Wujudkan Toleransi dan Kikis Fanatisme: GBI DKI Sponsori Buka Puasa Bersama Ulama dan FKUB

Sikap dan pandangan umat beragama sering kali dibentuk oleh nilai-nilai agama yang mereka persepsikan. Sementara persepsi keagamaan umat, dalam realitasnya, kerap diformulasikan oleh informasi-informasi keagamaan yang disampaikan oleh para pemimpin agama. Dengan alur logika seperti itu, maka suatu hal yang wajar jika di kemudia muncul suatu opini yang menganggap bahwa munculnya konflik dan benturan antar umat beragama selama ini merupakan akibat dari kegagalan pemimpin keagamaan dalam mengembangkan pola keberagaman yang penuh toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman.

Pembakaran gereja, penghancuran masjid, dan benturan fisik antar umat adalah merupakan serangkaian kasus-kasus konflik antar umat beragama yang saat ini makin mencuat dan menuju titik paling nadir dalam sejarah hubungan antar agama, Islam dan Kristen, di Indonesia. Umat beragama tampak kian eksplosif terhadap kerusuhan yang berakar pada sebab-sebab agama,”

sebagian menimpakan kesalahan kepada provokator yang sengaja memanfaatkan konflik antar umat dalam usahanya menimbulkan kekeruhan sosial demi pencapaian tujuan politis tertentu. Meskipun pandangan itu ada benarnya tetapi cenderung bersifat simplistik dan terkesan seperti mencari kambing hitam belaka. Provokator tidak akan mampu merekayasa kerusuhan antar umat beragama jika di kalangan umat sendiri tidak ada bibit perselisihan.

Berdasarkan asumsi tersebut maka kedewasaan umat beragama menjadi hal yang sangat penting untuk peranannya guna mencegah serta menangkis berbagai macam konflik antar umat beragama.” Konflik tak harus terjadi sekiranya umat beragama memiliki kedewasaan dalam menghadapi kehidupan yang pluralistik.”

“Oleh karena itu,betapa pentingnya peranan para pemimpin agama dalam upaya memberikan contoh konkrit serta mengevaluasi kembali pilihan-pilihan informasi keagamaan yang selama ini disosialisasikan kepada umatnya”.

Seorang pluralis bisa saja mengkritik pandangan individu dan kelompok lain. Dia bisa setuju dan tak setuju dengan pihak-pihak yang berbeda, tetapi dia tak akan menghalangi orang itu untuk berpendapat sesuai dengan keyakinan hatinya.

Sikap fanatisme yang dianggap sebagai faktor penyebab konflik antar umat beragama tak akan mewujud jika umat beragama sepakat melihat perbedaan agama sebagai sebuah fenomena yang wajar.

Sabtu (13/9) lalu diselenggarakan acara buka puasa bersama ulama dan FKUB bertempat di gedung kantor PBNU, Jakarta dengan difasilitasi oleh BPD GBI DKI Jakarta serta dihadiri sekitar 200 undangan meliputi yatim piatu, warga Cempaka Putih, pimpinan dan anggota FKUB, Edison Pasaribu (Perwakilan Bimas Kristen DEPAG), Pdt. Sephard Supid, dan beberapa pejabat BPD GBI DKI serta dihadiri pula oleh enam komponen perwakilan agama di Indonesia termasuk Konghucu.

Rangkaian acara buka puasa bersama tersebut diawali dengan sambutan dan ceramah yang disampaikan oleh KH. Abu Naim Chofifi (Ketua MUI Jakarta Pusat) yang dalam ceramahnya menyatakan bahwa di dalam ajaran Islam sesungguhnya tidak mengajarkan untuk tidak memberikan salam atau selamat kepada agama lain. Abu Naim juga menyatakan bahwa pihaknya berupaya untuk mensosialisasikan hal tersebut kepada jemaahnya.

Tampil sebagai pembicara dalam acara tersebut antara lain: Pdt. Paul Widjaja ( Ketua BPD GBI DKI) selaku pemrakarsa acara, Abu Naim Chofifi (Ketua MUI Jakarta Pusat), H. Asland Ahmad (Asisten KEMAS Jakarta), Drs.H. Kamaluddin (Sekretaris FKUB).

Pdt. Paul Widjaja selaku pemrakarsa acara tersebut sekaligus Ketua BPD GBI DKI Jakarta yang baru menyatakan bahwa acara buka puasa bersama tersebut merupakan salah satu program BPD GBI DKI yang mana bertujuan untuk menjalin solidaritas dan toleransi serta kerukunan antar umat beragama. Sebagaimana pada periode sebelumnya BPD GBI DKI Jakarta juga pernah menyelenggarakan sunatan massal.

Hal senada juga disampaikan oleh Drs.H. Kamaluddin (Sekretaris FKUB) yang menyatakan keinginan besarnya agar dapat tercipta kerukunan antar umat di bangsa Indonesia ini dan juga dengan bangsa-bangsa lainnya sekalipun hingga saat ini masih terjadi banyak benturan di sana-sini tetapi pihaknya terus berupaya untuk sebisa mungkin meminimalisasinya karena semuanya itu memerlukan proses yang tidak singkat,”ujarnya.

Secara terpisah Pdt. Sephard Supid menanggapi acara tersebut dengan mengatakan bahwa acara tersebut membuktikan toleransi umat Kristen kepada umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa serta merupakan upaya nyata untuk turut membangun bingkai kerukunan antar umat beragama.

Tujuan yang ingin dicapai lewat acara ini menurutnya adalah untuk meluruskan pandangan di kalangan umat Muslim bahwa umat Kristen tidak eksklusif dan menghargai satu dengan yang lain, selain itu tujuan lainnya adalah untuk membangun kebersamaan, kerukunan,serta mengikis fanatisme-fanatisme yang ada di masing-masing agama.

Himbauan bagi gereja di Indonesia sendiri yakni; gereja harus keluar dari zona aman, sifat eksklusif, merasa paling benar dan hebat sendiri. Mengupayakan saling menghargai antar saudara yang lainnya. Menurutnya, kalau gereja mau menjalankan misinya maka acara ini dapat menjadi salah satu contoh dimana gereja dapat toleran sekaligus menjadi garam dan terang bagi sekitarnya.

Jika hanya menjadi garam di dalam komunitas sendiri maka akan terjadi penumpukkan garam dan ini justru tidak berguna,”tambahnya.

(KRISTIANI POS  Wednesday, Sep. 17, 2008 Posted: 12:37:20PM PST)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: