Ajaran Agama Kurang Diimplementasikan

KEAGAMAAN
Ajaran Agama Kurang Diimplementasikan
Sabtu, 24 Juli 2010 | 03:14 WIB

Jakarta, Kompas – Ajaran Islam yang kaya akan nilai dan moralitas transenden kurang diimplementasikan oleh pemeluknya dalam kehidupan sosial. Hal itu mendorong terjadinya erosi nilai dan keadaban yang membuat umat semakin kehilangan identitas kemanusiaannya.

”Islam aslinya moderat, tawasuth (moderasi), dan universal. Implementasi ajarannya tidak bisa hanya berdasar Al Quran dan hadis, tetapi juga perlu dikontekskan dengan realitas kehidupan dan kemanusiaan,” kata Direktur Eksekutif Konferensi Internasional Cendekiawan Islam (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) Nashihin Hasan saat membacakan kesimpulan halaqah (pertemuan) perdamaian dalam rangka ulang tahun ke-6 ICIS di Jakarta, Jumat (23/7).

Untuk itu, dalam memahami Al Quran dan hadis perlu ditunjang berbagai pengetahuan dan disiplin ilmu lain. Dengan demikian, saat nilai Islam itu ditransformasikan dalam diri dan perilaku, umat mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang terus berkembang.

Hadir dalam acara penutupan itu mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, mantan Menteri Agama KH Tholchah Hasan, dan Sekretaris Jenderal ICIS KH Hasyim Muzadi. Sebelumnya hadir pula mantan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden Universitas Global Lebanon Abdurrahman Ammash, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan sejumlah cendekiawan Muslim lainnya.

Dalam persoalan kebangsaan, lanjut Nashihin, Islam Indonesia berwatak nasionalisme religius. Karena itu, yang dibutuhkan umat adalah hukum yang islami, yaitu mengandung nilai-nilai Islam meski tidak mencantumkan Islam sebagai labelnya. Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan yang didasari nilai-nilai Islam juga perlu dikembangkan dalam lingkungan masyarakat Indonesia yang plural, bukan persaudaraan di antara sesama umat Islam saja.

Sementara itu, dalam persoalan kesejahteraan, ketertinggalan umat Islam disebabkan oleh lemahnya daya saing sumber daya manusia. Rendahnya tingkat pendidikan dan pemahaman agama umat Islam membuat mereka kurang mampu melakukan diplomasi serta kurang memiliki daya tawar dan wibawa di mata negara-negara lain.

Kalla menambahkan, umat Islam Indonesia sebenarnya memiliki modal spiritual yang baik, yaitu rasio jumlah masjid dan pemeluk yang tinggi dan besarnya jumlah umat yang menjalankan shalat dibandingkan dengan umat Islam di negara lain. Modal spiritual itu seharusnya mampu ditransformasikan menjadi etos kerja untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

”Namun, persoalan kesejahteraan bukan hanya menyangkut etos kerja, melainkan juga kebijakan pemerintah. Masyarakat perlu didorong lebih optimistis dan berpikir positif,” katanya.

(MZW)

(Sumber: Kompas cetak, 24 Juli 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: