MENYELESAIKAN KONFLIK DI LINGKUNGAN KERJA


Ada banyak hal yang bisa memicu konflik di lingkungan kerja, mulai yang terkait dengan tugas dan pekerjaan sampai ke masalah pribadi. Keadaan ini tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan saat beraktivitas di kantor, dan bukan sesuatu yang mustahil kalau berbuntut pada menurunnya produktivitas.

Agar tidak semakin berlarut-larut dan malah merambat ke mana-mana, maka sudah sepatutnya kalau hal ini segera diselesaikan dengan beberapa pendekatan diantaranya:

1. Mengajak orang yang bersangkutan (terlibat konflik) untuk bicara empat mata di tempat yang jauh dari keramaian. Dengan demikian anda dan lawan bicara bisa lebih bebas mengemukakan isi hati dan pikiran tanpa takut terganggu suasana sekitar.
2. Saat berbicara, usahakan untuk tetap tenang dan jangan terbawa emosi. Ungkapkan isi hati dan pikiran dengan tenang dan sopan. Satu hal yang perlu diingat adalah mendasarkan semua ucapan berdasarkan fakta atau kenyataan, bukan atas dasar gossip atau asumsi pribadi. Jika tidak, bukannya menyelesaikan masalah, anda malah dapat memperuncing atau menambah masalah.
3. Perhatikan pula ekspresi dan bahasa tubuh anda saat berbicara. Jangan biarkan, misalnya, anda tidak menatap lawan bicara atau menunjukkan mimik wajah cemberut. Bahasa tubuh yang tepat tentu akan mendukung niat baik anda untuk berdamai.
4. Dengarkan dengan baik saat rekan anda berbicara dan jangan potong pembicaraan agar pesan yang hendak disampaikan bisa diterima dengan baik. Usahakan untuk berempati, sehingga anda tidak melihat masalah melulu dari sudut pandang anda.
5. Setelah masing-masing mengungkapkan isi hati dan pikirannya, cobalah untuk memberi satu solusi yang sifatnya fleksibel dan terbuka sehingga jalan tengah atas masalah yang dihadapi bisa tercapai. Jangan lupa di sini anda juga dituntut untuk tenang.
6. Kalau masalah belum juga selesai, ada baiknya untuk berkonsultasi kepada atasan anda, tentunya dengan tidak menjelek-jelekkan rekan anda sendiri. Toh semua ini demi kebaikan anda sendiri. (ASP/Klasika/Kompas/6/11/2008).

Paus Peringatkan ‘Ancaman Homoseksual’


Paus Peringatkan ‘Ancaman Homoseksual’

[Kompas 23/12/08]Menyelamatkan dunia dari kaum homoseksual dan transjender sama pentingnya dengan melindungi hutan tropis.

Demikian peringatan Paus Benediktus XVI tentang “ancaman homoseksual” pada pertemuan rohaniwan Gereja Katolik menjelang perayaan Natal, Senin (22/12) waktu setempat.

“Hutan tropis layak dilindungi, tetapi manusia sebagai makhluk hidup juga pantas diselamatkan,” tandas Sri Paus. Menurut Paus Benediktus, setiap insan wajib memahami hakikat penciptaan manusia, termasuk kodrat pria dan wanita. Paus menyebut hubungan homoseksual sebagai pemusnahan karya Tuhan.

ONO

Sumber: http://mirifica.net/printPage.php?aid=5533

Malaysia Cabut Larangan Koran Katolik Versi Melayu


Malaysia Cabut Larangan Koran Katolik Versi Melayu

[Kompas 09/01/09] Pemerintah Malaysia mencabut larangan atas versi bahasa Melayu surat kabar utama Katolik negara itu.

Asalkan koran mingguan itu menghentikan panggunaan kata “Allah” dalam mengacu pada Tuhan Kristen. Demikian dikatakan Che Din Yusoh, pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia, kepada Associated Press.

Kementerian Dalam Negeri Malaysia sebelumnya melarang penerbitan versi Melayu The Herald pekan lalu dengan menuduhnya melanggar larangan tahun 2007 atas penggunaan kata “Allah”. Mingguan Katolik itu telah mengajukan gugatan atas larangan itu ke pengadilan.

Pimpinan redaksi The Herald Pastor Lawrence Andrew, Kamis (8/1), mengatakan, pemerintah tidak berhak memberlakukan syarat sebelum pengadilan mengeluarkan keputusan.

Pemerintah mengatakan, penggunaan kata “Allah” di luar konteks Islam dapat membingungkan kalangan Muslim. The Herald mengatakan, Melayu adalah bahasa nasional negara itu dan bahwa “Allah” adalah satu-satunya kata Melayu bagi Tuhan. Surat kabar itu juga terbit dalam bahasa Inggris, Tionghoa, dan Tamil.

ONO

Sumber: http://mirifica. net/printPage.php?aid=5531

Kardinal Darmaatmadja: Serangan ke Gaza Pantas Disesalkan


Kardinal Darmaatmadja: Serangan ke Gaza Pantas Disesalkan

[Kompas 01/01/09] Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menyesalkan penyerangan Israel ke Jalur Gaza sehingga menewaskan ratusan orang. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan ajaran agama apapun termasuk Katolik.
“Semua kejadian yang menyebabkan korban pantas untuk disesalkan dan selayaknya untuk setiap masalah jangan saling belas-membalas karena tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (1/1). Ia menganjurkan setiap manusia untuk menahan diri dan menyelesaikan semua masalah dengan duduk bersama dan saling menghormati sehingga tercipta perdamaian.

Untuk mencapai itu, lanjut Uskup, dibutuhkan kesadaran dari semua pihak untuk dapat memandang persoalan secara jernih dan tidak mendahulukan emosi. “Hormati tidap ciptaan Tuhan termasuk semua manusia walaupun berbeda agama agar perdamaian tercipta di muka Bumi,” tegas Uskup.

Terkait hal tersebut, Uskup menjelaskan di dalam ajaran Katolik tidak dibenarkan bagi seorang umat untuk melakukan dendam serta saling membunuh. Ada tiga ajaran yang harus dilakukan umat Nasrani untuk menggantikan dan membatasi sikap egoistis seseorang, yakni berbuat keadilan, saling berbuat kejujuran, dan melakukan kebenaran.

Selain itu, Uskup juga mengatakan bahwa setiap umat Nasrani harus menghormati segala yang diciptakan oleh Tuhan dan tidak dibenarkan untuk merusak ciptaaanya. “Bila seseorang beribadah kepada Tuhan dengan khusyuk namun dia juga melakukan perusakan terhadap ciptaannya apalagi sampai saling membunuh sesama manusia, maka sama saja dia tidak melakukan ibadah,” jelasnya.

Uskup Kardinal Darmaatmadja SJ menyampaikan keprihatinan tersebut di sela-sela open house bersama umat Katolik yang digelar di aula gereja Katedral Jakarta usai misa tahun baru. Sebelumnya, Uskup memimpin misa tahun baru yang dihadiri sekitar 1500 umat Katolik sejak npukul 17.00-19.00. Tema perayaan yang diambil kali ini membawa damai sejahtera bagi dunia.
Sumber: http://mirifica.net/printPage.php?aid=5529