Akademisi: Tak Penuhi Janji, Pemerintah Tidak Tahu Malu


Jakarta, Pemerintah dinilai sudah tidak tahu malu karena banyak janji yang tak ditepatinya. Pemerintah diminta untuk tak mengabaikan peringatan dari rakyatnya.

“Pemerintah tidak tahu malu karena tidak memenuhi janjinya dan masih banyak orang miskin,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong.

Hal tersebut dikatakannya saat diskusi dengan tokoh Lintas Agama, Akademisi dan Forum Rektor di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (4/2/2011).

Menurut sejarawan ini, upaya untuk mewujudkan kesejahteraan adalah tugas dari negara. Sayangnya, kebijakan pemerintah tidak menyentuh bidang strategis untuk memperbaiki kesejahteraan, salah satunya pendidikan.

“Kesejahteraan adalah janji setelah kemerdekaan. Saya tidak melihat perbedaan antara tidak memenuhi janji setelah merdeka dengan kebohongan,” jelasnya.

Sementara itu, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara Romo BS Mardiatmadja mengkhawatirkan peringatan dari  tokoh lintas agama dan akademisi tidak membuat pemerintah tersadar atas permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Peringatan itu seperti jam weker. Seringkali sudah kita pasang tapi tidak membuat terbangun. Kalau peringatan kebohongan ini tidak diperhatikan nanti kondisi akan semakin parah. Karena komunikasi apapun tanpa dilandasi kejujuran takkan berhasil. Apalagi komunikasi politik,” tutur BS Mardiatmadja.

Hadir pula dalam acara itu tokoh lintas agama antara lain Franz Magnis Suseno, Din Syamsuddin, Romo Benny Susetyo, Syafii Maarif dan Efendi Gazali.
(Detiknews.com)

Forum Rektor: Indonesia Menuju Negara Gagal



Jakarta – Forum Rektor mengingatkan pemerintah bahwa Indonesia saat ini sudah mulai menuju ke dalam keadaan negara gagal. Indonesia berada diperingkat 61 dari 170 negara yang termasuk dalam indeks negara gagal 2010.

“Negara kita sudah dekat menjadi negara gagal dan kalau tidak diperbaiki pemerintah, pada tahun akan datang menjadi negara gagal,” ujar anggota Forum Rektor Sofian Effendi dalam konferensi pers dengan tokoh Lintas Agama dan Forum
Rektor di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (4/2/2011).

Menurut Sofian, berdasarkan hasil indeks negara gagal, Indonesia berada di urutan 61 dari 170 negara. Dalam indeks itu, Somalia berada di urutan pertama.

“Salah satu ukurannya adalah jumlah populasi penduduk Indonesia yang terus meningkat dan program pemerintah gagal total,” terang Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Ukuran lainnya menurut Sofian adalah kesenjangan antara daerah di wilayah Indonesia semakin besar. Ia mencontohkan, provinsi Papua dan Papua Barat adalah salah satu wilayah yang termiskin di Indonesia dengan perbandingan lebih dari 17 kali lipat dengan daerah lain.

“Ini sangat berbahaya dan ketika mereka meminta melepaskan diri, itu berarti
membuktikan ketidakpuasan rakyat,” terangnya.

Pada sektor pelayanan publik, anggaran Indonesia sama sekali tidak pernah meningkat, bahkan nyaris tidak ada dibandingkan banyaknya anggaran untuk birokrasi.

Saat ini juga, terjadi delegitimasi terhadap pemerintah. Sofian menyebutkan, terdapat 157 kelapa daerah yang saat ini terkait dengan meja hijau. Malahan, satu
diantara kepala daerah tersebut dilantik saat dirinya berstatus terpidana.

“Lalu terpecahnya elit politik dan elit penguasa. Ini semua adalah tanda-tanda
negara gagal,” sebut sofian.

(fiq/gun)

Sumber:

10.000 Orang Akan Hadiri Pekan Kerukunan Umat Beragama Sedunia


Jakarta – Gelaran rutin World Interfaith Harmony Week (Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia) tahun ini akan digelar di Jakarta. Acara yang dimulai pada 6 Februari 2011 itu bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya hubungan yang harmonis antara umat beragama.

 

“Acara ini merupakan program PBB yang dimaksudkan untuk mengakhiri perjalanan panjang pertikaian agama dan kekerasan sehingga umat beragama dapat hidup layak dan damai tanpa perang maupun kekerasan,” kata salah satu anggota presidium Din Syamsuddin di kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilitazations (CDCC), Jl Kemiri 24, Jakarta, Senin (31/1/2011).

 

Acara yang diselenggarakan di Istora Senayan ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan pada pekan pertama bulan Februari. Kegiatannya antara lain penyampaian pesan kerukunan dari tokoh agama, dari Sekjen Religions For Peace New York, Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI.

 

“Kita patut merayakan acara seperti ini karena ada makna simbolik, harmony yang akan terbangun di tengah masih adanya ketegangan antar agama di Indonesia,” jelasnya.

 

Ketua Umum PGI Andreas Yewangoe mengatakan persoalan kerukunan agama di Indonesia sedang disorot dunia. Pada akhir-akhir ini ketegangan antar umat beragama cenderung semakin meningkat.

 

“Semua agama mengajarkan cinta kasih. Sehingga acara ini diharapkan dapat meredam ketegangan tersebut,” ungkapnya.

 

Sementara itu Ketua Umum KWI Mgr Martinus Situmorang mengatakan Indonesia bersyukur dapat menyelenggarakan acara ini. Acara ini sebagai bentuk simbolis dari kondisi realitas yang ada.

 

“Damai adalah aset dari bangsa kita. Acara ini untuk menegaskan dan menghindari konflik yang intoleransi,” paparnya.

 

Hadir dalam dalam jumpa pers ini Ketua Umum KWI Mgr Martinus Situmorang, Ketua Parisadha Hindu I Nyoman S Udayana, Presidium IRC-Indonesia Din Syamsuddin, Ketua Umum PGI Andreas Yewangoe, Ketua Panitia Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia Romo Benny Susetyo, Ketua Walubi Rusli Tan, Uung Sendana (Matakin).

 

 

sumber : detiknews

 

Pemilu 2014, Kader PKS Maju Jadi Capres (Tantangan bagi Partai Nasionalis)


Anis Matta
Pemilu 2014, Kader PKS Maju Jadi Capres
“Para kader (PKS) menuntut supaya kami mengusung kader sendiri.”
Jum’at, 4 Februari 2011, 07:32 WIB

Elin Yunita Kristanti

VIVAnews — Pemilihan presiden masih tiga tahun lagi, namun wacana soal calon presiden pada Pemilu 2014 nanti sudah mengemuka. Salah satunya dari PKS. Meski belum menyebut nama, partai ini berniat mengusung calonnya sendiri.

“Kami akan mengajukan calon Presiden 2014 dari kader sendiri,” kata Sekretaris Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta di Yogyakarta, Kamis 3 Februari 2011 malam.

Ditegaskan Anis, itu adalah kebijakan dasar yang telah ditetapkan partai. Salah satu yang jadi dasar adalah karena PKS sudah berusia 17 tahun. “Para kader (PKS) menuntut supaya kita mengusung kader sendiri.”

Anis memprediksi akan ada peralihan generasi pada 2014 mendatang.  “Dan kami adalah bagian dari generasi baru yang akan memimpin Indonesia ke depan.”

Ditambahkan dia, sebelum masuk ke tahapan pemilu, PKS sudah gencar melakukan uji coba di ajang pemilukada. “Di semua Pemilukada kami mengajukan kader sendiri sebagai calon,” kata Anis. “Kalau dulu kami cuma mengusung, kalau sekarang hampir di semua Pemilukada kader kami yang maju.”

Keyakinan PKS untuk mengusung calonnya sendiri sebagai capres juga pernah diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah.

“Saat ini, kader PKS sedang percaya diri untuk memajukan calon presiden sendiri,” kata Fahri Hamzah dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Senin 11 Januari 2011.

PKS, kata dia, memiliki banyak kandidat yang memiliki daya pilih lebih tinggi.

“Lihat saja pada tren pilkada di provinsi-provinsi besar. PKS menang di sana. Ada pola pemenangan yang bisa kita gunakan,” kata Wakil Ketua Komisi III Bidang Hukum DPR ini.

Rencana pengusungan capres sendiri oleh PKS juga pernah digaungkan pula oleh Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mahfudz Siddiq. Mahfudz menyatakan tak puas dengan mekanisme yang berjalan di Sekretariat Gabungan (Setgab) dan mengajak partai-partai untuk membangun koalisi ‘partai tengah’ untuk mengimbangi koalisi Partai Demokrat dan Golkar.

“Perlu kekuatan tengah untuk mengimbangi Golkar dan Demokrat,” kata Mahfudz Siddiq, Selasa, 21 Desember 2010. Bahkan, ujar Ketua Komisi I DPR itu, bukan tak mungkin kekuatan tengah dapat memunculkan capres sendiri. “Atau bahkan berkolaborasi dengan PDIP yang kecil kemungkinannya bergabung ke Demokrat atau Golkar,” kata Mahfudz. (hs)

Laporan: Erick Tanjung| DIY

• VIVAnews

http://politik.vivanews.com/news/read/202862-pemilu-2014–kader-pks-maju-jadi-capres