interest pribadi menjadi publik, dari urusan institusi menjadi konstitusi.

Itulah makna deprivatisasi agama yang akan terus dilawan oleh liberalisasi dan postmodernisasi. Wallahu a’lam.

http://koran.republika.co.id/koran/155/129336/Deriratisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: