Paus Pertanyakan Kejelasan Arah Dalam Dialog Antar Agama

Paus Pertanyakan Kejelasan Arah Dalam Dialog Antar Agama

 

Paus Benedict XVI mempertanyakan arah tujuan terkini dari dialog antar agama yang diadakan pada Minggu (23/11) lalu, namun demikian Paus tetap menganggap bahwa pembicaraan antar kelompok beragama masih tetap diperlukan meskipun perlu adanya beberapa perubahan.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para politikus Italia dan cendikiawan Marcello Pera, yang mana dalam waktu dekat akan segera meluncurkan bukun berjudul Why We Must Call Ourselves Christian, dalam komentarnya terhadap buku tersebut, Paus mengatakan bahwa buku tersebut “menjelaskan dengan sangat gamblang” bahwa sebuah dialog antar agama dengan suatu pemahaman yang keras tidaklah mungkin dapat terjadi,” menurut surat kabar New York Times.

Dalam buku Pera tersebut, dikemukakan bahwa Eropa diakui sebagai cikal bakal dari Kristiani, dan merupakan suatu topik yang mana Benedict inginkan agar hal tersebut dikupas di Eropa dimana saat ini tingkat sekularitasnya makin meningkat.

Paus mengatakan bahwa “sebuah dialog tidak mungkin terjadi tanpa menempatkan rasa saling percaya dalam suatu lingkup tertentu,” sebagaimana ditulis dalam sebuah surat yang dicetak pada Minggu lalu di Corriere della Sera, sebuah surat kabar terkemuka di Italia.

Meskipun demikian, katanya “dialog antar budaya yang membahas secara mendalam mengenai konsekuensi dasar dari budaya” merupakan hal yang penting untuk dibicarakan “dalam suatu forum publik mengenai dampak kebudayaan terhadap keputusan-keputusan dasar agama.

Juru bicara Vatikan, Rev. Federico Lombardi kemudian menjelaskan bahwa komentar Paus tersebut bertujuan untuk meningkatkan minat terhadap Buku Pera, dan bukan suatu tanda adanya perubahan hati dan minat Vatikan terhadap dialog antar agama.

“Kepausannya selama ini dikenal aktif dalam mengupayakan terwujudnya dialog antar agama; antara lain Paus megunjungi Mesjid, dan juga pernah mengunjungi Sinagog-sinagog,”ujar Lombardi. “Hal ini berarti bahwa Paus berpikir bahwa kita dapat bertemu dan bicara dengan yang lain serta dapat menjalin sebuah hubungan yang positif.”

Sementara itu, beberapa cendikiawan berpendapat bahwa komentar Paus tersebut merupakan suatu upaya untuk memberi tekanan terhadap dialog antar agama untuk dapat lebih mengarah kepada praktek bukan hanya sekedar teori.

“Paus berusaha agar dialog antara Katolik-Islam dapat menyingkirkan berbagai awan teori dan turun untuk memakukannya: bagaimana mugkin kita dapat tahu yang benar tentang bagaimana kita dapat berpikir untuk bisa hidup bersama dengan begitu saja, sekalipun memiliki dasar kepercayaan yang berbeda?” kata George Weigel, seorang cendikiawan Katolik dan penulis biografi tentang Paus Yohanes Paulus II.

Pada awal November Vatikan menjadi tuan rumah suatu pertemuan dialog antar agama yang bersejarah antara kaum cendikiawan Muslim dan pemerintah Katolik. Para peserta dalam dialog Vatikan tersebut berdiskusi mengenai perbedaan pemahaman dalam ayat-ayat kitab suci, saling berbagi nilai-nilai moral, saling menghormati satu sama lain sebagai suatu dasar sikap menghargai kepercayaan satu dengan lainnya, kebebasan beragama, dan juga mengenai penganiayaan terhadap kelompok minoritas di Irak.

Para pemimpin agama yang ikut serta dalam pertemuan yang diadakan pertama kalinya tersebut berharap dengan adanya pertemuan tersebut dapat melunakkan ketegangan yang terus menerus meningkat antara Kristiani dan Islam.

Acara serupa juga diadakan oleh Uskup Agung Canterbury yang juga menyelenggarakan sebuah konferensi Muslim-Kristiani pada tahun ini, dimana para pemimpin baik dari Muslim dan Kristiani sepakat mengecam penganiayaan terhadap Kristiani di Irak.

>

Ethan Cole
Kontributor Kristiani Pos

Diperoleh dari: http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=europe&id=254

Iklan

2 Tanggapan

  1. Salam manis Allah,

    bagus lah masih ada forum2 dialog antar agama,
    awan sendiri juga pemerhati di dalam tema ini lho.. hehe..

    met kenal semua..

  2. Kebencian dan kurang pengetahuan adalah momok utama dalam dialog hal-hal yang berseberangan jika bisa menghilangkan rasa benci, mau belajar, mendengar, dan jujur. dialog baru bisa dimulai. yang jelas dialog itu bukan untuk menang atau kalah, atau yang kuat menguasai yang lemah karena selama ini yang terjadi adalah demikian, akhirnya dialog itupun jadi sia-sia bahkan pertikaian barulah yang tercipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: