RADIKALISME DAN TERORISME

TAJUK REPUBLIKA
Jumat, 04 September 2009 pukul 01:16:00

Radikalisme dan Terorisme  

 

Negeri ini sedang menghadapi perang melawan radikalisme dan terorisme. Genderang perang sesungguhnya telah ditabuh sejak 2000 hingga saat ini. Dimulai dengan aksi pengeboman di sejumlah tempat di tanah air secara masif. Sebuah aksi yang telah dirancang dengan sistematis, dilakukan secara profesional, dan didukung pendanaan yang sangat besar.

Aksi itu adalah bagian dari pengembangan ideologi radikal dengan cara terorisme. Pelaku pengeboman diiming-imingi masuk surga. Dogma ini telah merasuk hingga ke akar rumput dan membahayakan masyarakat.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menyatakan, motivasi gerakan terorisme di Indonesia dilakukan dengan alasan yang sangat kompleks. Ada yang berangkat dari nasionalisme- separatisme, agama, ideologi, atau tekanan dari rezim pemerintahan.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Syamsir Siregar, Senin (31/8), mengakui ada kelompok radikal di hampir semua agama. Kelompok radikal menjadi ‘biang kerok’ pelaku terorisme. Kelompok ini berkembang di Indonesia.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Kepala Divisi Pembinaan Hukum Polri, Irjen Aryanto Sutadi, Selasa (1/9) lalu. Ia mengusulkan deradikalisasi sebagai salah satu cara memberantas terorisme di Indonesia.

Begitu juga mantan kepala BIN Hendropriyono, Rabu (2/9), menyatakan ada kelompok aliran keras yang sedang dalam pembentukan di Indonesia. Kelompok ini harus didepak karena membahayakan stabilitas nasional.

Pernyataan ketiga tokoh itu tentu saja merupakan data empiris yang telah diuji melalui penyelidikan dan penyidikan. Sungguh memprihatinkan bahwa di negeri ini gerakan terorisme lebih cenderung mengatasnamakan ideologi agama. Jadi, ada perkawinan antara ideologi radikal yang mengatasnamakan agama dan gerakan terorisme.

Padahal, isu agama sangat sensitif bagi masyarakat kita. Apabila penanganannya kurang hati-hati, itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Akibatnya, dapat memunculkan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Pemerintah harus berani menyatakan kelompok mana yang menganut ideologi radikal. Tentu saja, pemerintah harus bekerja sama dengan pemuka agama, dan pemuka masyarakat serta memberikan pembinaan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan kelompok tersebut.

Kita memang sedang belajar berdemokrasi. Namun, demokrasi yang menghasilkan kebebasan beragama banyak yang ditunggangi kepentingan politik. Maka, lahirlah aliran politik garis keras berkedok agama.

Contohnya adalah Ku Klux Khan di Amerika, kelompok rasialis berkedok agama. Juga, ada Brigade Merah di Italia, Tentara Merah di Jepang, dan Tentara Merah di Jerman. Kelompok-kelompok ini dikategorikan sebagai teroris di negaranya masing-masing.
Kita tentu berharap aparat negara dapat mendeteksi kelompok radikal sebelum mereka melaksanakan aksi yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat harus dipisahkan dari kelompok radikal tersebut.

Pencegahan serta tindakan hukum terhadap tersangka atau terpidana teroris harus diikuti dengan deradikalisasi melalui pembinaan selama berada di tahanan dan setelah keluar tahanan. Sebab, dalam beberapa kasus, mereka kembali kepada kelompoknya karena telah didogma atau dibaiat.

(-)

Sumber: Republika

2 Tanggapan

  1. indonesia memang biangnya teroris.ini masalah paham idiologi atau pemahaman2 yang timbul dari pikiran2 rendah org-org yang tidak bertanggung jawab

  2. saya sepakat ketika teroris itu adalah musu kita,tetapi yang yang membuat saya cemas ketika setiap muslim yang igin menumbuhkan sunnah rasul itu dikatakan sebagai radikalisme islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: