Fatwa Beraroma Dolar

PETUNJUK penting itu datang tak terduga. Jumat (12/3) siang lalu, pesan
singkat tidak diundang dari sumber Kontan mampir tiba-tiba. “Kasihan,
ternyata fatwa haram rokok Muhammadiyah cuma Rp 3,5 miliar, buka laporan
tobacco control, dan siapa saja yang menerima dana anti rokok selain
Muhammadiyah: http://www.tobaccocontrolgrants.org/Pages/40/What-we-fund.

Senin (8/3) lalu, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah memang mengeluarkan fatwa
haram rokok Nomor 6//SM/MTT/III/2010. Kalau saja tak ada pesan singkat itu,
fatwa PP Muhammadiyah yang sebelumnya menyatakan rokok adalah mubah (boleh),
menjadi hal biasa. Yang tidak menjadi biasa, adalah nama Muhammadiyah
disebut dalam laporan situs milik Bloomberg Initiative tersebut.

Penelusuran Kontan menemukan hal yang membuat dahi berkerut. Dalam situs
itu, ada sejumlah lembaga dan instansi lain yang menerima dana dari
Bloomberg melalui program Bloomberg Initiative To Reduce Tobacco Use,
termasuk Muhammadiyah. Program ini bertujuan untuk Kampanye Anti Rokok di
Indonesia.

Bloomberg Initiative adalah lembaga donor internasional milik Michael R.
Bloomberg, bekas Walikota New York, pemilik situs berita tersebut. Michael
Bloomberg juga adalah si empunya situs berita ekonomi Bloomberg.

Bloomberg aktif mengkampanyekan pengendalian tembakau dan rokok di seluruh
dunia sejak beberapa tahun lalu. Indonesia menjadi salah satu target mereka,
yang kebanyakan negara-negara berkembang. Di luar Indonesia, targetnya
adalah negara China, India, Bangladesh, Rusia, Brazil, Meksiko, Turki,
Pakistan, Mesir, Ukraina, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Polandia.

Pada 2006, Bloomberg total mengucurkan US$ 125 juta untuk peluncuran program
tersebut. Dan pada 2008, Bloomberg mengucurkan tambahan US$ 250 juta.

Nah, kucuran-kucuran dana dari Bloomberg mengalir ke sejumlah instansi dan
lembaga di Indonesia sejak 2007 hingga kini. Totalnya US$ 4,19 juta atau
sekitar Rp 38,5 miliar.

Dana mengucur ke sejumlah lembaga, mulai dari forum parlemen, pemerintah
pusat, pemerintah daerah seperti DKI Jakarta dan Kota Bogor, lembaga
keagamaan, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) (lihat tabel). Bebeberapa
tahun terakhir, lembaga-lembaga yang disebut dalam laporan Bloomberg
Initiative itu memang getol mengkampanyekan kawasan bebas rokok dan
tembakau.

Muhammadiyah, disebut menerima dana US$ US$ 393.234 atau sekitar Rp 3,6
miliar, dikucurkan sejak November 2009. Untuk Muhammadiyah, dalam laporannya
Bloomberg menyebut, kucuran dana itu bertujuan agar salah satu organisasi
massa islam itu bisa memobilisasi dukungan publik. Caranya, dengan
mengeluarkan kebijakan dari sisi tinjauan agama untuk pelarangan rokok.
Bentuknya, berupa keputusan Ijma Ulama (semacam fatwa) pelarangan rokok di
seluruh Indonesia.

Puncaknya, pada rapat Majelis Tarjih dan Tajdid di Yogyakarta, pada Senin
(8/3) lalu, PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram untuk rokok. Sebelum
ini, PP Muhammadiyah telah mengeluarkan fatwa mubah (boleh) bagi perokok.

Belum ada tanggapan resmi dari PP Muhamdiyah. Berkali-kali dihubungi Kontan
melalui dua nomor telepon selulernya sejak Jumat (12/3), Ketua Umum PP
Muhammadiyah Dien Syamsuddin, masih tak berhasil dimintai konfirmasi. Dua
nomor telepon seluler yang ada pada Kontan semuanya tidak aktif.

Selain Muhammadiyah, ada sejumlah nama lembaga lain yang disebut menerima
dana. Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD),
misalnya, disebut menerima dua kali pengucuran dana. Pertama, dana sebesar
US$ 28.753 pada periode Januari 2007 hingga Juni 2007. Duit itu antara lain
digunakan untuk memperoleh dukungan politik dan menyampaikan rencana
mitigasi dampak kesehatan produk rokok dan tembakau.

Kedua, IFPPD menerima dana sebesar US$ 164.717 pada periode Oktober 2007
hingga Desember 2009. Dana itu digunakan untuk membantu mengembangkan
kontrol tembakau, kampanye media, serta melobi pemimpin agama dan pejabat
publik.

Sri Utari Setiawati, Sekretaris Eksekutif IFPPD mengakui menerima dana dari
Bloomberg Initiative. Soal jumlah dana yang diterima, dia enggan
menyebutkannya. Yang pasti, langkah mengajukan dana ke lembaga internasional
seperti Bloomberg, karena lembaga resmi dunia semacam Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) tak memiliki cukup dana untuk kampanye bebas rokok dan tembakau.
“Makanya kami mengajukan ke Bloomberg,” katanya, kepada Kontan, Sabtu
(13/3).

Untuk LSM, salah satu yang menerima adalah Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (YLKI). Kepada YLKI, dana mengucur bersama paket dana untuk Pusat
Studi untuk Agama dan Komunitas. Totalnya US$ 454.480. Dana ini untuk
program kampanye periode Mei 2008-Mei 2010. Kegiatanya berbentuk advokasi
dan kampanye bebas rokok di kawasan Jawa, mengadvokasi Gubernur DKI Jakarta,
dan kampaye media.

Tulus Abadi, Pengurus Harian YLKI membenarkan bantuan dana dari Bloomberg
Initiative tersebut. “Kami menerima sejak April 2008,” kata Tulus, kepada
Kontan, Jumat (12/3).

Menurut Tulus, YLKI mengajukan dana ke Bloomberg untuk kampanye dan advokasi
bebas rokok di tiga kota di Jawa, yakni Surabaya, Semarang, dan Jakarta.
Berapa besaranya dana yang diterima, Tulus enggan berbagi.

Blomberg sendiri, hingga laporan ini ditulis belum berhasil dikontak.

Sumber:

http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/32151/Fatwa-Beraroma-Dolar-2

Satu Tanggapan

  1. Idealnya, melakukan sesuatu demi hal yang (diyakini) baik, adalah tanpa pamrih apalagi mengharap keuntungan. Tapi di lapangan, melakukan kampanye memang pasti butuh dana. Menurut saya, Muhammadiyah atau siapapun itu, konsekwen saja dengan sikapnya, walaupun jika besok-2 ga dapat hibah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: