PKS dan ‘Kambing Dibedaki’

PKS dan ‘Kambing Dibedaki’

Djoko Su’ud Sukahar – detikNews

Jakarta – Semerbak harum ‘Cendana’ tercium PKS. Partai ini mengangkatnya sebagai iklan politik. Potret Pak Harto dipampang. Dibubuhi predikat sebagai ‘guru bangsa dan pahlawan’. Dari waktu ke waktu, ternyata Pak Harto itu tetap jadi pujaan. Pujaan untuk dipuja, juga pujaan untuk dihujat.

Pekan kemarin, potret almarhum Soeharto muncul. Kemunculannya melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saat partai ini menyambut Hari Pahlawan. Sosok yang dimarjinalisasi keadaan itu dicuatkan bersama tokoh lain, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

PKS ‘menjual’ tokoh-tokoh itu menjelang Pemilu. Partai ini tahu kebesaran nama tokoh yang dilahirkan di Yogyakarta itu amat mempengaruhi konstituen yang terpencar di banyak partai yang ‘berbasis Muhammadiyah’. PKS juga sadar ‘harumnya Cendana’ melalui sosok Pak Harto belum pudar. Aura magis penguasa Orde Baru itu masih ampuh.

Memang, Pak Harto tetap pujaan. Pujaan untuk dipuja maupun pujaan untuk dihujat. Itu karena dia ‘dipersonifikasikan’ sebagai ‘kambing’ dalam pameo. Kambing hitam untuk mewakili kepekatan masalalu. Dan ‘kambing dibedaki’ (putih) yang patut dielu-elu karena kebijakannya dianggap jenius dan futuris di masa lalu.

Saat Pak Harto masih ‘timur’, cap kambing itu laku keras. Pemerintah dan rakyat selalu menghubungkan segalanya dengan perilaku masalalu dan ‘masa depan’ laki-laki kelahiran Kemusuk itu. Masalalunya dianggap sebagai sebab keterpurukan negeri ini. Sedang ‘masa depannya’ menyimpan bara. Diprediksi bakal menyulut keributan. Menimbulkan geger kepati, membawa gonjang-ganjing negeri yang mulai tenang ini.

Saat Pak Harto dipanggil Yang Kuasa, ternyata segalanya aman terkendali. Ketakutan itu tak terbukti. Predikat di pundaknya pun lambat-laun terkubur. Nama Pak Harto lamat-lamat terdengar. Hanya sekali-kali disebut sebagai penyeling waktu. Trauma terhadap nama Pak Harto mendekati titik nadzir.

 Terkuburnya nama Pak Harto bukan sertamerta. Itu adalah konsekuensi logis dari langkah positif ‘Keluarga Cendana’ yang merasakan imbas isu destruktif itu. Mereka ‘menjauhi’ politik. Menutup segala aktivitas rasi ini. Dan menolak tiap ajakan dari pihak lain yang memberi kemungkinan itu.

Akibat itu banyak politisi maupun partai politik yang kecewa. Mereka harus bertepuk sebelah tangan karena sirna melibatkan keluarga Cendana. Apalagi Partai Nusa Bangsa (PNB) yang diketuai Jamal Mirdad yang disebut-sebut dibiayai Mbak Tutut juga gagal dilahirkan.

Sikap ‘a-politik’ yang dilakukan keluarga Cendana itu selangkah demi selangkah meredam ‘kekisruhan internal’ yang ditimbulkan pihak luar. Peredaman itu ikut ‘menguburkan’ nama Pak Harto dan memberlakukan ‘hukum barzah’. Pak Harto pun mulai diingat kebaikannya, dilupakan kejelekannya. PKS melakukan itu. Partai ini ‘menggali’ kuburan itu. Sang tokoh ini ‘dibangkitkan’ kembali. Fotonya dipajang dan predikat yang sebelumnya dihembuskan untuk didukung dan dihujat disandingkan. Pro kontra pun kembali bermunculan.

PKS memang cerdik dalam memilih isu untuk iklan politiknya. Ambivalensi sosok Pak Harto merupakan magnet. Gampang mengundang siapa saja menoleh. Tak perduli itu untuk mencibir atau tabik hormat. Tapi bagaimana dengan konstituen partai ini? Dan apa pula yang dimaui PKS dengan memajang gambar penguasa Orde Baru itu?

 PKS adalah partai program. Partai macam ini punya resistensi tinggi. Dia fluktuatif, gampang naik dan gampang melorot. Jika program yang diimbangi sikap mulianya konsisten dijalankan bakal direspons positif. Namun jika program itu hanya sekadar slogan akan berbuah sebaliknya. Program yang paling laku selama ini adalah mensettingnya sebagai ‘partai bersih’. Partai yang tidak korup dan anti korupsi. Partai yang selalu mendasarkan tindakannya sesuai amanat rakyat. ‘Jualan’ ini amat mengena. Suara partai ini naik di beberapa daerah, dan mampu mendudukkan kadernya sebagai gubernur, bupati maupun walikota dalam Pilkada.

Grafik kenaikan suara PKS serta kemenangannya itu jangan dianggap sebagai ‘kekuatan’. Itu bukan ‘kemenangan riil’. Sebab suara itu terbanyak datang dari ‘luar kader partai’. ‘Orang luar’ itu memberikan suaranya karena ‘terhipnotis’ program PKS. Mereka ingin korupsi diberantas, politisi dan partai tidak korup. Untuk itu, jika semua keinginan itu kelak terlaksana karena dipaksa undang-undang, itu sama artinya jualan PKS mulai tidak laku. Adakah karena alasan itu mengapa PKS kini ‘menjual’ Pak Harto?

Sebagai partai program, PKS tak boleh berhenti berpikir. Dia harus terus mengekplorasi ide. Ide mengangkat Pak Harto sebagai ‘guru bangsa dan pahlawan’ bukan buruk. Sebab siapa saja tahu, tokoh ini dan keluarga Cendana punya massa luar biasa. Termasuk juga dana?(iy/iy)

Sumber:http://www.detiknews.com/read/2008/11/12/093505/1035469/103/pks-dan-kambing-dibedaki

Iklan

Satu Tanggapan

  1. =====MANUSIA ITU TIDAK ADA YANG SEMPURNA=====

    Dulu di jamannya memang dirasakan hidup terkekang, ketakutan, pembodohan, sana-sini korupsi, dwi fungsi abri melekat, sebar fitnah bahaya laten dan lain sebagainya.

    Tapi masih ada sisi positifnya pada saat itu dunia sedang bergejolak masing2 ingin mendirikan negara bagian di negaranya seperti : Jerman barat – timur, Korea Utara-selatan, Negara2 bagian Uni sovyet dan Negara2 di asia lainnya serta banyak lagi.
    Sementara di Indonesia dengan 17000 pulaunya dan kebudayaannya tenang2 dan adem2 saja.
    Hanya itu yang dirasakan namun berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: