HKBP Menyikapi Peristiwa Kekerasan terhadap HKBP di Bekasi

PRESS RELEASE EPHORUS HKBP (Pdt. DR. Bonar Napitupulu) MENYIKAPI PERISTIWA DI HKBP PONDOK TIMUR INDAH BEKASI.

Sumber: http://www.hkbp.or.id/index.php?news_id=1311

1.HKBP sangat menjiwai dan menekankan konsep kebangsaan Indonesia. HKBP menghayati, setelah Sumpah Pemuda seluruh insan bangsa Indonesia harus menyadari bahwa dirinya adalah insan bangsa Indonesia yang hidup bersama dan berdampingan dengan seluruh saudaranya yang hidup di seantero Nusantara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, tindakan kekerasan terhadap jemaat HKBP Pondok Timur Indah adalah pengkhianatan terhadap konsep, jiwa, roh kebangsaan. Sebagai insan bangsa Indonesia mereka punya hak yang sama dengan semua saudaranya di setiap jengkal Nusantara ini, termasuk hak beribadah.

2. Jemaat HKBP Pondok Timur Indah telah beribadah di daerah itu selama 20 tahun. Mereka sudah memperoleh izin sementara tempat beribadah, dan izin itu masih berlaku.

3.Namun, kalaupun SEKIRANYA Jemaat HKBP itu belum memenuhi seluruh aturan perundang-undangan, tidak ada hak kelompok masyarakat mana pun melarang mereka apalagi melakukan kekerasan terhadap mereka, karena perlakuan seperti itu adalah hukum rimba, main hakim sendiri merupakan perlakuan yang tidak bisa terjadi di Negara Hukum seperti Indonesia karena ada aparat yang ditugaskan untuk itu.

4.Kalaupun terjadi masalah seperti itu, ada kelompok tertentu yang melakukan hukum rimba, mereka harus ditindak dan ditangkap. Saya tidak bisa mengerti justru Jemaat HKBP yang mengalami kekerasan itu di evakuasi, bukan dilindungi. Kelompok yang melakukan kekerasan itu yang seharusnya diusir. Kejadian-kejadian seperti itu menunjukkan bahwa pemerintah sekarang ini tidak mampu menegakkan hukum, apalagi melindungi masyarakatnya.

5. Kami sangat mengerti kalau Bapak Presiden mau berbicara tentang masalah Ariel dan Luna, tetapi mengapa beliau berdiam diri dan tidak mengatakan apa-apa padahal tindakan kekerasan seperti itu telah terjadi kepada sebagian masyarakatnya.

6.Kami mengharapkan agar pemerintah mampu menjaga jiwa kebangsaan itu, mampu mengayomi dan menjaga semua masyarakat Indonesia. Karena masyarakat adil makmur dan sejahtera tidak akan mungkin tercapai bila pemerintah tidak mampu menegakkan hukum, keadilan dan kenyamanan. Kalau ada orang atau kelompok yang melakukan hukum rimba dan main hakim sendiri, haruslah ditangkap dan ditindak tegas.

7.Kami menghimbau semua anak bangsa, insan bangsa Indonesia tetap bersatu agar jangan terjadi dimanapun di Nusantara ini tindakan-tindakan seperti itu, terutama tindakan yang tidak bertanggungjawab yang merobek-robek jiwa kebangsaan kita. Kami yakin sepenuhnya, kelompok yang melakukan hukum rimba dan main hakim sendiri serta melakukan tindakan kekerasan kepada sesama bangsa Indonesia, hanyalah segelintir, tetapi selalu menyusahkan. Kita harus bersatu agar kelompok-kelompok seperti itu jangan ada di bumi Nusantara kita tercinta ini.

8.Kami himbau kepada semua Jemaat HKBP agar tetap berjuang dalam IMAN dan DAMAI, jangan balas dendam atau melakukan tindakan kekerasan apapun. Semua jemaat HKBP harus bersatu, karena apa yang terjadi kepada saudara-saudara kita di beberapa daerah di Indonesia ini, khususnya di Bekasi, lebih khusus lagi di HKBP Pondok Timur Indah adalah menimpa kita semua.

6 Tanggapan

  1. sangat di-sayang sekali perilaku kekerasan spt itu bisa ada di era demokrasi dan millenium ini….

  2. ‘Saya sangat setujuh pak Pendeta!”, setiap orang tidak boleh anarkis, harus berlandaskan KASIH terhadap sesama, serta tidak membedakan agama maupun golongan apapun.” Kalau kita mau jujur & terbuka, banyak rumah ibadah yang tidak memiliki IMB yang sudah terbangun berdasarkan mayoritas tetapi banyak yang menutup mata.” Memang, kuman diseberang lautan terlihat sangat jelas, tetapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat.” Itulah potret hidup kerukunan umat beragama dinegeri ini???…

  3. Orang2 yang bertindak anarkis dan bar2 dengan membawa nama Allah, maka dapat dibayangkan bagaimana dengan Allah mereka? Pasti lebih barbarian. Dan kejam.

  4. “Mari Kita Merenung Sejenak”
    Kekerasan tetap saja kekerasan, anarki tetap saja anarki, tidak ada satupun argumen yang memperbolehkan untuk melakukannya, dimanapun, dibelahan dunia manapun, yang seharusnya dilakukan adalah masing-masing aliran/kepercayaan/agama melakukan coolingdown dulu dan diikuti dengan pembinaan/siraman rohani dimasing-masing umatnya, setelah itu dilakukan dialog yang difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten/Kota, kalaupun seandainya dalam dialog tersebut belum diperoleh kata sepakat, harus dilakukan secara berkala dialog sampai ada titik temu, nanti waktu jualah yang akan menentukan, jangan bosan-bosan untuk melakukan dialog karena pada dasarnya budaya kita mengajarkan itu, dari relung hati yang paling dalam, masyarakat kita sebenarnya ingin hidup berdampingan secara damai. Selamat berdamai !

    • dialog sama siapa???? jika dalam tersebut mayoritas tersudut, pasti dia akan gunakan masanya yg banyak itu, jadi kalau nurut saya percuma dengan mayoritas, paling paling 1 atau 2 yg bisa diajak dialog….. lainnya ???????? okol yg dipakai serta pengerahan massa

  5. Hendaknya kita taat pada aturan yang berlaku, SKB 2 Menteri adalah aturan yang jelas untuk mengatur agar tidak terjadi benturan dikalangan masyarakat. Jangan memaksakan kehendak hanya untuk kepentingan kelompok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: