Indonesia di Tangan Generasi Muda

Oleh
Benny Susetyo

Dalam hal kepemimpinan kaum muda, kualitas tokoh politik hanya setingkat dengan stereotip yang dilekatkan kepada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga “tradisi” tak bertanggung jawab. Dibandingkan dengan tokoh-tokoh bisnis, tokoh media, tokoh keilmuan, dan tokoh lembaga swadaya masyarakat, mereka jauh ter-tinggal. Begitu disampaikan Kang Sobary di Kompas beberapa waktu yang lalu.
Kegelisahan Kang Sobary itu bermakna kompleks. Memahami konteks dan fakta politik kekinian, setidaknya dimulai semenjak masa Reformasi 1998, kita akan mudah membenarkan kritik ini. Walaupun belum dibuktikan secara statistik, atau melalui riset ilmiah dengan data-data valid, kita semua bisa merasakan kondisi ini terjadi dalam berbagai level kehidupan kita.
Kaum muda yang berperan demikian besar dalam melakukan perombakan struktur kekuasaan negeri ini, nyatanya tidak sedikit dari mereka yang mengisi reformasi dengan semangat oportunistik, dan malah tak sadar mengembangkan sikap kepolitikan yang dahulu dibenci.
Mereka “tidak gigih” menjaga aura reformasi dengan idealisme untuk membangun habitus kebangsaan yang sehat dan benar-benar bersih dari kolusi, korupsi, nepotisme. Tidak sedikit pula dari mereka menjadi bagian dari hal itu dalam berbagai petualangan politiknya.
Tentu saja ini harus direspon sebagai otokritik bagi kaum muda dalam dunia politik, pun dunia lainnya. Persoalan kita saat ini adalah lemahnya cara pandang yang mampu menggempur pola pikir yang seolah-olah kehidupan hanya akan berjalan bila ditopang dengan uang dan kuasa.
Kaum muda nyaris kehilangan kemampuan untuk mendobrak semua ini karena setelah mereka masuk dalam lingkaran kekuasaan, justru mereka hanyut. Cara berpikir, bertindak dan berelasi dalam dunia politik, nyaris stagnan karena tak ada perubahan. Mentalitas reformis, kreatif, pengenalan budaya alternatif hanya ada dalam kata-kata dan tak pernah menjelma menjadi tindakan nyata.

Belajar dari Sejarah
Politik kita lebih identik dengan petualangan bagi pelakunya untuk merebut dan meraih keuntungan individual, dan tidak menjadi bagian untuk memperbaiki kehidupan kolektif. Dalam dunia politik sering terlontar kata-kata “kesejahteraan rakyat”, namun dalam fakta sesungguhnya intrik untuk keuntungan pribadi lebih mudah dibaca daripada kepentingan rakyat. Dan semakin bertambah waktu, fenomena ini begitu mudah dimengerti bahkan oleh “rakyat bodoh” sekalipun.
Wacana pemimpin muda pada Pemilu 2009 sudah merebak. Sebelumnya, dalam pilkada di beberapa daerah, generasi muda sudah memulai kiprahnya tampil untuk memberikan kontribusinya membangun daerahnya. Apa yang seharusnya dilakukan kaum muda untuk mengisi kemerdekaan ini?
Belajar dari sejarah merupakan cara terbaik untuk memulai kehidupan baru bangsa ini. Sejarah menjadi pedoman dalam membangun bangsa ini. Juga dalam mengembangkan politik kekuasaan yang lebih berorientasi keadilan. Baik di dalam birokrasi, partai politik, parlemen, semua memiliki sejarah yang harus dipelajari dan dijadikan referensi untuk mengambil tindakan.
Selama ini sejarah kita hanya menjadi hiasan dinding rumah-rumah pejabat dan politisi. Tak pernah dijadikan pedoman laku yang konkrit. Ia hanya menjadi pelajaran sekolah yang heroik dan tidak mengendap dalam sanubari manusia Indonesia, menjadi referensi bertindak. Sejarah berhenti dalam heroisme semata.
Seperti halnya dalam peringatan Sumpah Pemuda, kemerdekaan dan nasionalisme yang diusung kaum muda saat itu hanya berhenti sebagai simbol atau perayaan belaka. Semangat bangsa ini untuk merdeka secara lahir dan batin tidak terbukti ketika perilaku pejabatnya lebih banyak “menghamba” pada kekuatan asing.
Pejabat bahkan secara nyinyir membuka polemik, menuduh kaum muda kurang greget dan hanya menjadi “peminta-minta”: “Saya agak sedikit kurang sependapat kalau hasilnya minta. Sejak kapan kalian diajarkan meminta. Kalau meminta itu berarti tangan di bawah” (detik.com, 30/10/2007).

Tugas Berat
Kaum muda memiliki tugas demikian berat. Mereka diharapkan menjadi pelopor perubahan nyata. Utamanya berkaitan dengan masalah yang dipaparkan di muka, yakni bagaimana menata kembali dunia politik kita menjadi media untuk melayani kesejahteran bersama.
Tekad itu sebenarnya sudah pernah dikatakan oleh kaum muda dalam sebuah deklarasi untuk menawarkan jalan baru bagi bangsa ini keluar dari kesempitan paradigmatik. Cara pandang yang sempit dalam melihat permasalahan kebangsaan ini akan membuat putusnya lingkaran keperdulian, sebab yang ada dalam pikiran hanyalah problem individu dan identitas. Saat “identitas” dijadikan bahasa politik, ekonomi, agama, dan pendidikan, bangsa ini akan demikian mudah terpuruk ke dalam sikap reaksioner terhadap perbedaan.
Manifestasi kaum muda yang pernah dibacakan di Balai Arsip Nasional harus dimaknai sebagai momentum bagi kaum muda ini untuk kembali bergerak, dan tampil ke depan mendobrak semua kebuntuan ini. Dibutuhkan sebuah regenerasi yang memiliki visi yang jelas, terukur, bernalar, bertanggungjawab, menjunjung etika dan moralitas serta yang utama adalah mengembangkan dunia politik sebagai media untuk memperbaiki kehidupan semua.
Generasi tua dengan “pikiran tua” sudah terlalu banyak di negeri ini. Aura kebijaksanaannya tidak muncul karena terbungkam oleh nafsu kekuasaan. Bahaya situasi seperti ini apabila generasi mudah lambat laun membenarkan dan meniru serta memodifikasi sikap-sikap dan perilaku buruk generasi tua.
Korupsi dan kolusi makin lama akan dijadikan sebagai warisan budaya.Yang utama di sini kaum muda harus berani mengadakan perubahan dari dirinya sendiri. Kesempatan memang harus diraih dengan kualitas pribadi yang berintegritas tinggi, bukan semata-mata diminta.
Rasanya sejarah kepemudaan Soekarno, Hatta, Tan Malaka dan Syahrir harus dibaca kembali untuk menata kembali visi dan misi kebangsaan dan kerakyatan, serta untuk mengarahkan bagaimana jiwa kaum muda harus berperan positif membangun bangsa ini.

Penulis adalah Pendiri Setara Institute.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: