“Blog” Upaya Menjadi Lebih Dipercaya

Oleh PEPIH NUGRAHA

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/11/20/ 01191255/ upaya.menjadi. lebih.dipercaya

Sederhana saja mengukur penerimaan masyarakat atas blog di negeri ini.
Tahun lalu, pada Pesta Blogger 2007, jumlah peserta hanya 500 orang.
Kini, ketika Pesta Blogger 2008 kembali digelar, jumlah peserta yang
terdaftar mencapai 1.200 orang. Jika tidak dibatasi, jumlahnya bisa
jadi di atas 2.000 orang.

Memang parameter yang digunakan terlalu sederhana. Bukan maksud
mengukur apakah blog diterima atau tidak oleh masyarakat, sebab hal
itu tidak terlalu bermanfaat untuk dibahas. Lebih baik mengetahui
bagaimana masyarakat memanfaatkan blog itu untuk berbagai keperluan,
tidak sekadar bergaya atau asal punya blog. Maklum, sejak kelahirannya
sampai kini blog masih dicibir banyak orang.

Padahal, dalam perkembangannya, blog ada yang mewujud sebagai citizen
journalism, media indie yang menjadi bacaan alternatif. Dengan citizen
journalism, siapa pun bisa memanfaatkan blog sebagai media penyampai
pesan. Adagium “media (blog) adalah pesan itu sendiri” menjadi
terbukti di sini. Dan Gilmor dengan bukunya, We Media, mengklaim bahwa
setiap orang adalah wartawan.

Kegiatan melaporkan suatu peristiwa dan menuliskannya pada media untuk
disebarluaskan kepada khalayak bukan lagi milik jurnalis media arus
utama. Warga bisa menjadi wartawan! Namun, tentu saja Gilmor
mengatakan hal itu setelah tumbuh dan berkembangnya media online, web,
dan kini blog yang bisa diperoleh secara mudah. Namun, karena
mudahnya, blog didapat, ada anggapan bahwa ia tidak harus dipelihara
dengan baik.

Dianggap tidak kredibel karena ulah segelintir blogger yang
memanfaatkan blog untuk kepentingan sensasi belaka. Contoh ketika blog
menjadi kontroversi dan dianggap sebagai penyebar fitnah setelah
beredarnya rumor bahwa calon wakil presiden AS dari Partai Republik,
Sarah Palin, tidak tahu Afrika merupakan benua. Rumor murahan ini
ternyata berasal dari blog seseorang yang mengaku bernama Martin
Eisenstadt.

Sayangnya, isu ini lalu ditangkap mentah-mentah media arus utama dan
disiarkan tanpa berupaya melakukan cek dan ricek, meski pada akhirnya
diralat.

Keterlibatan Amerika Serikat

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan seorang blogger agar setiap
posting-annya dapat dipercaya. “Think before posting”, demikian pesan
yang seharusnya ditangkap oleh setiap blogger sebelum menaruh tulisan
dan gagasannya di blog. Apa yang di-posting-kan di blog harus menjadi
tanggung jawab masing-masing blogger.

Wartawan senior harian ini, Ninok Leksono, pernah menulis di blog
Kompasiana yang beralamat di http://kompasiana. com mengenai bagaimana
seharusnya blog menjalankan fungsinya. Menurut dia, setiap pemilik
blog berkepentingan agar blog miliknya tetap kredibel dan dipercaya
warga pembaca lainnya. Bahkan, untuk Indonesia, katanya, “Kredibilitas
masih perlu ditambah dengan kearifan.”

Kembali ke Pesta Blogger 08 yang kali kedua ini digelar di Auditorium
Gedung BPPT II Jakarta, Sabtu (22/11), ini menjadi sebuah pesta yang
layak disimak. Bukan karena berkumpulnya komunitas blogger secara
masif di sana, tetapi karena keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat
di sini. Nah, keterlibatan apa yang dimaksud?

Chairman Pesta Blogger 08, Wicaksono—yang dalam jagat blogger dikenal
sebagai Ndoro Kakung—sebagaimana ditulis blogger Aris Heru Utomo di
Kompasiana, mengaku sudah dapat mengira bahwa berperannya AS dalam
mensponsori pesta blogger kali ini akan menimbulkan purbasangka dan
curiga. Alasannya, ada sentimen dan prasangka tertentu dari sebagian
kalangan terhadap AS.

Bagi Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron R Hume, meraih blog berarti
melaksanakan diplomasi publik di tingkat akar rumput. Tidak sekadar
menakar ke mana arah kebijakan pemerintah masing-masing (G to G),
tetapi juga bisa meraba perasaan warga masyarakat Indonesia melalui
blog, melalui apa yang disebut Aris sebagai diplomasi publik. Selain
itu, adalah tugasnya selaku diplomat untuk selalu memperkenalkan dan
memelihara pemahaman tentang negerinya di masyarakat di mana dia bertugas.

Untuk itu dapat dipahami mengapa Kedubes AS di Indonesia berkenan
menjadi sponsor Pesta Blogger 2008 yang mengusung tema blogging for
society. Dengan cara ini, demokrasi dan semangat kebebasan berbicara
yang selalu didengungkan AS ke pelosok dunia menjadi bukti nyata,
tidak asal omong. Bagi Hume, kegiatan blog atau blogging merupakan
bentuk dari kebebasan bicara yang individualistis sekaligus egaliter.

Kruger dan Obama

Di belahan dunia lain, blog sejatinya digunakan sebagai media
alternatif untuk menyampaikan berita yang “tidak seksi” alias tidak
cukup menarik bagi media arus utama. Masalah kesehatan penduduk lokal,
masalah ketimpangan pendidikan, ketidakadilan dalam kesempatan
memperoleh pekerjaan, hanyalah contoh kecil saja di mana blog bisa
berperan di dalamnya. Blog bisa menyampaikan semua “ketidakadilan” itu
tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Pada tahun 2008 ini blog naik daun seiring dengan terpilihnya Barack
Obama sebagai Presiden AS. Obama, seperti telah banyak ditulis,
memiliki blog sendiri dan menjadi bagian dari belasan situs pertemanan
seperti Facebook. Padahal, Justin Hall, pemuda kelahiran 16 Desember
1974 yang juga seorang wartawan paruh waktu, tidak berpikir sejauh itu
saat menjadi blogger pertama yang menulis catatan hariannya di
internet tahun 1994.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana pemenang Nobel bidang Ekonomi,
Paul Krugman, demikian lugas menuangkan gagasannya yang jauh lebih
segar dibanding dengan apa yang ditulisnya di The New York Times versi
print saat ia menulis di blog miliknya. Di
http://krugan. blogs.nytimes. com yang juga menjadi bagian koran ternama
itu, Krugman menulis persoalan berat menjadi ringan dan enak dibaca.
Alhasil, Krugman lebih dikenal sebagai blogger ketimbang sebagai
kolumnis atau analis ekonomi.

Usia blog belumlah terlalu lama. Kalau menyebut Hall sebagai orang
pertama yang ngeblog, usianya baru 14 tahun. Namun, di usinya yang
tergolong muda, blog telah dimanfaatkan berbagai golongan masyarakat
dengan berbagai tingkatan usia.

Jangan heran kalau Uskup Bandung yang sudah tergolong usia senja,
Pujasumarta, memiliki blog sebagai media untuk memberitakan
kegiatannya sekaligus menyapa jemaatnya. Ada juga Marsekal Muda (Purn)
Prayitno Ramelan yang mengisi masa-masa pensiunnya dengan ngeblog.
Violis Maylafflayza sudah sejak lama memanfaatkan blog dan situs
pertemanannya sebagai media komunikasi untuk menyapa penggemarnya.

Anda belum ngeblog? Jangan dengar ledekan Jenderal Naga Bonar “Apa
kata dunia?” Mulai sajalah ngeblog saat ini juga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: