Aksi Pelemparan Batu oleh FPI


Rekan AKKBB,
Hari ini, Kamis 25 September 2008, terjadi aksi pelemparan batu oleh FPI kepada para aktivis AKKBB.
Peristiwa diawali dengan penolakan AKKBB untuk melanjutkan persidangan karena tidak adanya jaminan keamanan kepada para saksi. Untuk menegaskan sikap ini, kami melakukan Konferensi Pers. Setelah konfpress selesai dan kami beranjak meninggalkan pengadilan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul
segerombolan FPI berlari dan melakukan aksi pelemparan batu. Sebagian rekan AKKBB masuk dan berlindung di Gedung PELNI yang lokasinya tidak jauh dari pengadilan.

BANSER NU yang bertugas menjaga keamanan AKKBB, mencoba bertahan. Namun karena FPI terus melakukan pelemparan batu, akhirnya Banserp pun membalas sehingga terjadi baku lempar antara mereka.

Polisi tidak bertindak tegas, padalah keadaan sudah genting. Akibatnya, salah seorang anggota Banser yang bernama Hardi mengalami luka kepala bocor. Santri Gus Nuril tersebut dilarikan ke R.S Tarakan oleh Hendrik dari PBHI.

Demikian sekilas info AKKBB Mohon dukungan rekan-rekan.

Salam,
ICRP

Sehari Gary Bisa “Nyopet: Tujuh “Handphone”


http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/09/26/ 00592014/ sehari.gary. bisa.nyopet. tujuh.handphone

Melihat gaya Gary (sekitar 5 tahun) di Polsek Matraman, Jakarta Timur,
tidak ada yang akan menyangka tiga hari yang lalu dia masih menjadi
anak jalanan. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencopet handphone milik
penumpang kereta api.

Namun bila bergaul dengan dia beberapa waktu, kita akan menyadari dia
sebenarnya bukan anak jalanan. Kemungkinan dia adalah korban
penculikan, yang kemudian dikaryakan sebagai pencopet.

Wajah bocah yang terlihat seperti keturunan Tionghoa ini semula
mengaku tidak punya orangtua. Gary ditemukan oleh Juviano Aparicio,
pemuda dari Timor Leste yang datang dari Yogyakarta hendak ke Kedutaan
Timor Leste di Jakarta.

”Saya menemukan Gary jalan mondar-mandir di kereta Progo jurusan
Senen. Lalu saya ajak dia saja. Saya curiga dia adalah korban
penculikan,” kata Juviano.

Saat ditanya, Gary semula mengatakan kedua orangtuanya sudah meninggal
karena kebakaran. Rumahnya dulu berada di sekitar Stasiun Bekasi. Dia
tidak tahu nama orangtuanya.

Tetapi setelah diajak ngobrol agak lama, Gary mengaku nama ayahnya
Asun dan ibunya Yanti. Dia punya nenek yang tinggal di Tanah Abang.

Kini Gary dirawat oleh Retno Widati, pemilik Sanggar Kayumanis yang
juga pengusaha jamu dan pengobatan alternatif. Kepada Retno, Gary
memanggil ibu. ”Ketika kami naik mobil yang ada AC-nya, dia langsung
bilang, AC-nya dingin ya. Berarti dia tahu AC,” kata Retno.

Selain itu, Gary juga bercerita ayahnya punya mobil Kijang warna
hitam. ”Waktu mandi dia juga mengenal sabun cair. Kalau benar anak
jalanan, dia tak akan tahu soal sabun,” ujar Retno.

Selain itu, Gary juga ternyata mahir makan menggunakan sumpit. Dia
bisa membedakan mana mi ayam yang enak dan mana yang tidak.

Retno telah memeriksakan Gary ke dokter, dan dokter tidak menemukan
tanda-tanda kekerasan di tubuhnya maupun kekerasan seksual. ”Yang ada
adalah kekerasan mental. Beberapa kali dia bicara kasar, jorok, dan
tidak sopan,” jelas Retno.

Sementara itu, Kepala Polsek Metro Matraman Komisaris Kasworo
mengatakan, kemungkinan besar Gary adalah korban penculikan yang
kemudian dikaryakan sebagai pencopet.

”Sehari dia bisa mencopet tujuh handphone di kereta. Setelah itu
handphone disembunyikan di kolong kursi kereta,” kata Kasworo.

Dia menambahkan, jika memang ada orangtua yang kehilangan anak,
silakan datang ke Polsek Matraman. Jika memang tidak ada, Gary akan
diserahkan ke panti asuhan. ”Diharapkan, jika Gary berhasil ketemu
orangtua sejatinya, bisa membantu kami mengungkapkan sindikat
penculikan anak ini,” tegas Kasworo. (ARN)