Hans Kung: Selibat Bukan Hukum Tuhan

HANS Kung bersama Joseph Alois Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) pernah menjadi konsultan teologi dalam gerakan pembaruan gereja Katolik Roma, Konsili Vatikan Kedua, pada 1962 hingga 1965. Ketika itu, keduanya menjadi anggota Konsili yang termuda. Mereka juga pernah sama-sama mengajar di Universitas Tubingen, Jerman.

Sekarang mereka tak muda lagi, tapi berseberang pendapat. “Kami tumbuh di ‘kemah’ pemikiran yang berbeda,” kata Hans Kung, 82 tahun, pekan lalu. Dia berada di “kemah” reformasi, sedangkan Paus Benediktus di kelompok konservatif. Berkali-kali Hans Kung mengkritik Paus Benediktus dan juga Vatikan dalam berbagai isu.

Dua pekan lalu, Hans Kung mengirimkan surat terbuka ke Vatikan, mengkritik penanganan kasus pelecehan anak di lingkungan gereja. “Kredibilitas gereja sekarang berada di posisi terburuk sejak reformasi,” tulisnya. Kepada Tempo, Hans Kung menjelaskan apa isi surat itu, Selasa pekan lalu, di Hotel Nikko Jakarta.

Anda mengirimkan surat terbuka ke Vatikan. Apa yang Anda sampaikan?

Pada 1955, saya bersama Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) berada dalam Konsili Vatikan Kedua. Kami sama-sama menjadi bagian dari gerakan pembaruan gereja. Kami memperbarui posisi kami dalam berhubungan dengan Islam, Yahudi, modernitas, hak asasi manusia, dan isu kebebasan beragama. Dalam sepuluh tahun terakhir, kebijakan restorasi yang dibangun gereja sudah gagal karena beberapa sebab. Paus sudah membuat beberapa kesalahan. Misalnya, soal Islam, dia mengeluarkan pernyataan kontroversial berdasarkan pandangan dari salah satu penguasa Bizantium abad ke-14. Dia juga membuat marah pemeluk Protestan dengan mengatakan mereka bukan pemilik gereja sebenarnya.

Apa saran Anda kepada Vatikan?

Saya secara pribadi bersimpati kepada Paus Benediktus. Dulu kami anggota Konsili yang termuda, sekarang kami sama-sama tua. Berkaitan dengan skandal seksual di gereja, saya memberikan enam saran. Pertama, bicaralah, ceritakan kebenaran dan jangan ada yang disembunyikan. Kedua, laksanakan reformasi. Ketiga, jangan bertindak sendiri, tapi secara kolegial. Keempat, dia harus mematuhi Tuhan, bukan otoritas manusia. Kelima, harus bertindak berdasarkan kewilayahan. Keenam, membentuk konsili. Ini solusi yang tidak polemis dan realistis. Saya pikir Paus harus bertindak. Kami berada dalam situasi dramatik yang perlu tindakan dramatik.

Anda mengatakan kasus pelecehan seksual terkait dengan praktek selibat di gereja?

Saya tidak mengatakan praktek selibat bertanggung jawab atas pelecehan seksual. Anda bisa menemui pelecehan seksual di mana pun, baik di lingkungan sekuler maupun di lingkungan gereja. Tapi tentu saja, anak muda sekarang menghadapi kondisi berbeda dengan ketika saya menjadi pendeta atau abad-abad sebelumnya. Menurut saya, gereja perlu melihat perubahan situasi ini. Praktek selibat bukanlah hukum Tuhan. Joseph Ratzinger setuju dengan saya bahwa praktek ini merupakan aturan dari gereja abad pertengahan. Selama beberapa abad sebelumnya, gereja Katolik tidak mengenal hukum selibat. Menurut saya, kami harus menghapuskan hukum selibasi itu.

Apakah model kepemimpinan terpusat seperti sekarang menjadi masalah?

Kepemimpinan gereja terpusat juga baru diperkenalkan pada abad ke-11, yang dikenal sebagai Reformasi Gregorian. Gereja Vatikan ketika itu melawan penguasa Roma dan Gereja Timur. Sampai saat ini kekuasaan tunggal itu masih dipakai oleh Paus Benediktus yang memusatkan penanganan kasus pelecehan dalam dewan kepausan. Paus juga telah menulis surat lebih dari sekali yang menekankan kerahasiaan tertinggi. Atas nama keyakinan, Anda dilarang membicarakan masalah ini. Sistem ini tak lagi bisa beradaptasi dengan gereja yang memiliki lebih dari satu miliar pengikut di seluruh dunia. Mustahil sekali satu orang bisa memutuskan apakah sekarang seorang pastor boleh menikah atau tidak.

Menurut Anda, Paus mesti bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual itu?

Paus harus bertanggung jawab, bukannya berupaya menutupinya. Lagi pula tak adil kalau Paus menyalahkan Uskup Irlandia, yang tentu saja menutupi hal ini atas perintah Paus. Maka penting untuk menyelidiki hal ini. Saya berutang kepada berjuta-juta penganut Katolik untuk bicara soal ini. Karena sudah menjadi budaya para uskup tak diperkenankan bicara secara terbuka, tak terkecuali Uskup Irlandia yang tentu saja tak akan bilang, “Well, siapa yang mesti bertanggung jawab atas apa yang kami patuhi? Andalah yang bertanggung jawab, Bapa Suci.” Karena tak ada yang berani bicara bebas dalam posisi itu, saya sebagai warga Swiss yang bebas tentu saja bebas bicara terbuka. Saya dikaruniai akal pikiran, dan atas restu Tuhan saya diberi keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit.

Dalam hubungan dengan Islam, apakah ada perbedaan pendekatan antara Paus Benediktus dan Paus Yohanes Paulus II?

Dalam soal kebijakan luar negeri (foreign policy) jelas berbeda, tapi tidak dalam hal kebijakan domestik gereja. Paus Yohanes seorang karismatis dan bintang di media. Paus Benediktus seorang pengajar. Paus Yohanes seorang yang simpatik dan tidak terlalu peduli soal teori. Tapi, pada dasarnya, secara teologi tidak ada perbedaan signifikan antara Paus Yohanes dan Paus Benediktus.

Bisa memberikan contoh?

Misalnya, soal kontrasepsi. Saya selalu berharap Paus Benediktus mengoreksi sikap antikontrasepsi gereja yang salah. Menentang penggunaan kondom, terutama di Afrika yang punya masalah dengan AIDS, jelas kebijakan yang tidak bisa dipahami. Gereja juga harus mengubah pandangannya soal seksualitas yang merupakan anugerah kreatif dari Tuhan

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/03/AG/mbm.20100503.AG133406.id.html

5 Tanggapan

  1. Nice Article….thanks

  2. siasat si ular tua. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mempelaiNYA.

  3. Nice article…thanks

  4. Siapa sebenarnya yang ular tua?
    Seks anugerah Tuhan. ketika menjadi hamba Tuhan apakah pendeta, pastor atau penginjil, silahkan memilih : menikah atau tidak.
    Banyak pendeta/penginjil protestan yang menikah tetapi banyak juga yang terpanggil untuk selibat.
    ini baru benar.
    Jadi selibat jangan jadikan doktrin.

  5. mantap artikelnya gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: