Masalah adalah Hadiah


*Masalah adalah Hadiah*

[?][?][?][?] [?][?]

Masalah adalah Hadiah

Bila anda menganggap masalah sebagai beban,
anda mungkin
akan menghindarinya.

Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan,
anda mungkin akan menghadapinya.

Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima
dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat
keberhasilan di balik setiap masalah.

Itu adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.

Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.

Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah
sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang
pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi.

Bukan pula, eraman hangat dimalam-malam yang dingin.

Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing
yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap
induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan,
matilah aku.

Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima,
namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.

Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kan
menjadi seseorang yang sejati

Sumber : Anonymous

Politisasi Agama Masih Menjadi Isu Krusial Tahun 2009


Untuk pertama kalinya Center for Studies and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada (CRCS UGM) melakukan riset dan menerbitkan laporan tahunan tentang kehidupan beragama di Indonesia, khususnya menyangkut pluralisme beragama sepanjang tahun 2008.

Sepanjang ahun 2008 kehidupan relasi keagamaan di Indonesia masih banyak diwarnai oleh praktik-praktik kekerasan, dan keberadaan SKB dirasa tidak terlalu efektif dalam pelaksanaannya.

Konflik -konflik kekerasan yang diwarnai oleh kekerasan internal agama sendiri yang justru lebih dominan terjadi. Upaya pemerintah untuk memfasilitasi dialog patut mendapat apresiasi dan perlu dilanjutkan lebih maksimal lagi.

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno dalam ruang diskusi panel (9/1) lalu di Aula Nurcholis Madjid, Jakarta, mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai baik dalam mengatasi terosrisme tetapi Indonesia belum berhasil mengatasi masalah teologi.

Franz juga menanyakan tentang tendensi kearah manakah Indonesia ini ke depannya dan apa yang harus kita lakukan.

Melihat adanya kecenderungan pemerintahan yang berbau syariah, dinilai mengkhawtirkan dan menimbulkan keresahan bagi kelompok minoritas apakah Indonesia akan tetap menjadi ranah bagi agama-agama yang berbeda atau tidak?”ujar Franz.

Sekalipun dalam kehidupan toleransi dan keterbukaan tetapi dalam praktiknya masih terselip ketakutan dan kecurigaan terhadap kelompok minoritas, melihat hal tersebut pemerintah dianggap masih belum melakukan tugasnya dengan baik.

Terkait dengan konflik internal agama yang marak terjadi Franz berpendapat bahwa masing-masing agama berhak menarik batas-batasnya akan tetapi tetap harus menghormati mereka yang berbeda agama, untuk itu peranan pemimpin sangat penting untuk memberikan panutan.
Yoseph Stanley (Komnas HAM) mengatakan bahwa pemerintah jangan terlalu banyak mengintervensi warga negara.

Menurutnya, pemerintah dalam setiap ucapannya cenderung menuntut kewajiban asasi masyarakatnya tanpa melihat bahwa merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk mengurusi masyarakat negaranya.

Menurutnya, dalam beberapa kasus pelanggaran HAM yang terjadi , pemerintah punya hak untuk melakukan pembatasan akan tetapi tetap berdaulat dan bersifat adhoc.

Pemerintah berhak melakukan pembatasan bahkan mengehntikan apabila dinilai dapat membahayakan jiwa masyarakatnya seperti contoh kasus ajaran sesat yang menyatakan bahwa tanggal 6 Juni 2006 merupakan hari kiamat tahun 2006, dalam hal ini pemerintah berhak untuk menghentikan ajaran tersebut.

Kasus konflik keagamaan seputar keberadaan rumah ibadah masih banyak terjadi sepanjang tahun 2008. Dalam catatan riset CRCS tercatat setidaknya terdapat 12 kasus yan menyangkut masalah keberadaan rumah ibadah sepanjang tahun 2008. Kasus-kasus yang senyatanya terjadi bisa lebih dari jumlah tersebut.

Lebih lanjut Zainal Abidin Bagir selaku Presiden Eksekutif CRCS UGM mengatakan bahwa politisasi agama masih menjadi isu yang perlu diperhatikan baik menyangkut jabatan tertentu di dalam birokrasi pemerintah, Pilkada dan Pemilu tahun 2009. Indikator terjadi atau tidaknya politisasi agama mesti dimasukkan sebagai poin dalam indicator fairness sistem monitoring Pemilu 2009. Gerakan untuk menguji dan mendesak para kandidat dewan, wakil daerah dan calon presiden-wakil presiden apakah mereka siap untuk memperjuangkan kebebasan beragama dan anti-kekerasan patut dipertimbangkan menjadi isu strategis,”ujarnya.

Kesimpulan dari hasil laporan tersebut adalah bahwa perluanya mensinkronkan pemenuhan kebebasan beragama dan pembatasannya, tanpa itu maka akan banyak terjadi kriminalisasi praktik-praktik ekspansi keagamaan.

Dalam laporannya CRCS UGM berusaha menghindari pemunculan angka tanpa memberikan konteks peristiwa yang bisa berujung pada kesalahpahaman, dan laporan ini juga berusaha menggambarkan pluralisme sivik bukan pluralisme ala MUI, yaitu menyangkut pembuatan kebijakan dan penegakan hukum dalam soal-soal hubungan sosial kelompok-kelompok agama, dan juga bagaimana kelompok masyarakat yang berbeda agama berhubungan satu sama lain secara negatif atau positif.


Maria F
Reporter Kristiani Pos

Sumber: http://id.christianpost. com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=society&id=1065

Sia-sialah Mengirim Relawan untuk berjihad ke Gaza


Tak Ada Artinya Kirim Relawan ke Gaza, Kata Mubaligh Kondang


Palu (ANTARA News) – Seorang mubaligh kondang asal Palu mengatakan tidak ada artinya organisasi sosial-kemasyarakatan di Tanah Air mengirimkan relawan untuk berjihad ke Palestina guna membela umat Islam di sana yang sedang teraniaya.

“Ide ini memang cukup bagus. Tapi tidak ada artinya kirim relawan yang baru belajar seluk-beluk perang, terlebih hanya bermodalkan kuntau, silat, dan karate,” kata Jamaluddin Hadi ketika berorasi pada acara Tabligh Akbar Untuk Solidaritas Rakyat Palestina di Palu, Ahad.

Menurut dia, untuk pengiriman relawan tanpa keahlian perang, sama artinya ‘menyetor jiwa’ yang tidak ada hasilnya dalam membela warga Palestina yang setiap hari dibayangi ancaman maut.

Sebab, yang dihadapi di sana adalah mesin-mesin perang canggih yang dipergunakan tentara Israel dan sekali ditembakkan sampai mengguncang wilayah dalam radius satu kilometer.

Karena itu, Hadi yang mantan tahanan politik di Zaman Orde Baru itu menyarankan dalam membantu menghentikan pembantaian umat manusia di Bumi Palestina, sudah saatnya pemerintah Indonesia mengirimkan militer beserta perlengkapan perang di sana.

Selain itu, pemerintah di negeri ini perlu mendorong negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu dan secara bersama-sama mengangkat senjata dalam menghadapi kebiadaban tentara Zionis Israel.

“Saya kira hanya dengan cara ini yang bisa menghentikan darah Umat Islam terus tertumpa sia-sia di bumi Palestina, sebab kita tidak bisa berharap lagi kepada PBB karena badan dunia itu telah dikuasai Amerika Serikat yang menjadi sekutu sejati Israel,” kata dia.

Khusus kepada umat Islam di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulteng, menurut Hadi, yang bisa dilakukan dalam membela rakyat Palestina yang lagi tertindas yaitu dengan cara terus memanjatkan doa keselamatan, mengirimkan bantuan kemanusiaan, serta memboikot seluruh produk dagang Israel dan Amerika Serikat.

“Dengan tidak membeli Coca Cola, Aqua, dan Nokia, berarti anda dengan sendirinya sudah membantu mengurangi tekanan serta beban penderitaan yang dialami rakyat Palestina, sebab produk-produk itu memiliki keterkaitan erat dengan bisnis Israel dan Amerika Serikat,” tuturnya.

Himbauan melakukan doa sesering mungkin, mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina, serta memboikot produk dagang berbau Israel dan Amerika Serikat juga disampaikan mantan Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPMRI), Dr Najamuddin Ramli, dan Ketua DPW Hizbut Tahrir Indonesia Sulteng. Ir Amuruddin MSi.

Kedua mubaligh muda ini juga tampil memberikan orasi di hadapan ratusan jemaah Tabligh Akbar Untuk Solidaritas Rakyat Palestina yang digelar BKPRMI Sulteng di Lapangan GOR Palu pada Ahad pagi hingga siang harinya.

“Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus bersatu menghentikan aksi brutal tentara zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Kalau tidak mengangkat senjata, berilah pertolongan dengan doa dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, hingga memboikot semua produk datang dari semua negara yang mendukung tindakan tentara Israel,” kata Najamuddin Ramli menambahkan.

Dalam aksi solidaritas itu, panitia penyelenggara berhasil mengumpulkan dana bantuan kemanusiaan jutaan rupiah dari para jemaah yang rencananya akan dikirimkan kepada rakyat Palestina melalui saluran resmi yang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia.  (*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

PubDate: 11/01/09 14:49

Sumber: http://antara. co.id/print/?i=1231660176