BIARAWATI YANG MEMBANTU KAUM BAWAH TANAH KRISTEN IRAK


BIARAWATI YANG MEMBANTU KAUM BAWAH TANAH KRISTEN IRAK

Kristen Assyria IRAK – kaum yang paling menderita dalam perang Iraq ini. Gereja-gereja mereka diBOM, perempuan-perempuan dan anak-anak diperkosa, disalib, dicincang, ditembak mati dan mayat-mayat mereka dilempar ke tempat penimbunan sampah, bahkan uskup besar mereka baru-baru ini diculik dan ditembak mati. <www.christiansofira q.com/bombed. html>
 
“Begitu Saddam jatuh, muslim-muslim fanatik mulai mengirimkan kami surat-surat ancaman agar kami MASUK ISLAM atau meninggalkan negeri ini atau ‘bersiap-siaplah untuk mati.’ Suatu hari, orang-orang bermasker menyerang rumah kami, mengikat suami saya dan SATU PER SATU MEREKA MEMPERKOSA SAYA DIDEPAN SUAMI SAYA. Setelah insiden itu kami memutuskan untuk kabur dari tanah kami yang sudah dihuni kaum kami huni selama 2000 tahun ini,” demikian kesaksian salah seorang korban.  
 
Perang Iraq membawa penderitaan yang tidak dapat dibayangkan, berjuta cerita berbeda tentang kesedihan, kekerasan, dan pengasingan. Namun dalam perang ini, tindakan keji yang jarang diucapkan adalah tindak pidana PEMERKOSAAN. Dan bagi kaum KRISTEN IRAK, khusunya, ini sebuah  kisah yang saking seringnya terulang sampai tidak lagi dapat diacuhkan. Tetapi, tragisnya untuk banyak wanita yang mengungsi, penderitaan mereka tidak berakhir di perbatasan.  
 
Sekitar 13.000 pengungsi Kristen Irak kini berada di Turki, termausk 7.000 orang di Istanbul, di kawasan-kawasan yang paling miskin, di gedung-gedung atau lantai-lantai bawah tanah yang tidak layak huni, tidak memiliki saluran air atau tingkat higiene memadai.  
 
Kamar-kamar bawah tanah ini basah, bau karena mereka berada dibawah saluran air. Mereka sendiri tidak memiliki toilet. Lebih dari 80 orang per kamar(bawah tanah) hidup, masak dan makan, menggali lubang-lubang untuk buang air. Memang baunya busuk, tetapi  mereka tidak memiliki pilihan; pulang kembali ke Iraq sama saja dengan bunuh diri.  
 
Akomodasi mereka dikuasai oleh gang-gang kriminal, yang menuntut uang sewa US$50/24 per orang (termasuk anak-anak) per bulan. Mereka yang tidak dapat melunasi, akan dilempar ke jalanan. Karena mereka pengungsi ilegal, mereka tidak dapat mencari pekerjaan ataupun berjalan keluar karena karena mereka akan ditangkap polisi atau – lebih parah lagi – dikirim kembali ke perbatasan (Irak).  
 
Beberapa wanita menemukan pekerjaan sebagai pembantu dimana mereka dibayar dengan upah yang minim termsuk juga gangguan, penganiayaan, dan bahkan pelecehan. Jika mereka melapor KEPADA polisi, mereka akan dilempar ke penjara . Mati kelaparan atau menderita penyakit merupakan hal yang lumrah.  
 
NAMUN Sister Hatune — yang kini mendapat julukan Ibu TERESA dari IRAQ — merupakan salah seorang malaikan penyelamat. Yayasan Sister Hatune yang bermarkas di India, dengan cabang-cabang di Eropa dan AS, didirikan tahun 1992 untuk membantu mereka yang tuna wisma, berpenyakitan, korban2 tragedi alam dan pengungsi2 yang ditekan karena agama mereka. Lahir di Turki Tenggara, dari sisa2 penduduk Assyria.  <www.sisterhatunefou ndation.com/ iraq.htm>
 
Ia tadinya bertugas di India di tahun 90an, namun karena perang Irak dan exodus Kristen, ia kini mengalihkan perhatiannya ke saudara-saudara Kristennya tersebut. Sekitar 3.5 juta pengungsi Iraq terdapat di negara-negara tetangga, termasuk 2.2 juta di Syria dan 750.000 di Yordania. Namun yang paling menyedihkan adalah nasih sekitar 600.000 Kristen Irak.  
 
Kunjungan Suster Hatune, dimana ia memberikan Uang dan Pakaian, disebut-sebut sebagai bantuan perpanjangan dari Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lainRed)  
 
“Memang menyedihkan melihat ibu-ibu kurus ini mencoba keras menyusui anak-anak mereka,” katanya. “Kelaparan memang hal yang sangat berat bagi manusia dan banyak ibu-ibu terpaksa menjual diri mereka bagi sandang dan pangan. Saya ketemu banyak keluarga yang dengan rela menjual diri mereka demi sepotong roti.  
 
Suster Hatune, seorang yang lembut, dan murah senyum dengan aksen antara timur tengah dan eropa tengah, telah dapat membuat para gadis-gadis untuk berbicara bebas mengenai penderitaan mereka. Beberapa cerita, melibatkan Gadis dibawah umur, sangat-sangat mengerikan untuk diberitakan. Banyak Gadis-gadis kecil dan Wanita dewasa mempunyai banyak luka memar di sekujur tubuh mereka. Untuk keamanan, nama mereka tidak dicantumkan.  
 
Helena adalah sebuah contoh khas. Sebelum perang, ibu berusia 47 tahun ini, anggota gereja Assyria, tinggal di Baghdad dengan suaminya yang bekerja SEBAGAI tukang listrik, ibu mertuanya dan kedua puterinya berusia 18 dan 7 tahun.  
 
Setelah jatuhnya Bagdad bulan April 2003, militan-militan Islam memulai kampanye teror mereka. Pertama, mereka mengirim surat ancaman kepada keluarga-keluarga Kristen, meminta mereka memeluk Islam atau meninggalkan negara (Irak). Surat-surat itu tidak digubris oleh keluarga tersebut (Keluarga Helena). Tapi suatu hari, didepan rumahnya suaminya dihujani peluru dari senapan mesin saat pulang kerja.Dua minggu setelah pembunuhan suaminya, Helena menerima surat lainnya dan mengontak seorang penyelundup. Mereka terpaksa melarikan diri ke Istanbul, dimana mereka tinggal di sebuah kamar bawah tanah dengan 40 pengungsi Kristen lainnya. Mereka tidak membawa satu barangpun yang mengingatkan mereka pada hidup mereka dulu yang makmur itu.  
 
Beberapa minggu setelah ketibaan mereka di Istanbul, seorang mucikari setempat menawarkan mereka uang SEBAGAI GANTI PUTERI TERTUA MEREKA.  
 
“4 hari dalam keadaan sanat lapar memaksa keluarga itu MENJUAL PUTERI MEREKA untuk satu malam KEPADA SEORANG MUSLIM KAYA.” kata Suster Helena.  
   
Suster Hatune dengan gadis Kristen Irak 9 tahun yang diperkosa secara brutal  
 
Keesokan harinya, sang gadis 18 tahun itu kembali ke rumah mereka dengan bekas-bekas luka pada tubuh dan pikirannya. “Pelaku sadist itu menyundut tubuhnya dengan rokok.” (Kata Suster Hatune) Ia mencoba bunuh diri. Keluarganya tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis dan berdoa.  
 
Setiap keluarga di Camp pengungsian mempunyai cerita-cerita tersendiri.  Cerita Ibu Salam juga tidak kalah tragis. Wanita 27 tahun itu tiba di Turki bulan Agustus lalu dari Mosul. Ibu dua anak – usia 4 tahun & 18 bulan – seperti umumnya keluarga Kristen lain, hidup nyaman dengan suami yang bekerja pada perusahaan minyak. “Kami termasuk kaya, punya rumah dan mobil dan hidup dengan damai dibawah periode Saddam Hussein,” katanya. Ia DIPERKOSA RAMAI-RAMAI didepan suaminya dan hanya berhasil kabur dengan bantuan gang penyelundup, sambil menyamar dalam busana Muslim.  
   
Kristen Irak di Istanbul; tadinya kaya, kini melarat, tersiksa, dilecehkan, hidup sebagai pengungsi dan tergantung dari sumbangan  
 
“Kami membawa seluruh barang-barang berharga dan Uang kami saat kami meninggalkan rumah. di jalan, kami bertanya pada penyelundup berapa banyak kami harus membayar untuk pergi ke Turki.” Ia berkata, ” Apa saja yang kau punya, itu adalah biayanya/ongkosnya”. Saat kami sampai dekat perbatasan Turki, dia dan anggota gengnya menggeledah tubuh kami dan harta kami dan mengambil seluruhnya. Ada juga keluarga lain bersama kami, dan nasib yang sama menimpa mereka.  
 
“Ketika kami dibiarkan begitu saja di Turki, seluruh harta kami yang tersisa dikuras oleh penyelundup. Satus-satunya harta yang masih kami punya adalah baju-baju pada tubuh kami. Bahkan cincin emas saya (yang didapatkan dengan memohon-mohon) sudah saya jual untuk sepotong roti.”  
 
Sebagai korban pemerkosaan, Ibu Salam sulit menerima keadaannya ini. “Saya malu memandang orang lain. Mereka kenal saya, mereka juga tahu bahwa saya diperkosa. Saya tidak dapat menceritakan perasaan saya pada orang saya. Kadang saya merasa tidak lagi sanggup hidup.”  
 
“Tetangga-tetangga Muslim kami pun berbalik memusuhi kami. Kami tidak lagi punya teman ataupun bantuan. Kami takuntu kami akan dibunuh begitu kami kembali. Kami hanya bisa berdoa agar Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) membebaskan kami dari neraka ini.”  
 
Setelah pembunuhan Uskup Besar Paul Rahho, pemimpin gereja Chaldean Catholic di Iraq utara, sejumlah Kristen Irak mulai bersembunyi dibawah tanah, di catacombe seperti nenek moyang mereka di abad 1M. Ini adalah sentimen, kata Ibu Salam.  
 
“Kepercayaan saya kuat, karena nenek moyang kami adalah orang-orang yang kuat kepercayaannnya dan penderitaan mereka jauh lebih parah dari yang kami rasakan sekarang. Kami percaya bahwa penderitaan ini akan menguatkan kehidupan spiritual kami. Suatu saat saya bertanya: ‘Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan saya?’ Tetapi Tuhan (Yesus tentunya, bukan yang lain-Red) mengirimkan bantuannya melalui orang-orang untuk menolong kami, dan Aku percaya Ia akan menyelamatkan saya. Kedatanganmu adalah perwujudannya” (Kata Ibu Salam kepada Suster Hatune-Red)  
   
Sister Hatune dengan pakaian-pakaian bekas untuk disumbangkan bagi pengungsi Kristen Irak  
 
Yayasan Suster Hatune memberikan gandum, tepung, gula, dan pakaian melalui jalur darat, dibantu oleh Indian Chapter, YMCA, dan Jubilee Campaign di Inggris. Pemerintah Syria juga membantu dengan Damaskus pusat untuk menyediakan bahan-bahan. Yang penting dari semuanya, adalah, Uang-Tanpa pekerjaan, dan banyaknya lelaki mereka yang meninggal, Para Wanita sering tidak terlindungi dan tercukupi. Suster Hatune, dengan bantuan dari Yellow Christian di Eropa dan lainya, juga menyediakan uang untuk seorang wanita, Ibunya, dan 2 adiknya untuk dapat hidup dan makan selama 6 bulan, Jadi saudara mereka yang berumur 18 tahun tidak lagi perlu untuk menjual diri.  
 
“Saat kuberikan uang, Ia berlutut dan berterimakasih untuk para dermawan yang menyumbang, dan bukan untukku,” Kata Suster Hatune.  
 
Suster Hatune, dengan bantuan sumbangan yayasannya, mampu melunaskan uang sandera bagi seorang gadis 13 tahun yang diculik dan diperkosa selama dua minggu sampai gang penculik itu membebaskannya dengan uang ganti US$9.000/4,000..  
 
Keluarga lainnya yang mereka bantu terdiri dari anak umur 16 tahun dan ayah tirinya yang lumpuh dan Ibunya yang sakit mental. Saudara laki-lakinya yang berumur 22 tahun menghilang. Militan Islam menculik gadis itu dan menyekapnya selama 4 bulan dimana ia disiksa. Bersama tetangga Kristennya, yang diperintahkan untuk murtad atau mati, akhirnya mereka kabur.  
 
“Empat orang memperkosanya. Saat menceritakan kisahnya, Ia gemetar dan gugup kemudian pingsan. Aku mencoba untuk menopangnya ditangan. Tim kami membayar uang sewanya selama 6 bulan.”  
 
Di hari terakhirnya di Istanbul, Suster Hatune dengan sebuah pick-up tiba di penginapan para pengungsi dan menyalurkan pakaian dan uang. Di hari yang sama grup bertemu 6 keluarga yang baru tiba di Turki dan tidur di tanah tanpa selembar alaspun. Suster Hatune memberikan memberi mereka kasur, pakaian, dan 80 setiap orang.  
 
Ayah dari satu keluarga telah dibunuh sehingga muslim bisa mengambil jabatannya di bidang perminyakan, dan Istrinya dipaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan. Suster Hatune memberikannya 800 untuk memenuhi kebutuhan selama 6 bulan.  
 
Bulan depan, Suster Hatune akan ke Yordania, dimana skala penderitaan pengungsi Kristen disana JAUH LEBIH PARAH daripada di Turki. Untuk itu Suster Hatune meminta kepada Umat Kristen diseluruh dunia agar merogoh kantong mereka dalam-dalam untuk membantu mereka. Seorang janda yang dipaksa menjual dirinya berkata kepadanya (Suster Hatune): “Para dermawan yang membantu kami adalah malaikat yang menyelamatkan kami dari neraka.”  
 
Jika berniat untuk membantu, tolong kirimkan cek kepada “Assyrian Aid Society”, dan kirimkan ke perkumpulan di 36 Crossway, London W13 0AX, dengan pesan berisikan bahwa sumbangan untuk Suster Hatune.  

(Oleh Ed West)

http://www.catholicherald. co.uk
4-18-2008
terjemahan bebas http://www.aina.org/ news/20080418145 716

Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II


Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II

Warsawa (ANTARA News) – Secara kasat mata, Islam tidak menonjol di Polandia. Maklum, negeri ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Umat Nasrani di negeri asal mendiang Paus Johannes Paulus II itu mencapai 95 persen dari hampir 40 juta penduduk.

Namun Islam telah berada di Polandia sejak 600 tahun silam dan memiliki tempat dalam sejarah panjang di negeri yang pernah hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu.

Jumlah umat Islam di Polandia berkisar antara 25-30 ribu, umumnya penganut aliran Sunni, di antaranya sekitar 3.000 – 5.000 berdarah Tartar.

Seiring berkembangnya ekonomi, banyak kaum muda yang dinamis pindah dan menetap di wilayah utara, terutama di Gdansk. Kaum tua Tartar kebanyakan bertahan di permukiman asli mereka di kota-kota kecil di sekitar Byalistok.

Tidak banyak terdapat masjid di Polandia, cuma dalam bilangan jari. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah penganut Islam dari Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan, rumah-rumah ibadah Muslim dalam bentuk mushalla juga berkembang pesat.

Di kota-kota besar seperti Krakow, Wroclaw, dan Gdansk yang memiliki masjid, tempat ibadah itu memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan Informasi Islam.

Gdansk menjadi tempat yang khusus karena memiliki menara, meskipun azan tidak dikumandangkan. Namun, dalam peta Islam kota kecil Kryszyniany dan Bohoniki, di dekat Byalistok, memiliki tempat khusus bersejarah, karena di tempat itu terdapat dua mesjid tua yang kurang lebih sama tuanya dengan yang terdapat di Lithuania maupun Belarus.

Di Wroclaw, menurut Imam Ali Abi Issa yang menjadi Ketua sekaligus imam pada Pusat Kebudayaan Islam, suasana Ramadhan diisi dengan shalat tarawih, pengajian, dan shalat Ied bersama umat Islam setempat.

Imam Ali sangat aktif menggerakkan dialog antar-agama, termasuk antara Islam dan Yahudi berkembang baik. Mayoritas kaum Muslim berasal dari negara-negara Arab.

TKI yang berjumlah sekitar 15 orang juga sering hadir beribadah di mesjid. Dewan Kota Wroclaw sangat mendukung keberagaman dan toleransi yang pada gilirannya akan membentuk citra kota Wroclaw sebagai kota budaya internasional.

Maklum, Wroclaw ingin mengimbangi kedudukan unggul Krakow sebagai kota budaya yang banyak menarik wisata dan investasi, dan keduanya terletak di bagian selatan Polandia.

Iedul Fitri 1429 H merupakan kesempatan ketiga berlebaran bagi penulis sekeluarga selaku Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa. Lebaran yang jatuh hari Rabu, 1 Oktober 2008, berdasarkan pengumuman dari Masjid Warsawa. Shalat Ied dimulai jam 0900 pagi, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani dan telah bermukim di Polandia selama 600 tahun.

Masjid Warsawa yang terletak di daerah pemukiman elit di bilangan Wilanow di Jalan Wiertnicza dan umat Islam bolehlah berbangga. Di Polandia tak gampang menemukan masjid. Lebih dari 95 persen rakyat Polandia beragama Katolik, sisanya Protestan, Ortodoks, Yahudi dan Muslim.

Kehidupan beragama pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen, dan tidak dianjurkan. Pada era keterbukaan, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin berkembang.

Idul Fitri di Byalystok

Ketika Mufti Tomasz Miskiewicz, Ketua Dewan Persatuan Agama Islam Polandia menyampaikan undangan beridul fitri di Byalystok, wilayah timur Polandia, penulis langsung menyatakan akan datang, bersama isteri.

Tidak saja karena berteman baik dengan Mufti Polandia itu, tetapi lebih khusus lagi karena Byalistok merupakan kota bersejarah, di mana selama 600 tahun umat Islam bermukim di kota itu.

Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan dari prajurit Tartar yang gagah-berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410.

Nenek moyang mereka turut berperang membantu Jan Sobieski, panglima perang yang kemudian menjadi raja Polandia, melawan pasukan Ottoman dalam mempertahankan kerajaan Austro-Hongaria sebagai bastion kerajaan Kristen, pada pertempuran Wina pada tahun 1683, sehingga Sobieski diberi gelar oleh Paus dan pemimpin Eropa sebagai “the Savior of Vienna and Western European civilization”.

Itulah sebabnya, para pemimpin perang Tartar diberikan gelar kebangsawanan dan memperoleh tempat khusus di hati rakyat Polandia. Panglima-panglima perang dan perajurit Tartar juga dengan gagah berani membela Polandia, tanah air baru mereka, dalam pertempuran menghadapi serbuan Jerman dan Uni Soviet menjelang Perang Dunia II pada tahun 1939.

Mufti Tomasz selalu diundang oleh Presiden Polandia pada saat menerima tamu-tamu negara Muslim, dalam kunjungan ke Polandia. Beliau juga rajin mengunjungi acara-acara resepsi yang diselenggarakan oleh KBRI Warsawa. Mufti yang juga keturunan Tartar itu berusia 30 tahun, cukup berwibawa, lulusan Fakultas Hukum di Arab Saudi dan sangat aktif dalam memajukan masyarakat Muslim di Polandia.

Dia membangun tempat wisata agro di Byalistok, tempat tinggalnya.

Disambut meriah

Setelah menempuh perjalanan dari Warsawa sejauh 200 km diiringi hujan sepanjang hari pada hari Sabtu (4/9), kami tiba di Byalistok berkumpul dengan sekitar 500 masyarakat Muslim Tartar, tua-muda, termasuk anak-anak, yang datang dari berbagai penjuru Polandia, dan bahkan dari luar negeri.

Mereka memadati gedung Pusat Kebudayaan Bialystok, tempat acara berlangsung.

Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadan), mungkin bayram diambil dari bahasa Turki yang berarti perayaan. Orang asing yang hadir barangkali kami dari Indonesia dan Dubes Azerbaijan, yang datang menyumbang konser lagu-lagu Islam oleh grup kesenian dari negerinya.

Etnis Tartar, sebagaimana saudara-saudara mereka dari Asia Tengah dan Kaukasus, sangat ramah dan bersahabat. Semua hadir mengenakan pakaian terbaik, berwarna-warni. Sebagian ibu-ibu dan wanita muda berkerudung.

Demikian pula kaum pria Tartar. Kami bertukar salam. Tidak tertinggal kesan, bahwa kakek-moyang mereka adalah pasukan perang berkuda bersenjata panah dan pedang yang gagah berani. Sayang, cuma dua duta besar dari negara-negara OKI yang hadir, Indonesia dan Azerbaijan.

Delegasi Indonesia dan Azerbaijan diberi kehormatan untuk duduk di barisan depan, dan diperkenalkan kepada hadirin sambil mempersembahkan seperangkat kembang yang indah dan diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan Indonesia, negeri yang jauh dan indah di mana sekitar 220 juta umat Islam di sana juga sedang merayakan Idul Fitri.

Penulis katakan, meskipun berjumlah kecil di Polandia namun jangan berkecil hati, karena umat Islam Indonesia adalah saudara-saudara kalian. Mereka menunggu kedatangan saudara-saudara Muslim dari Polandia. Sangat ramah, dan mereka memberikan tepukan meriah. Beberapa kaum ibu berbincang-bincang dengan Ny. Pohan yang senantiasa berjilbab untuk bertukar informasi mengenai tradisi Idul Fitri di berbagai suku-bangsa di Indonesia.

Mereka terkesan dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dan tradisi Idul Fitri yang dimulai dengan berziarah ke makam leluhur, makan pagi dan berdoa bersama keluarga sebelum shalat Ied, dan saling-berkunjung dan memaafkan, termasuk dengan teman dan tetangga. Suasana Ied berlangsung selama satu bulan penuh.

Di kota lain

Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat ini juga bermanfaat untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra toleransi beragama yang tinggi di Polandia.

Shalat Ied di Warsawa, misalnya, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia.

Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia. Imam mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat fitrah dan bersedekah.

Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam.

Masjid Warsawa itu terdiri dari dua lantai: wanita beribadah di lantai atas sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta makanan kecil halal.

Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam.

Sudah lama masyarakat Muslim di Warsawa, berkeinginan untuk memiliki Masjid Raya, khususnya sejak zaman keterbukaan setelah runtuhnya Tembok Berlin, namun belum terwujud. Apalagi, di beberapa negara Eropa Barat tidak mudah urusan administratif untuk membuat rumah ibadah Islam, meskipun di berbagai kota besar Eropa terdapat ratusan ribu jamaah Muslim.

Ibadah dijalankan di rumah-rumah bahkan di bekas-bekas gudang. Masjid Warsawa itu baru dalam beberapa tahun terakhir berfungsi, karena sebelumnya merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat.

Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi.

Menurut Emir Poplawski, imam pada mesjid di Warsawa, Islam tidak bermasalah dan bahkan disambut baik dengan hak dan kewajiban sosial yang sama dengan warga lainnya. Bahkan, karena peran yang bersejarah, Konstitusi Mei 1791 mengakui kedudukan etnis minoritas Tartar yang kebanyakan Muslim dengan posisi menjadi anggota parlemen (Sejm). (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

PubDate: 07/10/08 14:33

Sumber: http://www.antara.co.id/print/?i=1223364838