Menanti Kebenaran dalam Kasus Bank Century


Publik menantikan, kebenaran apakah yang akan dihasilkan dari proses penyelidikan kasus Bank Century. Menyaksikan proses rapat Bamus dan Paripurna DPR RI, publik banyak ragu atas keputusan akhir paripurna anggota dewan. Syukurlah, akhirnya ada keputusan paripurna anggota dewan. Mayoritas mengatakan ada bail out dana Bank Century bermasalah (325 ><212)

Lalu, nanti kebenaran apakah yang akan dihasilkan sebagai kelanjutan dari keputusan politis anggota dewan?

Dalam pembicaraan filsafat ada beberapa teori tentang kebenaran, antara lain teori korespondensi  (kebenaran berkorespondensi atau sesuai dengan kenyataan), teori koherensi (kebenaran adalah sistem ide yang koheren), teori pragmatis (kebenaran adalah pemecahan yang memuaskan atau praktis atas situasi problematis), teori semantik (pernyataan-pernyataan tentang kebenaran berada dalam suatu metabahasa dan mengena pada pernyataan-pernyataan dalam bahasa dasar), teori performatif (pernyataan kebenaran merupakan persetujuan yang diberikan terhadap pernyataan tertentu).

Lalu apa kriteria kebenaran itu? Mengutip Lorens Bagus (2002) Kriteria kebenaran adalah tanda-tanda yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran. Ada indikasi kecurigaan atau kesesuaian-kesesuaian pandangan umum atas suatu kasus atau hal. Koherensi dan kepraktisan merupakan contoh kriteria macam ini.

Aristoteles, mengutip Lorens Bagus, menyediakan ungkapan definitif tentang teori korespondensi: “Menyatakan ada yang tidak ada, atau tidak ada yang ada adalah salah, sedangkan menyatakan ada yang ada dan tidak ada yang tidak ada adalah tidak benar”.

Kembali ke kasus Bank Century, Presiden sudah mengaku akan bertanggung jawab, meskipun masih ada kata meski (“saya tidak memberi instruksi”). Sampai dimana batas tanggung jawab SBY? Apakah akan mengorbankan Boediono dan Sri Mulyani?

Lalu, apakah akhir Kasus Bank Century akan menghasilkan kebenaran yang sesuai dengan deal-deal politik atau akan menghasilkan kebenaran korespondensi dengan kriteria sesuai fakta dan kenyataan? Publik tinggal menunggu, kebenaran apakah yang dihasilkan panitia Pansus Bank Century jika ditindaklanjuti ke jalur hukum.

Mahatma Gandhi: “Saya Bisa Gila bila…”


from Google.com

Ibarat jangkar, demikianlah pegangan hidu

Ketika saya iseng-iseng membaca buku Dale Carnegie (Gramedia, 1995), saya menemukan beberapa pendapat para tokoh penting dalam sejarah dunia tentang hidup beriman dan berpegang teguh pada pegangan hidup keagamaan.

Ibarat sebuah kapal laut di pelabuhan, ia membutuhkan jangkar di pelabuhan. Karena dengan jankar, kapal bisa kokoh meskipun ada badai, angin, ombak menghalau dia. Demikian pula, sebuah rumah yang dibangun di atas pasir akan gambang roboh bila hujan datang.

Terkait dengan masalah pegangan hidup, Carl Jung pernah berkata, “Selama tiga puluh tahun terakhir ini banyak orang berkonsultasi pada saya. Mereka datang dari segala penjuru dunia, terutama dari negara-negara yang sudah maju peradabannya. Ratusan pasien telah saya tangani. Semua pasien yang sudah setengah umur ke atas, yaitu yang usianya lebih dari 35 tahun, rata-rata menderita sakit keagamaan. Dengan perkataan lain dapat saya katakan bahwa mereka jatuh sakit karena mereka tidak memiliki lagi hal-hal yang diajarkan oleh agama. Dan tak seorang pun dari mereka dapat disembuhkan kembali kecuali kalau mereka dapat memiliki kembali pegangan hidup agamanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Willian James: “Iman adalah salah satu kekuatan hidup manusia. Tanpa iman hidup manusia akan hancur sama sekali”.

Yang lebih menarik lagi, seorang Mahatma Gandhi, pemimpin besar India melihat bahwa peran doa amat penting dalam kelangsungan hidupnya. Dalam bukunya seperti dikutip Dale Carnegie, ia menulis, “Tanpa doa saya pasti sudah lama gila”.

Memlihat pemaknaan atas doa atau iman, atau agama dalam hidup mereka, maka kita pun disadarkan atas realitas hidup. Berangkat dari pengalaman mereka, sudah saatnya kita belajar memaknai hidup dan berpegang teguh pada iman atau doa atau agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.  Maka hidup kita menjadi tidak hancur. Ibarat orang yang mendirikan rumah di atas batu, akan kokoh kuat, karena pondasinya kuat.