Warung Kopi Non-Muslim di Aceh Diminta Tutup Selama Puasa

Para ulama di Aceh minta pemerintah menutup warung kopi berlabel khusus untuk warga non-muslim di kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh karena dinilai dapat merusak suasana Puasa.

 

“Kami mengimbau semua pihak agar tetap memelihara kerukunan umat beragama yang telah berjalan baik di Aceh. Keberadaan warkop berlabel khusus non-muslim itu sangat menganggu perasaan kami,” kata Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Tgk Faisal Aly di Banda Aceh, Senin, seperti diberitakan Antara.

 

Ia mengatakan untuk warga Aceh non-muslim, rutinitas seperti makan dan minum tidak dilarang, namun harus ditempat tertutup. “Itu sebagai upaya kita bersama memelihara kerukunan umat beragama. Kami mengimbau warga non-muslim tetap menghormati masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa,” katanya.

 

Faisal menjelaskan banyak kalangan masyarakat mempertanyakan keberadaan salah satu warkop berlabel khusus non-muslim yang buka pada siang hari, saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1430 Hijriyah.

 

“Informasi penangkapan warga beragama Islam di warkop yang menempel pengumuman khusus untuk non-muslim itu telah menguatkan penafsiran diantaranya adalah sebuah bentuk pelecehan bagi Islam. Karena itu, warkop tersebut harus ditutup,” katanya.

 

Oleh karena itu, ia juga mempertanyakan kenapa warkop dengan menempel tulisan khusus dibuka untuk non-muslim tersebut bisa beroperasi di Aceh pada siang hari bulan puasa Ramadhan.

 

“Kita sudah sepakat bahwa tidak boleh ada pedagang yang menjual makanan dan minuman serta restoran pada siang hari selama Ramadhan, tapi kenapa warkop tersebut bisa beroperasi,” ujar Faisal.

 

Permintaan agar warkop tersebut segera ditutup, katanya menambahkan bukan berarti tidak menghargai hak-hak minoritas di Aceh. “Warga non-muslim di Aceh masih banyak alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya saat umat Islam menjalankan ibadah puasa,” katanya

Sumber: Kristiani Post

Satu Tanggapan

  1. Nampaknya puasa bagi sebagaian umat bukan dijalankan sebagai kewajiban yang membanggakan terlebih ditengah-tengah godaan tapi kewajiban yang terpaksa sehingga semua yang dirasakan sebagai penggoda harus dienyahkan. Sebenarnya bisa saja warkop itu dikatakan tak berperasaan bila sengaja membukanya justru pada saat bulan puasa, tapi bila memang selama ini atau sebelumnya warkop tsb telah beroperasi, justru ini kebalikan, yang tak berperasaan adalah yang tidak mengingin warkop tsb.
    Berbahagianla mereka yang sempurna puasanya justru karena diterpa atau diuji dengan berbagai cobaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: