PENULIS INGGRIS LECEHKAN ALQURAN

Penulis Inggris Lecehkan Alquran

By Republika Newsroom
Senin, 24 Agustus 2009 pukul 12:07:00

 

LONDON–Sebastian Faulks, penulis novel-novel best seller, memancing kemarahan umat Islam karena  mengklaim Alquran tidak memiliki “dimensi etika” dan menyebutnya sebagai ocehan orang gila.

“Kitab suci umat Islam itu adalah sebuah buku dengan satu dimensi yang memiliki nilai sastra rendah. Jika dibandingkan dengan Injil, maka pesan-pesannya terkesan “gersang”, ujar dia dalam wawancara dengan majalah The Sunday Times yang dilansir Telegraph, Ahad (23/8).

Faulks mengaku telah membaca Alquran dalam terjemahan bahasa Inggris untuk membantunya dalam penulisan novel terbarunya, A Week in December, yang rencananya akan dipublikasikan bulan September mendatang.

Karya terbarunya ini dibuat dengan latar belakang London modern dengan karakter cerita seorang istri anggota parlemen Inggris termuda, seorang supir Tube, seorang manajer keuangan, dan seorang perekrut teroris Islam kelahiran Glasgow bernama Hassan Al Rashid.

Dalam penelitian untuk karakter Al Rashid inilah, Faulks mengaku mulai menyelami Alquran, Kitab suci pegangan umat Islam sebagai firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.

“Benar-benar buku yang menekan. Hanya ocehan dari orang gila. Bersifat hanya satu dimensi, dan orang-orang berbicara mengenai keindahan bahasa Arab, namun terjemahan bahasa Inggris yang saya baca, dari sudut pandang sastra, sangat mengecewakan,” kata Faulks.

Menurutnya, Alquran tidak menawarkan kisah yang menarik dibandingkan dengan Bibel. Alquran hanya memberitahu pembacanya untuk percaya pada Tuhan atau “terbakar selamanya”.

“Pesan-pesannya juga terasa kering. Maksud saya, ada beberapa bagian yang menyinggung soal diet, Anda tahu, mirip dengan Perjanjian Lama (Taurat), yang juga gila. Namun, kehebatan dari Perjanjian lama adalah adanya kisah-kisah yang menakjubkan. Dari 100 kisah yang diceritakan, sekitar 99-nya kemungkinan ada di dalam Perjanjian Lama dan sisanya di dalam Homer,” ujar dia.

“Alquran tidak memiliki kisah-kisah semacam itu. Alquran juga tidak memiliki dimensi etika seperti Perjanjian Baru (Injil), dan tidak ada rencana baru untuk kehidupan.”

Faulks juga mempertanyakan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan membandingkannya dengan Yesus.

“Yesus, tidak seperti Muhammad, memiliki hal-hal menarik untuk dikatakan. Ia menyodorkan sebuah metode revolusioner dalam melihat dunia: cintai tetanggamu, cintai musuhmu, bersikap baik pada orang lain, orang yang sabar akan mewarisi bumi. Muhammad tidak memiliki hal lain untuk dikatakan pada dunia, kecuali, “Jika engkau tidak percaya pada Tuhan, engkau akan terbakar selamanya,” kata dia.

Sementara itu, Ajmal Masroor, seorang imam dan juru bicara Masyarakat Islam untuk Inggris, menyatakan dia tidak menganggap deskripsi Faulks tentang Alquran.

“Saya dapat menyusun daftar ribuan cendekiawan, politikus, dan akademisi yang tidak mengatakan apa pun selain pujian terhadap Alquran, dan saya berbicara mengenai mereka yang non-Muslim. Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Bill Clinton adalah beberapa di antaranya” ujar dia.

“Menurut saya, komentarnya itu menggelikan, bukan menyerang. Terdengar seperti celotehan orang yang sedikit benci dan tidak obyektif. Saya berharap dapat mendiskusikan Alquran dengannya,” imbuh Masroor.

Masroor juga menambahkan bahwa pernyataan Faulks itu berisiko memicu kebencian agama atas umat Islam.

“Serangan terhadap Islam bukan hal yang baru, namun bahayanya hal ini akan menimbulkan efek yang ‘menetes’. Orang-orang sepertinya tidak memahami konsekuensi dari mengucapkan hal-hal seperti ini bisa sangat buruk. Sejarah memberitahu kita bahwa ejekan bisa memicu kebencian.”

Dalam kesempatan terpisaha, Inayat Bunglawala dari Dewan Muslim Inggris mengomentari sudut pandang Faulks mengenai Alquran sebagai penilian yang cenderung “tertutup”.

“Nabi Muhammad seringkali direndahkan oleh banyak orang, baik di zaman beliau maupun setelah beliau yang menyebutnya sebagai ‘orang gila’ atau ‘kesurupan roh jahat’ sebagai sebuah upaya untuk menyingkirkan pesan-pesannya yang indah,” tambah dia.

“Sebastian Faulks mungkin perlu menarik pelajaran bahwa mereka yang melecehkan Nabi saat ini semuanya telah lama dilupakan, sedangkan Nabi masih diingat dengan rasa cinta dan kekaguman”. tlg/taq

 

Sebastian Faulks: Koran has ‘no ethics’

  

THE bestselling author Sebastian Faulks has courted controversy by saying the Koran has “no ethical dimension”.

In an interview with today’s Sunday Times Magazine, he added that the Islamic holy scripture was “a depressing book”, was “very one-dimensional” and unlike the Christian New Testament had “no new plan for life”.

Faulks was speaking in advance of the publication of his novel, A Week in December.

Best known for historical works such as Birdsong and Charlotte Gray, his new novel addresses contemporary London . Its characters include a health fund manager, a literary critic and a Glasgow-born Islamic terrorist recruit. Researching the latter, he read a translation of the Koran which he found “very disappointing from a literary point of view”.

He also criticised the “barrenness” of the Koran’s message and the teachings of the prophet Muhammad, especially when compared with the Bible.

“Jesus, unlike Muhammad, had interesting things to say,” Faulks said.

“He proposed a revolutionary way of looking at the world: love your neighbour; love your enemy; the meek shall inherit the earth. Muhammad had nothing to say to the world other than, ‘If you don’t believe in God you will burn for ever’.”

Criticism of the Koran is regarded as blasphemous by Muslims.

 

http://www.timesonl ine.co.uk/ tol/comment/ faith/article680 6488.ece

3 Tanggapan

  1. Kitab suci itu memang subjektif sifatnya. Bagi sang pemeluk agama kitabnya, Tuhannya, nabinya, merupakan “yang paling”. Hanya saja cara mengungkapkan rasa suka/simpati atau benci/antipati seseorang berbeda caranya. Kita sering berpikir, jika ada yang memuji berarti suka dan yang menghina tak suka. Saya tak suka sayur lodeh bukan berarti harus menginjak-injaknya di muka orang banyak, tapi cukup dengan tak memakannya saja. Kiranya kita bisa lebih bijak menyikapi hal-hal semacam ini.

    Salam hormat

  2. Heeeem ternyata

    Hanya orang-orang yang mendapat petunjuk yang bisa memahami AL-QUR’AN dan meneladani ROSULULLAH MUHAMMAD SAW.

    JADI ……..

    YA …. JELAS ….. LAAAAH ………………….
    karena kata-kata suci dan yang terjaga kesuciannya hanya kata-kata dari orang-orang yang mendapat petunjuk
    dari ALLAH SWT.

  3. Dalam ajaran islam kita dianjurkan untuk saling menghormati bukan sebaliknya. Jagalah ucapan, karna dengan ucapanlah banyak permasalahan semakin rumit, perselisihan antar agama, bahkan bisa saling membunuh. Seperti halnya dalam penilaian seseorang tentang jati diri atau kepercayaan…….

    Seperti kata Hadist :
    “Lihatlah perkataannya dan jangan lihat siapa yang mengatakannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: