UNDANGAN: “Merayakan Keberagaman”

UNDANGAN

13tahun Yayasan Jurnal Perempuan (25 Juli 1995-25 Juli 2008)

“Merayakan Keberagaman”

 

Yayasan Jurnal Perempuan mengundang Anda dalam Diskusi Publik dengan tema “Merayakan Keberagaman” yang akan diselenggarakan pada:

 

Hari/tanggal      : Jumat, 25 Juli 2008

Waktu              : 18.00 WIB (diawali makan malam)

Tempat             : Le Mereiden Hotel, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 18-20, Jakarta

Narasumber     : KH Abdurrahman Wahid, Nia Dinata, Ignas Kleden,

              Mohamad Guntur Romli, Lies Marcoes-Natsir (Moderator)

 

Indonesia adalah negeri yang terbentuk dari keberagaman: budaya, agama, kepercayaan, etnik, adat-istiadat, tradisi dan bahasa. Elemen-elemen yang beragam ini bediri dalam posisi yang setara. Tidak satu pun, satu etnik, agama atau adat yang menjadi dominan dan berkuasa. Menyebut Indonesia, tidak bisa merujuk pada satu daerah, satu adat, atau satu agama. Indonesia adalah kumpulan dari keberagaman itu yang berjajar secara rapi, saling melindungi dan menghormati.

 

Indonesia tersusun dari warisan historis yang telah membentang sejak lama, dari warisan kepercayaan kuno; percaya pada kekuatan alam dan arwah, Hindu, Budha, Islam, Kristen, di setiap warisan itu pula, budaya hingga peradaban yang berdasarkan keyakinan, kepercayaan dan agama berdiri di Nusantara.

 

Warisan geografis juga memperkaya budaya dan adat istiadat Indonesia. Dengan sebutan Nusantara yang berarti “antara pulau-pulau (nusa)”, setiap kawasan dan daerah memberikan corak dan karakter tradisi yang bermacam-macam. Setiap daerah yang sering kali hidup suatu etnik, memiliki pandangan hidup, adat-istiadat, sistem sosial dan kepercayaan yang berbeda dari daerah yang lain. Inilah pengaruh alam dan lingkungan terhadap manusia yang menjadikan mereka berbeda-beda.

 

Begitu pula konteks kesetaraan dalam gender, hubungan antara lelaki dan perempuan yang dapat dikatakan sebagai keragaman jenis kelamin. Konteks ini memiliki korelasi yang sangat erat bagaimana kebudayaan yang tidak menghormati keberagaman akan berefek pada penindasan terhadap perempuan. Perempuan-perempuan lokal misalnya akibat peraturan yang menyeragamkan dalam cara berbusana dan menganggap tubuh perempuan adalah sumber maksiat, mereka menjadi pihak yang terstigmatisasi atau dianggap bersalah karena cara berpakaian mereka yang lokal, yang tidak mengikuti mainstream kebijakan. Ini baru salah satu persoalan hubungan antara menghormati keberagaman dengan posisi perempuan.

 

Dalam rangka menyukuri 13 tahun berdirinya Yayasan Jurnal Perempuan, kami ingin menggali kembali nilai-nilai keberagaman tersebut yang kami wujudkan dalam bentuk Diskusi Publik yang mengambil tema “Merayakan Keragaman”, sebagai bentuk syukur kita terhadap keberagaman yang sudah hidup di Indonesia, dan 13 tahun usia Yayasan Jurnal Perempuan.

 

Kontak Azizah: 0818-064-88- 463, azizah@jurnalperemp uan.com www.jurnalperempuan .com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: