Fundamentalisme Mengancam Kemajemukan

 

Fundamentalisme Mengancam Kemajemukan

Selasa, 11 November 2008 | 15:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Merayakan 40 tahun Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta menggelar pidato kebudayaan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Senin malam pukul 20.00. Pemimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia I Gusti Agung Ayu Ratih membawakan pidato bertajuk “Kita, Sejarah, Kebhinekaan”.

Gung Ayu, sapaan dia, 42 tahun, pada 1994 meraih Master of Arts di studi bidang sejarah dan sastra perbandingan pada Program Studi Asia Tenggara, University of
Wisconsin-Madison. Ia kini aktif meneliti sejarah kebudayaan dan gerakan perempuan.

Pidato Gung Ayu akan menegaskan kembali pluralisme Indonesia, yang lahir dari kesepakatan beragam kekuatan. Maka setiap usaha untuk penyeragaman justru mengingkari alasan eksistensi negara-bangsa. Gung Ayu memaparkan dua kekuatan yang mengancam pluralisme Indonesia: fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Kedua kekuatan ini, meski tampak berseberangan, namun saling terkait.

Fundamentalisme pasar, melalui paham neoliberalisme, menimbulkan kecemasan dan ketakpastian. Dalam suasana itu, kaum fasis berjubah agama menawarkan “kepastian”: janji penyelamatan, surga, sedikit
bantuan ekonomi, dan status sosial yang lebih mulia. Fenomena serupa terjadi di AS, yang mendorong naiknya Bush dan gerakan Evangelism.

Di tengah gelombang fundamentalisme pasar dan agama, perempuan terhimpit dan terkorbankan. Pasar bebas menjadikan perempuan sebagai komoditas Tenaga Kerja Wanita, sementara fundamentalis agama menuding perempuan sebagai muasal kebejatan dan kekacauan dewasa ini.

Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya juga akan memberi pengantar. Menurutnya, pluralisme memaknai manusia sebagai mahkluk multidimensi, tak hanya konsumen maupun pemberi suara dalam pemilihan umum. “Kita ingin menghayati kehidupan yang menentang penyeragaman oleh modal, kekuasan, fundamentalisme agama dan apa saja yang tidak berdaya toleransi,” kata Marco.

Pidato Kebudayaan juga dimeriahkan pentas musik Balawan dan kawan-kawan. IBNU

Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/budaya/2008/11/11/brk,20081111-145266,id.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: