ISLAM DI EROPA

Kamis, 08 Oktober 2009 pukul 01:38:00

Muslim di Eropa

 

Oleh: Amich Alhumami
(Peneliti di Department of Anthropology University of Sussex, UK)

Peristiwa ini terjadi pada awal abad ke-8 Masehi. Sekitar tujuh ribu (ada pula yang menyebut 12.000) balatentara terperanjat ketika sang jenderal perang, Tareq bin Ziyad, seorang Muslim Berber Afrika, memerintahkan membakar habis kapal-kapal perang setelah mereka berhasil menyeberangi selat Mediterania, dari Maroko mencapai Andalusia.

Ketika balatentara masih tertegun tak percaya, sang jenderal membakar semangat juang mereka dalam sebuah pidato yang sangat heroik, “Oh my warriors, whither would you flee? Behind you is the sea and before you, the enemy. … You have left now only the hope of your courage and your constancy .” Namun, dengan sengit, para pasukan perang itu memprotes ‘perintah gila’ sang jenderal. ”Bagaimana kita bisa pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarga kalau kapal-kapal perang dimusnahkan? ”

Jenderal Tareq menjawab dengan ungkapan puitis, ” The Muslim is not like a bird which has a particular nest .” Maka, balatentara itu pun menandai sebuah gunung sebagai titik awal peperangan dengan mengukir nama Gibraltar (Arab: Jabal Tareq).

Bermula dari Gibraltar , riwayat panjang penaklukan tanah Eropa oleh pasukan Muslim dinarasikan dalam kitab-kitab  tarikh al-Islam , sebuah proses penundukan dengan menggunakan  hard power : perang dan operasi militer. Dan, Andalusia pun jatuh ke tangan pasukan Tareq bin Ziyad pada tahun 711. Tertulis dalam buku-buku sejarah dunia, penguasaan atas benua Eropa berlanjut melalui jalan  soft power ketika imperium Islam sukses membangun peradaban baru, berpuncak pada pencapaian cemerlang di bidang sains, filsafat, seni, sastra, dan kebudayaan. Saksikan, zaman keemasan Islam di Eropa bertahan dalam kurun waktu sangat lama, tujuh abad, di bawah kekuasaan dua dinasti besar dalam sejarah Islam klasik: Umayyah (661-750) dan Abbasiyyah (750-1492).

Setelah berjarak sekitar lima abad, penjelajahan Muslim di benua Eropa dimulai kembali bersamaan dengan gelombang imigrasi massal yang berlangsung pada pertengahan abad ke-20. Kaum imigran Muslim yang berdatangan ke Eropa mayoritas berasal dari negara-negara kawasan Asia Selatan (Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, India) dan Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Sudan, Somalia, Ethiopia). Mereka berimigrasi ke Eropa karena dua alasan pokok: ekonomi mencari penghidupan yang lebih baik dan politik menghindari rezim despotik. Ketika survei demografi dilakukan pada awal abad ke-21, jumlah kaum Muslim di Eropa Barat sudah mencapai sekitar 17 juta jiwa yang mayoritas tersebar di Prancis (5 juta), Jerman (4 juta), Inggris (2 juta), dan sisanya bermukim di Belanda, Italia, Swedia, Finlandia, Belgia, dan Denmark. Jumlah penduduk Muslim di Eropa tumbuh pesat.

Selain karena gelombang imigrasi yang terus berkesinambungan, juga lantaran pertumbuhan demografi yang berlangsung alamiah melalui proses kelahiran. Tidak seperti orang Eropa asli yang umumnya berkeluarga kecil dengan hanya satu atau dua anak, Muslim tak membatasi jumlah anak sehingga pertumbuhan populasi mereka amat cepat. Melihat gejala demikian, sarjana Barat menulis,  Muslim culture is unusually full of messages laying out the practical advantages of procreation .

Maka, sangat mungkin populasi bangsa Eropa akan terus menyusut, mengalami  demographic shrinkrage yang disebabkan oleh tingkat kelahiran amat rendah. Selain itu, perbandingan tingkat kematian dan kelahiran di kalangan penduduk imigran juga sangat mencolok. Misalnya, di Italia bagian utara sebesar 0,2 persen dan 25 persen.

Dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, dapat dimaklumi bila muncul kekhawatiran di sebagian masyarakat Eropa bahwa pada suatu masa nanti perbandingan antara warga Muslim dan warga kulit putih Eropa akan berimbang. Bahkan, yang pertama mungkin dapat melampaui yang kedua. Kekhawatiran semacam ini terungkap dengan amat jelas seperti dapat dibaca dalam buku karangan Christopher Caldwell,  Reflections on the Revolution in Europe ( Allen Lane , 2009). Merujuk sebuah jajak pendapat yang melibatkan sejumlah negara Eropa, Caldwell mengungkapkan, sebanyak 57 persen responden mengatakan terlalu banyak orang asing di negara mereka dan hanya 19 persen yang menyatakan kaum imigran berlaku/bersikap baik di negara mereka.

Bahkan, Prancis dan Inggris yang dikenal sangat toleran pada kaum imigran dan menghargai tinggi multikulturalisme, tercatat sebanyak 73 persen dan 69 persen responden di kedua negara itu yang menyatakan terlalu banyak orang asing, bahkan acap kali disebut spesifik: orang Arab, orang Asia/Afrika Muslim di negara mereka. Dikatakan pula, sikap antipati mulai muncul bersamaan dengan kian pesatnya pertumbuhan populasi kaum imigran itu. Bermaksud mengingatkan agar bangsa Eropa waspada, sejarawan Universitas Princeton, Bernard Lewis, membuat pernyataan bernada provokatif,  By the end of this century, Europe will be part of the Arabic west, of the Maghreb .

Munculnya kekhawatiran demikian cukup beralasan karena struktur dan komposisi demografi masyarakat Eropa perlahan-lahan mulai bergeser. Pergeseran demografi ini bukan saja disebabkan oleh gelombang besar imigrasi yang tak terbendung dan  total fertility rate yang tinggi di kalangan masyarakat pendatang, melainkan juga perkawinan campuran (dan konversi agama) yang turut menyumbang pertumbuhan populasi Muslim Eropa.

Di Belanda, misalnya, pada tahun 2050, menurut proyeksi, sekitar 29 persen anak-anak Belanda yang lahir berayah atau beribu orang asing dan sebagian besar dari mereka adalah Muslim. Pada tahun yang sama, diperkirakan sebanyak 16 juta warga nonkulit putih bermukim di Inggris bila gelombang imigrasi tetap tinggi, yaitu mencapai antara 100,000 sampai 150,000 per tahun. Menurut proyeksi, pada pertengahan abad ke-21, penduduk berkebangsaan asing yang tinggal di negara-negara besar Eropa akan mencapai antara 20 persen sampai 30 persen, sebuah jumlah populasi yang amat besar!

Maka, andai penguasaan atas  the whites continent akan berulang kembali, tentu tidak dilakukan melalui jalan perang seperti zaman Tareq bin Ziyad. Namun, itu dilakukan dengan menempuh jalan alamiah melalui  demographic engineering : peningkatan gelombang imigrasi dan memacu tingkat kelahiran, sehingga pertumbuhan populasi Muslim di Eropa berlangsung pesat. Menyimak perbincangan orang-orang Eropa di kafe-kafe di tepian Thames River (Inggris), Rhine River (Jerman), atau Champs Elysees (Prancis) yang masyhur itu, sayup-sayup terdengar pertanyaan retorik,  Can Europe be the same with different people in it? Ini jelas menyiratkan rasa gundah akan masa depan bangsa kulit putih Eropa pada suatu masa nanti.

(-)

 

http://www.republik a.co.id/koran/ 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: