M. FADJROEL RACHMAN: JIWA INDONESIA MUDA YANG MERDEKA

Risalah Dukungan Politik Kebudayaan

M. FADJROEL RACHMAN
JIWA DARI KEHENDAK UNTUK HIDUP MERDEKA, DARI SEBUAH INDONESIA MUDA YANG MERDEKA

Nama M. Fadjroel Rachman menyeruak ke dalam ingatan saya, saat suatu malam yang larut, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri masih duduk-duduk di warung Alek Tim – tempat nongkrongnya para seniman itu. Fadjroel mampir bersama Tommy F Awuy, budayawan yang kini membuka warung lukisan di Kemang.

Mereka mampir ke meja kami.

Dari habis nonton, kata Fadjroel sambil senyum.
Jadi inilah orang yang pernah ditangkap itu. Saya masih belum tahu kalau dia sudah membuat buku puisi – sebuah buku puisi yang sangat kuat menyerukan kemanusiaan dari sudut bukan hanya bahasa puisi yang berindah, tapi luput dari kenyataan hidup. Tapi ini sebuah buku puisi dari kehidupan yang keras – sebuah dunia politik Orde Baru yang telah ramai membentuk “piramida kurban manusia”.

Entah mengapa saya langsung terkenang Sukarno – tokoh yang saya kagumi, sebagai pribadi yang memiliki banyak sisi. Sukarno pun suka film, kata saya. Suka lukisan dan bahkan, konon, demikian kawan saya pernah mengatakan, pernah pula membuat cerita-cerita pendek.

Jadi seniman.

Waktu Sukarno dibuang ke Bengkulu, tokoh besar ini pernah pula membuat naskah sandiwara.

Jadi seniman.
Jadi inspiratif.

Jadi begitulah orang keras kepala itu membuat Indonesia Menggugat dan menggerakkan sebuah teks besar ke dalam laku bangsa: Revolusi Inonesia yang telah mengguncangkan dunia.

Jadi sebuah perubahan, atau angan-angan akan perubahan, datang dari sebuah kemampuan imajinatif, yang terberi dari rahim mereka yang berjiwa seni – sebuah rahim yang dimasak oleh kehidupan – dimatangkan oleh kawah kehidupan politik kebangsaan yang keras.

Imajinasi, berpikir imajinatif, seperti yang saya lihat dalam diri tokoh pemberontak abadi semacam Che (Rimbaud itu Che-nya sastra, begitu SMS Fadjroel kepada saya, saat saya ingatkan dia itu “Rimbaud”-nya politik), atau penyair yang menjadi presiden di Eropa Timur itu, atau ya, seperti Sukarno itu sendiri. Mereka yang mampu mewujudkan pemikiran imajinatif – sesuatu yang masih in absentia. Belum hadir. Tapi dalam bayangan imajinasinya, seperti telah tergenggam tangan. Sudah milik kita saat ini dan sekarang ini.

Maka kemerdekaan itu, janganlah ditunda lagi.

Dan imajinasi semacam itulah, saya lihat dalam diri seorang Fajdroel Rachman.

Tetapi imajinasi bisa dipatahkan oleh sebuah kehidupan politik yang keras, dan makin mengeras, saat imajinasi dari anak-anak muda yang dicoba ke dalam aksi-aksi mahasiswa yang radikal, pada zaman Orde Baru itu.
Lalu apakah hasilnya? Anak-anak muda itu ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Dari tempat saya berdiri, dunia sastra, saya mengamati lalu-lintas tokoh-tokoh di Indonesia. Menilainya dengan sebuah perbandingan, dan bahkan banyak perbandingan. Dari sejarah masa lalu maupun sejarah yang dekat-dekat di seputar kita.

Saya mencari buku puisinya Fadjroel, Catatan Bawah Tanah, yang langsung pula mengingatkan saya dengan Catatan Subersiv Mochtar Lubis, atau kisah-kisah pembangkangan yang kerap lahir di bawah rejim bengis di Uni Soviet itu. Juga di Cina.

Semua catatan-catatan itu mengandung dan memendam sama. Sama-sama merindukan kemanusiaan yang lebih baik, lebih cerah dan lebih bijak menangani apa yang disebut dengan paradoks dunia modern – rentang antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, saat berada di tangan orang-orang politik dalam praktek, dalam hidup nyata, yang telah melahirkan kisah-kisah memilukan dari orang-orang yang kalah, atau dikalahkan.

Kekuasaan boleh mematahkan, atau mengalahkan, gerak dan gerik, atau percoban perlawanan. Tapi kekuasaan tidak bisa mematahkan, atau mengambil jiwa, dari kehendak untuk hidup merdeka.

Jiwa dan kehendak untuk hidup merdeka itu, terbaca dengan sejelas-jelasnya dari Catatan Bawah Tanah Muhammad Fajdoel Rachman. Yang telah dipotret dengan bagusnya oleh aktivis hukum Todung Mulya Lubis yang juga penyair. Barangkali karena sesama penyair, maka potret Mulya Lubis terhadap Fadjroel bagi saya, sama kuatnya dengan puisi yang telah dilahirkan oleh rahim Fadjroel Rahcman itu sendiri.

Dengarlah kata-kata penuh retorik perlawanan dari Mulya Lubis, dalam buku Fadjroel Catatan Bawah Tanah itu.

“Apakah yang dapat ditulis tentang seorang anak muda yang tengah mendekam dalam penjara selain rasa iba? Bayangkan, dalam usianya yang produktif, tak bisa bergerak selain dari satu sel ke sel lain, dari kamar mandi ke wc, dari dapur ke mushola. Tetapi rasa iba akan ditolak oleh anak muda ini karena di dalam penjara ini ia lebih arif dan menemukan darah kepenyairannya dan watak dirinya. Dengan getir ia mengungkapkan dirinya…”

Dan memang Fadjroel di dalam penjara itu bukan menghiba-hibakan dirinya, tapi menemukan bentuk pemberontakan dirinya ke dalam kata-kata. Ke dalam puisi. Yang jiwa kata dan pusinya, adalah jiwa kata dan puisi dari hidup yang dirasakan oleh banyak orang. Mereka yang kalah dan dikalahkan oleh sejarah sebuah orde. Sebuah tata yang membenamkan siapa saja yang hendak berbeda. Yang menyemaikan diri ke dalam apa yang disebut sebagai kemiskinan, sebagai mereka orang-orang kalah di kota besar, di desa-desa, yang oleh konstitusi diwakilkan melalui bahasa “bumi dan alam milik rakyat tercinta, dikuasai oleh negara untuk sebesarnya bagi kemakmuran bersama”.

Tetapi negara telah mengambil semuanya. Meratakan semuanya mereka yang ingin melawannya.

Maka berteriaklah Fadjroel di jalanan dan di dalam penjara, menyuarakan pemberontakannya, dan kita mendengar sebuah suara dari mulut anak muda yang rindu akan kebenaran, dari hidup yang selalu mengelak untuk menjadi benar.

Apa kabar ikan asin, sayur kangkung dan segelas
teh pahit di cangkir berkarat?
Apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan
aku?
Kesetiaan, cita-cita atau sekedar lapar dan
kebahagiaan kecil?

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib dirinya. Ah, tidak, nasib bangsanya.

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib bangsanya.
Dan nasib bangsa itu dipotretnya dalam sebuah sejarah yang merentang jauh. Dalam sebuah puisinya bertajuk Sketsa Penjara XXII, ia menalikan juga perjuangan batinnya ke dalam gerbong sejarah itu – Sukarno, narapidana blok timur atas nomor 01

Pandangilah, namun jangan menitikkan airmata
Di luar jendela-jeruji selmu, di luar jendela-jeruji
selku.
Serdadu-serdadu berbaris dalam
mimpi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu
Serdadu-serdadu berbaris mencincang akal
budi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu;
Langit, bebatuan, rerumputan dan udara yang
kita hisap mengucurkan darah
menenggelamkan segala impian manusia

Kini orang ramai berupaya, kini orang ramai hendak merayakan perubahan atas negeri sendiri. Orang-orang tak lagi hendak menjadi budak dalam belenggu oleh bangsa sendiri.

Saya teringat suatu malam, saat saya dan Fadjroel hendak menghadang sebuah belenggu atas nama pemikiran tertantu dalam bidang budaya (ah, budaya! bukankah engkau juga akan bergesek-gesekan dengan segala denyut dari debu hidup, hidup yang nyata!), saya merancang sebuah memo dan Fadjroel secepat kilat mengirimkan kabar: brengkets, kirimlah ke seluruh dunia!

Itulah dunia memo. Dunia catatan. Dunia ingatan. Dunia Memo Indonesia. Dari sebentuk kehendak untuk bebas, menyongsong Indonesia Muda yang baru, bebas dari belenggu penjajahan pemikiran dari arah-arah manapun.

Tapi itulah juga pribadi dari M. Fajdroel Rachman, rajawali politik yang mengepakkan sayapnya sendiri, dalam asap gelap perpolitikkan Indonesia, dan politik dunia juga.

Sebuah napas segar telah ditiupkan ke paru-paru anak negeri sendiri. Dari seorang yang tidak kehilangan rasa humor meskipun saat-saat kelam sedang mendera hidupnya, seperti terbaca dalam puisi Sketsa Penjara II ini – doa manis buat Tuhan.

Dari ujung sel kudengar lagu dangdut merintih-
rintih tentang penderitaan hidup, lalu
kudengar desah genit si penyair wanita,
“Salam kompak selalu dan selamat
menempuh hidup baru buat X di jalan Y dari
gadis Z di gubuk derita”.

“Hai siapakah yang berbahagia dan
Siapakah yang menderita?”

Majulah, majulah maju Rajawali Politikku, kepakkan sayapmu dan keluarkan kami dari gubuk derita ini.

Jemputlah Indonesia Muda kita itu.

(Hudan Hidayat)
– Manajer Kampanye M. Fadjroel Rachman untuk Presiden RI 2009

2 Tanggapan

  1. caiyo….!!!

    Fadjroel Rachman Untuk Jadi Presiden RI…(jangan for president,,ntar dibilang gak nasionalis)

    oia,,isu untk FR, jangan TUA-MUDA, tapi tunjukkan ideologi dan solusi…………..

  2. Saya mendukung sepenuhnya usaha Fadjroel. Saya ingat kala bertugas di Mesir (Atdikbud) 1984, Kadafy baru saja memproklamirkan Libya sebagai negara pemuda. Bahkan semua jenderal dilorotkan jadi letkol. Kapan lagi orang muda berani maju? Negara kita yang katanya kaya raya dan sudah merdeka 60 tahun lebih tidak seimbang dengan kemajuan yang ada/ dirasakan. Bravo dan selamat berjuang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: