Andy F Noya, Kini Menjadi Diri Sendiri

Oleh Susi Ivvaty
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/09/21/ 01331921/ andy.noya. kini.menjadi. diri.sendiri

Susah-susah mudah mewawancarai Andy Flores Noya. Sempat ia menolak.
Bukan karena wartawan kok menanyai wartawan. “Nanti over expose,”
katanya beralasan. Ketika akhirnya bersedia ditemui, Andy menjelaskan
mengapa ia tidak mau terlalu banyak dipublikasikan. “Aku menjadi makin
terkenal, tapi malah ‘menderita’. ”

Andy memberi gambaran, betapa kalau sedang berkunjung ke daerah untuk
memandu program Kick Andy off air, ia menjadi bak selebriti. Banyak
orang minta foto bersama dan tanda tangan. Jika ia sedang ingin
menyendiri sambil membaca buku di kafe, ada saja orang yang mendekat
dan menyalaminya. Ketenaran mendadak itu tak lain berkat Kick Andy,
program talk show di Metro TV yang dipandunya sejak 20 Maret 2006.

“Jujur itu bukan diri sendiri karena aku sebenarnya enggak suka
terkenal. Aku ini hidup dalam kontradiksi. Aku sebenarnya introvert,
suka menyendiri, baca buku, menulis, tetapi sebagai host Kick Andy,
aku harus banyak omong,” tutur campuran Belanda (dari ibu) dan Papua
(dari ayah) ini.

Memang kalau sedang memandu Kick Andy, Andy seakan tak terbendung.
Pertanyaan-pertanya annya kerap membuat orang terperangah. Orang
bilang, pertanyaannya pedas. Belakangan Andy menyadari, pertanyaan
pedas itu justru memberi karakter pada Kick Andy.

Pada episode “Aa Gym”, misalnya, Andy melempar pertanyaan, “Anda, kan,
meminta orang untuk menjaga hati, tapi mengapa Anda tidak menjaga hati
istri Anda (dengan berpoligami) ?” Atau pertanyaan untuk Harmoko, “Anda
seperti Brutus, bagaimana bisa Anda menusuk Pak Harto dari belakang”.
Kepada Sri Sultan HB X, Andy menanyakan mengapa hak istimewa sebagai
sultan untuk beristri lebih dari satu tidak dimanfaatkan, padahal
banyak orang yang tidak memiliki keistimewaan itu justru melakukannya.
Semua pertanyaan mereka jawab seraya tersenyum.

Andy jadi teringat ketika pada suatu waktu bos Media Group Surya Paloh
berujar setengah bertanya kepadanya. Waktu itu ia masih menjabat
Pemimpin Redaksi Media Indonesia. “Kamu itu kalau bicara nyelekit,
tapi mengapa orang-orang enggak marah”.

Sulit menjawab pertanyaan itu karena, kata Andy, ia sendiri pun kadang
bertanya. “Aku hanya meyakini satu hal. Selalu tak ada niat jahat di
balik pertanyaan-pertanya anku. Tak ada agenda apa pun. Aku sama sekali
tak berpolitik,” tegasnya.

Berdiri sendiri

Wawancara dengan Andy di gedung Metro TV sore pekan lalu membuat
beberapa teman heran, “Lho, Andy Noya kan sudah tidak di Metro TV”.
Andy terkekeh mendengarnya. “Aku juga sering ditanya,” ujar Andy, yang
sore itu menutup rambut kribonya dengan topi lantaran sedang berantakan.

Ceritanya, sejak tiga tahun lalu Andy sudah berniat undur diri dari
Media Indonesia dan Metro TV, tapi waktu itu Surya Paloh berberat
hati. Tahun ini, hasrat Andy sudah bulat. Ia bermaksud mengurus
majalah Rolling Stone yang ia dirikan bersama Eddie Soebari dan Ratna
Monika, yang selama ini ia abaikan. “Sudah saatnya saya berdiri
sendiri,” kata Andy, yang Mei 2008 ini secara resmi mengundurkan diri.

Andy terinspirasi buku Who Moved My Cheese? (1998), yang pesan
moralnya lebih kurang: jangan merasa mapan dan nyaman di satu tempat.
Berada terus-menerus di comfort zone itu berbahaya. Dua kurcaci di
labirin penuh keju, seperti digambarkan dalam buku, memaksa Andy
merenung. Kurcaci pertama selalu bekerja mencari keju di tempat lain
sementara kurcaci kedua berleha-leha di tumpukan keju sampai menyadari
keju telah habis.

“Aku ini beruntung di Metro TV. Aku mau jumpalitan, bikin apa saja
pasti dikasih sama Surya Paloh. Dulu waktu masih di Media Indonesia,
aku bilang mau keluar karena ingin masuk ke industri TV. Surya Paloh
lalu bikin TV. Di sini, aku diberi kebebasan,” terang Andy.

Sambungnya, “Tapi sekarang, to be or not to be, aku harus keluar. Aku
ingin jadi bos juga, ha-ha-ha. Jadi tikus tapi kepala, daripada macan
tapi ekor melulu.”

Sewaktu masih terikat pekerjaan di Media Indonesia, Andy kerap merasa
bersalah ketika meninggalkan kantor, karena itu berarti meninggalkan
tanggung jawab. Namun sekarang, Andy lebih bebas menentukan waktu
dan—yang pasti—tidak lagi mengenakan seragam. Kini, selalu ada jam-jam
santai untuk membaca buku atau duduk sambil menyeruput kopi.

Andy juga menjadi lebih produktif menulis, kegiatan yang ia gandrungi
sejak bangku sekolah dasar. Setiap kali menulis artikel atau buku, ia
selalu teringat Bu Anna, guru SD-nya yang 34 tahun lalu pernah
berkata, “Kamu cocok menjadi wartawan”, sehingga ia terus terinspirasi.

Agustus 2008 ini, buku yang ia beri judul Andy’s Corner terbit. Buku
ini membahas pengalamannya menjadi host Kick Andy sekaligus curahan
perasaannya selama memandu program.

Lantas, bagaimana dengan status di kantor Metro TV? “Itu dia
komprominya, ” sahut Andy. Rupanya, Andy diizinkan keluar dari Metro TV
asalkan: 1. Kick Andy tetap jalan, 2. Andy Noya tetap duduk di Dewan
Redaksi Media Group, 3. Andy Noya menjadi corporate advisor Media Group.

O… pantesan. “Iya. Senin aku di Rolling Stone dan Metro. Selasa full
di RS. Rabu full di Metro. Jumat full di RS. Sabtu-Minggu urusan
keluarga, ha-ha-ha.”

Bukankah itu ibarat kepala dilepas, tapi ekor ditarik? “Ah… tetap aku
kini lebih menjadi diri sendiri. Aku sudah menemukan lentera jiwa,”
tandas Andy.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Wah, orang kalau pinter banyak yang membutuhkan; mau kerja apa saja bisa dan bagus hasilnya. Semangat bung Andy.

  2. salut buat Kick Andy
    tetap jadi host Kick Andy yah pak
    krn klo bkn bapak yg host tar bkn kick andy lagi namanya,hehehehe

    keep up the good work!!
    GBU

  3. Bang Andy, satu dari sekian banyak jurnalis yang terus berkarya dan berusaha mandiri, tapi tak tergoda masuk ke dalam ranah politik, meski di lingkaran dekatnya banyak orang politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: