CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo & L.B. Moerdani


oleh : Dr. George J. Aditjondro

Tulisan ini pernah disiarkan oleh Aditjondro melalui jaringan
internet. Karena isinya aktual berkenaan dengan krisis moneter,
walaupun tidak semua isinya disetujui redaksi, tetapi ada perlunya
masyarakat mengetahui yang ditulis Aditjondro ini.

Pada salah satu seminar membicarakan pemilu di kantor CSIS di Tanah
Abang, Jakarta, tanggal 3 September 1996, Panda Nababan, seorang
wartawan senior Jakarta, tiba-tiba angkat bicara. Dengan tenang Panda
Nababan menuduh CSIS sebagai pusat tempat dirumuskannya banyak
keputusan Politik Indonesia masa lalu yang merepotkan kita semua sekarang
ini.
Dr. Sudjati Djiwandono, seorang pembicara dalam acara itu juga sulit
menyembunyikan amarahnya kepada Panda Nababan.

Tapi Harry Chan Silalahi yang menjadi moderator pada saat itu, meski
bisa menahan diri untuk menangkis tuduhan Panda Nababan, tapi ia tetap
tenang, dan seperti biasanya penuh senyum, meski kabarnya terlihat
gugup. Beberapa hari kemudian, dengan bantuan harian Kompas (tgl. 7
September 1996), Harry Chan Silalahi memberikan wawancara khusus yang
membantah semua tuduhan Panda Nababan. Disana dengan gaya orang rendah
hati Harry Chan membeberkan betapa salahnya orang yang menganggap CSIS
itu memainkan peranan penting pada belasan tahun pertama Orde Baru.
Yang ada sebenarnya hanya kedekatan antar individu, bukan CSIS dengan
pemerintah, kata Harry Chan.

Para pendiri CSIS itu dekat dengan pemerintah, katanya. Ia menyebutkan
dirinya sebagai tokoh KUP Gestapu (Front Pancasila), Liem Bian Kie
(Yusuf Wanandi) sebagai tokoh Golkar, demikian juga dengan Sudjati
Djiwandono. Dan tentu saja SudjonoHumardani dan Ali Murtopo yang
memang Aspri Suharto.

Kepada harian Kompas, Harry Chan menjelaskan: “Pada prinsipnya CSIS
membatasi diri untuk tidak terlibat dalam soal taktis politik.
Meskipun demikian CSIS kerapkali diisukan telah melakukan hal itu.
Padahal pembahasan masalah dalam negeri yang dilakukan CSIS bersifat
strategis konsepsional” .

CSIS terbentuk, menurut Harry, pada tahun 1971 ketika Hadi Susastro
dan beberapa kawan-kawannya pulang belajar dari Eropa. Merekalah yang
mengusulkan dibentuknya sebuah lembaga think tank. Tidak dijelaskan
oleh Harry bahwa sebelumnya bergiat dalam CSIS, para kader Beek itu
sudah berkiprah dalam operasi khusus (Opsus) pimpinan Ali Murtopo.

Masih belum yakin dengan bantahannya lewat harian Kompas, sebulan
kemudian, lewat harian Nusa Tenggara (terbit di Denpasar) edisi 13
Oktoer 1996, Harry Chan muncul lagi dalam sebuah wawancara yang
menggunakan hampir satu halaman surat kabar. Di sini sekali lagi Harry
Chan melakukan cuci tangan terhadap semua tingkah laku politik CSIS di
masa jaya Ali Murtopo hingga masa akhir berkuasanya L.B. Murdani.
Penjelasan panjang lebar Harry Chan dalam koran terbitan pulau Bali
itu sepintas lalu sangat persuasiv serta menyakinkan, terutama bagi
generasi muda yang tidak mengalami pergolakan politik awal Orde Baru.
Tapi bagi orang seperti saya, semua cerita Harry Chan itu sebenarnya
adalah isapan jempol belaka.

Perhatikan bahwa dalam semua penjelasan Harry Chan sama sekali tidak
pernah menyebut Opsus dan keterlibatan kaum katolik ekstrem kanan di
sana. Mereka yang tergolong generasi 66 di Jakarta masih ingat kantor
mereka (Opsus) di Jalan Raden Saleh Jakarta Pusat. Juga penjelasan
Harry Chan sama sekali tidak terdengar nama Pater Beek SJ, pastor
kelahiran Belanda yang memainkan peranan besar di balik lahirnya CSIS
tersebut.

Beek adalah pastor ordo Jesuit yang sudah aktiv lama di Indonesia
melakukan kaderisasi para pemuda dan mahasiswakatolik. Ia melakukan
kegiatan kaderisasinya di asrama Realino Yogyakarta, di samping
melakukan kaderisasi di Klender, Jakarta. Di Klender kegiatan itu
disebut Kasebul (Kaderisasi sebulan). Dalam kegiatan Kasebul itu bukan
cuma indoktrisasi yang dilakukan, bahkan latihan pisik yang mendekati
latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi
situasi jika diinterograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari
tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.

Latihan seperti ini ditujukan untuk mempersiapkan showdown dengan
komunis waktu itu. Kegiatan ini kemudian diketahui oleh Subandrio yang
memimpin BPI (Badan Pusat Intelejen). Akibat kejaran BPI Pater Beek
terpaksa melarikan diri ke luar negeri dekat sebelum Gestapu 1965.
Beek kembali ke Indonesia setelah Subandrio ditangkap dan BPI
dibubarkan.

Sebagian dari lulusan terbaik Kasebul ini dikirim untuk latihan lebih
jauh lagi di luar negeri. Salah seorang yang berhasil dikirim keluar
negeri sebelum Gestapu adalah yang kemudian menjadi wakil komandan
Laskar Ampera, Louis Wangge almarhum. Wangge dikirim oleh Beek ke
Universitas Santo Thomas, Filipina. Begitu yang diketahui orang. Tapi
kemudian Wangge sendiri mengaku bahwa sebenarnya ia dikirim ke sebuah
pusat latihan intelejen di sebuah pangkalan Amerika di Filipina.

Cerita tentang ini semua dikisahkan Wangge setelah ia dikucilkan oleh
CSIS karena sikap Wangge yang menolak kebijakan SCIS yang anti Islam.
Dalam keadaan tegang antara Wangge dan CSIS di pertengahan tahun tujuh
puluhan, misalnya, Wangge pernah menyundut rokok menyala ke baju yang
melekat di tubuh Sofyan Wanandi dikamar kecil bioskop Menteng (bioskop
itu sudah digusur sekarang).

Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan
komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam
sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir Rezim Suharto, juga
karena ikut berdarahnya tangan CSIS di TimorTimur, saya tidak bisa
lagi tetap berada dalam jajaran pengikut Pater Beek. Terutama setelah
demi ambisi kekuasaan dan kontrol orang-orang CSIS (Liem Bian Kie dan
Sudradjat Djiwandono) Partai Katolik pun mereka gilas. Begitu yakinnya
mereka akan pentingnya mengontrol Indonesia lewat Golkar, mereka tega
menindas Uskup Atambua (mempertahankan Partai Katolik), orang yang
sebenarnya berjasa dalam proses integrasi Timor-Timur.

Sebagai wartawan Tempo yang sudah mengunjungi Timor Timur sebelum
invasi operasi intel pimpinan Murdani, dan mengikuti perkembangan
wilayah itu hingga kini, saya tahu bagaimana permainan Murdani bersama
orang-orang CSIS dalam mengeruk uang dari Timor-Timur, setelah
sebelumnya membantai secara kejam banyak penduduk bekas jajahan
Portugis tersebut. Dengan uangyang terus mengalir (monopoli kopi yang
dikelola oleh Robby Ketek dari Solo) itulah mereka, antara lain, bisa
membiayai operasi-operasi politik Murdani bersama CSIS.

Tapi siapa sebenarnya Beek? Menurut cerita dari sejumlah pastor yang
mengenalnya lebih lama, Beek adalah pastor radikal anti komunis yang
bekerja sama dengan seorang pastor dan pengamat Cina bernama pater
Ladania di Hongkong (sudah meninggal beberapa tahun silam di
Hongkong). Pos china watcher (pengamat Cina) pada umumnya dibiayai
CIA. Maka tidak sulit untuk dimengerti jika Beek mempunyai kontak yang
amat bagus dengan CIA. Sebagian pastor mencurigai Beek sebagai agen
Black Pope di Indonesia. Black Pope adalah seorang kardinal yang
mengepalai operasi politik katolik di seluruh dunia.

Tentang Black Pope ini tidak banyak diketahui orang, juga pastor
katolik yang tidak tahu mengenai kedudukan, peran, dan operasi Black
Pope yang sangat penuh rahasia itu. Tapi ketika almarhum Dr.
Sudjatmoko menjadi Rektor Universitas PBB di Tokyo, ia pernah
berkunjung ke Tahta suci di Vatikan. Selain berjumpa Paus, Sudjatmoko
juga jumpa seorang Kardinal yang mengajaknya berbicara banyak mengenai
keadaan di Indonesia. Sudjatmoko merasa surprise bahwa Kardinal itu
tahu banyak tentang politik di Indonesia. Tidak lama setelah pulang ke
Indonesia sebagai pensiunan rektor Universitas PBB, pimpinan harian
Kompas mengirimkan orang kepada Sudjatmoko untuk meyakinkannya agar
tidak usah cemas masalah finansial. Kalalu ada apa-apa Kompas bersedia
membantu. Dari tawaran simpatik Kompas itulah Sudjatmoko yakin adanya
kontrol Black Pope terhadap kegiatan katolik di Indonesia.

Kembali kepada Beek, yang makin memperkukuh posisi kader Beek di mata
tentara adalah sikap mereka yang didasarkan oleh kebijakan yang
digariskan oleh Beek.

Kebijakan itu dikenal sebagai Lesser evil theory (teori setan kecil).

Setelah komunis dihancurkan olehtentara, Beek melihat ada dua ancaman
(setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman
sama-sama berwarna hijau. Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara
adalah ancaman yang lebih kecil (Lesser evil) dibanding Islam yang
dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka
perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan
mereka untuk menindas Islam.

Kebetulan sekali setelah Gestapu, pihak Islam (terutama mantan
Masyumi) dianggap meminta terlalu banyak imbalan jasa dari
partisipasinya dalam penumpasan Gestapu. Padahal Suharto dan pimpinan
ABRI lainnya sudah berkeputusan untuk mengelola sendiri negara dan
tidak akan berbagi kekuasaan dengan siapa pun, apalagi dengan kekuatan
Islam. Ketegangan Islam lawan tentara inilah yang melicinkan
dipraktekkannya doktrin Lesser evil Pater Beek tersebut.

Kebetulan lain adalah adanya Ali Murtopo dan Sudjono Humardani. Kedua
orang ini mempunyai sejumlah persamaan meski ada perbedaan
mendasarnya. Sudjono dan Ali sama-sama ingin mengabdi kepada Suharto.
Tapi Ali Murtopo punya rencana jangka panjang untuk berkuasa (I will
be the next president, kata Murtopo kepada wartawan Tempo, Tuty
Kakiailatu, pada masa kampanye Pemilu 1971) sedang Humardani adalah
orang Solo yang sudah bahagia jika bisa menjadi abdi dalam yang baik.
Ambisi Ali Murtopo inilah yang dimanfaatkan oleh kader-kader Pater
Beek tersebut.

Banyak orang yang tidak percaya kalau Ali Murtopo (keluarga santri
dari pesisir Jawa dan bekas hisbullah di jaman revolusi) bisa menjadi
orang yang sangat anti Islam dan berjasa besar dalam menindas orang
Islam di awal Orde Baru. Yang orang cenderung lupa adalah bahwa Ali
Murtopo punya rencana berkuasa, oleh karena itu semua yang
merintanginya untuk mencpai tujuannya haruslah ditebas habis. Musuhnya
bukan cuma Islam, tapi juga Perwira-perwira ABRI yang dianggapnya
sebagai perintang, seperti H.R. Dharsono, Kemal Idris, Sarwo
EdhiWibowo dan Soemitro (Pangkopkamtib) . Almarhum Dharsono (Pak Ton)
difitnahnya berkonspirasi dengan orang-orang PSI untuk menciptakan
sistem politik baru untuk menyingkirkan Suharto. Kemal Idris
dituduhnya berambisi jadi Presiden. Sedang Sarwo Edhy difitnahnya
merencanakan usaha menajibkan (menendang ke atas) Suharto.

Kader-kader Beek yang kemudian mendirikan CSIS dan waktu itu masih
berkumpul dalam Opsus tahu betul mengenai ini, dan mereka ikut
membantu Ali Murtopo mencapai ambisi berkuasanya.

Pada tahun 1974 terjadi Malari di Jakarta. Orang-orang Opsus yang
berada dibalik kerusuhan dan pembakaran-pembakar an merasa dengan itu
bisa menghabisi lawan mereka yang dipimpin Soemitro. Kemudian terbukti
memang Soemitro yang kurang canggih berpolitik itu berakhir karir
militernya dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun yang menang juga
bukan Ali Murtopo. Suharto ternyata jauh lebih pintar dari Ali dan
Soemitro. Kedua Jenderal yang berambisiitu dalam waktu singkat habis
peranan politiknya.

Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Suharto, salah
seorang kadernya disimpannya di Korea Selatan sebagai Konjen. Itulah
LB. Murdani. Sudah sejak di Kostrad pada jaman konfrontasi dengan
Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda
adanya rivalitas diam-diam antara Ali dan Murdani. Banyak yang menduga
perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Murdani
penuh kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus
kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin
menjadi orang yang berkuasa, sementara Murdani hanya ingin menjadi
orang yang mengendalikan orang yang berkuasa.

Tapi setelah terjadi Malari. Ali Murtopo tidak bisa lagi menghalangi
Murdani untuk tampil ke depan. Sejak itulah bintang Murdani mulai
menanjak. Murdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena
sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang
mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Murtopo pada masa
paska Malari, berjaya lagi oleh naiknya Murdani.

Berlainan dengan Ali Murtopo yang ditakutkan bisa merupakan ancaman
bagi CSIS kelak ketika berkuasa (ingat Suharto yang kini berbalik
kepada Islam setelah menindasnya dahulu?) Murdani adalah orang katolik
yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu
lancar saja kerjasama Murdani dengan CSIS. Sebagai orang katolik
ekstrem kanan Murdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itulah sebabnya
mengapa Moerdani sekarang dengan tenang bisa berkantor di CSIS
(menggunakan bekas kantor Ali Murtopo).

Dipanggil pulang dan diberi bintang dan kuasa oleh Suharto setelah
hampir terlupakan di Korea Selatan dan (sebelumnya) Kuala Lumpur,
Murdani sangat berterima kasih kepada Suharto. Merasa telah mengutangi
budi kepada Murdani, Suharto merasa dengan aman bisa menyuruh Murdani
berbuat apa saja tanpa harus takut dikhianati. MemangMurdani menjadi
“herder” Suharto yang menggigit siapa saja yang dianggap Murdani
membahayakan Suharto. Maka Suharto makin percayalah kepada Murdani.

Kepercayaan yang besar itulah kemudian yang menjadi modal bagi ambisi
lama Murdani untuk menjadi King Maker. Kepada seorang perwira Kopassus
di akhir tahun 1980-an Murdani katanya pernah berseloroh: “Buat apa
jadi orang berkuasa jika bisa dengan tanpa resiko kita mengontrol
orang yang berkuasa”. Memang itulah yang digeluti Murdani di belakang
Suharto. Keberhasilan Murdani dan Sudomo membesar-besarkan bahaya
Petisi 50 (AH. Nasution hampir ditangkapMurdani, tapi dicegah oleh TB.
Simatupang) berhasil mengecoh Suharto untuk mengeluarkan sebuah surat
pamungkas yang memberi kuasa lebih besar lagi kepada Murdani. Dengan
kekuasaan amat besar dari Suharto itulah ia dengan gampang dan cepat
bisa membangun kerajaan dan operasi intelnya (BAIS).

Menurut Wismoyo Arismunandar (mantan Kasad), orang yang mula-mula dan
dari awal punya firasat buruk terhadap Murdani adalah Ibu Tien
Suharto. Tapi karena Suharto sangat koppeg dan merasa paling tahu
sendiri, baru pada tahun 1988 Murdani berhasil disingkirkan. Tapi
sebelum meninggalkantahta kekuasaannya, Murdani sudah berhasil
menciptakan beberapa calon raja yang menurut rencana akan dikontrolnya
kelak. Salah seorang di antaranya adalah Try Sutrisno. Begitu patuh
Try Sutrisno kepada Murdani sehingga sebagai kepala BAIS, Try Sutrisno
di Mabes ABRI adalah staf yang dulu diangkat, dipercaya, dan pernah
dipakai oleh Murdani sebagai Pangab.

Dalam soal memilih kader, Ali Murtopo dan Murdani sama. Keduanya amat
berbeda dengan Pater Beek. Beek memilih pemuda dan mahasiswa Katolik
terbaik. Tujuannya adalah agar kader-kader tersebut dengan kecerdasan
dan kelihaiannya sanggup mengendalikan orang lain untuk mencapai
tujuan yang diamanatkan Beek. Pater Beek SJ tahu betul bahwa Indonesia
ini penduduknya adalah mayoritas Islam, oleh karena itu orang Katolik
jangan bermimpi untuk tampil berkuasa. (Murdani sadar akan hal ini,
karena itu ia hanya ingin jadi King Maker). Tapi mereka harus
mengusahakan agar yang berkuasa adalah orang Islam yang mereka bisa
atur. Inilah penjelasan mengapa Try Sutrisno dijagokan oleh Murdani
dan untuk itu dipakai orang Islam lain yang bisa diaturnya, yaitu
Harsudiono Hartas.

Ali Murtopo dan Murdani memilih bukan orang terbagus yang ada untuk
jadi kader, tapi orang-orang yang punya cacat atau kekurangan, (orang
yang ketahuan korup, punya skandal, bekas pemberontak, mereka yang
ingin kuasa, ingin jabatan, ingin kaya cepat, dan sebagainya).
Orang-orang demikian mudah diatur. Perbedaan inilah justru yang
menyebabkan Ali Murtopo dan Murdani mudah bekerjasama dengan
kader-kader Pater Beek SJ. Lewat tangan Ali Murtopo dan Murdani
cita-cita dan rencana Beek SJ pernah berhasil dijalankan dengan
saksama. Meski tragis, tapi inilah yang penjelasannya mengapa yang
melaksanakan kebijakan anti Islam (lewat tangan Ali Murtopo dan
Murdani) kebanyakan adalah orang-orang Islam yang tidak sadar
diperalat oleh Ali Murtopo dan Murdani untuk ambisi mereka
masing-masing.

(Dikutip dari Internet)