BIARAWATI YANG MEMBANTU KAUM BAWAH TANAH KRISTEN IRAK

BIARAWATI YANG MEMBANTU KAUM BAWAH TANAH KRISTEN IRAK

Kristen Assyria IRAK – kaum yang paling menderita dalam perang Iraq ini. Gereja-gereja mereka diBOM, perempuan-perempuan dan anak-anak diperkosa, disalib, dicincang, ditembak mati dan mayat-mayat mereka dilempar ke tempat penimbunan sampah, bahkan uskup besar mereka baru-baru ini diculik dan ditembak mati. <www.christiansofira q.com/bombed. html>
 
“Begitu Saddam jatuh, muslim-muslim fanatik mulai mengirimkan kami surat-surat ancaman agar kami MASUK ISLAM atau meninggalkan negeri ini atau ‘bersiap-siaplah untuk mati.’ Suatu hari, orang-orang bermasker menyerang rumah kami, mengikat suami saya dan SATU PER SATU MEREKA MEMPERKOSA SAYA DIDEPAN SUAMI SAYA. Setelah insiden itu kami memutuskan untuk kabur dari tanah kami yang sudah dihuni kaum kami huni selama 2000 tahun ini,” demikian kesaksian salah seorang korban.  
 
Perang Iraq membawa penderitaan yang tidak dapat dibayangkan, berjuta cerita berbeda tentang kesedihan, kekerasan, dan pengasingan. Namun dalam perang ini, tindakan keji yang jarang diucapkan adalah tindak pidana PEMERKOSAAN. Dan bagi kaum KRISTEN IRAK, khusunya, ini sebuah  kisah yang saking seringnya terulang sampai tidak lagi dapat diacuhkan. Tetapi, tragisnya untuk banyak wanita yang mengungsi, penderitaan mereka tidak berakhir di perbatasan.  
 
Sekitar 13.000 pengungsi Kristen Irak kini berada di Turki, termausk 7.000 orang di Istanbul, di kawasan-kawasan yang paling miskin, di gedung-gedung atau lantai-lantai bawah tanah yang tidak layak huni, tidak memiliki saluran air atau tingkat higiene memadai.  
 
Kamar-kamar bawah tanah ini basah, bau karena mereka berada dibawah saluran air. Mereka sendiri tidak memiliki toilet. Lebih dari 80 orang per kamar(bawah tanah) hidup, masak dan makan, menggali lubang-lubang untuk buang air. Memang baunya busuk, tetapi  mereka tidak memiliki pilihan; pulang kembali ke Iraq sama saja dengan bunuh diri.  
 
Akomodasi mereka dikuasai oleh gang-gang kriminal, yang menuntut uang sewa US$50/24 per orang (termasuk anak-anak) per bulan. Mereka yang tidak dapat melunasi, akan dilempar ke jalanan. Karena mereka pengungsi ilegal, mereka tidak dapat mencari pekerjaan ataupun berjalan keluar karena karena mereka akan ditangkap polisi atau – lebih parah lagi – dikirim kembali ke perbatasan (Irak).  
 
Beberapa wanita menemukan pekerjaan sebagai pembantu dimana mereka dibayar dengan upah yang minim termsuk juga gangguan, penganiayaan, dan bahkan pelecehan. Jika mereka melapor KEPADA polisi, mereka akan dilempar ke penjara . Mati kelaparan atau menderita penyakit merupakan hal yang lumrah.  
 
NAMUN Sister Hatune — yang kini mendapat julukan Ibu TERESA dari IRAQ — merupakan salah seorang malaikan penyelamat. Yayasan Sister Hatune yang bermarkas di India, dengan cabang-cabang di Eropa dan AS, didirikan tahun 1992 untuk membantu mereka yang tuna wisma, berpenyakitan, korban2 tragedi alam dan pengungsi2 yang ditekan karena agama mereka. Lahir di Turki Tenggara, dari sisa2 penduduk Assyria.  <www.sisterhatunefou ndation.com/ iraq.htm>
 
Ia tadinya bertugas di India di tahun 90an, namun karena perang Irak dan exodus Kristen, ia kini mengalihkan perhatiannya ke saudara-saudara Kristennya tersebut. Sekitar 3.5 juta pengungsi Iraq terdapat di negara-negara tetangga, termasuk 2.2 juta di Syria dan 750.000 di Yordania. Namun yang paling menyedihkan adalah nasih sekitar 600.000 Kristen Irak.  
 
Kunjungan Suster Hatune, dimana ia memberikan Uang dan Pakaian, disebut-sebut sebagai bantuan perpanjangan dari Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lainRed)  
 
“Memang menyedihkan melihat ibu-ibu kurus ini mencoba keras menyusui anak-anak mereka,” katanya. “Kelaparan memang hal yang sangat berat bagi manusia dan banyak ibu-ibu terpaksa menjual diri mereka bagi sandang dan pangan. Saya ketemu banyak keluarga yang dengan rela menjual diri mereka demi sepotong roti.  
 
Suster Hatune, seorang yang lembut, dan murah senyum dengan aksen antara timur tengah dan eropa tengah, telah dapat membuat para gadis-gadis untuk berbicara bebas mengenai penderitaan mereka. Beberapa cerita, melibatkan Gadis dibawah umur, sangat-sangat mengerikan untuk diberitakan. Banyak Gadis-gadis kecil dan Wanita dewasa mempunyai banyak luka memar di sekujur tubuh mereka. Untuk keamanan, nama mereka tidak dicantumkan.  
 
Helena adalah sebuah contoh khas. Sebelum perang, ibu berusia 47 tahun ini, anggota gereja Assyria, tinggal di Baghdad dengan suaminya yang bekerja SEBAGAI tukang listrik, ibu mertuanya dan kedua puterinya berusia 18 dan 7 tahun.  
 
Setelah jatuhnya Bagdad bulan April 2003, militan-militan Islam memulai kampanye teror mereka. Pertama, mereka mengirim surat ancaman kepada keluarga-keluarga Kristen, meminta mereka memeluk Islam atau meninggalkan negara (Irak). Surat-surat itu tidak digubris oleh keluarga tersebut (Keluarga Helena). Tapi suatu hari, didepan rumahnya suaminya dihujani peluru dari senapan mesin saat pulang kerja.Dua minggu setelah pembunuhan suaminya, Helena menerima surat lainnya dan mengontak seorang penyelundup. Mereka terpaksa melarikan diri ke Istanbul, dimana mereka tinggal di sebuah kamar bawah tanah dengan 40 pengungsi Kristen lainnya. Mereka tidak membawa satu barangpun yang mengingatkan mereka pada hidup mereka dulu yang makmur itu.  
 
Beberapa minggu setelah ketibaan mereka di Istanbul, seorang mucikari setempat menawarkan mereka uang SEBAGAI GANTI PUTERI TERTUA MEREKA.  
 
“4 hari dalam keadaan sanat lapar memaksa keluarga itu MENJUAL PUTERI MEREKA untuk satu malam KEPADA SEORANG MUSLIM KAYA.” kata Suster Helena.  
   
Suster Hatune dengan gadis Kristen Irak 9 tahun yang diperkosa secara brutal  
 
Keesokan harinya, sang gadis 18 tahun itu kembali ke rumah mereka dengan bekas-bekas luka pada tubuh dan pikirannya. “Pelaku sadist itu menyundut tubuhnya dengan rokok.” (Kata Suster Hatune) Ia mencoba bunuh diri. Keluarganya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis dan berdoa.  
 
Setiap keluarga di Camp pengungsian mempunyai cerita-cerita tersendiri.  Cerita Ibu Salam juga tidak kalah tragis. Wanita 27 tahun itu tiba di Turki bulan Agustus lalu dari Mosul. Ibu dua anak – usia 4 tahun & 18 bulan – seperti umumnya keluarga Kristen lain, hidup nyaman dengan suami yang bekerja pada perusahaan minyak. “Kami termasuk kaya, punya rumah dan mobil dan hidup dengan damai dibawah periode Saddam Hussein,” katanya. Ia DIPERKOSA RAMAI-RAMAI didepan suaminya dan hanya berhasil kabur dengan bantuan gang penyelundup, sambil menyamar dalam busana Muslim.  
   
Kristen Irak di Istanbul; tadinya kaya, kini melarat, tersiksa, dilecehkan, hidup sebagai pengungsi dan tergantung dari sumbangan  
 
“Kami membawa seluruh barang-barang berharga dan Uang kami saat kami meninggalkan rumah. di jalan, kami bertanya pada penyelundup berapa banyak kami harus membayar untuk pergi ke Turki.” Ia berkata, ” Apa saja yang kau punya, itu adalah biayanya/ongkosnya”. Saat kami sampai dekat perbatasan Turki, dia dan anggota gengnya menggeledah tubuh kami dan harta kami dan mengambil seluruhnya. Ada juga keluarga lain bersama kami, dan nasib yang sama menimpa mereka.  
 
“Ketika kami dibiarkan begitu saja di Turki, seluruh harta kami yang tersisa dikuras oleh penyelundup. Satus-satunya harta yang masih kami punya adalah baju-baju pada tubuh kami. Bahkan cincin emas saya (yang didapatkan dengan memohon-mohon) sudah saya jual untuk sepotong roti.”  
 
Sebagai korban pemerkosaan, Ibu Salam sulit menerima keadaannya ini. “Saya malu memandang orang lain. Mereka kenal saya, mereka juga tahu bahwa saya diperkosa. Saya tidak dapat menceritakan perasaan saya pada orang saya. Kadang saya merasa tidak lagi sanggup hidup.”  
 
“Tetangga-tetangga Muslim kami pun berbalik memusuhi kami. Kami tidak lagi punya teman ataupun bantuan. Kami takuntu kami akan dibunuh begitu kami kembali. Kami hanya bisa berdoa agar Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) membebaskan kami dari neraka ini.”  
 
Setelah pembunuhan Uskup Besar Paul Rahho, pemimpin gereja Chaldean Catholic di Iraq utara, sejumlah Kristen Irak mulai bersembunyi dibawah tanah, di catacombe seperti nenek moyang mereka di abad 1M. Ini adalah sentimen, kata Ibu Salam.  
 
“Kepercayaan saya kuat, karena nenek moyang kami adalah orang-orang yang kuat kepercayaannnya dan penderitaan mereka jauh lebih parah dari yang kami rasakan sekarang. Kami percaya bahwa penderitaan ini akan menguatkan kehidupan spiritual kami. Suatu saat saya bertanya: ‘Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan saya?’ Tetapi Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) mengirimkan bantuannya melalui orang-orang untuk menolong kami, dan Aku percaya Ia akan menyelamatkan saya. Kedatanganmu adalah perwujudannya” (Kata Ibu Salam kepada Suster Hatune-Red)  
   
Sister Hatune dengan pakaian-pakaian bekas untuk disumbangkan bagi pengungsi Kristen Irak  
 
Yayasan Suster Hatune memberikan gandum, tepung, gula, dan pakaian melalui jalur darat, dibantu oleh Indian Chapter, YMCA, dan Jubilee Campaign di Inggris. Pemerintah Syria juga membantu dengan Damaskus pusat untuk menyediakan bahan-bahan. Yang penting dari semuanya, adalah, Uang-Tanpa pekerjaan, dan banyaknya lelaki mereka yang meninggal, Para Wanita sering tidak terlindungi dan tercukupi. Suster Hatune, dengan bantuan dari Yellow Christian di Eropa dan lainya, juga menyediakan uang untuk seorang wanita, Ibunya, dan 2 adiknya untuk dapat hidup dan makan selama 6 bulan, Jadi saudara mereka yang berumur 18 tahun tidak lagi perlu untuk menjual diri.  
 
“Saat kuberikan uang, Ia berlutut dan berterimakasih untuk para dermawan yang menyumbang, dan bukan untukku,” Kata Suster Hatune.  
 
Suster Hatune, dengan bantuan sumbangan yayasannya, mampu melunaskan uang sandera bagi seorang gadis 13 tahun yang diculik dan diperkosa selama dua minggu sampai gang penculik itu membebaskannya dengan uang ganti US$9.000/4,000..  
 
Keluarga lainnya yang mereka bantu terdiri dari anak umur 16 tahun dan ayah tirinya yang lumpuh dan Ibunya yang sakit mental. Saudara laki-lakinya yang berumur 22 tahun menghilang. Militan Islam menculik gadis itu dan menyekapnya selama 4 bulan dimana ia disiksa. Bersama tetangga Kristennya, yang diperintahkan untuk murtad atau mati, akhirnya mereka kabur.  
 
“Empat orang memperkosanya. Saat menceritakan kisahnya, Ia gemetar dan gugup kemudian pingsan. Aku mencoba untuk menopangnya ditangan. Tim kami membayar uang sewanya selama 6 bulan.”  
 
Di hari terakhirnya di Istanbul, Suster Hatune dengan sebuah pick-up tiba di penginapan para pengungsi dan menyalurkan pakaian dan uang. Di hari yang sama grup bertemu 6 keluarga yang baru tiba di Turki dan tidur di tanah tanpa selembar alaspun. Suster Hatune memberikan memberi mereka kasur, pakaian, dan 80 setiap orang.  
 
Ayah dari satu keluarga telah dibunuh sehingga muslim bisa mengambil jabatannya di bidang perminyakan, dan Istrinya dipaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan. Suster Hatune memberikannya 800 untuk memenuhi kebutuhan selama 6 bulan.  
 
Bulan depan, Suster Hatune akan ke Yordania, dimana skala penderitaan pengungsi Kristen disana JAUH LEBIH PARAH daripada di Turki. Untuk itu Suster Hatune meminta kepada Umat Kristen diseluruh dunia agar merogoh kantong mereka dalam-dalam untuk membantu mereka. Seorang janda yang dipaksa menjual dirinya berkata kepadanya (Suster Hatune): “Para dermawan yang membantu kami adalah malaikat yang menyelamatkan kami dari neraka.”  
 
Jika berniat untuk membantu, tolong kirimkan cek kepada “Assyrian Aid Society”, dan kirimkan ke perkumpulan di 36 Crossway, London W13 0AX, dengan pesan berisikan bahwa sumbangan untuk Suster Hatune.  

(Oleh Ed West)

http://www.catholicherald. co.uk
4-18-2008
terjemahan bebas http://www.aina.org/ news/20080418145 716

Iklan

2 Tanggapan

  1. memang sudah dinubuatkan sepeninggalan Yesus, pengikutnya akan mengalami siksaan yg berat. tapi yg setia akan memperoleh tempat disurga. begitulah jadinya kl suatu negara mayoritas beragama “DAMAI” tidak ada toleransi bagi kafir, dan memang bagi mereka membunuh,menyiksa,menipu kafir adalh halal seperti yg diajarkan oleh nabi besar mereka

  2. Sesungguhnya tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolong dan telingaNya tak kurang tajam untuk mendengarkan permohonan2 dari umatNya.
    Ya Bapa, kiranya Engkau tak berdiam diri, bangkitlah dari peristirahatan Mu dan tolonglah mereka yang membutuhkanMu. Degarlah teriak mereka minta tolong kepadaMu, Ya Tuhan. Semoga iman mereka tetap kuat di dalam Yesus.
    Aku memang tidak dapat melihat langsung penderitaan mereka, tapi begitu aku membaca berita ini, hatiku begitu tersiksa. Berita ini membangkitkan semangatku bahwa sering aku mengeluh akan apa yang terjadi, tetapi mereka umat Kristiani di Irak begitu luar biasa, mereka telah lebih dahulu mengahadapi tanda akan akhir zaman. Semoga kita semua dapat turut berdoa untuk mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: