PKS melarang orang beragama selain Agama PKS?


Sumber:

Dari: Komite Peduli Pendidikan <komitepeduli_ pendidikan@ yahoo.com>
Topik: [DikBud] PKS melarang orang beragama selain Agama PKS?
Kepada: “dikbud” <DikBud@yahoogroups. com>
Tanggal: Sabtu, 9 Mei, 2009, 10:09 PM

Media Indonesia Kamis, 7 Mei 2009 menyebutkan bahwa Nur Mahmudi Walikota Depok mencabut IMB (Izin Mendirikan Bangunan) sebuah Gereja milik HKBP.
Alasan Nur Mahmudi, yang merupakan kader serta petinggi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) ini adalah agar tidak terjadi konflik Horisontal dalam masyarakat.

Gereja tersebut, sudah berdiri 10 tahun yang lalu dan sebelumnya sudah memiliki IMB. Dengan dicabutnya IMB otomatis bangunan yang sudah berdiri 10 tahun ini harus dibongkar.

Mungkin pemikiran dari para kader PKS di kota Depok khususnya dan seluruh kader PKS diseluruh Indonesia, dengan sudah tidak adanya gereja ini, tidak ada warga kristen yang melakukan peribadatan, dan dengan itu diharapkan tidak terjadi konflik Horisontal.
Secara tidak langsung, menurut mereka mungkin jika sudah tidak ada penduduk kristen, maka tidak akan terjadi konflik Horisontal dimasyarakat.

Pertanyaannya: Sebenarnya siapa yang memicu konflik Horisontal?? ?
Karena sebelumnya sama sekali tidak ada konflik horisontal, dan masyarakat hidup damai meski berbeda agama. Begitu PKS memegang pemerintahan kok malah buat peraturan yang memicu konflik horisontal di masyarakat. Dengan alasan agar tidak terjadi konflik horisontal, lalu melarang orang yang beragama selain agama PKS untuk melakukan ibadah sesuai keyakinannya, lalu lama2 mungkin akan melarang orang lain beragama selain PKS.
Mungkin lama2 meski orang islam kalau cara ibadah tidak sesuai menurut aturan agama PKS, juga akan dilarang.

Kita tunggu saja, setelah Depok, lalu dimana lagi PKS bisa menang dalam pemilu, baik pemilu legislatif, pemilu pemilihan presiden, maupun pemilihan kepala daerah (Gubernur, bupati dan walikota), apa larangan2 berikutnya yang akan dilakukan oleh agama PKS. Karena tiap pengajian ataupun rekruitmen anggota baru, mereka selalu memperkenalkan anggota yang baru bergabung sebagai orang yang baru bertobat. Jadi kalau belum beragama PKS belum bertobat???

Ini adalah contoh pendidikan yang tidak sehat kepada masyarakat, yang dilakukan oleh pejabat Publik.

Martir atau Mati Syahid dalam Kristen Katolik


mati martirMartyr – (Yun. ‘saksi’). Orang yang rela menderita dan mati karena iman dan cintanya kepada Kristus (LG 50). DalamInjil St. Yohanes istilah ini dipakai untuk menyebut kesaksian Bapa bagi Putra (Yoh 5:37), kesaksian yang diberikan oleh Yesus (Yoh. 3:1-12), dan kesaksian Yohanes Pembaptis (Yoh 1:6-8,15,19-36; 3:22-30; 5:33). Para Rasul dan orang-orang Kristiani lainnya memberikan kesaksian tentang kebenaran (Luk 24:48; Kis 1:8,22).

Dalam perkembangan selanjutnya martir  dipakai untuk menyebut orang yang menderita dan mati demi kesaksian mereka (Kis 22:20; Why 12:11). Kematian Yesus Kristus sendiri dilihat sebagai contoh utama  kemartiran (lih. Kis 1:5; 3:14). Penganiayaan terhadap orang Kristiani dilakukan secara besar-besaran dan terencana di bawah pemerintahan kaisar Septimius Severus (202-203), Decius (249-250), dan Valerianus (257-258). Penganiayaan di Roma memuncak dalam pemerintahan Diocletianus dan Galerius sejak tahun 303 dan baru berakhir setelah kemenangan  Konstantinus Agung pada tahun 312.

Orang-orang Kristiani pertama yang dihormati sebagai santo dan santa adalah para martir. Kapel yang didirikan di atas makam mereka disebut martyrion, yang dikunjungi khususnya pada hari kelahirannya atau pada hari ketika mereka lahir kembali di surga melalui kemartirannya.

Sejak awal Gereja  memahami kemartiran sebagai “baptisan darah”, yang dapat menggantikan sakramen baptis. Martirologi  adalah buku liturgi yang berisi nama para martir  dan para kudus yang lain, yang didaftar menurut hari kematian mereka. Pada zaman modern ini juga ada banyak martir di Afrika, Amerika, Asia, Oseania, Eropa. Mereka menderita dan dibunuh karena kesetiakawanan dan perjuangan mereka bagi dan bersama orang-orang yang menderita. (lih. Yoh 15;13)

HARI RAYA KENAIKAN YESUS KRISTUS


kenaikan yesusPerayaan hari kenaikan Yesus Kristus pada tahun 2009 ini diadakan pada tanggal 21 Mei 2009. Bacaan yang diambil dari Markus 16:15-20, seperti dalam kisah berikut ini:

[“Sesudah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada mereka (para murid): ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

Sesudah Tuhan Yesus berbicara  demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”]

 

Ascension –  Peristiwa Yesus yang bangkit “naik” ke surga masuk ke dalam kemuliaan yang utuh dan penuh “di sebelah kanan Bapa”. Ia menjadi Pengantara bagi kita dan menjalankan pemerintahanNya atas seluruh jagat raya (lih. DS 10-30; 189). Kenaikan sebagai penampakan terakhir Kristus yang bangkit (kecuali penampakan khusus kepada Paulus) merupakan awal kehadiran Kristus secara baru melalui Roh Kudus, yaitu (dalam) Gereja dengan tugas perutusan untuk mewartakan Injil ke seluruh bumi. Kedua rahasia iman ini pada mulanya dirayakan bersama pada hari Pentekosta, tetapi sekitar tahun 370 pesta Kenaikan ini ditetapkan empat puluh hari sesudah Paska (Kis 1:3). Sumber: Kamus Teologi, Gerald O’Collins, SJ & Edward G Farrugia, Kanisius: Yogyakarta 1996.

Muslim Eropa Lebih Nasionalis


http://www.tempoint eraktif.com/ hg/eropa/ 2009/05/08/ brk,20090508- 175119,id. html

Muslim Eropa Lebih Nasionalis
Jum’at, 08 Mei 2009 | 01:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kaum Muslim Eropa ternyata lebih nasionalis terhadap negara mereka tinggal, dibandingkan dengan warga kebanyakan. Demikian hasil kesimpulan dari sebuah survei yang diadakan oleh Gallup dan Coexist Foundation. Gallup merupakan lembaga survei yang selama ini sudah sering mengadakan survei-survei tentang Muslim ditengah masyarakat barat, dan diakui kredibilitasnya.

Dalam temuan Gallup kali ini, ternyata 77% dari Muslim Inggris bangga mengidentifikasi mereka sebagai orang Inggris, daripada warga kebanyakan yang hanya 50% yang bangga mengakui sebagai orang Inggris. Temuan yang sama juga ditemukan di Jerman.

Riset ini diadakan untuk mencari jawaban benarkah anggapan umum selama ini, yang menganggap bahwa perang terhadap militan Islam dalam isu terorisme telah membuat warga Muslim Eropa semakin teralienasi. “Riset ini untuk mencari jawaban tentang kaitan antara Muslim Eropa dan persoalan integrasinya, ” ujar Dalia Mogahed dari Gallup Center for Muslim Studies. ” Muslim Eropa ingin menjadi bagian dari masyarakat Eropa yang luas dan keinginan untuk memberikan sumbangsihnya yang posistif bagi komunitas-komunitas setempat,” ujar Mogahed.

Temuan Gallup ini mengagetkan, karena sejak peristiwa 11 September, para komentator selalu mengulang-ulang pertanyaan yang mempertanyakan loyalitas warga Muslim terhadap negara-negara barat yang lama telah mereka tempati.

Riset ini diadakan di tiga negara Eropa, Inggris, Perancis dan Jerman, dengan sampel survey 500 Muslim dan 1000 masyarakat umum di setiap negara yang disurvey.

Hasilnya

Di Inggris, ditemukan bahwa lebih dari 3/4 warga Muslim mengidentifikasi diri dan institusinya sebagai Inggris, jauh lebih tinggi daripada warga Inggris pada umumnya. Sekitar 82% dari Muslim Inggris ternyata juga mengaku sebagai warga Inggris yang loyal, dibandingkan dengan warga pada umumnya yang cenderung semakin mengaburkan identitas kewarganegaraan.

Di Jerman, sekitar 40% dari warga Muslim mengidentifikasi dirinya dengan bangga sebagai orang Jerman, jauh lebih tinggi daripada kesadaran warga umumnya yang mencapai sekittar 32%. Muslim di Jerman ternyata juga lebih percaya terhadap sistem hukum, sistem finansial dan sistem pemilihan umum, dibandingkan dengan warga umumnya.

Kepercayaan Muslim Jerman terhadap peran negara ternyata lebih tinggi daripada kepercayaan mereka terhadap lingkungan sosial masyarakat, dan mereka ternyata sangat kurang mempercayai peran media massa.

Di Perancis, sekitar 52% Muslim mengidentifikasi mereka sebagai orang Perancis, lebih kecil dibandingkan dengan 55% warga pada umumnya. Perancis memang sarang orang yang lebih nasionalis daripada negara Eropa lain. Yang menarik Muslim Perancis ternyata paling rendah rasa percayanya terhadap peran negara dan juga terhadap polisi.

Survei juga menemukan ternyata Muslim Eropa merasa lebih terisolasi daripada saudaranya Muslim yang hidup di Amerika atau Kanada