Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya Jenazah Sri Puji Astuti

SIARAN  PERS
Institute for Migrant Workers (IWORK) dan LBH Buruh    Migrant IWORK

                Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya  Jenazah Sri Puji Astuti, Buruh Migran Perempuan Korban Traficking di Arab
Saudi

                            Sudah dua bulan berlalu, kematian Buruh  migrant Perempuan Sri Puji Astuti di Arab Saudi masih menjadi misteri.  Seperti pengaduan pihak keluarga Sri Puji Astuti (38th) asal RT 03 RW 04 Linggapura, Tonjong, Brebes, Jawa Tengah dikabarkan meninggal dunia di  Rumah Sakit King Abdul Azis Jeddah tanggal 8 Mei 2008 lalu. Sri Puji  Astuti sebulan sebelumnya pernah memberi kabar kepada pihak keluarga bahwa  ia dalam pelarian dari rumah majikannya karena tak tahan disiksa. Dan  sempat ditangkap oleh Polisi Arab Saudi sebelum diserahkan ke sebuah  penampungan milik orang Indonesia . Almarhumah juga sempat menceritakan  bahwa di penampungan tersebut terdapat ratusan orang yang nasibnya  serupa dengan dia. Sebelum di meninggal almarhumah mengeluhkan sakit di  bagian uluhati akibat tendangan dan pukulan dari majikannya. Dipenampungan  tersebut BMI mayoritas mereka adalah pelarian yang ditampung, dan  selama dipenampungan dikenakan biaya perhari sebagai ganti uang makan dan  tempat tidur. Dalam proses upaya permohonan pemulangan jenazah dan  pemenuhan hak-hak Sri Puji Astuti oleh pihak keluarga, pihak perwakilan RI di  Jeddah ternyata bersikap sangat lamban. Dari Laporan yang dikirimkan  LBH Buruh Migran IWORK pada tanggal 9 Mei 2008 dan beberapa kali kontak  lewat telphone, baru pada tanggal 7 Juli 2008 balasan dikirim dan  menyatakan bahwa Jenazah Sri Puji Astuti tidak ada di RS King Abdul Azis,
dan sampai hari ini tidak diketahui ada dimana dan pihak mana yang secara  sepihak memakamkan jenazah tersebut. Informasi ini sedikit berbeda  dengan informasi yang di dapatkan keluarga, pada sekitar tanggal 17 Juni  2008 keluarga mendapat telephone dari salah seorang teman Almarhumah Sri  Puji Astuti yang menanyakan apakan pihak keluarga masih mengurus  kepulangan Jenazah karena sudah terlalu lama di Rumah Sakit, dan pihak  keluarga menjawab masih dalam proses pengurusan.

                            Kematian Sri Puji Astuti menambah panjang  deretan kasus kematian BMI di luar Negeri. Antara January-Juni 2008 ini  Institute for Migrant Workers (IWORK) mencatat telah 57 BMI meninggal
dunia. Ini menunjukkan bobroknya sistem penempatan dan perlindungan BMI . BMI yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan mendapat  penyiksaan terpaksa harus melarikan. Akibat minimnya informasi dan perlindungan  yang diterima oleh BMI , mereka tak tau harus berlindung kemana.
Setelah mereka berhasil keluar dari sarang Harimau,  banyak dari mereka yang  terperangkap ke mulut buaya, di tampung oleh agency untuk dijual  kembali ke majikan baru dengan resiko yang sama atau di tampung oleh  penampungan-penampungan illegal yang terindikasi melakukan tindak pidana
Trafficking, seperti pada kasus Sri Puji Astuti . Lemahnya pemantauan  keberadaan BMI di Luar negeri oleh KBRI di Negara-negara tempat bekerja  menyebabkan lemahnya perlindungan BMI ketika mereka bekerja. Padahal didalam  undang-undang 37 Tahun 1999 pada pasal 18 – 21 dinyatakan tugas dari  Perwakilan RI diluarnegeri yang antara lain melindungi dan membantu  apabila WNI di Luar negeri menghadapi masalah hokum dan yang  membahayakannya bahkan wajib memulangkan atas biaya Negara. Undang-undang 39 tahun  2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada pasal  78 juga menyebutkan tugas perwakilan RI di luar negeri untuk melindungi  BMI pada saat mereka bekerja.

                            Untuk itu Institute for Migrant Workers dan  Lembaga Bantuan Hukum Buruh Migran sebagai kuasa Hukum dari Keluarga  Almarhumah Sri Puji Astuti menuntut :

1.. Segera Usut keberadaan Jenazah Sri Puji Astuti,  Kemudian segera Pulangkan
2.. Berikan Hak-haknya sebagai Buruh Migran ; Gaji,  Santunan dan Asuransi

 3.. Pemerintah harus meminta pihak kepolisian Arab  Saudi mengusut Tuntas sebab  kematian Almarhumah Sri Puji Astuti

4.. Berantas penampungan-penampungan illegal sarang  kejahatan Trafficking dan Perbudakan
5.. Pemerintah harus mengevaluasi dan menghentikan  Pengiriman BMI ke Negara-negara pelanggar HAM Migran.
6.. Berikan Perlindungan yang menyeluruh kepada Buruh Migran

                STOP PELANGGARAN HAM BURUH MIGRAN !

                Jakarta , 15 Juli 2008

                Yuni Asriyanti , S.H.I (0817256872)               
Yudho Sukmo Nugroho, S.H (0818189964)

                Direktur IWORK LU Jakarta                             
         Direktur LBH Buruh Migran

Iklan

2 Tanggapan

  1. harus di usut tuntas soal hilangnya TKW ini. Masak cuman Munir saja yang getol diselidiki?

  2. Mengapa Arab, negara tempat lahirnya negara Islam masih menjalankan praktek trafiking, sedang ajaran Islam sendiri melarang praktek perbudakan dan kejahiliyahan. Kasus ini harus diusut sampai tuntas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: