Sense of Urgency


Seorang manajer mengeluh bahwa walaupun pencapaian target bagiannya hampir selalu tercapai, ia merasa bahwa teman-teman di bagiannya kurang berinisiatif untuk mengejar target baru dan kurang kreatif dalam mencari tantangan baru. Bahkan, ada yang berkomentar mengenai dirinya sebagai orang yang tidak pernah puas dan pesimis. “Sebenarnya yang saya inginkan adalah anak buah saya bisa merasakan sense of urgency, sehingga mereka lebih siap dengan perubahan pasar dan realitas kompetisi. Dalam perasaan nyaman begini, mana mungkin mereka mengidentifikasi dan mendiskusikan potensi krisis sekaligus kesempatan-kesempatan besar?”

Ketika pada tahun 1989 Stephen R Covey mengentaskan konsep manajemen waktu, dalam buku 7 Habits, yang diantaranya mengemukakan pentingnya membedakan hal yang “penting dan mendesak (urgen)” dan hal yang “penting dan tidak mendesak”, kita dibuat menyadari betapa kita harus membedakan antara apa yang ‘penting’ dan apa yang ‘urgen’. Stephen R. Covey mengingatkan bahwa kita sering kali hanya berkonsentrasi pada hal yang mendesak (urgen), yang sudah bermasalah dan harus cepat ditangani, karena sebelumnya hal-hal ini diabaikan, tidak diperhatikan karena dianggap tidak penting. Sekarang kita kurang lebih sudah lihat hasilnya: budaya mementingkan “yang penting” menjadi semakin kuat. Buktinya kata ‘penting’ menjadi sangat populer di lingkungan pergaulan. “Ah, nggak penting …” kata seorang remaja atau “Atasan saya hanya mengurusi yang ‘tidak penting’ …” demikian ujar seorang karyawan perusahaan. Mengutamaka hal yang ‘penting’ tentunya merupakan sikap antisipatif yang sangat positif, misalnya menyelesaikan laporan sebelum waktunya, mengecek peralatan secara rutin, melaksanakan pengawasan secara berkala, melakukan rapat regular dan komunikasi efektif, sehingga kita bisa menekan munculnya masalah yang urgen. Pertanyaannya, apakah perhatian terhadap hal-hal yang penting ini juga mencakup perhatian kita terhadap terpeliharanya mental waspada dan sikap “bergegas” kita dalam bekerja?

“Sense of Urgency” Tidak sama dengan “menghadapi ‘urgency’”

Dalam dunia kerja dan bisnis sekarang, kita tentunya harus mempertanyakan kapan masih bisa menerapkan faham “alon-alon asal kelakon”. Kita bisa memilih mengatakan pada rekan kerja kita: “Ayo ini sudah bulan Oktober” atau “Ini masih bulan Oktober”. Kecenderungan untuk hidup ‘enak’, menutup mata dari kabar buruk dan dorongan untuk menghindar dari kenyataan pahit, sering membuat kita menjerumuskan diri dan tim kita dalam posisi ‘nina bobo’ alias comfort zone. Keadaan ini dipersubur bila tidak ada ukuran yang obyektif mengenai kinerja dan sikap yang disingkirkan, sehingga tanpa terasa individu semakin nyaman berada di abu-abu dan menghindari konfrontasi hitam putih.

Di sebuah bank klien saya, baru-baru ini beredar sebuah selogan unik: “No business as usual”, yang agak bertentangan dengan budaya di dunia perbankan yang biasanya mengembangkan sikap konservatif, mantap dan pasti. Sentakan yang dilontarkan pimpinan perusahaan ternyata menghasilkan kewaspadaan karyawan yang lebih baik, sehingga semangat kompetisi dan memenangkan tantangan menjadi lebih kuat. Tentunya peningkatan kewaspadaan ini bisa dicapai bila organisai tidak bosan-bosannya menyiapkan sasaran-sasaran baru, meningkatkan tantangan penjualan, produktivitas maupun kepuasan pelanggan, dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka tentang kejadian enak dan tidak enak di dalam dan di luar perusahaan. Tidak banyak “happy talk” lagi dalam meeting, namun komunikasi digantikan dengan fakta-fakta mengenai pencapaian target, kesempatan di masa depan dan keberhasilan orang luar.

Kondisi inilah yang membangunkan individu agar tidak terlalu banyak berkonsentrasi pada upaya ‘menyamankan diri’ dan mendorong diri untuk bersikap waspada, dinamis dan berkeinginan untuk menyambut tantangan baru atau “urgency” yang sesungguhnya.

‘4-A’ Sense of Urgency
Seoran salesman saya terperangah, ketika saya tanyakan sasaran penjualan berikutnya, sesaat setelah baru saja kami sukses menutup sebuah penjualan yang ‘manis’. Mungkin dalam hatinya ia berkata, “Nggak ada matinya ibu ini …”. Persoalannya, sense of urgency adalah sebuah siklus yang berpedoman, “Succes motivates more success”. Siklus 4-A, yang terdiri dari Achive-Asses-Activate dan Accelerate dimulai dari sebuah upaya pencapaian tantangan (achievemet) yang bila tercapai, segera dievaluasi (asses), kemudian segera direvisi dan dihidupkan kembali (activate) untuk memulai sesuatu yang baru lagi, sambil tak lengah mendorong dan menggenjot energi (accelerate) untukmengoptimalkan pencapaian hasil.

Banyak sekali hal-hal yang bisa menyebabkan individu lengah atau “slow down”, seperti menunggu keputusan, merayakan keberhasilan, menyusun anggaran, faktor birokrasi dan proses di pihak ketiga. Di sinilah sesungguhnya kekuatan kita diuji untuk tetap bergerak, dan mengayuh energi. Begitu kita berhasil, atau “achieve” lagi, kita boleh merayakan suksesnya. Namun kita tidak boleh terlena karena dengan segera kita pun meng-“asses” dan membuat tantangan baru lagi. “Sense of urgency” hanya bisa didapatkan oleh individu yang mau menceburkan diri ke dalam siklus yang bergerak kencang, bahkan bergoyang.

Jadilah “Person in Motion”
Kita semua pasti setuju bahwa lebih mudah mengendalikan obyek yang bergerak daripada diam. Berpatokan pada hal ini, kita bisa mengadaptasi untuk lebih bersikap dinamis daripada statis. Seorang ahli mengatakan bahwa langkah pertama untuk menghidupan “sense of urgency” adalah dengan berjalan kaki lebih cepat, sehingga kita juga mensugesti diri sendiri bahwa kita sedang bergegas. Bersikap responsive, misalnya dengan segera menjawab telepon, merespons email, voice mail, blackberry, SMS, serta berorientasi ‘action’ seperti ini akan mendorong individu tidak mengijinkan dirinya untuk mencari-cari alas an menunda pekerjaan. Dalam berkomunikasi, kita pun bisa membiasakan untuk tidak berbelit-belit, sehingga orang lain pun terpengaruh untuk berbicara “to the point”. Hal ini membuat kita bisa mengefisiensikan banyak waktu di dalam rapat dan pergaulan.

Kita mudah sekali melihat orang lain tidak mengadaptasi “sense of urgency”, padahal kita sendiri pun barangkali mempunyai penyakit yang sama. Karenanya, bergeraklah, “Do it now!” (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 27 Sept. 2008)

Cara Jitu Atasi Stres di Kantor


Rutinitas yang serba sibuk di kantor tentunya dapat membuat pikiran anda menjadi stress. Apalagi ditambah dengan tekanan dari berbagai pihak yang dapat ikut menambah tingkat stress anda. Hati-hati, jangan sampai anda menyalurkan stress pada hal-hal yang negative. Untuk mengatasi stress yang semakin membuncah, simaklah kiat-kita berikut ini.

Pertama, manfaatkan waktu istirahat makan siang. Setelah setengah hari bekerja, tentu anda merasa suntuk dan lapar. Tanpa disadari, rasa lapar dapat memicu tingkat seseorang. Pulihkan kondisi anda pada jam istirahat, sembari menyegarkan pikiran dengan berkumpul bersama rekan atau sahabat anda di kantor. Bicarakan hal-hal yang ringan dan dengarkanlah cerita-cerita humor dari mereka. Bersantai sejenak seperti ini terbukti ampuh untuk mengembalikan kesegaran pikiran anda. Jangan lupa, sebaiknya anda tidak membahas masalah pekerjaan ketika makan siang, agar stress anda tidak muncul lagi.

Kedua, lakukan peregangan tubuh. Sesibuk-sibuknya anda jangan biarkan tubuh kelelahan akibat terlalu banyak duduk dan berpikir. Saat merasa lelah, lakukan peregangan tubuh dengan melakukan stretching ringan di tempat. Caranya, regangkan kedua tangan atau menggerakkan kepala anda ke kiri dan kanan. Lalu, kira-kira setiap dua jam sekali, keluarlah sejenak dari ruangan untuk menghirup udara yang lebih segar.

Ketiga, bagi banyak orang, musik terbukti ampuh untuk megatasi stress. Jika anda termasuk salah satu penikmat musik, dengarkanlah musik dari computer anda. Pilihlah musik yang sesuai dengan selera anda. Sambil bekerja, anda pun dapat sambil bersenandung, selama suara anda tidak mengganggu rekan kerja lain.

Keempat, manfaatkan waktu libur untuk melenyapkan segala beban pekerjaan di kantor. Berolahraga, memasak, berkebun, ataupun tidur merupakan beberapa cara untuk mengisi waktu libur anda. Jangan gunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Nikmatilah waktu libur anda sebelum menyambut kembali hari-hari sibuk di kantor.

Satu lagi cara jitu menghindari stress, yaitu selalu berpikir positif. Terkadang rasa stress itu dapat berasal dari pikiran negative anda sendiri. Cobalah berpikir segala sesuatu dengan positif agar anda terhindar dari stress. lagi pula, jika anda bisa menghindari stress, hidup anda akan terasa lebih indah dan damai. (INO/ Klasika/ Kompas. 26 Okt. 2008)

Kantin Kejujuran Diharapkan Berimbas ke Keluarga


Nurlaili – Okezone
JAKARTA – Kejaksaan Agung terus mendirikan kantin kejujuran di sejumlah sekolah. Upaya tersebut, diharapkan dapat membentuk karanter anak didik menjadi Pribadi yang jujur.

“Saya berharap kantin kejujuran itu bisa menemankan kejujuran siswa dan berimbas kepada keluarganya di rumah,” ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta M Taufik kepada wartawan dalam acara Bubur Kejujuran 2009 di SMA Triguna, Jalan Hang Lekir III, Jakarta, Jumat (23/1/2009).

Dirinya berharap, kantin kejujuran dapat terus didirikan di semua sekolah di Indonesia. “Ini harus menjadi jangka panjang agar kejujuran menjadi watak bangsa,” tandasnya.

Dalam acara Bubur Kejujuran tersebut, hadir sejumlah tokoh seperti kejagung Hendarman Supandji, Jamintel Wisnu Subroto, Kajati DKI Andi Nirwanto, Ketua Karang Taruna Nasional Dodi Susanto, dan perwakilan siswa dari SD sampai SMA se-Jakarta. (teb)
Sumber: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/23/1/185608/kantin-kejujuran-diharapkan-berimbas-ke-keluarga

Pidato Obama dalam bahasa Indonesia


Rekan-rekan sebangsa dan setanah air:

Saya berdiri di sini hari ini terenyak oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, dan teringat akan pengorbanan oleh leluhur kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, dan juga atas kemurahan hati dan kerja sama yang ditunjukkannya pada masa transisi ini.

Sudah 44 warga Amerika yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata dalam sumpah jabatan itu telah diucapkan di masa kemakmuran dan di masa damai. Namun, ada kalanya sumpah jabatan kepresidenan itu diambil di
tengah-tengah situasi gawat dan badai yang berkecamuk. Pada saat-saat demikian, Amerika terus melaksanakan tugasnya bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita rakyat
Amerika tetap setia pada cita-cita leluhur kita dan setia pada dokumen-dokumen yang dirumuskan oleh para pendiri negara kita.

Demikianlah adanya, dan memang selalu demikianlah yang harus dilakukan oleh generasi orang Amerika yang sekarang ini.

Memang sudah dipahami bahwa kita sedang berada di tengah krisis.
Bangsa kita kini sedang terlibat perang, melawan jaringan kekerasan dan kebencian yang jauh jangkauannya. Ekonomi kita sangat lemah, akibat ketamakan dan tindakan
tidak bertanggung jawab oleh sebagian pihak, tetapi juga karena kegagalan kita secara kolektif untuk membuat pilihan-pilihan sulit, dan kegagalan kita mempersiapkan bangsa bagi abad baru. Banyak rumah yang disita, lapangan kerja menurun drastis, bisnis gulung tikar. Asuransi kesehatan kita
terlalu mahal, murid-murid sekolah kita banyak yang gagal, dan setiap hari terlihat bukti bahwa cara-cara kita menggunakan energi justru memperkuat musuh-musuh
kita dan mengancam planet kita.

Semua itu merupakan indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Yang kurang bisa diukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh pelosok Amerika – kekhawatiran terus-menerus bahwa kemerosotan Amerika tak terelakkan lagi, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. Tetapi ketahuilah ini,
Amerika, semua tantangan ini akan kita hadapi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan ketimbang konflik dan pertentangan.

Pada hari ini, kita berkumpul untuk menyatakan berakhirnya keluhan-keluhan kecil dan janji-janji palsu, saling-tuduh dan berbagai dogma lusuh yang sudah terlalu lama mencekik politik kita.

Negara kita masih muda, dengan meminjam kata-kata dalam Kitab Suci, saatnya sudah tiba kita menepiskan sifat ke kanak-kanakan. Saatnya sudah tiba untuk menandaskan lagi semangat kita yang tegar, memilih jalan sejarah yang
lebih baik, melanjutkan pemberian berharga, gagasan mulia yang diteruskan dari generasi ke generasi: yaitu janji yang diberikan Tuhan bahwa semua kita setara, kita semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk
mengejar kebahagiaan sepenuhnya.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tak pernah diberikan begitu saja. Mencapai kebesaran harus dengan kerja-keras. Perjalanan yang kita tempuh tak pernah mengambil jalan pintas. Perjalanan kita bukan bagi mereka yang tidak-tabah, bukan bagi mereka yang suka bermalas-malas daripada bekerja, atau bagi yang hanya mengejar kekayaan dan
menjadi terkenal. Perjalanan kita adalah bagi mereka yang berani mengambil risiko, mereka yang melakukan hal-hal baru dan membuat barang-barang baru.
Sebagian mereka menjadi terkenal, tetapi acap kali laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah mengusung kita di atas jalan berbatu-batu menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka mengemas harta milik mereka yang tak seberapa dan menyeberangi samudera untuk mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka banting-tulang dengan upah minim dan menetap di Pantai Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras.

Demi kita, mereka bertempur dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San.

Lelaki dan perempuan ini terus menerus berjuang dan berkorban dan bekerja hingga kulit tangan mereka mengelupas, agar kita bisa mengecap kehidupan
yang lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi kita secara perorangan, lebih besar daripada perbedaan status keluarga, atau kekayaan ataupun partai atau kelompok.

Perjalanan inilah yang kita teruskan hari ini. Kita masih merupakan negara paling makmur dan paling berpengaruh di Bumi. Para pekerja kita tidak kurang produktifnya dibandingkan dengan waktu ketika krisis ini dimulai. Otak
kita masih seinventif seperti pada awal krisis ini, barang dan jasa kita masih diperlukan seperti pada minggu lalu atau bulan lalu, atau tahun lalu.
Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tetapi masa kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan menunda keputusan-keputusan yang tak menyenangkan, sudah harus berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, membersihkan debu yang menempel, dan mulai lagi bekerja
memperbaharui Amerika.

Karena ke mana saja kita melihat, ada yang harus kita lakukan. Keadaan ekonomi mengharuskan tindakan yang berani dan segera, dan kita akan bertindak bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk
meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kita akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kita akan memulihkan sains ke tempat yang selayaknya,
dan menggunakan kehebatan teknologi untuk meningkatkan mutu perawatan kesehatan dan menurunkan biayanya. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari, tenaga angin dan lainnya untuk menjalankan mobil-mobil dan pabrik-pabrik
kita. Dan kita akan mengubah sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Dan semua ini akan kita lakukan.

Tentu, ada orang yang meragukan skala ambisi kita – dengan mengatakan sistem ekonomi kita tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. Daya ingat
mereka tidak cukup lama. Mereka telah melupakan apa yang dilakukan negara ini, apa yang bisa dicapai oleh laki-laki dan perempuan yang hidup bebas, apabila imajinasi digabung demi tujuan bersama, dan kebutuhan digabung dengan ketabahan.

Yang tidak dipahami oleh mereka yang sinis adalah tanah tempat mereka berpijak telah bergeser, bahwa argumen basi dalam politik yang telah begitu lama menyita waktu kita – tidak lagi berlaku. Pertanyaan yang kita ajukan sekarang bukan apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil,
tetapi apakah pemerintah kita bisa berfungsi, apakah pemerintah bisa menolong para keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, asuransi kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang berarti. Apabila jawabannya –
ya, kita berniat untuk terus bergerak maju. Apabila jawabannya tidak, programnya akan dihentikan. Dan mereka yang mengatur uang rakyat akan dimintai pertanggung- jawabannya – supaya mengeluarkan uang secara bijaksana,
mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dengan jujur – karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah.

Kita juga tidak mempertanyakan apakah kekuatan pasar bebas itu baik atau buruk. Kekuatan pasar bisa membina kekayaan dan memperluas kebebasan kita.
Tetapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kekuatan pasar bebas itu bisa terlepas dari kontrol, dan suatu bangsa tidak bisa makmur untuk waktu lama apabila hanya mementingkan orang kaya.
Keberhasilan ekonomi kita tidak hanya tergantung pada besarnya Produk Domestik Bruto, tapi seberapa jauh meluasnya kemakmuran itu, pada kemampuan
kita memberikan kesempatan kepada tiap orang yang mau bekerja, dan bukan karena belas kasihan karena itulah jalan yang paling pasti guna mencapai kemakmuran bersama.

Mengenai pertahanan kita bersama, kita menolak dan menganggap palsu pilihan antara keselamatan dan idaman atau cita-cita kita. Para Pendiri Negara ini dihadapkan pada bahaya yang tak terbayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak setiap orang, sebuah piagam yang diperkuat oleh perjuangan generasi demi generasi. Semua cita-cita ini masih menerangi
dunia, dan kita tidak akan meninggalkannya demi mencapai penyelesaian yang cepat. Karena itu, bagi semua orang dan pemerintahan yang menyaksikan pelantikan hari ini, mulai dari kota-kota yang termegah sampai ke desa kecil
di mana ayah saya dilahirkan, ketahuilah bahwa Amerika adalah sahabat setia negara dan sahabat setiap lelaki, setiap perempuan, dan setiap anak yang menghendaki masa depan yang damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap
untuk memimpin lagi.

Ingatlah bahwa generasi-generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan misil dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan saja tidak bisa
melindungi kita, dan bahwa kekuatan itu tidak memberi kita hak berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari adilnya tujuan
kita, kekuatan contoh yang kita berikan, dan kerendahan hati serta kesanggupan menahan diri.

Kita adalah penjaga warisan ini. Dibimbing oleh prinsip-prinsip ini, sekali lagi kita bisa menghadapi ancaman-ancaman baru itu yang menuntut upaya lebih
besar, bahkan kerja-sama dan pemahaman lebih besar antar-negara. Kita akan mulai secara bertanggung jawab meninggalkan Irak kepada bangsa Irak, dan menempa perdamaian di Afghanistan. Bersama teman-teman lama dan bekas saingan kita, Amerika akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mengurangi bahaya pemanasan bumi. Kita tidak akan minta maaf
atas cara kehidupan Amerika, tidak akan goyah dalam mempertahankannya, dan bagi mereka yang hendak mendorong tujuan mereka dengan terror dan membantai
orang-orang tak bersalah, kami katakan kepada mereka, semangat kita lebih kuat dan tidak terpatahkan, kalian tidak akan unggul dari kami, dan kalian akan kami kalahkan.

Kami sadar bahwa warisan bangsa yang beraneka warna adalah suatu kekuatan, dan bukannya sebuah kelemahan. Bangsa kita terdiri dari orang Kristen dan Islam, Yahudi dan Hindu, dan bahkan orang-orang yang tidak percaya pada
Tuhan. Kita telah dibentuk oleh campuran berbagai bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok dunia. Dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi rasial, dan keluar dari masakegelapan
menjadi sebuah bangsa yang lebih kuat dan lebih bersatu, kita yakin bahwa pada suatu hari nanti semua rasa kebencian akan hilang, bahwa semua garis-garis pembatas antar suku bangsa akan luluh, dan bahwa dunia ini akan
menjadi semakin kecil. Kerendahan hati kita akan tampak dengan sendirinya, dan Amerika harus memainkan perannya dalam menyongsong era perdamaian yang baru.

Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati. Bagi para pemimpin dunia yang
berusaha menanam bibit konflik, atau menyalahkan dunia Barat atas kesulitan-kesulitan yang dialami masyarakatnya, ketahuilah bahwa rakyat Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan pada apa yang Anda musnahkan. Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui
korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental. Dan
kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa
mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya.

Seraya kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada
sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga
kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi – semangat inilah yang
harus ada pada kita semua.

Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini.
Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari
kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak,
yang kelak akan menentukan nasib kita.

Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung – yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme – semua itu sudah
lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era
pertanggungjawaban yang baru – suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan
bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit.

Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan.

Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita- mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60
tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.

Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju,
salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukanlah pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan – bahwa kota dan negara, waspada
akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya. ”

Amerika, dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskananugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa
depan.

Sumber: ndorokakung

arti simbol imlek/ capgomeh/ sin cia


PESTA RAKYAT – CAPGOMEH

PENDAHULUAN

Hari Raya Capgomeh, sebagai akhir dari serangkaian Hari Raya Tahun Baru Imlek, tahun ini jatuh pada tanggal 9 Pebruari 2009. Capgomeh sebagai bagian terpenting dan titik klimaks dari pesta agama yang oriental (bersifat ke timuran). Hari Raya Imlek dan teristimewa Capgomeh sejak abad ke 19 sampai perang dunia ke II pecah, boleh dikatakan telah menjadi pesta rakyat semua golongan. Bahkan keadaan demikian itu sampai tahun 1955 di Bogor, Sukabumi, Jakarta Kota, Jatinegara mau pun Tangerang masih terlihat sebagai pesta agama yang merakyat menjadi milik semua golongan. Orang-orang yang berusia di atas 55 sampai 65 tahun tentunya dapat banyak bercerita tentang pesta agama yang nyaris menjadi pesta rakyat itu.

Walau pun Capgomeh sebagai titik klimaks pesta Tahun Baru Imlek di Semarang sudah jarang dirayakan, tetapi tentu tidak salah jika kita mengintip sejenak sebagai “kuriosita” (sebagai keingintahuan) saja, mumpung belum dimuseumkan.

HARI RAYA TIMUR PURBA

Hari Raya Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009 merupakan Hari Raya Agama Paleo-oriental (Timur Purba) yang berazaskan pada mite dan kosmogoni (kepercayaan tentang penciptaan alam semesta berserta seluruh isinya oleh Tuhan Yang Maha Esa). Paleo-orientalisme itu universal, merupakan kepercayaan dan agama yang dianut di dunia lama yang bersifat Asiatic dan Oceanic sekaligus. Namun di banyak bagian dunia lama itu kemudian menyimpang, maka kepercayaan dan agama yang pada mulanya berazaskan mite dan kosmogoni itu sekarang hanya tinggal dan terdapat di Asia Timur dan tercecer di kawasan Pasific.

Maka Hari Raya Tahun Baru Imlek ini merupakan perayaan yang memperjuangkan atau berusaha mengarah untuk bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa berazaskan mite dan kosmogoni sebagai “Kejadian” (Genesis) dan “Realita Suci” yang diakui. Hari Raya Tahun Baru Imlek atau biasa disebut Sincia merupakan Pesta Awal Musim Semi yang mengandung semua anasir pergantian tahun. Pesta Tahun Baru ini juga merayakan hidup kembalinya alam semesta, yang sebelumnya dalam keadaan mati selama musim dingin yang gelap dan suram itu, yang seolah-olah mendapat jiwa yang baru, maka umat Tuhan merasa girang, dan kegirangan itu yang menjadi asal-usul Perayaan Tahun Baru oleh bangsa Tionghoa.

Hari Raya Tahun Baru bukan merupakan Hari Lahir yang historik nostalgis yang mengenang kejadian sejarah, tetapi merupakan reaktualisasi kejadian Cosmogony Mytical (Pembabaran Jagad Raya) yang bertujuan untuk mendapatkan pembebasan, pembetulan, penertiban, penyembuhan, pensucian, permurnian, peremajaan dan pembaharuan yang kita ringkas saja artinya menjadi “Kembali pada yang orisinil”. Yang orisinil (asli) itu tidak lain ialah “Awal mula dan Asal usul” yaitu Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

Maka yang menciptakan Hari Raya Tahun Baru itu bukan manusia tetapi Tuhan sendiri yang menjadi arkhitekNya, sedangkan Pembabaran Langit dan Bumi itu merupakan penjabaran denahNya yang dipakai untuk landasan Hari Raya Tahun Baru, bahkan merupakan pedoman tata krama dan agama Timur yang melibat, melingkupi dan mengatur segala kebutuhan hidup manusia dalam daur waktu dan jagad yang dikeramatkan itu.

Maka Hari Raya Tahun Baru dan tak terkecuali Hari Raya lainnya, kesemuanya adalah dari dan mengarah kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian semua sarana atau wahana atau perangkat nilai yang dipakai untuk menjadi Hari Raya dan perayaannya, pada kenyataannya merupakan usaha yang mengikuti dan meniru-niru tata alam semesta (Imago Mundi).

Itulah sebabnya mengapa semua komponen yang terdapat di dalam Hari Raya merupakan rangkaian yang sanggup menampilkan formalitas ritual, liturgi, prosesi, keramaian, pertunjukan wayang dan berbagai macam hiburan lain-lainnya, tidak dapat dikatakan penampilan hura-hura saja. Tetap merupakan usaha untuk menerima kehadiran Yang Suci dan Keramat dalam keadaan utuh-seutuhnya serta selengkap mungkin. Tuhan menurut agama timur itu bukan kemiskinan, bukan kesedihan, tetapi merupakan kegembiraan, menghibur, suka cita dan lain sebagainya.

Jagad itu hidup dan berjiwa, bersama-sama dengan Daur Waktu merupakan dwi-tunggal; kedua-duanya itu menitis, berkembang dan mati pada akhir tahun dan lahir kembali pada awal tahun Baru; jagad dan daur waktu itu memang bertumimbal lahir (berinkarnasi) setiap tahun. Menurut persepsi Timur, jagad dan daur waktu diterima sebagai jabaran Tuhan, di mana Tuhan sendiri terlibat dan turut aktif berkarya di dalamnya. Ini bukan berarti bahwa persepsi Timur terlibat dalam memuja atau mengkultuskan alam. Langit dan Bumi itu dianggap suci bukan sebagai sekedar benda mati yang tak berjiwa. Langit dan Bumi dipuja, tepatnya karena nyata-nyata merupakan satu “Perwujudan Sakral”. Sebab, mereka tidak hanya tampil sebagai Langit dan Bumi in-natura saja, tetapi masih ada nilai-nilai yang menunjukkan adanya kesaktian yang dalam menampilkan kenyataan sangat luar biasa, yaitu rahim. Oleh karena itu dianggap sakti dan suci; penampilannya yang nyata, jelas dan langsung, selalu disertai perwujudan supranatural yang juga nyata, gamblang dan mudah dimengerti, dan memang seluruh alam semesta mempunyai kemampuan luar biasa dalam menjabarkan diri sebagai satu kesucian kosmik yang maha dasyat; Langit dan Bumi sebagai Jagad Raya dalam keseluruhannya dapat merupakan gerak perwujudan adanya kekuatan Tuhan Yang Maha Sakti dan Maha Rahim.

HARI RAYA TAHUN BARU

Hari Raya Tahun Baru merupakan pementasan kembali kegiatan Cosmogony Mythical; merupakan ritual yang menunjukkan lagi revolusi chaos-cosmos; satu perjuangan yang mengambil ruang, tempat dan daur waktu yang primordial dan asli (orisinil), dengan diakhiri oleh keberhasilan Tuhan dan para dewaNya. Maka, Tahun Baru sebetulnya menunjukkan satu kegiatan “perwujudan baru” Jagad Raya; itu berarti perbaikan kembali (restorasi) daur waktu primordial yang murni dan terjadi pada saat “Kejadian Besar” (pembabaran jagad). Inilah sebabnya mengapa Tahun Baru merupakan kesempatan untuk mengadakan kegiatan “pemurnian” baik yang dapat dilakukan dengan penyucian air putih, mau pun dengan pembakaran api merah. Maka, perayaan ini bukan pesta hura-hura, atau sekedar menghapus yang lama menyambut tahun yang baru, atau sekedar “pemurnian” saja. Tetapi lebih dari itu, seluruh nista noda, dosa, kesalahan, kesialan dan malapetaka, celaka dan bencana individu, keluarga, masyarakat dan alam lingkungan dapat dianulir seluruhnya.

Turutserta mengambil bagian dalam pesta, berarti: turutserta dalam usaha penghancuran chaos, nista, dosa dan lain-lain malapetaka, dan perjuangan untuk menerima kembali dunia baru yang tertib, teratur dan damai; membuat penerimaan baru, hubungan baru, kebangkitan baru, ikatan baru, pembebasan baru, pembabakan baru dan Firman baru; semua orang merasa terolah menjadi baru; mereka merasa lahir kembali dan dengan semangat baru mengawali kehidupan baru. Dengan setiap kali diadakan upacara Tahun Baru, mereka merasa lebih suci, lebih bersih dan murni, karena mereka telah merasakan dibebaskan dari dosa dan malapetaka, mereka telah menyatu dengan “saat kejadian yang mujizat” dan lagi pada saat yang sangat kuat dan sakti; sakti karena dihadiri oleh Tuhan, kuat karena babak waktu yang dimasuki merupakan “Karya Besar” yang pernah dan sedang diselesaikan lagi, yaitu “membangun Jagad Baru”. Secara simbolis mereka berada bersama-sama dengan kosmogoni, artinya turut hadir juga pada waktu dunia/jagad baru dibabarkan, bahkan turut berjuang meniru para dewata mengikuti kehendakNya dalam pembabaran dunia/jagad baru (manunggal).

Mudah dimengerti mengapa orang mengunjungi daur waktu yang romantis namun penuh dengan kesaktian itu, dan mengapa mereka selalu berusaha untuk secara berkala kembali lagi kepadanya. Ini disebabkan karena dalam daur waktu yang demikian itu, Tuhan tampil dengan kekuatan dan kuasaNya yang paling besar, merupakan perwujudan kosmogoni ke-illahian yang paling unggul, merupakan pula kegiatan paradigmatis (model pola) yang kreativitas dan kekuatannya berlimpah-limpah. Masyarakat Timur itu selalu haus akan kenyataan-kenyataan itu, mereka akan berikhtiar untuk mengambil tempat pada sumber yang paling dekat dengan perwujudan yang primordial, atau pada waktu dunia sedang tengah menitis (in statu nascendi).

PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK

Beberapa hari sebelum Tahun Baru tiba, pada waktu Jagad Raya menunjukkan kekalutan dan para dewa sibuk memerangi kepunahan alam semesta, sambil membangun bahtera baru untuk menyelamatkan benih-benih kehidupan bagi Jagad Baru yang tertib dan tenteram, begitu pula manusia pun sibuk membersihkan rumah dari kekotoran dan memperbaiki (mereparasi) kerusakan agar semua yang kotor, rusak dan jelek turut hanyut terbawa oleh tahun lama yang sebentar lagi akan berakhir. Inilah yang namanya “Tuhan dan manusia berada di dalam satu kecocokan/keselarasan” atau ”Persatuan yang tepat antara Tuhan dan Manusia”.

Pekerjaan pembersihan itu biasanya dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, di bawah pimpinan seorang nenek yang pada hari-hari itu bersikap ekstra cerewet, tidak mengenal kompromi, sedangkan pekerjaan harus dilakukan secara cepat dan kontinu tanpa boleh mengomel sedikit pun, apalagi protes.

Pekerjaan itu terdiri dari mengapur/mengecat dinding, membetulkan/ mengganti kerusakan walau pun tidak ada yang rusak, membersihkan prabot rumah tangga dan jika perlu dipindah-pindahkan untuk sementara agar tempat-tempat yang biasanya terlindung oleh prabot-prabot dapat juga turut dibersihkan.

Pembersihan seluruh rumah itu berjalan terus, dan pada tanggal 29 Imlek ditambah lagi dengan persiapan untuk sembahyang dan belanja untuk keperluan hari-hari Tahun Baru. Pada hari ke 30 bulan Imlek terakhir jam satu siang semua aktivitas pembersihan harus sudah berhenti, perhatian sekarang tercurah pada upacara akhir Tahun Lama, maka dipanggilkan arwah leluhur untuk diberi tahu bahwa Tahun telah berakhir dan anak cucu telah selamat berhasil melewati saat-saat yang penuh bahaya dan beberapa saat lagi akan mencapai Jagad Baru yang sejahtera.

DEWA DAPUR NAIK KE LANGIT/SURGA

Lebih kurang 1 (satu) pekan sebelum hari Tahun Baru, yaitu dengan “perjalanan ke langit Sang Dewa Dapur, Chao Kun Kong”. Pada tanggal 23/24 bulan ke 12 naiklah sang Dewa Dapur ini kelangit untuk melaporkan kepada Thian mengenai sepak terjang para penghuni rumah yang dihuninya. Sebelumnya seluruh keluarga penghuni rumah tersebut melakukan pembersihan lingkungan rumah di mana mereka tinggal. Banyak keluarga yang tidak menyapu dalam rumahnya pada hari Tahun Baru dan dua hari berikutnya, supaya rezekinya tidak ikut tersapu keluar. Dan masih ada tabu lainnya yang bertalian dengan perayaan Tahun Baru Imlek, yaitu tiga hari lamanya orang tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau berkelahi, karena rezeki bisa hilang.

Tempat Dewa Dapur, ya, di dapur. Dari kedudukannya ini, dipercaya bahwa sang Dewa ini memperhatikan segala tindak tanduk para penghuni rumah tersebut. “Naik” nya Dewa Dapur dihantar dengan membakar batang dupa (hio) dan mempersembahkan sesajian. Upacara ini lalu ditutup sambil mengucapkan selamat jalan sambil membunyikan mercon. Merconlah yang pertama-tama membawa berita gembira tentang kedatangan “Kedamaian dan Kemakmuran”. Mercon mewakili api, lambang kehidupan dan kebangkitan, maka mercon merupakan juga penghalau kematian dan menyambut kehidupan, memecahkan kesunyian, meledakkan keramaian, menghapus kesedihan, mengisi kegembiraan, mengganti kegelapan dengan memancarkan penerangan dan cahaya.

Satu hari menjelang Tahun Baru tiba, orang Tionghoa melakukan “Sembahyang Tahun Baru”. Keluarga yang memelihara abu leluhur atau papan arwah leluhur mengadakan sembahyang di muka meja abu tersebut dengan rangkaian prosesi yang cukup panjang. Bagi yang tidak memelihara abu atau papan arwah leluhur, biasanya meletakkan sebuah meja menghadap pintu muka rumahnya dan di atas meja ini ditempatkan semua keperluan (uba-rampe) untuk keperluan sembahyang tersebut yang dilakukan dengan sederhana. Sembahyang Tahun Baru ini harus diselenggarakan dengan sebersih-bersihnya. Bukan saja bersih lahir, melainkan juga bersih batin.

Di atas meja sembahyang biasanya diletakkan kue tahun baru yang dinamakan “nien kao”, atau di Indonesia dikenal dengan nama “kue keranjang”, karena kue tersebut dibuat dalam keranjang-keranjang budar dengan berbagai macam ukuran. Kue ini dapat disimpan lama tanpa menjadi busuk.

Di Jakarta ada pula semacam uba rampe yang khas untuk Sembahyang Tahun Baru berupa Ikan Bandeng yang disatukan dengan kue keranjang.

Besok paginya hari pertama bulan pertama Tahun Baru Imlek, yang sebetulnya juga merupakan Hari Raya Kebangkitan; pulihnya kembali unsur api sebagai lambang kehidupan, maka membanjirlah sitat-sitat (kutipan/nukilan) yang ditulis di atas kertas merah yang kemudian menghiasi jendela dan daun pintu dengan tulisan, seperti :

Mentari terbit di atas Cakrawala,

Fajar menyingsing di ufuk Timur,

Negara tertib, aman sentosa,

Rakyat senang hidup makmur.

DEWA DAPUR TURUN

Pada hari keempat orang dapat mendengar suara petasan (mercon) yang meletus dan menggelegar, hal ini dikarenakan untuk menyambut Dewa Dapur yang kembali dari perjalanannya ke langit. Hari ini dinamakan “Hari Dewa Dapur Turun”.

SEMBAHYANG TUHAN ALLAH (KING THI KONG)

Pada tanggal 8 malam ada orang Tionghoa yang mengatur meja sembahyang di depan pintu rumahnya. Orang ini melakukan “Sembahyang Tuhan Allah”, untuk menghormati Giok Hong Siang Te, Kaizar Pualam, yang hari ulang tahunNya jatuh pada esok harinya tanggal 9 bulan 1 Imlek, di mana sembahyang ini biasanya selesai setelah larut malam.

Sebetulnya seluruh Hari Raya Imlek itu adalah perayaan “Lahirnya unsur api”. Di angkasa api diwakili oleh Sang Mentari (Matahari) dan Sang Rembulan (Bulan); pada Hari Tahun Baru dilambangkan dan diperagakan dalam bentuk mercon sebagai pemberi tanda pertama pulihnya kembali siklus daur waktu satu tahun kosmik. Kemudian, menyusul api lilin, api dupa, api dapur, api lampu/lampion dan kemudian api unggun untuk upacara injak api pada pesta Capgomeh.

PESTA CAPGOMEH

GOAN SIAO adalah sebutan lain dari Goan Meh, yang berarti Malam Goan. Kata GOAN ini singkatan dari Siang Goan. Dan Siang Goan ini berarti bulan pertama tanggal 15. Sehingga Goan Meh berarti Malam Tanggal 15 atau Cap Go Meh. Cap Go = 15; Meh = malam. Malam tanggal 15 di mana sang rembulan berbentuk bulat penuh sempurna (purnama).

Jika Tahun Baru Imlek sebagian besar merupakan pesta keluarga, yang upacaranya dilakukan di dalam masing-masing rumah, maka Capgomeh merupakan pesta masyarakat yang upacaranya dilakukan di luar bangunan gedung rumah dan di jalan-jalan, berpusat pada kelenteng (tempat ibadat agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa).

Di pulau Jawa pesta Capgomeh terkenal juga sebagai pesta tengloleng (tanglung); oleh orang Belanda disebut “Lampionen feest” dan memang pada malam hari itu terlihat banyak berbagai macam bentuk lampu yang terbuat dari kertas atau kain yang dibawa oleh anak-anak atau para remaja di sepanjang jalan. Rumah penduduk pun rata-rata juga turut memasangnya, dan digantung di depan rumah.

Pesta Capgomeh memang terdiri dari banyak bagian yang mempunyai kaitan erat dengan agama, teristimewa yang cukup penting dan sentral, yaitu bagian prosesi yang intinya terdiri dari tandu (”kio”) Toapekkong dan para Sinbing, diiringi oleh Liong (naga), Barongsay dan Samsi, dan menyusul karnaval dan balmasque (pesta bertopeng).

Tandu atau joli (kio) digotong, dikirab dan dibawa keliling untuk pesiar di dalam kota, melambangkan perluasan lingkungan dan radius Jagad Baru. Upacara kirab gotong Toapekkong adalah arak-arakan ritual yang bertujuan untuk menganulir atau meruwat alam lingkungan setempat untuk menolak bala, wabah, kesedihan dan lain-lainnya untuk diganti dengan kegembiraan, pembaharuan, kesuburan, ketertiban dan sebagainya.

Jaman dulu di kota Semarang upacara kirab sebagai arak-arakan ritual yang tampil di muka umum, minimal pasti ada seperangkat alat musik gamelan yang dimainkan (ditabuh) mengikuti jalannya upacara sambil turut dalam arak-arakan.

Pada umumnya semua penduduk di kepulauan Nusantara menyukai permainan tari Naga (Liong) dan merasa simpati karena arti perlambangnya juga baik yang mengarah kepada persatuan seperti mosaik dengan lingkungan yang ada, mengarah kepada persatuan bentuk terpadu dalam segala perbedaan sesuai dengan yang diserukan oleh Empu Tantular yaitu “Bhineka Tunggal Ika”.

Gagasan gambaran Naga adalah pesan suci agar supaya manusia mengerti cara hidup damai dalam segala perbedaan. Damai antar manusia, damai dengan lingkungan, damai dengan diri sendiri. Karena semua perbedaan itu berasal dan kembali mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

LIONG (Naga) adalah binatang fabel, merupakan benih-benih yang diangkut dan diturunkan untuk turut memberi kesuburan pada Jagad Baru. Sepasang Naga yang biasa terdapat di atas bangunan Kelenteng adalah sepasang naga jantan dan naga betina yang bertanduk menjangan, berbadan ular, bersisik ikan, bercakar garuda, bertapak macan, berkumis kucing, berjenggot kambing, berperut katak, bermoncong buaya, dan bertaring singa. Naga adalah Avatar yang selalu muncul dalam pembuatan Jagad Baru yang ”tata-titi-tenterem, gemah ripah lohjinawi, kerta raharja”. Naga bernafaskan api merah dan air putih, dua unsur kehidupan yang saling bertentangan tetapi saling memerlukan. Naga dikatakan bangkit dari air putih dan timbul, bangkit mengejar mentari merah, melambangkan chaos menjadi kosmos, dan melambangkan pula “kehendak Tuhan dalam mengatur masyarakat dan keluarga”.

BARONGSAY merupakan makhluk fabel yang tampil dengan membawa tugas suci. Makhluk yang merupakan Avatar ini sebetulnya juga merupakan Utusan. Ia tampil dan muncul dari dasar sungai sambil membawa kitab Pakua untuk mengajarkan rahasia hukum alam semesta kepada manusia agar supaya dapat bebas dari kebodohan dan mendapatkan pengetahuan. Barongsay berarti kuda naga berkepala singa yang Guru. Ba/Be (Ma) berarti kuda, Long (Liong/Lung) berarti naga, sedangkan Say berarti singa/(Tze) berarti Guru.

SAMSI adalah semacam singa yang harus dimainkan dengan tiga kaki, kaki keempat selalu tidak boleh menyentuh tanah. Seperti Barongsay, Samsi juga dimainkan oleh dua orang. Di atas batok kepalanya selalu dilukiskan huruf ONG (WANG) yang berarti “Raja”. Terdiri dari 3 (tiga) garis horisontal, atas-tengah-bawah, dan garis keempat vertikal sebagai penghubung. Tiga garis horisontal melambangkan Langit, Bumi dan Manusia, atau sorga dunia masyarakat, garis keempat melambangkan “Satu Hukum Tuhan”.

API UNGGUN yang juga merupakan salah satu atraksi khas agamis ini diselenggarakan di depan klenteng. Api dibuat dari kayu atau arang. Di atas api itu lalu orang-orang yang intrance boleh berjalan, tetapi orang yang berjalan di atas api itu tidak selalu intrance (biasa disebut tangsin/tatung). Jika air yang beberapa hari sebelum Tahun Baru dipakai untuk menyucikan dan menyuburkan, api juga dipakai untuk memurnikan dan menumbuhkan. Api membakar semua sisa kekotoran dosa, nista, kesalahan dan sebagainya yang tidak dapat dicuci oleh air.

Sebelum acara prosesi di mulai, masih ada satu upacara simbolis yang cukup penting, yaitu upacara membanting ular. Upacara ini melambangkan “penghancuran terhadap kekalutan (chaos)”. Belakangan ini, yang dibanting bukan ular sesungguhnya tetapi boneka ular yang dibuat khusus untuk keperluan itu, dan upacara ini saat ini jarang dilakukan.

Perayaan itu ditutup dengan membanjirnya rakyat dari semua golongan, baik yang berjalan-jalan saja untuk menonton Lampu (lampion/tengloleng/tanglung), maupun untuk mengikuti karnaval atau prosesi, atau pun berkaul atau memohon enteng jodoh dengan melintasi tujuh jembatan atau ngibing di jalan-jalan sambil menyaru dengan topeng (balmasque). Di jalan-jalan, tua, muda berbaur merayakannya dengan berombongan. Biasanya tiap rombongan mengurung diri dalam lingkungan tali agar supaya tidak ada ”anggotanya” yang kesasar dan hilang dalam lautan manusia di pesta Cap Go Meh itu. Dalam pesta ini biasanya orang-orang menyamar dengan menggunakan pakaian yang aneh-aneh atau memakai topeng. Pria memakai pakaian wanita, wanita berdandan seperti pria. Orang menyamar dalam pesta Capgomeh ini katanya untuk “membuang sial”. Dan ada yang berpendapat, apabila orang sudah mulai berbuat demikian, maka orang itu harus melakukannya berturut-turut hingga sampai 7 kali, jadi harus menyamar pula selama 6 kali perayaan Capgomeh berikutnya. Yang wanita berjalan-jalan dengan membawa beberapa batang dupa (hio) dan mencari 7 buah jembatan. Pada tiap jembatan mereka mengibas-kibaskan pakaiannya agar semua kesialan yang ada dalam dirinya hilang/dibuang dan membakar batang dupa. Hal ini dianggap mendatangkan kebaikan.

Khususnya pada perayaan Capgomeh di mana Sang Rembulan untuk pertama kalinya mencapai kesempurnaan, hampir semua orang Tionghoa khususnya di Jawa Tengah menikmati makanan Lontong Capgomeh (opor Capgomeh), yaitu makanan Jawa yang dibuat dan dihidangkan khusus untuk malam Capgomeh.

PAGELARAN WAYANG KULIT

Kelenteng-kelenteng di Nusantara sudah lama menghadirkan seni budaya asli pada berbagai macam pesta-pesta keagamaan. Baik yang terbuka untuk umum mau pun tidak. Di Jawa Tengah, Jawa Timur dan pulau Madura teristimewa pada Hari Raya Tahun Baru Imlek, kelenteng pada umumnya mengikutsertakan unsur seni budaya asli setempat, dalam hal ini terutama adalah pagelaran wayang kulit yang juga diketahui oleh umat kelenteng sebagai sarana yang sakral. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di kelenteng telah menjadi adat kebiasaan atau menjadi bagian dari tradisi peribadatan Kelenteng di pulau Jawa dan Madura.

Demikianlah pesta agama yang sudah merakyat itu, yang sebetulnya tidak lain adalah, memohon terbentuknya Jagad Baru yang tata-titi-tenterem, gemah-ripah, loh-jinawi, kerta raharja, dan merupakan cita-cita manusia yang waras.

Thian adalah “rahasia kehidupan yang paling agung, rahasia dari rahasia, gerbang rahasia semua kehidupan”. Ia memberi tanpa batas baik kepada alam semesta mau pun kepada manusia. Karena itu, Ia disebut sebagai “Bunda Jagad Raya”. Ia adalah kaidah, irama dan kekuatan pendorong dalam seluruh jagad raya, dan azas penata yang berada di belakang semua yang ada.

SIN CHUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I

1 Cia Gwee 2560

Semarang, Januari 2009 – R. SOENARTO (Pemerhati Budaya Tionghoa)

MAKANAN DAN SESAJI

UNTUK MENYAMBUT TAHUN BARU IMLEK

PENDAHULUAN

Masyarakat Tionghoa pada umumnya merayakan datangnya Tahun Baru Imlek, biasa disebut Sincia atau pesta awal musim semi yang dimulai tanggal 1 Cia-gwee dan berakhir pada tanggal 15 Cia-gwee saat dirayakan Cap Go Meh atau Pesta Goan Siauw, melakukan beberapa upacara ritual keagamaan berupa sembahyang menyambut Tahun Baru Musim Semi (Imlek), sembahyang King Ti Kong (Tuhan Allah) dan dilajutkan dengan pesta Cap Go Meh, walaupun sebelumnya mereka juga melakukan upacara sembahyang untuk para Sinbing seperti Dewa Dapur (Cao Kun Kong), Dewa Bumi (Thouw Te Kong) dan Malaikat Kota (Shia Hong Sin) dan lain sebagainya.

Masyarakat Tionghoa yang ada di Nusantara ini terdiri dari berbagai suku seperti, suku Hokkian, Khek (Hakka), Tiociu, Hokcia, Kongfu (Kanton), dll. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini pun mereka merayakan dengan beberapa perbedaan. Sedangkan suku Hokkian merupakan mayoritas yang ada di Jawa Tengah. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini, suku Hokkian yang ada di Jawa Tengah pasti berbeda dengan suku Hokkian yang ada di Medan, Surabaya, Jakarta, Palembang, Pontianak dan Manado.

Tulisan ini banyak menggunakan bahasa atau dialek Hokkian.

MAKANAN DAN SESAJI

Orang-orang Hokkian pada umumnya membuat makanan dan sesaji yang mempunyai makna dan lambang-lambang untuk kemakmuran, panjang umur, kebahagian dan limpahan rezeki.

Beberapa makanan dalam bentuk kue (berasal dari dialek Hokkian “kwe” atau “guo” dalam bahasa Mandarin), biasanya juga wajib dipersembahkan di altar sembahyang, meja abu atau Kong-po. Demikian pula makanan atau sesaji untuk upacara ritual di Jawa Tengah sebenarnya agak berbeda antara Jawa Tengah pesisir utara dan pedalaman. Di pedalaman Jawa Tengah, pengaruh lokal jauh lebih terasa daripada di pesisir. Selain itu ragamnya pengaruhnya lebih kaya dan ukurannya pun lebih kecil dan cantik.

Sesaji pedalaman terdiri dari :

· Wajik Ketan, terbuat dari ketan dan gula Jawa, Jadah Ketan

· Kue Ku (kue bentuk kura-kura berisi kacang tanah untuk yang berwarna hitam, dan kacang hijau untuk yang berwarna merah)

· Tape Ketan

· Kue Mangkok

· Kue Lapis, Sengkulun, Persikan, Lemper, Jongkong

· Kue Keranjang

· Dll

Sesaji pesisiran terdiri dari :

· Kue Keranjang

· Kue Ku (ukurannya lebih besar)

· Wajik Tumpeng (warna merah atau coklat gula Jawa)

· Kue Moho atau “Hwat-kwe” warna merah jambu (yang tanpa isi merekah, dan/ atau yang berisi kacang hijau manis)

· Kue Mangkok

· Kue Lapis

· Kue Lapis Legit

· Kue Nagasari

· Kue Bugis, lemper, Madu Mongso, Corobikang

· Bongko Cunduk, Bongko Meniran, Bongko Kopyor

· Dll.

Manisan :

· Tong-kwa atau Tang-kwee (manisan Beligo)

· Ang-co

· Kit Pia

· Manisan Belimbing

· Atap-seng (manisan kolang-kaling)

· Dll.

Buah-buahan :

· Pisang Raja atau Pisang Mas 1 (satu) sisir

· Tebu Wulung

· Srikaya

· Jeruk Bali (lengkap dengan tangkai dan daunnya)

· Delima yang berwarna Merah

· Kelengkeng

· Jeruk Mandarin

· Belimbing

· Dll.

Makanan untuk dimakan :

· Siu-mie (Mie Panjang Umur) (untuk disajikan dalam makan malam bersama keluarga menjelang tahun baru), orang Hokkian biasa membuat Lo-mie.

· Masakan yang dicampur dengan rumput laut seperti rambut (Fucai)

· Lontong Opor Cap Go Meh (untuk disajikan dalam pesta Cap Go Meh)

Minuman :

· (Arak) To So Ciu

Cemilan :

· Kwaci, Kacang Kulit, Permen, dll.

SIMBOLISME MAKANAN DAN SESAJI

Tujuan daripada sembahyang dengan persembahan makanan dan sesaji ini adalah, merupakan wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan memperoleh tambahan rezeki yang lebih baik, kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, panjang umur, dan limpahan rakhmat, karunia, pertolongan dan perlindungan dari Thian Yang Maha Kuasa, serta untuk menjamu para leluhur, dan berkumpul bersama seluruh keluarga.

Makanan dan sesaji sembahyang yang dipersembahkan di atas altar atau meja sembahyang baik yang murah maupun yang berharga tinggi sekali pun hanya merupakan lambang untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Thian Yang Maha Kasih, yang telah memberikan berkah dan karunianya, sehingga manusia dapat memperoleh penghidupan yang layak. Seluruh sesaji persembahan yang diletakkan di atas altar tersebut, semuanya adalah hasil ciptaan Thian Yang Maha Kuasa di bumi ini.

Segala makanan dan sesaji ini mempunyai arti dan lambang-lambang seperti beberapa contoh sebagai berikut :

WAJIK TUMPENG (WAJIK KETAN)

Melambangkan pengetahuan yang luhur, supaya disebarluaskan sesuai dengan bentuknya yang runcing pada puncaknya dan makin melebar dan luas ke bagian bawahnya. Dapat disimpulkan bahwa, seorang pemimpin atau kepala tentunya dipilih dari orang-orang yang beriman dan berpengetahuan luhur dan berbudi, mengerti dan dapat membedakan antara yang benar dan salah. Yang baik dan benar supaya disebarluaskan, sedangkan yang jelek atau salah supaya diberi bimbingan dan pengarahan menuju ke arah kebenaran dan kebaikan.

KUE KU

Melambangkan panjang umur.

KUE MOHO (HWAT KWE)

Melambangkan sumber rezeki untuk amal. Bentuk kue ini merekah (megar, bhs. Jawa) di bagian atasnya menjadi empat bagian yang mengibaratkan sumber rezeki yang berlimpah ruah, sebab sumber rezeki merupakan pokok utama untuk kehidupan manusia sehari-hari. Tanpa sumber rezeki kita takkan dapat bertahan hidup.

KUE LAPIS LEGIT ATAU KUE LAPIS

Melambangkan datangnya rezeki yang berlapis-lapis.

KUE KERANJANG

Rasa manis kue keranjang melambangkan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya. Lengketnya melambangkan eratnya hubungan antar anggota keluarga dan orang sekitarnya. Bentuk kue yang bulat melambangkan kesatuan dan kesatuan hubungan antara anggota keluarga dan orang sekitarnya.

Kue keranjang yang disusun ke atas dengan kue Moho berwarna merah di bagian atasnya, melambangkan harapan agar kehidupan dan penghidupan menjadi manis dan kian menanjak dan mekar seperti Kue Moho.

Kue keranjang secara keseluruhan melambangkan keharmonisan, kekentalan, keeratan, kesatuan yang utuh, hubungan antara manusia dengan lingkungannya, selaras dengan alam semesta secara menyeluruh (bulat) dan universal.

MANISAN TANG-KWEE (BELIGO)

Merupakan simbol ketulusan.

MANISAN ANG-CO

Disebut sebagai salah satu makanan para Dewa, melambangkan berkah.

MANISAN KOLANG KALING (BUAH ATAP)

Melambangkan agar manusia senantiasa berhati tetap dan mantap serta “eling” (ingat).

KIT-PIA

Kata “Kit” diartikan selamat.

PISANG RAJA ATAU PISANG MAS

Diartikan melambangkan kerukunan dalam rumah tangga dan masyarakat untuk membina persatuan dan kesatuan agar supaya hidup akur dan saling mengasihi.

JERUK MANDARIN (LOKAM)

Dalam bahasa Mandarai disebut Chi-tze, artinya buah keberuntungan.

SRIKAYA

Pengharapan menjadi kaya.

DELIMA MERAH

Agar hidup keluarga rukun.

BELIMBING

Melambangkan ketajaman pikiran.

JERUK BALI

Melambangkan kebahagiaan.

TEBU WULUNG

Melambangkan keselamatan. (khas suku Hokkian)

SIU-MIE (MIE PANAJANG UMUR) ATAU LO-MIE

Melambangkan panjang umur dan hidup bahagia serta murah rezeki.

TO SO CIU

Arak yang dicampur dengan berbagai ramuan obat-obatan Tiongkok, disajikan bersama menikmati Siu-mie. Melambangkan kehangatan dalam keluarga dan kehidupan yang sehat.

Penutup dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek ini ada pada saat Cap Go Meh, dimana masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah biasanya menyajikan dan menyuguhkan Lontong Cap Go Meh.

Demikian makanan dan sesaji untuk perayaan Tahun Baru Imlek yang merupakan rangkaian upacara ritual dan sembahyang yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan khususnya kaum suku Hokkian di wilayah Jawa Tengah yang begitu beragam dan penuh dengan nilai-nilai filosofi yang tinggi.

Selamat menikmati bersama keluarga, sanak saudara, teman dan sahabat.

o GONG XI FA CAI

o SIN CUN KIONG HI, THIAM HOK THIAM SIU, BAN SU JI I

o SIN CIA JU I (TANG-TANG JU I)

o KHIONG HI KUO SIN NYAN

o KHUNG HEI FAT CHOY

o KONG HE SIN SHI

DA-DI-HUI-CHUN

TANAH LUAS MULAI SUBUR/BERSEMI

(JAGAD KEMBALI MAKMUR)

CHUN-LAI-NIAO-YÜ-HOA –XIAN DONG-JU-SHAN-MING-SHUI-XIU

MUSIM SEMI TIBA, MUSIM DINGIN PERGI BERLALU,

BURUNG MULAI BERKICAU, GUNUNG KELIHATAN JELAS,

BUNGA HARUM SEMERBAK. AIR KELIHATAN JERNIH.

“SELAMAT TAHUN BARU IMLEK“

1 CIA GWEE 2560

SEMOGA MAKMUR DAN SEJAHTERA

sumber: milis budaya tionghoa

POLITIK PEMERINTAH INDONESIA DAN ETNIK TIONGHOA


Politik Pemerintah Indonesia dan Etnik Tionghoa

Beberapa Perkembangan Terkini

(Eddie Lembong)

Tulisan ini dimaksudkan untuk membahas politik pemerintah Indonesia terhadap etnik Tionghoa terutama dalam hubungannya dengan keadaan dan perkembangan mutakhir. Tetapi sebagaimana ditunjuk oleh Wang Gungwu dalam salah satu bukunya, �Tidaklah mungkin memahami apa yang dipandang baru tanpa merujuk pada masa lalu.�[1] Karena itu sebelum membicarakan berbagai politik pemerintah, lebih dulu akan saya paparkan latar belakang sejarahnya.

Asal Mula Ketegangan Etnik

Sebelum dan Masa Penjajahan

Orang-orang Tionghoa datang ke berbagai tempat di Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya, jauh sebelum kehadiran kekuatan Barat. Sebagian di antara mereka terdiri dari pemeluk agama Islam. Jumlah mereka meningkat selama abad ke-15, secara kebetulan bersamaan dengan tujuh kali pelayaran muhibah (1405-1432) Laksamana Cheng Ho. Kelompok orang Tionghoa yang bergama Islam tersebut dengan mudah berasimilasi dengan penduduk Indonesia setempat tanpa timbul persoalan berarti.[2]

Sekalipun demikian posisi orang-orang Tionghoa mulai berubah setelah datangnya orang-orang Barat, terutama setelah orang Belanda membangun kekuasaan kolonial mereka. Pemerintah kolonial Belanda membagi penduduk Hindia Belanda (nama Indonesia di masa penjajahan Belanda) setidaknya ke dalam tiga kelompok rasial: Eropa (terutama Belanda), Timur asing (terutama Tionghoa) dan penduduk pribumi. Ketiga kelompok ini memainkan peran ekonomi yang berbeda-beda. Orang Belanda bergerak dalam bisnis perdagangan besar, orang-orang Tionghoa dalam perdagangan perantara antara penghasil dan pembeli, sedang kaum pribumi sebagai petani dan pedagang kecil asongan.[3]

Dari kenyataan tersebut maka Belanda telah menerapkan politik Divide et Impera alias politik pecah belah dan menguasai, politik untuk mendukung kekuasaan penjajahan. Mereka takut jika terdapat persatuan antar-ras yang berbeda itu yakni antara kelompok Tionghoa dengan kaum pribumi, hal itu dapat mengancam bahkan dapat mengakhiri kekuasaan kolonial.

Terpisahnya golongan ras yakni kelompok etnik Tionghoa di negara jajahan Indonesia merupakan suatu kenyataaan kehidupan.[4] Sementara itu kelompok Tionghoa sendiri setidaknya terbagi dalam golongan singkek atau totok dan peranakan (lahir di Indonesia dengan darah campuran). Kebangkitan nasionalisme Tiongkok pada permulaan abad ke-20 memberikan dampaknya terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia dengan orientasi baru dalam memandang Tiongkok. Sekolah-sekolah modern Tionghoa mulai didirikan, banyak anak-anak Tionghoa mulai mempelajari bahasa dan budaya Tionghoa. Gerakan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), sering dikenal sebagai gerakan Pan-Tionghoa, cepat berkembang.[5] Penguasa Belanda berusaha menekan �nasionalisme Tionghoa perantauan� ini dengan mengeluarkan peraturan kewarganegaraan Belanda serta mendirikan sekolah-sekolah Belanda dan pribumi bagi anak-anak Tionghoa.[6] Secara politik dan budaya kaum etnik Tionghoa terbelah.

Selama pendudukan tentara Jepang di Indonesia (1942-1945), penguasa Jepang menerapkan politik baru yang memperlakukan seluruh penduduk tanpa dibagi-bagi, hal ini berpengaruh juga terhadap kelompok etnik Tionghoa. Sekolah-sekolah Belanda tidak diizinkan lagi, semua anak Tionghoa dipaksa mempelajari bahasa Jepang dan Tionghoa.[7] Dengan demikian anak-anak kaum peranakan Tionghoa berada dalam proses �menjadi Tionghoa kembali� (resinicization).

Dalam bulan Agustus 1945 Jepang menyerah. Belanda datang dengan tujuan memulihkan kembali kekuasaan mereka di seluruh bekas Hindia Belanda. Kaum nasionalis menolak menerima mereka. Ketika terjadi bentrokan antara pribumi Indonesia dengan Belanda, golongan etnik Tionghoa terjepit di tengah. Di masa penjajahan, etnik Tionghoa berangsur-angsur berkembang menjadi minoritas pedagang yang bertempat di antara Belanda dan penduduk pribumi. Mereka sering dianggap oleh penduduk pribumi sebagai �binatang ekonomi� dan secara politik dianggap lebih dekat pada Belanda daripada kaum pribumi.

Selama revolusi bersenjata (1945-1950), pihak penguasa Belanda dengan sengaja menciptakan kesan bahwa orang Tionghoa berada di pihak mereka serta menentang kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian hal itu menimbulkan kebencian di antara kaum pribumi terhadap etnik Tionghoa. Serangkaian insiden anti-Cina meletus. Dalam kenyataannya situasi jauh lebih rumit, etnik Tionghoa bukanlah komunitas yang homogin, demikian halnya dengan masyarakat pribumi yang multi aspek.

Indonesia Merdeka

Politik Pemerintah dan Kekerasan Anti-Tionghoa

Masa Presiden Sukarno (1950-1965), Politik Diskriminasi Awal

Kalaulah etnik Tionghoa itu sebelum masa kemerdekaan bersifat heterogin, sesudah kemerdekaan mereka terbagi sama secara kultural dan ekonomi. Sekalipun demikian dalam ekonomi secara umum minoritas Tionghoa nampak tetap kuat, kalau tidak malah lebih kuat. Karena Republik muda itu dengan perlahan memusatkan diri pada pembangunan bangsa, tidak ada kejelasan tentang politik terhadap golongan Tionghoa. Di satu pihak pemerintah baru berkehendak memasukkan etnik Tionghoa juga ke dalam proses pembangunan bangsa. Akan tetapi di pihak lain, pemerintah menerapkan perlakukan diskriminatif, terutama di bidang ekonomi menghadapi minoritas etnik Tionghoa.

Terdapat dua peraturan pemerintah yang sangat jelas memberikan dampak pada politik ekonomi Indonesia. Salah satunya apa yang disebut sebagai Sistim Benteng yang diperkenalkan pada permulaan 1950-an yang melarang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa melakukan bisnis impor dan ekspor. Hal ini menyebabkan apa yang disebut dengan sistim Ali Baba, yakni orang-orang Tionghoa yang dilarang tersebut menggunakan orang pribumi untuk dipasang namanya di depan alias �kompanyon tidur� yang tidak kerja apa-apa. Yang kedua berbentuk PP No.10 tahun 1959 yang melarang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa melakukan perdagangan eceran di daerah pedesaan. Peraturan ini telah menyebabkan eksodusnya orang-orang Tionghoa dari pedalaman negeri ini, membuat ekonomi Indonesia kacau. Dua macam tindakan tersebut tidak membuat kekuatan ekonomi etnik Tionghoa menjadi lemah.[8]

Banyak pemimpin pribumi yang cemburu terhadap status ekonomi etnik Tionghoa juga melakukan kampanye perlawanan. Gerakan penentangan yang paling menonjol dipimpin oleh Assaat, salah seorang pemimpin Republik yang kemudian meloncat ke dalam bisnis.[9] Persoalan menjadi lebih rumit karena bergolaknya Perang Dingin antara kubu Barat berhadapan dengan kubu Komunis yang saling menjatuhkan. Golongan etnik Tionghoa sering digambarkan dengan tuduhan sebagai �kaki tangan� Tiongkok Komunis. Sesungguhnyalah banyak kekerasan anti-Cina termasuk sejumlah kerusuhan dalam periode ini dipicu oleh politik, hal itu merupakan juga manifestasi dari rasa tidak puas terhadap kelompok minoritas tersebut.

Masa Suharto (1966-1998)

Pada 1966 Jenderal Suharto menjadi penguasa baru Indonesia yang memerintah negeri ini selama 32 tahun. Sukarno yang anti-kolonialis itu kemudian dijatuhkan oleh kaum militer Indonesia yang pro-Barat. PKI juga disapu bersih dari percaturan kekuasaan politik Indonesia.

Politik Suharto terhadap etnik Tionghoa mengandung dua dimensi: budaya dan ekonomi. Dalam bidang budaya ia memperkenalkan politik asimilasi total dengan menghapuskan tiga pilar budaya Tionghoa, yakni sekolah, organisasi dan media Tionghoa. Dalam bidang ekonomi penguasa baru ini memberikan kesempatan kepada etnik Tionghoa. Hal ini berhubungan dengan strategi besarnya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan Indonesia untuk memberikan legitimasi kekuasaannya. Dengan begitu ia membuka pintu Indonesia serta menerapkan politik pro-bisnis. Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa jelas sangat bermanfaat dalam bidang ekonomi, maka ia menggiringnya ke arah itu, sedang secara politik mereka dicurigai. Sementara di bidang ekonomi etnik Tionghoa dapat menikmati kebebasan, tetapi di bidang politik mereka didiskriminasikan. Akibat yang tidak direncanakan dari politik ini ialah meningkatnya kekuatan ekonomi etnik Tionghoa. Pada saat yang sama secara politik mereka menjadi sangat rentan terhadap serangan, keamanan mereka berada di tangan penguasa pribumi. Sejumlah peristiwa anti-Cina setiap kali terjadi, umumnya dalam skala kecil.

Krisis ekonomi pada 1997 menyebabkan timbulnya kerusuhan tahun berikutnya. Kerusuhan dalam skala besar � beberapa di antaranya direkayasa dengan sengaja � kekerasan anti-Cina meledak di Jakarta, Sala dan beberapa kota besar Indonesia lainnya.[10] Kerusuhan bulan Mei 1998 ini berbeda dari peristiwa kekerasan sebelumnya, bukan saja berupa penjarahan, pembunuhan dan pembakaran harta benda, tetapi juga terjadinya perkosaan sistimatik terhadap kaum perempuan Tionghoa. Kekerasan itu punya motif politik, dalam beberapa hal berhubungan dengan persaingan kekuasaan. Hal ini telah meninggalkan lembaran hitam dalam sejarah Indonesia.

Setelah kerusuhan Mei 1998, situasi begitu porak poranda, akhirnya Suharto dipaksa turun panggung dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Habibie yang memimpin pemerintahan pertama setelah lengsernya Suharto.

Era Reformasi:

Perubahan Politik dan Kemajuan Posisi Etnik Tionghoa (1998-kini)

Masa setelah era Suharto terjadi bersamaan dengan perubahan dunia internasional. Terjadi globalisasi dan demokratisasi yang berdampak terhadap Indonesia dan banyak bagian dunia lainnya. Citra negeri Tiongkok juga telah berubah, negara itu tidak lagi dipandang sebagai pengekspor �revolusi�, tetapi mereka dipandang sebagai negara yang menghendaki situasi status quo.

Perlu dicatat bahwa Perang Dingin telah berakhir pada 1989/1990, ideologi Komunisme tidak lagi menjadi masalah dalam hubungan Indonesia-Tiongkok. Bahkan selama bagian terakhir kekuasaan Suharto, hubungan Indonesia-Tiongkok mengalami kemajuan, tetapi kejatuhan Suharto memicu kecepatan proses hubungan baik.

Bangkitnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi tidak saja punya pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga punya dampak ke seluruh dunia. Kekuatan ekonomi Tiongkok tidak lagi dapat diremehkan, �kekuatan perangkat lunak� (soft power) mereka disambut baik secara luas.

Di Indonesia telah terjadi demokratisasi. Terdapat juga kemajuan fundamental secara bertahap dalam bidang hukum dan status politik etnik Tionghoa. Kemajuan ini sebagai dampak dari perubahan situasi Indonesia maupun internasional yang terjadi sebelumnya. Pemerintah baru menyadari bahwa guna meningkatkan kondisi ekonomi Indonesia, partisipasi etnik Tionghoa sangat menentukan. Pemerintah Indonesia pasca Suharto telah menerapkan berbagai tindakan yang memberikan juga peluang bagi kaum etnik Tionghoa. Ada manfaatnya untuk meninjau langkah-langkah politik tersebut.

Masa Presiden Habibie

Habibie mengeluarkan Instruksi Presiden No.26/1998 yang mencabut penggunaan istilah pribumi dan non-pribumi. Selama kekuasaan Suharto kedua istilah ini dengan bebasnya digunakan oleh media massa untuk merujuk berturut-turut pada orang �Indonesia asli� dan �Indonesia keturunan Cina�, pada saat itu berbagai peraturan pemerintah bagi keuntungan golongan pertama.

Masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Habibie digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999 melalui pemilihan umum. Selama pemerintahannya, Gus Dur mengeluarkan Peraturan Presiden No.6/2000 yang mencabut Instruksi Presiden No.14/1967 yang jahat itu yang dikeluarkan pemerintahan Suharto. Inpres itu melarang segala bentuk ekspresi agama dan adat Tionghoa di tempat umum. Dengan pencabutan larangan tersebut maka terbuka jalan bagi etnik Tionghoa untuk menghidupkan budaya tradisional mereka.

Dalam tahun 2000, Gus Dur juga mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional sukarela. Selama kekuasaan Suharto, tahun baru itu tidak dirayakan, etnik Tionghoa dilarang merayakannya secara terbuka. Toko-toko milik etnik Tionghoa dilarang tutup dalam Tahun Baru Imlek.

Masa Presiden Megawati

Gus Dur tidak sampai menyelesaikan masa kepresidenannya dan digantikan oleh wakilnya, Megawati Sukarnoputri. Megawati memaklumkan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional, berlaku mulai 2 Februari 2003. Hal ini tidak berubah sampai pergantian presiden berikutnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Pada 2004, SBY dipilih sebagai presiden baru. Selama pemerintahannya telah dikeluarkan dua undang-undang penting, UU No.12/2006 tentang kewarganegaraan Indonesia dan UU No.23/2006 tentang pendaftaran penduduk. Dr Frans Hendra Winarta telah membahas kedua undang-undang ini secara mendalam (dalam buku yang memuat artikel ini). Sekalipun demikian saya hendak menyampaikannya secara singkat bahwa undang-undang kewarganegaraan baru ini telah menyerap prinsip-prinsip demokrasi. Sedang undang-undang tentang kependudukan dengan menggunakan konsep dasar nasional dan bukan etnik dalam pendaftaran penduduk Indonesia.

Perkembangan selama Masa Reformasi sangat memberikan harapan. Berbagai peraturan pemerintah dalam hubungannya dengan masalah etnik Tionghoa menggunakan pendekatan demokratis dan multikultural, dengan sudut pandang guna lebih memakmurkan Indonesia. Saya pribadi percaya multikulturalisme akan bermanfaat bagi Indonesia melalui peneyerbukan silang budaya.

Sebenarnyalah budaya Tionghoa di Indonesia mulai hidup kembali dalam masa pasca Suharto yang dibuktikan dengan pemulihan kembali tiga pilar budaya Tionghoa. Mari kita tengok secara singkat tiga pilar itu.

Pemulihan Kembali Tiga Pilar Budaya Tionghoa

Media

Era Reformasi telah membawa permulaan baru bagi media Tionghoa. Telah muncul kembali tidak kurang dari delapan koran berbahasa Tionghoa seperti Guoji Ribao, Shang Bao dsb. Tetapi hampir separonya telah tutup karena kurangnya iklan dan pembaca. Untuk gambaran rinci tentang media Tionghoa, lihat bahasan Dr Aimee Dawis dalam buku yang memuat artikel ini. Perlu dicatat juga telah dihidupkannya kembali radio dalam bahasa Tionghoa serta siaran televisi dalam bahasa Mandarin seperti Metro Xinwen di Jakarta.

Pendidikan Tionghoa

Sekolah Tionghoa seperti sebelum Orde Baru tidaklah dihidupkan kembali, akan tetapi telah dibuka sekolah-sekolah dengan dwi-bahasa dan tri-bahasa. Pelajaran bahasa Mandarin diizinkan di berbagai sekolah, memberikan kesan akan kebangkitan kembali budaya Tionghoa. Untuk bahasan rinci tentang pendidikan Tionghoa, baca tulisan Aimee Dawis.

Organisasi Etnik Tionghoa[11]

Komunitas Tionghoa telah juga memanfaatkan iklim demokrasi dengan membentuk partai politik etnik Tionghoa seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti) dan Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (PBI), meskipun dewasa ini tidak aktif.

Nampaknya orang Indonesia suku Tionghoa lebih memilih bergabung dengan partai-partai yang didominasi suku pribumi daripada memilih partai suku Tionghoa. Di pihak lain mereka lebih suka bergabung dengan organisasi sosial dan budaya Tionghoa. Sementara orang mengatakan setidaknya terdapat 400 organisasi semacam itu, termasuk yang didasarkan pada provinsi atau wilayah (baik di Tiongkok maupun di Indonesia ), atau berdasar klan/keluarga/ marga, agama Tionghoa, hobi dan alumni. Sekalipun demikian sebagian besar organisasi itu bersifat lokal, kecuali dua yang bersifat nasional yakni Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), belakangan dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia Keturunan Tionghoa.

Organisasi Bisnis

Sesudah kejatuhan Suharto, kalangan bisnis Tionghoa juga membentuk organisasinya sendiri. Setidaknya terdapat empat organisasi bisnis, baik yang didominasi oleh etnik Tionghoa, atau adanya partisipasi kuat dari kalangan suku Tionghoa: (1) Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial & Budaya Indonesia-China (LIC); (2) Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT); (3) Persatuan Pengusaha Indonesia-Tionghoa (PERPIT); dan (4) Indonesia -China Business Council (ICBC).

Munculnya organisasi-organisa si bisnis ini bertepatan waktunya dengan berakhirnya Perang Dingin dan merebaknya globalisasi. Baik situasi dalam negeri maupun iklim internasional memungkinkan perkembangan semacam itu. Berbeda dengan masa Suharto yang sering menganggap pembangunan hubungan ekonomi dan investasi ke Tiongkok sebagai bertentangan dengan kepentingan Jakarta , kini melakukan bisnis dengan Tiongkok dipandang sebagai bermanfaat bagi kedua pihak. Organisasi-organisa si bisnis tersebut jelas memberikan sumbangannya dalam percepatan perkembangan hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Tiongkok.

Catatan Kesimpulan

Terlihat jelas bahwa politik pemerintah Indonesia terhadap etnik Tonghoa banyak mengalami perubahan sejak tercapainya kemerdekaan. Di waktu lampau banyak undang-undang dan peraturan yang tidak menguntungkan etnik Tionghoa. Tetapi sejak jatuhnya Suharto dalam masa reformasi telah banyak membawakan perubahan – politik, budaya dan hukum � yang bermanfaat bagi suku Tionghoa.

Orang-orang suku Tionghoa tidak lagi dipaksa melakukan asimilasi, mereka tetap boleh memelihara budaya dan identitas etnik, tetapi diharapkan berintegrasi dalam masyarakat Indonesia yang lebih besar. Iklim yang lebih maju ini akan berlanjut menjadi dorongan bagi suku Tionghoa untuk bekerja bagi Indonesia yang lebih baik.


[1] Wang Gungwu , China and the Chinese Overseas, Singapore , Times Academic Press, 1991:vii.

[2] Chen Dasheng (Tan Ta Sen), �Zheng He, Dongnanya De Huijiao Yu �San Bo Long Ji Jing Li Wen Biannianshi�� (Cheng Ho, Kaum Muslim Asia Tenggara, dan �Catatan Perjalanan Melayu, Semarang dan Cirebon�), dalam Zheng He yu Dongnanya (Cheng Ho dan Asia Tenggara), editor Liao Jianyu (Leo Suryadinata) , Singapore International Zheng He Society, 2005:52-83; Sumanto Al Qartuby, Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara abad XVI,Yogyakarta, Inspeal Ahimsakarya Press, 2003.

[3] WF Wertheim, �Social Change in Java, 1900-1930�, dalam East-West Parallels, The Hague, W Van Hoeve Ltd, 1964:211-237.

[4] Lea A Williams, Overseas Chinese Nationalism: The Genesis of the Pan-Chinese Movement in Indonesia , 1900-1916, Glencoe, Free Press, 1960:13-16.

[5] Idem:54-113.

[6] William Skinner, �Java�s Chinese Minority: Continuity and Change�, Journal of Asian Studies 20, No.3, 1961:353-362.

[7] Li Quanshou (Lie Tjwan Sioe), �Yindunixia Huaqiao Jiaoyu Shi� (Sejarah Pendidikan Tionghoa Perantauan di Indonesia), Nanyang Xuebao 15, No.1-2, 1959.

[8] Uraian ringkas kedua peraturan ini, lihat Leo Suryadinata, Indigenous Indonesians, the Chinese Minority and China : A Study of Perceptions and Policies, Kualalumpur dan London , Heinemann Asia, 1978:129-153.

[9] Lihat Leo Suryadinata, Pribumi Indonesians, the Chinese Minority and China : A Study of perceptions and Policies, Kualalumpur , Singapore dan London , Heinemann Asia, 1978:25-28.

[10] Banyak penerbitan seputar kekerasan anti-Cina Mei 1998, seperti Jemma Purdy, Anti-Chinese Violence in Indonesia 1996-1999, National University Press of Singapore, 2006; Kerusuhan Mei 1998, Data dan Analisa: Mengangkap Kerusuhan Mei 1998 Sebagai Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, Jakarta, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, 2007.

[11] Uraian singkat tentang organisasi etnik Tionghoa sesudah kejatuhan Suharto, lihat Leo Suryadinata, �Resurgence of Ethnic Chinese Identity in Post-Suharto� s Indonesia : Some Reflections�, Asian Culture 31, Juni 2007.

Penerjemah: Harsutejo

Dari Leo Suryadinata (ed), Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia, Chinese Heritage Centre & Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2008 (?).


Paus Mengirim Bantuan ke Gaza


Paus Benediktus XVI Kirim Bantuan ke Gaza

[Kompas 19/1]Ribuan orang yang melambaikan bendera Palestina berbaris melalui Roma, Sabtu, dalam demonstrasi menentang agresi Israel di Gaza. Beberapa dari demonstran memegang spanduk dengan swastika Nazi yang dilapiskan pada Bintang David.

Demonstran yang lain membawa foto besar anak-anak Palestina yang tewas sejak Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza pada 27 Desember. Sebuah spanduk besar yang berbunyi “Hidup, tanah dan kebebasan untuk rakyat Palestina” berada di barisan paling depan.

Demonstrasi lainnya untuk perdamaian di Gaza berlangsung di Assisi, kota di Italia tengah, tempat St Francis lahir. Vatikan, sementara itu, mengumumkan bahwa Paus Benedictus XVI telah mengirim sejumlah uang tak ditentukan banyaknya dari dana amal pribadinya untuk membantu penduduk di Gaza.
ABI

Sumber: http://mirifica .net/printPage.php?aid=5547