Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri

Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri

dicopy paste dari:  http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=church&id=845

Wednesday, Sep. 24, 2008 Posted: 5:06:25PM PST

JAKARTA – Sebuah gereja megah senilai jutaan dolar diresmikan Sabtu (20/9) lalu di Indonesia, negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan mengadakan sebuah ibadah yang dihadiri sekitar 4000 orang yang menyanyikan pujian dan membaca Alkitab.

Pendirian Katedral Mesias yang megah di Jakarta tersebut digagas oleh evangelis Indonesia keturunan Cina, Stephen Tong, yang mengatakan tujuan pembangunan gereja tersebut untuk menepis kesalahpahaman yang mengatakan bahwa Indonesia tidak toleran terhadap agama minoritas.

“Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hambatan dari pemerintah Indonesia untuk membangun tempat pusat peribadatan,” kata Tong, evangelis terkemuka pendiri Gereja Reformed Injili pada 1989.

“Hal ini juga ingin memberikan kesan baru kepada dunia terhadap Indonesia: bahwa Indonesia bukanlah suatu negara yang melulu kacau atau penuh dengan permasalahan,” kata Tong, menurut Reuters.

Para jemaat yang hadir di gereja tersebut kebanyakan adalah keturunan Cina, yang mendengarkan dengan penuh perhatian saat Tong berkotbah dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin mengenai sebuah topik tentang gereja reformed dan homoseksualitas selama hampir tiga jam ibadah.

Kelompok paduan suara, banyak yang memakai pakaian tradisional batik mereka yang terbaik, berdoa dan menyanyikan lagu Gregorian dan pujian lainnya sebelum mengakhiri ibadah dengan pujian Haleluya milik Handel yang bergema diantara pilar-pilar aula.

Pembangunan gereja tersebut didanai oleh sumbangan dari jemaat, gereja yang didesain dengan kubah putih yang mana tempat tersebut juga akan digunakan sebagai seminari, ruang konser dan museum lukisan dan porselen Cina dalam usaha untuk memperkenalkan pemahaman tentang agama dan kebudayaan.

Berdasarkan catatan jumlah Kristiani di Indonesia sekitar 10 persen dari 226 juta total penduduk Indonesia, dan pada masa lalu banyak yang juga menjadi target kekerasan Islam garis keras di beberapa bagian kepulauan yang terletak di Asia Tenggara.

Sekitar 85 persen dari penduduk beragama Muslim dan kebanyakan adaah moderat, tetapi kelompok minoritas garis keras saat ini telah menjadi semakin vokal beberapa tahun belakangan ini dan ketegangan agama yang kerap kali muncul diantara Muslim dan Kristiani di berbagai titik wilayah.

Kelompok-kelompok Muslim radikal memaksa beberapa gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya untuk tutup pada tahun-tahun terakhir ini, yang kemudian segera mendapat kritikan dari kelompok hak asasi manusia.

Dengan adanya iklim permusuhan yang terjadi, menyebabkan pembangunan mega gereja tersebut tidak berjalan dengan mudah-yang mana pembangunannnya memakan waktu 16 tahun bagi Tong untuk mendapatkan lampu hijau dari pemerintah yang berwenang di Indonesia.

“Gereja-gereja lainnya di Indonesia kebanyakan didirikan oleh Belanda dan sampai saat ini kebanyakan dari mereka masih mengandalkan pembiayaan dari luar negeri. Namun gereja kami tidak bergantung kepada pendanaan luar negeri,” kata Tong.

“Ini adalah satu-satunya gereja nasional di Indonesia yang dibiayai sendiri oleh jemaatnya, karena uangnya berasal dari Indonesia, desainnya dari Indonesia, bahan-bahannya dari Indonesia. Tidak ada bantuan dari luar negeri,” kata Tong.

Gereja besar, yang mampu menghimpun ribuan orang saat pujian penyembahan pada ibadah Minggu, sudah sangat popular di Amerika Serikat, khususnya di pinggiran kota dan kota-kota kecil di mana mereka sering menggunakannya sebagai sebuah pusat kegiatan masyarakat. Kebanyakan merupakan aliran yang bukan Injili atau Pantekosta, dengan beberapa memiliki hubungan dengan Southern Baptists.

Ibadah yang berlangsung di aula yang besar biasanya memiliki ciri khas kotbahnya mengharukan dan sedikit lebih menekankan pada musik penyembahan modern daripada hymne tradisional. Para kritikus seringkali menganggap gereja-gereja besar biasanya memiliki kotbah yang dangkal dan lebih menekankan pada hiburannya daripada agama.

Beberapa pakar mengatakan berdirinya megagereja di Indonesia merupakan suatu tanda semakin meningkatnya kepercayaan diri dikalangan komunitas Kristen di Indonesia, sementara pihak lain mengatakan bahwa hal tersebut justru dapat berubah memicu kemarahan keras dan ketakutan di dalam negara yang mayoritas adalah Muslim.

“Yang lebih membahayakan lagi jika beberapa kelompok mengartikan pendirian gereja tersebut sebagai salah satu upaya kristenisasi orang. Hal tersebut dapat membangkitkan kebencian,” ungkap Syafi’i Anwar, direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), kepada Reuters.

“Dengan kata lain hal tersebut bukannya membuktikan bahwa toleransi agama berjalan dengan baik di sini. Terbukti baru-baru ini, terjadi tekanan-tekanan yang makin meningkat terhadap pemerintah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras terhadap kebebasan beragama.”

Gereja Mesias yang megah tersebut berlokasi di pusat bisnis Kemayoran, Jakarta.>

Rosa H.
Reporter Kristiani Pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: