Pelurusan Berita Kasus Gereja Katolik di Bali (dari SVD)

Sumber informasi: dari “donatus Simbolon” <donatussvd@yahoo.com> –> To:corona_mea_vos_estis@yahoogroups.com (Donatus Simbolon, salah seorang Romo SVD)

Pelurusan berita:

1. Memang terjadi pengambil alihan Gereja. Karena Rm. Yan, sudah 15 tahun tidak taat dan menolak untuk dipindah dari Singaraja. dia dulu anggota Konggregasi SVD; yang akhirnya dipecat juga dari sana oleh Jenderal SVD, karena keras kepala dan ketidak taatan.

2. Selama 14 tahun, sudah 3 Uskup mencoba menawari dia berbagai kemungkinan dari studi di luar negeri, boleh pilih paroki mana yang diinginkan. Waktu dia dikeluarkan oleh Kongregasi SVD, para uskup ini menawarkan Rm. Yan untuk menjadi romo projo. 2 uskup terdahulu, menawari dia jadi romo Projo DI LUAR keuskupan Denpasar. Uskup yang sekarang, Mgr. Silvester San, menawari dia menjadi projo Keuskupan Denpasar. Tapi Rm.Yan menolak dan menyatakan ingin tetap jadi romo SVD. bahkan dia masih memakai gelar SVD pada namanya.

3. Setelah semua usaha pendekatan personal dan pastoral tidak berhasil, Mgr. San menghadap Bupati Singaraja untuk menengahi. Bupati menugaskan Kementrian Agama (dulu Dept. Agama) Singaraja untuk jadi penengah. Mgr. San dengan team dari Denpasar datang; tetapi Rm. Yan yang rumahnya hanya 50 meter dari Kantor Agama, menolak datang. harap diketahui, Singaraja itu ada di ujung utara P. Bali, memakan waktu 2 setengah jam dari Denpasar.

4. lalu Mgr. San membuat surat pernyataan yang menjelaskan kronologis ketidak taatan Rm. Yan yang disebarkan kepada semua Uskup di Indonesia dan paroki-paroki yang terkait. Mgr. San datang ke Singaraja untuk menjelaskan surat ini langsung kepada umat yang setia kepada uskup. Ada umat dari pihak Rm. Yan yang datang, lalu minta Uskup menjelaskan hal ini di Gereja Kartini (istilah yang kita gunakan untk gereja yang diduduki Rm. Yan). setelah mendapat kepastian bahwa Mgr. San memang ditunggu di Gereja Kartini, maka rombongan kesana. Tetapi penjelasan Mgr. San tidak diterima baik, malah dicaci maki dan dilecehkan.

5. Pihak keluarga Rm. Yan, yang berasal dari paroki Tuka di dekat Denparar mencoba mendatangi Rm. Yan. tetapi ditolak oleh para pendukung Rm. Yan dan dia sendiri hanya diam saja.

6. Setelah semua upaya damai gagal, Mgr. San membuat pengaduan ke polisi, tentang pendudukan tanah dan gedung gereja secara tidak sah. sayang polisi menyatakan: belum ditemukan indikasi tindak pidana; dinyatakan bahwa ini adalah masalah internal Gereja Katolik.

7. Karena semua usaha mencari penyelesaian tanpa kekerasan tidak berhasil; Mgr. San memutuskan untuk menyelesaikan hal ini secara internal Gereja. Mgr. San mengumpulkan tokoh-toloh etnis NTT (sebagian besar pendukung Rm. Yan itu orang NTT dan Timor Leste); pihak keluarga Rm Yan untuk masuk ke Gereja Kartini; dengan tekanan setiap kelompok etnis menangani orang-orangnya sendiri, Rm. Yan ditangani oleh keluarganya. sasaran tindakan ini adalah mengeluarkan Rm. Yan dan Annis Ola (koster yang sangat berpengaruh pada Rm. Yan) yang menjadi sumber keonaran di paroki Singaraja selama lebih dari 15 tahun dari pastoran dan rumah koster.

8. Hari Minggu, tua-tua adat suku Annis Olla datang menemui dia untuk mengajaknya keluar. tetapi hal ini ditolak dan menjadi titik awal persiapan mereka untuk mempertahankan diri. bahkan mereka memanggil preman dari desa di Singaraja dan melaporkan ke Polres bahwa Gereja kartini akan diserang oleh premannya uskup.

9. pada pagi hari sebelum kami masuk, Polres Singaraja mengadakan sweeping dan mengeluarkan 14 orang yang memang dikenal sebagai preman dan meminta semua orang yang bukan Katolik untuk keluar dari Gereja Kartini.

10. Pada saat kami akan masuk, kamu berbaris di depan gereja untuk berdoa. tetapi kami sudah dimaki-maki oleh seseorang dari Gereja Kartini dan disebut preman Uskup dan mengusir. anak-anak muda mulai terpancing emosinya, tetapi masih dapat dicegah. tetapi saat doa mulai, provokasi lain, pintu gerbang gereja dibuka-tutup. ketika beberapa orang mendekat, pintu ditutup dan digembok kembali. emosi anak-anak muda tidak dapat dikontrol; mereka mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. tetapi waktu itu para tua-tua adat masih dapat menguasai anak buahnya. mereka meminta kelompok sukunya yang membela Rm. Yan untuk keluar meinggalkan Gereja. tetapi ada 1 anak muda, Theo, menolak untuk keluar. akibatnya, ketika ia ditemukan, tanpa memakai pita putih yang menjadi tanda kami, maka dia diserbu. tetapi akhirnya Etnis Manggarai berhasil mengeluarkan dia dari gereja.

11. Kami mencari dimana Rm. Yan dan Annis Ola bersembunyi. Annis ditemukan bersembunyi di sakristi Gereja. Kelompok etnisnya mengeluarkan dia dari gedung gereja dan melindungi dia dari massa yang panas. dia langsung dimasukkan ke mobil dan dibawa ke Denpasar. lalu istri Annis, diminta mengeluarkan harta bendanya dari rumah koster dan membawanya pergi. Saya tidak ada disana, tetapi sesudah semua selesai, saya tidak melihat ada jendela dan pintu yang rusak di rumah koster. bahkan kelompok etnisnya membantu membawa keluar inventaris keluarga itu. dan dari berita yang ada, tidak ada kabar bahwa anak Annis terluka oleh pecahan kaca. karena tidak ada kaca yang pecah.

12. tindakan yang kedua adalah mencari dimana Rm. Yan bersembunyi. dihadapan polisi, tiap etnis dibagi dalam beberapa kelompok untuk mencari di semua ruangan yang ada. karena semua terkunci, maka pintu-pintu dijebol; juga lemari-lemari yang mungkin menjadi tempat persembunyian Rm. Yan. Dan Rm Yan ditemukan. dia tidak melawan, tetapi menolak untuk keluar. sehingga oleh keluarganya sendiri, tetpaksa diseret dan dimasukkan ke mobil untuk dibawa pulang ke rumah keluarganya di Paroki Tuka.

13. Setelah selesai, kami merayakan Misa di gereja bersama rombongan Denpasar dan umat Singaraja yang setia kepada uskup. kemudian kami mengumpulkan milik pribadi Rm. Yan dan siap akan diantar besok ke rumah keluarga.

==============

Berita tentang Romo Yan Tanumiharja

(Kasus pengambilalihan Gereja St. Paulus Singaraja – Bali)

Temen-temen ada sedikit yang ingin saya infokan sehubungan dengan “Kasus Singaraja”. Barangkali teman-teman semua sudah pada mendengar, mengikuti atau diam-diam memberikan penilaian atas apa yang terjadi di Singaraja. Sebenarnya bukan masalah baru. Hitungan waktu, kasus Singaraja sudah berlangsung kuruang lebih 15 tahun. Berbagai macam pendekatan sudah dilakukan. SVD sendiri bahkan pernah menurunkan Pater Jenderal. Demikian juga provincial pada waktu itu. Tidak terhitung berapa kali bolak balik ke Singarja. Namun persoalan tidak bisa terselesaikan. Sebabnya karena perbedaan persepsi dan titik pijak. Yang satu bersikukuh dengan pencabutan yurisdiksi yang lainnya berpangkal pada kebenaran dalam perjuangan. Yang satu menafikan yang lain. Akhirnya tidak kunjung ada penyelesaian. Dialog yang dilaksanakan berulang-ulang juga tidak menghasilkan titik temu.

Rute perjalanan kasus kurang lebih seperti ini. Waktu itu sekitar tahun 1996, Romo Yan Tanu yang saat itu menjabat sebagai pastor paroki berupaya mengadakan pembenahan. Akhirnya bersinggungan dengan orang-orang. Pro kontrapun berlanjut, apalagi akhirnya menyangkut harga diri. Lahirlah dua kubu. Dalam situasi ini, uskup pada waktu itu mengambil langkah penyelematan untuk memindahkan Rm. Yan, karena dianggap lebih baik untuk dia sambil menenangkan diri. Namun apa daya. Maksud baik, ditanggapi negatip dan penuh curiga. Dua kubu semakin runcing, bak bola salju. Romo Yan akhirnya kena talak, mendapat  pencabutan Yurisdiksi karena dianggap tidak taat dalam pemindahan tugas. Beliau melawan dengan alasan masih harus meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran. Kalau tidak salah pencabutan yurisdiksi (larangan memberi misa dll) terjadi pada tahun 1997. SVD  yang merasa sangat mengasihi Rm. Yan memanggil pulang ke rumah SVD di Surabaya. Namun apa daya, maksud baik kembali dicurigai sebagai sebuah persekongkolan. Oleh sebab itu pada tahun 1998 (kalau tidak salah), Rm. Yan dikeluarkan dari SVD dan tahun 1999 dikukuhkan oleh Vatikan.

\

Persoalan menjadi kian rumit, karena Rm Yan bergeming dengan situsi ini. Bahkan semakin menyemangati dia untuk berjuang. Bersama dengan umat yang ‘bersimpati’ atau mungkin diam-diam tahu duduk persoalan, mulai pasang badan terhadap Rm. Yan, Ada yang secara terang-terangan, ada juga yang secara diam-diam. Apalagi Rm. Yan selalu mengidentikkan perjalananhidupnya dengan Tuhan Yesus yang berjuang sampai titik darah penghabisan, membela kebenaran (walaupun relative untuk ukuran manusia). Kebenaran yang benar hanya ada pada Tuhan (kalau tidak salah lo). Inti perdebatan dialog tidak pernah bisa dikompromikan. Sama-sama merasa kuat. Situasi ini akhirnya semakin mengkristal dalam dua kubu yang disebut Gereja Atas (susteran, panti sila) dan Gereja Bawah (jl, Kartini yang menguasai Gereja asli). Situasi ini menjadi duri dalam daging bagi Keuskupan Denpasar, dan tentunya juga bagi Gereja Universal, apalagi kita bicara dalam konteks misi dan kesaksian. Apa kata dunia?

Singkat cerita, akhirnya tiba Mgr. Silvester San. Setelah mendapatkan beberapa masukan, sebagai seorang gembala utama, beliau tergerak untuk mengadakan pendekatan kekeluargaan dengan Rm. Yan. Kebetulan saya juga dilibatkan. Kalau tidak salah Bulan Februari 2009 kami (uskup, rm. Bebey dan Bpk Rehaniban) memberanikan diri datang ke Pastoran Singaraja, walaupun kehadiran kami sangat tidak diharapkan. Berbekalkan niat baik, kita mulai bertegur sapa. Istilahnya silaturahmi atau menyama braya dengan harapan pendekatan budaya ini lebih meluluhkan hatinya. Awal yang cukup bagus karena kami disuguhi kopi, lalu disiapkan juga makan siang oleh umat gereja bawah. Acara cukup santai, akrab dan berbunga. Rupanya ada harapan, karena sekali waktu kita akan bertemu kembali. Benar saja. Beberapa minggu kemudian, kami bertemu kembali di Keuskupan. Rm. Yan datang dengan 6 orang ‘pengawal’ setianya. Kita berbincang. Akhirnya sampai pada inti yang disampaikan oleh Bapak Uskup. Rm. Yan diharapkan memulihkan kembali Yurisdiksinya dengan jalan menjadi imam diosesan. Itulah satu-satunya jalan yang terbaik. Jalan yang lain tidak ada dan di luar kemampuan bapak uskup, mengingat Rm. Yan sudah dikeluarkan sebagai anggota SVD. Rm Yan pada waktu itu tidak diminta untuk memberikan jawaban langsung karena mungkin perlu dipikirkan atau direnungkan.

Sembari menunggu jawaban, akhirnya pertemuan dilangsungkan kembali di Singaraja dengan harapan sudah ada jawaban. Namun sayang jawaban beliau sangat mengecewakan bapak uskup. Apalagi dalam pertemuan terbuka di hadapan umat, rm. Yan dengan keras tetap bersikukuh dengan peniriannya dalam membela kebenaran dan tidak mungkin dipaksa masuk imam diosesan. Tegasnya beliau tidak akan pindah menjadi imam projo. Sekali lagi dialog menemui jalan buntu. Pintu sudah dibuka tetapi Rm. Yan tidak bersedia masuk atau menerima jalan itu. Diam-diam permusuhan dan kebencian semakin meruncing. Apa mau dikata. Persoalan harus cepat diselesaikan demi masa depan yang lebih baik. Baik untuk kita semua begitulah yang kira-kira kita harapkan, walaupun semuanya masih samara-samar bahkan gelap. Bapak uskuppun melalui aparat keamanan menyampaikan somasi. Samai batas somasi yang kedua, Rm. Yan tidak mau beranjak dari Gereja Kartini yang dalam istilah hukum ditempatinya secara tidak sah karena tanah dan bangunan adalah milik Keuskupan Denpasar. Puncaknya adalah pengambilalihan lahan dan bangunan gereja.

Bapak uskup setelah merundingkan dengan dewan imam dan dewan konsultores mengambil langkah-langkah hukum untuk kemudian berkoordinasi dengan pihak aparat keamanan dan didampingi pengacara. Pada tanggal yang telah ditetapkan yakni 24 Agustus 2010 terjadi pengambilalihan secara paksa gereja dan seluruh asset. Rm Yan sendiri bertahan di kamarnya, sementara beberapa orang yang setia mendampingi Rm Yan diamankan oleh orang-orangnya. Di sini kita tidak bicara suku-suku, namun dalam hal ini mau tidak mau kita melibatkan orang-orang yang dianggap mampu melapangkan jalan ini. Syukur semuanya berjalan dengan baik. Para imam sendiri melibatkan diri di dalamnya untuk memberikan suasana damai supaya jauh dari sikap anarkis. Memang ada sedikit kekerasan, namun situasi dapat diatasi kembali. Rm Hans yang mendapat SK untuk Paroki Singaraja kemudian ditempatkan di pastoran dan diharapkan mampu mengendalikan situasi dan menata kembali kehidupan jemaat. Ini pekerjaan yang tidak gampang.

Rm Yan sendiri memang sempat dipaksa keluar dari kamar. Namun semuanya itu untuk maksud baik. Para kerabat dari Tuka dan Palasari ikut menemani dan mendampingi Rm. Yan sehingga Romo Yan dapat dihantarkan ke rumahnya di Tuka. Kebetulan saya ikut menemani Rm Yan dalam satu mobil. Situasi sama sekali tidak nyaman, karena sepanjang jalan Singaraja – Tuka saya harus berhadapan langsung dengan Rm. Yan bersama 3 orang termasuk sopir. Kata-kata romo Yan dalam mobil adalah ratapan dan perlawanan. Ada semacam ketidak adilan yang beliau rasakan. Namun saya sendiri harus menguatkan diri dalam situasi yang serba salah. Sebagai sesama imam dan orang Bali ada rasa sedih. Apalagi pihak keluarga juga tidak siap lahir batin. Bersama Rm Paulus Payong saya berupaya menenangkan keluarga, dalam hal ini kakaknya Rm Yan. Ratap tangis yang memilukan; sulit menerima kalau romo yang sangat mereka kasihi dikembalikan di tengah-tengah keluarga. Kiranya doa kita semua menyertai mereka. Juga untuk masa depan Gereja di Bali, dan di Singaraja khususnya. Tuhan memberikati kita.

Denpasar, 24 Agustus 2010

18 Tanggapan

  1. walaupun bermaksud baik…setidaknya, seorang penggembala iman, tidak akan pernah meninggalkan dombanya bagi orang-orang “rakus” sebaiknya dicari dulu akar masalahnya, kenapa keuskupan denpasar hendak memindahkan romo yan?padahal umat di paroki singaraja masih sangat membutuhkannya? apakah keuskupan denpasar mengerti semua umatnya di singaraja atau sebagiannya saja??? masalah yang tidak jelas akarnya, menjadi pelik ketika makin banyak orang salah berteriak….

    • salah satunya anda…
      anda tdk paham masalahnya tapi sudah komentar.

    • kacamata anda masih gari dunia nilailah permasalahan ini dari kacamata iman semoga Tuhan Yesus memberkati anda

  2. alasannya menolak pindah apa ya? bukankah sebaiknya kalo memberitakan dari dua sisi? kalo cuma begini sepertinya ada usaha untuk membentuk opini masyarakat secara sepihak

  3. harap diberitakan kenapa beliau menolak dipindahkan… pasti ada alasannya… apakah keadilan yang disebut sebut diperjuangkan pastor tersebut

  4. setuju dengan pendapat anda

  5. beginilah jadinya kalo para pembesar gereja hanya memandang dari sebelah pihak saja. Pihak yang jelas2 mempertahankan kebenaran menjadi yang tertindas.. apalagi yg mempertahankan kebenaran tidak mempunyai kekuatan super….
    Pastor Yan diperlakukan tidak adil…. sama seperti Yesus yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa2 manusia…
    Ketiga Uskup ( termasuk 2 yang sudah meninggal ) sudah diberi tau alasan kenapa Pastor Yan tetap bertahan untuk membela kebenaran… tapi alasan tersebut hanya di anggap angin lalu… dan tidak pernah di publikasikan di media…..
    apakah ini sportif?
    Semoga Para Pembesar Gereja di terangi oleh Roh Kudus agar memandang masalah ini dengan jernih.. tidak sepihak saja.

    • alasannya apa ya kok tetap tinggal , bertahan untuk membela kebenaran, kebenaran apa,

    • paston yan dan Yesus sama diperlakukan tidak adil, tetapi Yesus menyerahan nyawaNya dengan rela, berbeda dengan pastor yan yang tidak rela jabatannya dicopot

  6. Apapun alasannya… sepengetahuan saya, seorang imam harus siap dipindahkan atau ditempatkan dimana saja… Seorang imam tidak berhak memilih gembala yang akan dipimpinnya…
    Dan yang terpenting adalah sebagai umat Katolik, kita harus taat pada hierarki gereja Katolik…
    Proses penyelesaian secara damai selama hampir 15 tahun sudah dilaksanakan… Pihak keuskupan Denpasar jg sudah memberikan penjelasan secara resmi kepada seluruh gereja melalui surat resmi Bpk Uskup…
    atau bagi anda yang belum membaca maupun yang belum pernah mendengar di gereja, bisa membaca pada majalah Agape…
    Setelah itu barulah anda berkomentar disini… Trims…

  7. Profiaciat bagi para pemerhati Gereja Singaraja.
    Proficiat juga bg para pembesar Gereja Denpasar yg telah berusaha untuk menyelesaikan dengan berbagai cara.

    Tapi cara yg ditayangkan TV terlihat fulgar. Cara yg sulit diterima dan mengagetkan bnyk pihak – khususnya umat katolik di luar Keuskupan Denpasar.
    Dalam benak saya, ketika kuliah di STF K Ledalero, tentang HAM, secara moral etis dihargai dan diselesaikan dgn cara cinta kasih. Lamanya memang masalah termasuk sakramen bg umat Katolik pro Tan. Jgn lupa, ini sejarah. Sejarah yg diwariskan kpd semua pihak. Tq.

  8. mau tahu akarnya. Coba bertanya pada para pendiri yayasan swastiastu singaraja tahun 72…siapa tahu beliau2 mau terbuka

  9. ada yg keliru..
    1. Yan Tanu itu imam SVD. SVD punya regulasi. Yg tidak taat pd regulasi SVD….silahkan minggat….
    2. Bahwa Imam Yan Tanu membela suatu kebenaran yg berusaha disembunyikan..dengan memindahkannya….itu harus bisa dibuktikan….bila perlu bukti di PN. ( aku nyesal…why do Imam Yan tdk menempu itu sedari dulu ? )
    3. Usaha – usaha tawaran solusi dari Alm. Pancartius,SVD,Alm. Djebarus,SVD, Alm. Bria,Pr bertubi-tubi tlh ditempuh……( aku nyesal…tak ada hasilnya…)
    4. Mgr. San, pr bahkan menawarkan Imam Yan Tanu menjadi imam projo ( betul seperti itukah ? ….nyesal..aku kok ditolak…)
    5. ketika Gereja seluruh dunia sedang gencar -gencarnya mempromosikan Gerakan Tanpa Kekerasan ( Action Non Violance Movement)….tau-tahu di Keuskupan Denpasar malah bertindak melawan prinsip Kistiani itu…..( nah, kalau terbukti ada aksi kekerasan dan kerugian…..pihak imam Yan tanu bisa menuntut secara hukum….. Ingat….semua diperlakukan sama di depan hukum……( Kovenan internasional, UUD 45, dst mengatur soal itu….

  10. Buat saya seorang Imam itu harus taat pada pimpinan kongregasinya…apalagi soal dipindah tugaskan…saya kira biasa Romo itu dipindah kemana aja…terkait Romo yan ingin melakukan pembelaan saya kira bukan demikian caranya. Romo yan tau pasti tata hierarki gereja…dan apa akibatnya bila seorang Imam tanpa Yurisdiksi…jika beliau sayang umatnya…pastilah beliau tidak mengorbankan umat…ini masalah keabsahan yuridis…dan itu penting…apa yang terjadi bila sakramen nikah tidak sah?

  11. Imam Yan Tanu terbukti tidak taat pada SVD. Imam Yan Tanu terbukti tidak taat pada Para Uskup, penggnti Para Rasul,pemimpin Umat Katolik di Keuskupan. Tapi terbukti juga bahwa Imam Yan Tanu mengalami ketidakadilan karena dipindahkan semata dengan menggunakan Kekuasaan Pemimpin, ada kesewenang wenangan, tanpa pertimbangan yg adil. Juga terbukti, Dua uskup pendahulu ( Alm Mgr. Vitalis dan Bria ) sungguh taat pada perspektif Kristiani DALAM PROSES PENYELESAIAN KASUS dan SELALU BERUPAYA MENGHINDARI AKSI KEKERASAN. Itu ada saksi dan bukti. TAPI,Yg barusan terjadi itu adalah AKSI Kekerasan. Pastor dan Uskup yg mengatakan di Media bhw tidak terjdi aksi kekerasan TELAH MENIPU PUBLIK ! Anda BERBOHONG KPD PUblik. Tidak kah anda menyaksikan aksi kekerasan itu di media cetak dan elektronik ? Akan ada keadilan !!

  12. Namanya seorang Gembala, mau dan tidak mau, harus taat pada aturannya. Apa lagi dia seorang biarawan…? dan dia harus ikut walaupun Imam itu dipindahkan kemana…Beliau mungkin tidak mau karena sudah punya pacar simpanan dan orang-orang tertentu yang sudah di sayangi sampai mati…ini terus terang aku mengatakan, karena banyak imam yang di tugaskan ke tempat nya, setelah ia mau dipindahkan, dan bersih kuku tidak mau, itu namanya Romo yang “Goblok”. Aku senang kalau beliau di kluarin dan di pecat sekaligus dan semoga menjadi tukang sampah untuk merasakan hidup di luar bagi para pemulung itu gimana… semoga tidak mengacaukan para pimpinannya teristimewa Bapak Uskup.

  13. Dan aku setujuh bagi yang memberi komentar, dpt membelah kebenaran Tarekat dan juga Bapak Uskup Denpasar Bali selaku Bapak pemimpin yang rendah hati. Aku mengangkat jempol….Dan itu kalau terjadi di kota Ambon bagian MTB sAUMLAKI, mungkin IMAM itu udah di penggal kepalanya.,…dan itu lebih baik dan semoga tidak mempermalukan agama Katolik di hadapan agama lain.

  14. yang jelas para imam sekarang kelihatan sekali telah melanggar janji tri suci mereka……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: