Kesaktian Pancasila Untuk Siapa?


Kesaktian Pancasila Untuk Siapa?

Surakarta (ANTARA News) – Pada tahun 1965 hingga rezim Orde Baru tumbang pada 1998, Pancasila menjadi idiom paling sakti dan dipakai sebagai alat politik.

Terbongkarnya Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menculik dan membunuh secara keji enam jenderal, yakni Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI DI Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean diyakini karena kesaktian Pancasila dan dijadikan awal peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Demi tegaknya Pancasila pula seluruh kekuatan PKI dilucuti, kader, anggota, dan simpatisannya dibantai atau dihukum sebagai tahanan politik. Orde Baru pun muncul sebagai pengoreksi total Orde Lama.

Pancasila dijadikan asas tunggal dalam berbagai kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penataran Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4) menjadi “kegiatan wajib” yang harus diikuti pelajar, mahasiswa, calon karyawan, swasta hingga pejabat atau aparatur negara.

Sosok penguasa Orde Baru Jenderal Soeharto yang menggunakan Pancasila sebagai alat politiknya dikultuskan oleh para pemuja dan kroninya sebaliknya menjadi momok bagi penentangnya.

Sebanyak 50 tokoh nasional yang menyampaikan petisi “Pernyataan Kepedulian” atau yang lebih dikenal sebagai Petisi 50 “dimatikan secara perdata” hanya karena mereka mengeritik pidato Soeharto dalam pertemuan petinggi ABRI di Pekanbaru pada 27 Maret 1980 dan HUT Kopasandha (saat ini Kopassus) di Cijantung, Jakarta pada 16 April 1980 yang menggunakan Pancasila sebagai alat politik dan alat penekan lawan-lawannya.

Dari tahun ke tahun sejak 1 Oktober 1965 hingga kini pimpinan negara dan pemerintahan memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Namun sesungguhnya kesaktian Pancasila itu untuk siapa?

Saat menyampaikan pidato kenegaraan pada Rapat Paripurna DPR tanggal 15 Agustus 2008 misalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono antara lain mengatakan, “Apapun yang terjadi, kita harus terus berpegang teguh pada keempat pilar itu, sebagai landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Keempat pilar yang disebutkan Yudhoyono adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kita tidak bisa tenggelam dalam budaya sinisme dan sifat gamang yang tak kunjung habis. Dan kita tidak boleh lengah membaca zaman yang telah berubah,” kata Kepala Negara ketika itu.

Pancasila selain menjadi ideologi dan dasar negara juga menjadi sumber dari segala sumber hukum di Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pancasila yang lahir dari akar sejarah budaya bangsa mengandung nilai-nilai luhur universal yang menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia yakni Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Tetapi benarkah Pancasila telah benar-benar diamalkan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia?

Dalam sebuah negara yang berlandaskan Pancasila mengapa masih terjadi tindak kekerasan justru pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2008 lalu di Silang Monas Jakarta ketika massa Front Pembela Islam (FPI) bentrok dengan massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)?

Lalu mengapa di negara yang berasaskan Pancasila praktik korupsi justru marak, ketidakadilan justru merebak, pembunuhan berantai dengan cara amat sadistis dan di luar nalar, masyarakatnya mudah diadu domba, dan pengingkaran terhadap Ketuhanan dan nilai-nilai agama?

Tak lupa pula mengapa hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni yang digali oleh Bung Karno belum menjadi agenda resmi kenegaraan?

Revitalisasi

Memperingati Hari Kesaktian Pancasila tidak sepenting mengamalkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, demikian pernyataan yang sering disebut.

Ironisnya, seperti juga diakui oleh Ketua DPR Agung Laksono, nilai-nilai luhur Pancasila sudah semakin luntur di kalangan masyarakat Indonesia sehingga Pancasila perlu direvitalisasi.

Revitalisasi nilai-nilai Pancasila hanya bisa terjadi jika ada aktualisasi nilai-nilai positif Pancasila oleh segenap masyarakat bangsa ini.

Kasus korupsi yang merebak misalnya, dalam penilaian Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar terjadi karena implementasi nilai-nilai sesuai asas Pancasila semakin menyimpang.

“Makanya dari 30 delik korupsi, 28 di antaranya menyangkut perilaku. Tetapi kalau (nilai-nilai) Pancasila sudah dilupakan, ya perilakunya begini… ya korup,” tuturnya pada diskusi “Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa” di Jakarta 1 Juni.

Antasari Azhar menegaskan, Pancasila sesunggguhnya merupakan sumber nilai anti korupsi.

“Persoalannya, arah ideologi kita itu ke mana? Seperti di persimpangan jalan. Lalu, nilai-nilai lain yang kita anut, sehingga terjadilah tindak korupsi. Karena nilai-nilai kearifan lokal semakin ditinggalkan, yang ada nilai-nilai kapitalis, terdoronglah orang bertindak korupsi,” katanya.

Senada dengan Ketua DPR, Ketua KPK pun menyatakan saatnya Pancasila kembali direvitalisasi sebagai dasar falsafah negara dan menjadi prinsipa prima bersama norma agama.

“Sebagai prinsipa prima maka nilai-nilai Pancasila dan norma-norma agama merupakan dasar untuk seluruh masyarakat Indonesia berbuat baik,” katanya.

Untuk berbuat baik tak cukup hanya dengan memperingati hari Kesaktian Pancasila tetapi suasana peringatan itu pada tahun ini yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1429 Hijriyah menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia kembali ke fitrah dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

Disalin dari: http://www.antara.co.id/print/?i=1222782791

Cara Mudah Mengenali Makanan & Minuman Berbahaya


Cara Mudah Mengenali Makanan & Minuman Berbahaya

Oleh Edy M. Ya`kub

Surbaya (ANTARA News) – Makanan dan minuman menjadi pilihan wajib bagi siapa pun untuk menjaga kesehatan sekaligus meneruskan keberlangusngan hidupnya. Namun, makanan dan minuman yang diolah secara tidak benar justru dapat menjadi pembunuh nomor wahid lantaran mengandung zat racun bagi tubuh.

Hal itulah yang mengilhami peneliti Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) melakukan penelitian dan akhirnya mempublikasikan dalam “Expo Karya Wima (Widya Mandala)” di kampus setempat pada 21-22 September 2008.

“Tips mengenali makanan dan minuman yang berbahaya dan yang aman itu penting pada masa-masa menjelang Lebaran,” kata peneliti UKWMS, Caroline SSi MSi Apt.

Dalam percakapannya dengan ANTARA News di Surabaya, ia menyampaikan metode pengenalan paling mudah dari berbagai sudut yakni warna, kandungan boraks, kandungan formalin, daging gelonggongan, ayam basi, ikan basi, makanan kaleng, bahaya snack, dan bahaya kemasan plastik.

“Kalau ada makanan yang warnanya mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saos yang warnanya membekas di tangan memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil yang dapat menyebabkan kanker,” katanya.

Untuk boraks, katanya, dapat diamati dari bakso. “Kalau kenyal atau mudah dipantulkan seperti memantulkan bola karet di tanah, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit,” katanya.

Sebaliknya, katanya, tahu putih yang terlalu keras justru patut diduga mengandung formalin. “Kalau tahu kuning yang keras, kami belum melakukan penelitian, tapi kalau tahu putih yang tidak lembek dapat diduga ada kandungan formalin di dalamnya,” ucapnya.

Tentang daging gelonggong (daging yang diisi air), dosen Fakultas Farmasi (FF) UKWMS itu mengatakan daging seperti itu dapat dikenali dari air yang menetes bila digantung.

“Jadi, pilih saja daging yang digantung. Kalau ada air yang menetes berarti daging gelonggongan. Cara lain mengenali dari warna daging yang asli masih merah segar dan serat-serat di dalam daging juga tidak menggelembung,” katanya.

Harga yang tidak wajar juga merupakan pertanda. “Harga daging yang wajar itu Rp46 ribu perkilogram, nah kalau harganya lebih murah dari itu berarti patut dicurigai sebagai daging gelonggongan,” ungkapnya.

Kalau daging ayam, bagaimana cara mengenali daging dari ayam yang mati?

“Daging ayam yang masih segar itu berwarna agak kekuning-kuningan, kalau warnanya putih bersih justru dimungkinkan dari bekas ayam mati, apalagi kalau ada warna biru seperti bekas memar serta bau sangat amis,” katanya.

Bahkan, katanya, ada pula daging ayam yang direndam formalin agar awet. “Kita dapat mengenali daging ayam berformalin dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau air berarti pernah direndam dengan formalin,” katanya.

Namun, katanya, formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan. “Caranya, makanan yang mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan dengan oven bersuhu 121 derajat tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan air cuka 5 persen selama 15 menit atau direndam air garam selama 30 menit untuk ikan asin,” katanya.

Lain halnya cara mengenali ikan basi. “Kalau ditekan justru lembek, warna insang tampak merah tua, atau mata ikan justru terlihat bening, maka cirinya ikan itu basi atau diberi formalin. Paling mudah ya beli saja ikan yang masih ada tanda-tanda hidup,” katanya.

Caroline juga menyarankan agar masyarakat jangan membeli makanan kaleng yang kemasan kalengnya sudah penyok.

“Kaleng yang penyok akan mengubah konsentrasi di dalam kemasan, karena kaleng penyok dapat mengandung racun akibat adanya kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Kalau mau aman ya dipanaskan seperti ikan atau dibakar agar racunnya mati. Biasanya, supermarket justru memberi diskon,” katanya.

Untuk snack (makanan ringan) yang banyak disukai anak-anak, katanya, justru perlu dilihat komposisi zat warna-nya dan nomor registrasi. “Kalau warna-warnanya mencolok atau tanggal produk-nya kadaluarsa justru berbahaya,” katanya.

Satu lagi bahaya yang sering tak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam, dan melamin. “Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker,” katanya. (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

Sumber: http://www.antara.co.id/print/?i=1222728249

Aliansi Injili Sedunia Umumkan Kerjasama Global dengan World Vision


Aliansi Injili Sedunia Umumkan Kerjasama Global dengan World Vision

Disalin dari: http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=church&id=847

Friday, Sep. 26, 2008 Posted: 7:41:43PM PST

Aliansi injili terbesar di dunia dan salah satu organisasi Kristiani pemberi bantuan terbesar mengumumkan hubungan kerjasama global mereka Rabu lalu.

World Evangelical Alliance (WEA), yang mewakili sekitar 420 juta Kristiani injili di seluruh dunia, dan World Vision International, yang bekerja di 98 negara dan melayani hampir 100 juta orang, sepakat untuk bekerjasama mewujudkan gagasan mengenai kepedulian holistik bagi anak, mengembangkan keadilan sosial, dan memberikan kontribusi bagi terwujudnya kesatuan dan kerjasama di kalangan Kristiani.

“World Vision International memiliki sejarah panjang dalam hubungan efektifnya dengan orang miskin dan terhimpit,” kata Rev Dr Geoff Tunnicliffe, direktur internasional WEA. “Kami sangat senang World Vision dapat bergabung bersama dengan anggota dan mitra gobal kami lainnya untuk dapat membentuk sinergi yang besar dan berpengaruh terhadap Kristiani di seluruh dunia,” katanya

Sementara itu, wakil presiden WVI untuk Christian Commitments, Valdir Steuernagel, berkata bahwa dirinya memiliki harapan besar bahwa kemitraan tersebut dapat membantu kedua organisasi tersebut guna memenuhi misi mereka dan memperkuat tubuh gereja.

“Kami percaya kerjasama kami dengan WEA akan membantu kami memperkuat hubungan masyarakat secara umum dengan gereja-gereja di seluruh dunia guna mendukung advokasi kami terhadap anak-anak, keluarga dan komunitas untuk dapat mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan,” kata Steuernagel.

“Kami berharap dapat lebih membangun hubungan kerjasama kami yang lalu dengan WEA dan menciptakan sebuah hubungan kerjasama yang kuat selama bertahun-tahun dapat terwujud.”

World Vision International bergabung dengan WEA sebagai Mitra Global-nya yang ke-12. Keanggotaan sebagai Mitra Global diberikan kepada jaringan-jaringan internasional yang memiliki spesialisai dalam suatu bidang yang dapat memberikan kontribusi terhadap misi dan tujuan WEA. >

Ethan Cole
Koresponden Kristiani Pos

Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri


Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri

dicopy paste dari:  http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=church&id=845

Wednesday, Sep. 24, 2008 Posted: 5:06:25PM PST

JAKARTA – Sebuah gereja megah senilai jutaan dolar diresmikan Sabtu (20/9) lalu di Indonesia, negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan mengadakan sebuah ibadah yang dihadiri sekitar 4000 orang yang menyanyikan pujian dan membaca Alkitab.

Pendirian Katedral Mesias yang megah di Jakarta tersebut digagas oleh evangelis Indonesia keturunan Cina, Stephen Tong, yang mengatakan tujuan pembangunan gereja tersebut untuk menepis kesalahpahaman yang mengatakan bahwa Indonesia tidak toleran terhadap agama minoritas.

“Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hambatan dari pemerintah Indonesia untuk membangun tempat pusat peribadatan,” kata Tong, evangelis terkemuka pendiri Gereja Reformed Injili pada 1989.

“Hal ini juga ingin memberikan kesan baru kepada dunia terhadap Indonesia: bahwa Indonesia bukanlah suatu negara yang melulu kacau atau penuh dengan permasalahan,” kata Tong, menurut Reuters.

Para jemaat yang hadir di gereja tersebut kebanyakan adalah keturunan Cina, yang mendengarkan dengan penuh perhatian saat Tong berkotbah dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin mengenai sebuah topik tentang gereja reformed dan homoseksualitas selama hampir tiga jam ibadah.

Kelompok paduan suara, banyak yang memakai pakaian tradisional batik mereka yang terbaik, berdoa dan menyanyikan lagu Gregorian dan pujian lainnya sebelum mengakhiri ibadah dengan pujian Haleluya milik Handel yang bergema diantara pilar-pilar aula.

Pembangunan gereja tersebut didanai oleh sumbangan dari jemaat, gereja yang didesain dengan kubah putih yang mana tempat tersebut juga akan digunakan sebagai seminari, ruang konser dan museum lukisan dan porselen Cina dalam usaha untuk memperkenalkan pemahaman tentang agama dan kebudayaan.

Berdasarkan catatan jumlah Kristiani di Indonesia sekitar 10 persen dari 226 juta total penduduk Indonesia, dan pada masa lalu banyak yang juga menjadi target kekerasan Islam garis keras di beberapa bagian kepulauan yang terletak di Asia Tenggara.

Sekitar 85 persen dari penduduk beragama Muslim dan kebanyakan adaah moderat, tetapi kelompok minoritas garis keras saat ini telah menjadi semakin vokal beberapa tahun belakangan ini dan ketegangan agama yang kerap kali muncul diantara Muslim dan Kristiani di berbagai titik wilayah.

Kelompok-kelompok Muslim radikal memaksa beberapa gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya untuk tutup pada tahun-tahun terakhir ini, yang kemudian segera mendapat kritikan dari kelompok hak asasi manusia.

Dengan adanya iklim permusuhan yang terjadi, menyebabkan pembangunan mega gereja tersebut tidak berjalan dengan mudah-yang mana pembangunannnya memakan waktu 16 tahun bagi Tong untuk mendapatkan lampu hijau dari pemerintah yang berwenang di Indonesia.

“Gereja-gereja lainnya di Indonesia kebanyakan didirikan oleh Belanda dan sampai saat ini kebanyakan dari mereka masih mengandalkan pembiayaan dari luar negeri. Namun gereja kami tidak bergantung kepada pendanaan luar negeri,” kata Tong.

“Ini adalah satu-satunya gereja nasional di Indonesia yang dibiayai sendiri oleh jemaatnya, karena uangnya berasal dari Indonesia, desainnya dari Indonesia, bahan-bahannya dari Indonesia. Tidak ada bantuan dari luar negeri,” kata Tong.

Gereja besar, yang mampu menghimpun ribuan orang saat pujian penyembahan pada ibadah Minggu, sudah sangat popular di Amerika Serikat, khususnya di pinggiran kota dan kota-kota kecil di mana mereka sering menggunakannya sebagai sebuah pusat kegiatan masyarakat. Kebanyakan merupakan aliran yang bukan Injili atau Pantekosta, dengan beberapa memiliki hubungan dengan Southern Baptists.

Ibadah yang berlangsung di aula yang besar biasanya memiliki ciri khas kotbahnya mengharukan dan sedikit lebih menekankan pada musik penyembahan modern daripada hymne tradisional. Para kritikus seringkali menganggap gereja-gereja besar biasanya memiliki kotbah yang dangkal dan lebih menekankan pada hiburannya daripada agama.

Beberapa pakar mengatakan berdirinya megagereja di Indonesia merupakan suatu tanda semakin meningkatnya kepercayaan diri dikalangan komunitas Kristen di Indonesia, sementara pihak lain mengatakan bahwa hal tersebut justru dapat berubah memicu kemarahan keras dan ketakutan di dalam negara yang mayoritas adalah Muslim.

“Yang lebih membahayakan lagi jika beberapa kelompok mengartikan pendirian gereja tersebut sebagai salah satu upaya kristenisasi orang. Hal tersebut dapat membangkitkan kebencian,” ungkap Syafi’i Anwar, direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), kepada Reuters.

“Dengan kata lain hal tersebut bukannya membuktikan bahwa toleransi agama berjalan dengan baik di sini. Terbukti baru-baru ini, terjadi tekanan-tekanan yang makin meningkat terhadap pemerintah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras terhadap kebebasan beragama.”

Gereja Mesias yang megah tersebut berlokasi di pusat bisnis Kemayoran, Jakarta.>

Rosa H.
Reporter Kristiani Pos