Sri Sultan Hamengkubuwono X: Batak Adalah Jagonya Demokrasi

Ceramah Sri Sultan HB X Di Universitas Sisingamangaraja XII, Sultan: Batak Adalah Jagonya Demokrasi

Medan (SIB)
Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengatakan, kasus korupsi adalah murni merupakan tindakan pidana dan jangan dijadikan isu politik untuk kepentingan golongan tertentu.
“Kalau kasus korupsi sudah dijadikan isu politik, maka dikhawatirkan nantinya akan terjadi tebang pilih terhadap suatu kasus korupsi,” katanya pada saat memberikan ceramah umum di Universitas Sisingamangaraja XII di Medan, Senin.
Sultan mengatakan, praktik korupsi yang banyak dilakukan oleh kalangan elit merupakan penyebab adanya tirani modal yang menguasai lembaga legislatif. Sekaligus juga membuktikan bahwa korupsi banyak dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan lebih, bukan oleh orang yang miskin.
Demokrasi yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat ternyata tidak tercapai karena adanya tirani modal dalam negeri maupun modal luar negeri. Pemilik modal yang mengambil manfaatnya.
“Kekayaan alam Indonesia seharusnya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi para investor asing yang meraih untung. Sebesar 100 persen keuntungan dibawa ke luar negeri dan tidak ada yang ditinggal di Indonesia, kecuali untuk upah buruh,” katanya.
Pada bagian lain ia mengatakan, penegakan hukum hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki komitmen, jadi bukan mencari sela-sela dari hukum itu yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
“Di Jogyakarta, gubernur dan sekda tidak dibenarkan bicara proyek. Masalah proyek hanya urusan kepala dinas, gubernur dan sekda hanya sebagai pengawas saja. Jadi ketika terjadi penyelewengan yang dilakukan kepala dinas, gubernur akan dengan mudah menindak,” katanya. Demikian Antara.
SULTAN : BATAK JAGONYA DEMOKRASI
Lebih lanjut wartawan SIB melaporkan, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, pluralitas budaya yang dimiliki Indonesia jika dianyam menjadi serat-serat yang saling menguatkan akan besar manfaatnya. Dalam kaitan ini juga berbicara tentang hubungan Islam-Kristen dan Melayu-Cina. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya akan hidup bersama secara lebih rukun dengan kepekaan akan hak dan kewajiban individual sosial yang lebih tinggi, tapi juga akan sanggup melaksanakan rencana-rencana pembangunan dengan sedikit mungkin distorsi, saling curiga dan kesalahmengertian.
“Mungkin jika kita elaborasi lebih lanjut akan kita temukan bahwa budaya tidak sekedar pemberi identitas tapi dapat menjadi perekat dan penguat, bahkan pemersatu bangsa Indonesia,” ujar Sri Sultan saat memberikan ceramah umum kepada ratusan mahasiswa Universitas Sisingamangaraja (US XII) Medan, STMIK Sisingamangaraja XII Medan, Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA), USU, Unimed dan GAMKI, Senin (1/9), di kampus US XII Medan Jalan Perintis Kemerdekaan.
Hadir juga, istri Sri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, anggota DPD asal Sumut Lundu Panjaitan SH dan Parlindungan Purba SH, Sekda Propsu DR RE Nainggolan MM, anggota DPRD Sumut Ir GM Chandra Panggabean dan Ny Rooslynda Br Marpaung, Ir Hasudungan Butar-butar, Ketua DPW PPRN Sumut Nurdin P Manurung, Ketua PPRN Medan Merlyn Simanjuntak, Ketua GAMKI Sumut Ir Ronald Naibaho, Ketua GAMKI Medan Landen Marbun SH, Sekretaris GAMKI Medan Gelmok Samosir, DR Hisar Manurung, Sujono Manurung SE, Palar Batubara, Henkei Yusuf Wau SH MM, Rektor US XII Prof Ir MPL Tobing, Rektor UNITA Ir Parapat MSi.
Kedatangan Sri Sultan HB X dan Kanjeng Ratu Hemas di Kampus US XII disambut secara adat Batak dengan manortor mundur oleh lima gadis penari yang berpakaian adat Batak mulai pelataran kampus sampai pintu utama kampus. Sementara Ketua Yayasan Universitas Sisingamangaraja XII DR GM Panggabean, didampingi ibu Boru Hutagalung, Sekda Propsu Dr RE Nainggolan, Parlindungan Purba, Hasudungan Butar-butar, Rektor US XII Prof Ir MPL Tobing, Rektor UNITA Ir Parapat MSi, dan lainnya telah menunggu di pintu utama kampus. Setibanya Sri Sultan dan Kanjeng Ratu Hemas di depan pintu utama, Pak GM dan ibu langsung menaburi boras sipir nitondi sebagai ucapan selamat datang dan berseru Horas tiga kali.
Lebih lanjut dikatakan Sultan, kebudayaan Indonesia baru adalah ibarat pohon yang berdiri tegak, rimbun dan berbuah lebat. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu memakmurkan, memajukan dan memberi rasa keadilan bagi seluruh rakyatnya dari generasi ke generasi.
“Dengan kita mampu menerapkan Bhineka Tunggal Ika sebagai strategi budaya untuk membangun ke-Indonesiaan, tentu setiap etnik akan merasa bangga memiliki negeri yang namanya Indonesia ini,” katanya.
Membangun ke-Indonesiaan tersebut, menurut Sultan, harus dikembangkan dari nilai-nilai yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Karena melupakan nilai-nilai budaya etnik dan masyarakat adat hanya akan menciptakan Indonesia tumbuh tanpa jiwa dan identitas. “Yang pada akhirnya kita tidak akan memperoleh hasil pembangunan kebudayaan yang konstruktif, visioner, antisipatif, progresif, kritis dan berkelanjutan sebagai kekuatan dan pemersatu bangsa Indonesia,” tandasnya.
Sri Sultan juga mengatakan, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang masyarakatnya terdiri dari satu budaya, agama, kelompok tertentu, etnis atau asal kelahiran. Oleh karena itu, menurutnya, hidup bersama dalam semangat toleransi perlu dikembangkan di dalam masyarakat Indonesia sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang lebih utuh. “Di masa silam, dalam hidup bermasyarakat nenek moyang kita juga hidup terbuka bagi siapa pun tanpa memandang agama, suku dan warna kulit,” ujarnya.
Agama Islam misalnya, yang kemudian menjadi agama mayoritas tidak pernah membuat takut pihak luar dan kelompok minoritas. Kata Sultan, Islam tidak pernah menjadi hambatan bagi pergaulan dengan berbagai bangsa dan suku juga tidak pernah memaksakan agama. Hasilnya adalah Islam yang inklusif dan tidak beraliran keras.
Menurut Raja Yogyakarta ini, setiap budaya punya sisi baik dan buruk. Oleh karena itu, memadukan yang baik menjadi perpaduan baru adalah cara yang bijak ketimbang menolaknya semena-mena. Sikap yang baik terhadap budaya orang lain dan diri sendiri, menurut dia, adalah tidak merasa rendah diri tapi juga tidak terlalu sempit dalam membanggakan budaya sendiri. “Beranilah belajar dari budaya orang lain dan budaya sendiri. Kita bisa belajar banyak hal positif dari keberagaman manusia, agama dan suku bangsa,” katanya.
Dalam upaya membangun semangat ke-Indonesiaan tersebut, menurut Sultan, dapat dilakukan lewat dialog budaya antaretnik. Dan melalui dialog ini, setiap kelompok budaya hendaknya saling menyapa dan mengenal untuk saling memberi dan menerima.
Sultan mencontohkan dari sistem nilai Jawa, di mana etnis Bugis bisa mendewasakan prinsip siri agar tidak terkungkung pada masalah-masalah sempit kekeluargaan, tapi menjangkau hal-hal yang lebih besarnya artinya bagi bangsa. Dari etnis Minang, orang Bugis dapat belajar tentang prinsip musyawarah karena orang Bugis terbiasa menyelesaikan persoalan secara kaku. Sementara dari nilai Jawa, orang Bugis dapat belajar tentang tenggang rasa dan kekuatan di dalam kalbu. Etnis Jawa dan Minang pun dapat belajar dari nilai Bugis-Makassar tentang kesetiaan.
Begitu juga masyarakat etnis lain dapat belajar dari integritas pribadi Muslim Aceh, yakni budaya malu dan berkata benar. Jika hal ini dipahami, menurut Sultan, maka setiap pejabat publik hendaknya merasa malu jika melakukan kesalahan dan siap mengundurkan diri dari jabatan ketika terlibat proses hukum. “Sedangkan dari budaya Batak, etnik-etnik lain di nusantara ini dapat belajar transparansi dan demokratisasi yang egaliter,” ungkapnya.
Dalam ceramahnya, Sri Sultan juga mengulas budaya Batak. Katanya, ulos melambangkan ikatan kasih sayang orangtua kepada anak-anaknya atau antar sesama. Seperti falsafah Batak “ijuk pengihot ni hodong” yamg kurang lebih artinya “ijuk pengikat pelepah pada batangnya. Karena ulos juga berfungsi sebagai penghangat badan, maka jika dilihat dari makna simboliknya bisa menghangatkan hubungan silaturahmi antarsuku Batak sendiri, yaitu Toba, Karo, Pakpak, Simalungun dan Angkola-Mandailing maupun dengan suku-suku lain dari seluruh pelosok tanah air. Dengan makna seperti itu, orang Batak sejak dulu sudah memiliki falsafah pemersatu.
“Saya kira etnik-etnik Nusantara yang lain pun memiliki kekayaan pemersatu serupa, seperti pepatah ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’ sama persis dengan ajaran Jawa rukun agawe santosa, crah agawe bubra,” terangnya.
Masyarakat Batak, lanjutnya, sudah sejak lama telah mampu membangun sopo godang (rumah adat besar) tanpa sebiji paku pun, namun bangunan tinggi itu tidak akan tumbang karena gempa sekuat apapun dan lebih hebat lagi bisa dipindah-pindahkan lokasinya.
Khasanah falsafah masyarakat Batak, katanya, juga tak kalah kayanya, Contohnya falsafah manusia Batak. Dengan tidak bermaksud mengajari limau berduri atau ikan berenang, Sultan memaparkan, dengan membaca kalender Batak atau parhalaan, akan ditemui prinsip Batak yang disebut Dalihan Na Tolu yang berarti satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, masyarakat Batak punya kebiasaan memasak di atas tiga tumpukan batu dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu dalam bahasa Batak disebut dalihan.
Dikatakannya, tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital karena menyangkut kebutuhan hidup anggota keluarga. Dalam praktiknya, kalau memasak di atas dalihan na tolu, terkadang ada ketimpangan karena bentuk batu atau bentuk periuk dan untuk menyejajarkannya digunakan benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa batak benda itu disebut sihal-sihal. “Falsafah dalihan na tolu paopat sihal-sihal dimaknakan sebagai kebersamaan yang adil dalam kehidupan masyarakat Batak,” paparnya.
Sultan juga mencontohkan falsafah Batak lainnya, yakni somba (penghormatan), elek (diplomasi dan pangayoman) dan manat (kehati-hatian). Menghormati yang di ‘atas’ mengayomi yang di ‘bawah’ dan berhati-hati dengan yang ‘sejajar’, kata Sultan, juga Dalihan Na Tolu yang sesungguhnya amat diperlukan bangsa ini ketika semakin surutnya rasa hormat di antara sesama anak bangsa.
“Soal demokrasi masyarakat Batak adalah jagonya. Saat Eropah masih dalam kegelapan feodalisme, orang Batak sudah duluan menerapkan demokrasi yang egaliter dalam prinsip sitongka ditean harajaon hasuhuton. Sungguh amat progresif, meski dengan ukuran demokrasi saat ini. Bahkan kerajaan atau otoritas pemerintahan yang sah, tidak punya hak mengatur kedaulatan sebuah keluarga atau hasuhuton,” ujarnya.
Ulos untuk Sri Sultan dan Kanjeng Ratu Hemas
Pada kesempatan itu, DR GM Panggabean dan Ny Br Hutagalung mangulosi Raja Jawa Sri Sultan HB X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Kata Pak GM, ulos tersebut ditenun oleh gadis-gadis atau ibu-ibu di satu desa di Tapanuli dengan harapan yang memakainya dijaga dan dikasihi oleh Tuhan, sehat dan panjang umur. Saya berdiri di sini didampingi para Rektor tiga Perguruan Tinggi Sisingamangaraja XII dan tokoh-tokoh masyarakat Batak, menyerahkan Ulos ini, disertai doa, semoga Sri Sultan dan Ibu Ratu diberi oleh Tuhan hikmat dan kebijakan untuk menjadi pemimpin bagi negara dan bangsa kita, kata Pak GM.
Acara tersebut juga turut dimeriahkan artis ‘balada’ Franky Sahilatua, yang membawakan beberapa buah lagu. Para hadirin yang hadir tampak gembira dan bertepuk tangan saat Franky bernyanyi dengan gitar yang dimainkannya sendiri. Ceramah umum itu pun ditutup dengan menyanyikan lagu Nyiur Melambai oleh seluruh undangan sambil berdiri diiringi gitar yang dimainkan artis asal Ambon itu. (M28/M17/M35/d)

Sumber: http://hariansib.com/2008/09/02/ceramah-sri-sultan-hb-x-di-universitas-sisingamangaraja-xii-sultan-batak-adalah-jagonya-demokrasi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: