Pemilu, Tokoh Agama Diminta Netral dan Independen

Para tokoh agama diminta untuk tak terjebak politik praktis dalam pemilu legislatif pada 9 April mendatang. Dikhawatirkan tokoh agama bisa tidak netral dan tidak independen.

Hal itu mengemuka dari para tokoh agama dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla dalam diskusi “Peran Agama Membangun Budaya Politik dan Berintegritas”, di Kantor DPP Partai Golkar, Rabu [11/03].

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif mengatakan citra perpolitikan di Indonesia sudah semakin buruk. Bahkan, politik sudah menjadi mata pencaharian bagi semua orang karena ketiadaan lapangan pekerjaan. Apalagi, kini para tokoh agama sudah masuk ke ranah politik, bahkan menjadi brooker politik. “Mestinya tugas dan fungsi para tokoh agama tidak masuk ke ranah politik, tapi sebagai pengarah dan memberikan nilai-nilai etika dan moral untuk menjadi dasar pijakan bagi politisi dalam berpolitik,” tegasnya.

Dijelaskannya, para politisi maupun para tokoh agama yang terjun ke dunia politik harus bermata dan bertelinga ke bumi. Artinya, mendengarkan, memperjuangkan aspirasi dan penderitaan rakyat ke arah yang lebih baik.

Menanggapi hal itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masdar F Masudi menegaskan, jangan sampai Indonesia hancur karena demokrasi yang sudah tidak lagi berpedoman kapada tata nilai dan norma etika.

Menurutnya, yang harus diserap dunia politik adalah nilai-nilai etika dan moral agar tercipta praktik demokrasi yang berguna untuk kemashalatan masyarakat. “Dengan demikian kita akan hidup damai dan politik yang damai. Tidak seperti yang terjadi selama ini, ketegangan politik akibat keliru menyerap nilai-nilai agama (unsur ideologis dan idealis) ke dalam politik,” ujar dia.

Sedangkan Jusuf Kalla menilai, bahwa konflik yang terjadi di tanah air, seperti di Poso dan Ambon, bukanlah konflik agama, tetapi disebabkan oleh politik atau ketidakadilan ekonomi.

Romo Beny Susetyo dari Konfrensi Wali berpendapat saat ini banyak orang nekad terjun ke politik menjadi politisi tanpa modal. “Sehinggapolitik sudah kehilangan keadaban investasi, karena biaya politik kita sangat mahal. Yang ada, rakyat diabaikan elit politik dan akhirnya rakyat menjadi sangat pragmatis,” ujarnya.

Ia memprediksi jumlah golput akan semakin tinggi, mengingat kehidupan berdemokrasi tak memberikan kesejahteraan buat rakyat. “Tak ada lagi etika politik, karena adanya transaksi politik. Itu jelas sekali,” tambahnya.

Sementara Richard Daulay sepakat agar agama jangan dipolitisasi. Apalagi banyaknya atribut parpol yang menggunakan simbol-simbol agama. “Kalau dalam pertarungan politik itu nantinya caleg yang menggunakan atribut agama itu kalah, maka berarti Tuhan juga kalah dalam berpolitik,” jelasnya. >

Berita Sore
Sumber: http://id.christian post.com/dbase.php?cat=society&id=1080

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: