Umat Parmalim Kesulitan Identitas


http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/18/ 00063834/ umat.parmalim. kesulitan. identitas

Toba Samosir, Kompas – Umat Parmalim hingga kini masih belum diakui secara administrasi sebagai keyakinan di Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan mereka sulit masuk ke instansi resmi, terutama
pemerintahan. Mereka kerap terpaksa menerima identitas lain dalam urusan administrasi.

”Sangat sulit memperoleh KTP. Aparat pemerintah tidak mau mengakui kami sebagai pemeluk Parmalim. Mereka baru memberi KTP jika kami mengakui salah satu dari agama yang diakui pemerintah,” kata Relita
boru Manurung (26), Kamis (17/7), ditemui saat ritual sipaha lima di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Relita yang juga lulusan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan itu sulit mencari kerja. Dia kerap ditanya soal identitas agama yang menurutnya tidak ada hubungannya dengan
pekerjaan yang dicarinya. Kini dia terpaksa memilih salah satu agama yang diakui pemerintah.

”Saya meminta agama ditulis Parmalim, tetapi tidak diakui petugas,” katanya. Soal pendidikan, dia terpaksa menempuh pelajaran agama yang diakui pemerintah.

Kesulitan yang sama dialami oleh Aman Sirait (47). Dia yang kini sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Bagian Organisasi Kabupaten Serdang Bedagai mengisi kolom agama yang diakui pemerintah. ”Saya
pilih yang mudah saja. Saya tetap menjadi Parmalim bersama keluarga dari dahulu,” katanya.

Kendati demikian, identitas Parmalim sempat tercantum di surat pengangkatan PNS. Sementara ini cukup melegakannya meski identitas itu hanya tercantum di SK PNS saja. Dia menginginkan pemerintah bersikap
adil kepada semua pemeluk agama, termasuk menjamin kebebasan beragama.
”Selain soal identitas agama, kami masih belum leluasa mendirikan tempat ibadah. Ada umat lain yang keberatan saat kami mendirikan tempat ibadah di Medan,” kata Aman Sirait.

Pimpinan Parmalim yang berpusat di Huta Tinggi, Raja Marnakkok Naipospos, mengatakan, umat Parmalim saat ini berjumlah sekitar 2.000 keluarga. Mereka tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang terkonsentrasi di Sumut. Pada peringatan sipaha lima (bulan kelima) kali ini mereka yang memeluk Parmalim berkumpul di Huta Tinggi melakukan ritual ibadah. Ritual ini berlangsung tiga hari sebagai ungkapan rasa syukur kepada Mula Jadi Nabolon (Sang Maha Kuasa).

Marnakkok mengatakan, soal identitas agama memang belum selesai. Persoalan identitas agama itu, katanya, lebih banyak dirasakan kaum muda. Mestinya pemerintah menghargai agama yang lahir, berkembang, dan dipeluk warga Indonesia sendiri.(NDY)

UNDANGAN: “Merayakan Keberagaman”


UNDANGAN

13tahun Yayasan Jurnal Perempuan (25 Juli 1995-25 Juli 2008)

“Merayakan Keberagaman”

 

Yayasan Jurnal Perempuan mengundang Anda dalam Diskusi Publik dengan tema “Merayakan Keberagaman” yang akan diselenggarakan pada:

 

Hari/tanggal      : Jumat, 25 Juli 2008

Waktu              : 18.00 WIB (diawali makan malam)

Tempat             : Le Mereiden Hotel, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 18-20, Jakarta

Narasumber     : KH Abdurrahman Wahid, Nia Dinata, Ignas Kleden,

              Mohamad Guntur Romli, Lies Marcoes-Natsir (Moderator)

 

Indonesia adalah negeri yang terbentuk dari keberagaman: budaya, agama, kepercayaan, etnik, adat-istiadat, tradisi dan bahasa. Elemen-elemen yang beragam ini bediri dalam posisi yang setara. Tidak satu pun, satu etnik, agama atau adat yang menjadi dominan dan berkuasa. Menyebut Indonesia, tidak bisa merujuk pada satu daerah, satu adat, atau satu agama. Indonesia adalah kumpulan dari keberagaman itu yang berjajar secara rapi, saling melindungi dan menghormati.

 

Indonesia tersusun dari warisan historis yang telah membentang sejak lama, dari warisan kepercayaan kuno; percaya pada kekuatan alam dan arwah, Hindu, Budha, Islam, Kristen, di setiap warisan itu pula, budaya hingga peradaban yang berdasarkan keyakinan, kepercayaan dan agama berdiri di Nusantara.

 

Warisan geografis juga memperkaya budaya dan adat istiadat Indonesia. Dengan sebutan Nusantara yang berarti “antara pulau-pulau (nusa)”, setiap kawasan dan daerah memberikan corak dan karakter tradisi yang bermacam-macam. Setiap daerah yang sering kali hidup suatu etnik, memiliki pandangan hidup, adat-istiadat, sistem sosial dan kepercayaan yang berbeda dari daerah yang lain. Inilah pengaruh alam dan lingkungan terhadap manusia yang menjadikan mereka berbeda-beda.

 

Begitu pula konteks kesetaraan dalam gender, hubungan antara lelaki dan perempuan yang dapat dikatakan sebagai keragaman jenis kelamin. Konteks ini memiliki korelasi yang sangat erat bagaimana kebudayaan yang tidak menghormati keberagaman akan berefek pada penindasan terhadap perempuan. Perempuan-perempuan lokal misalnya akibat peraturan yang menyeragamkan dalam cara berbusana dan menganggap tubuh perempuan adalah sumber maksiat, mereka menjadi pihak yang terstigmatisasi atau dianggap bersalah karena cara berpakaian mereka yang lokal, yang tidak mengikuti mainstream kebijakan. Ini baru salah satu persoalan hubungan antara menghormati keberagaman dengan posisi perempuan.

 

Dalam rangka menyukuri 13 tahun berdirinya Yayasan Jurnal Perempuan, kami ingin menggali kembali nilai-nilai keberagaman tersebut yang kami wujudkan dalam bentuk Diskusi Publik yang mengambil tema “Merayakan Keragaman”, sebagai bentuk syukur kita terhadap keberagaman yang sudah hidup di Indonesia, dan 13 tahun usia Yayasan Jurnal Perempuan.

 

Kontak Azizah: 0818-064-88- 463, azizah@jurnalperemp uan.com www.jurnalperempuan .com

Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya Jenazah Sri Puji Astuti


SIARAN  PERS
Institute for Migrant Workers (IWORK) dan LBH Buruh    Migrant IWORK

                Pemerintah Harus bertanggung jawab atas Hilangnya  Jenazah Sri Puji Astuti, Buruh Migran Perempuan Korban Traficking di Arab
Saudi

                            Sudah dua bulan berlalu, kematian Buruh  migrant Perempuan Sri Puji Astuti di Arab Saudi masih menjadi misteri.  Seperti pengaduan pihak keluarga Sri Puji Astuti (38th) asal RT 03 RW 04 Linggapura, Tonjong, Brebes, Jawa Tengah dikabarkan meninggal dunia di  Rumah Sakit King Abdul Azis Jeddah tanggal 8 Mei 2008 lalu. Sri Puji  Astuti sebulan sebelumnya pernah memberi kabar kepada pihak keluarga bahwa  ia dalam pelarian dari rumah majikannya karena tak tahan disiksa. Dan  sempat ditangkap oleh Polisi Arab Saudi sebelum diserahkan ke sebuah  penampungan milik orang Indonesia . Almarhumah juga sempat menceritakan  bahwa di penampungan tersebut terdapat ratusan orang yang nasibnya  serupa dengan dia. Sebelum di meninggal almarhumah mengeluhkan sakit di  bagian uluhati akibat tendangan dan pukulan dari majikannya. Dipenampungan  tersebut BMI mayoritas mereka adalah pelarian yang ditampung, dan  selama dipenampungan dikenakan biaya perhari sebagai ganti uang makan dan  tempat tidur. Dalam proses upaya permohonan pemulangan jenazah dan  pemenuhan hak-hak Sri Puji Astuti oleh pihak keluarga, pihak perwakilan RI di  Jeddah ternyata bersikap sangat lamban. Dari Laporan yang dikirimkan  LBH Buruh Migran IWORK pada tanggal 9 Mei 2008 dan beberapa kali kontak  lewat telphone, baru pada tanggal 7 Juli 2008 balasan dikirim dan  menyatakan bahwa Jenazah Sri Puji Astuti tidak ada di RS King Abdul Azis,
dan sampai hari ini tidak diketahui ada dimana dan pihak mana yang secara  sepihak memakamkan jenazah tersebut. Informasi ini sedikit berbeda  dengan informasi yang di dapatkan keluarga, pada sekitar tanggal 17 Juni  2008 keluarga mendapat telephone dari salah seorang teman Almarhumah Sri  Puji Astuti yang menanyakan apakan pihak keluarga masih mengurus  kepulangan Jenazah karena sudah terlalu lama di Rumah Sakit, dan pihak  keluarga menjawab masih dalam proses pengurusan.

                            Kematian Sri Puji Astuti menambah panjang  deretan kasus kematian BMI di luar Negeri. Antara January-Juni 2008 ini  Institute for Migrant Workers (IWORK) mencatat telah 57 BMI meninggal
dunia. Ini menunjukkan bobroknya sistem penempatan dan perlindungan BMI . BMI yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan mendapat  penyiksaan terpaksa harus melarikan. Akibat minimnya informasi dan perlindungan  yang diterima oleh BMI , mereka tak tau harus berlindung kemana.
Setelah mereka berhasil keluar dari sarang Harimau,  banyak dari mereka yang  terperangkap ke mulut buaya, di tampung oleh agency untuk dijual  kembali ke majikan baru dengan resiko yang sama atau di tampung oleh  penampungan-penampungan illegal yang terindikasi melakukan tindak pidana
Trafficking, seperti pada kasus Sri Puji Astuti . Lemahnya pemantauan  keberadaan BMI di Luar negeri oleh KBRI di Negara-negara tempat bekerja  menyebabkan lemahnya perlindungan BMI ketika mereka bekerja. Padahal didalam  undang-undang 37 Tahun 1999 pada pasal 18 – 21 dinyatakan tugas dari  Perwakilan RI diluarnegeri yang antara lain melindungi dan membantu  apabila WNI di Luar negeri menghadapi masalah hokum dan yang  membahayakannya bahkan wajib memulangkan atas biaya Negara. Undang-undang 39 tahun  2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri pada pasal  78 juga menyebutkan tugas perwakilan RI di luar negeri untuk melindungi  BMI pada saat mereka bekerja.

                            Untuk itu Institute for Migrant Workers dan  Lembaga Bantuan Hukum Buruh Migran sebagai kuasa Hukum dari Keluarga  Almarhumah Sri Puji Astuti menuntut :

1.. Segera Usut keberadaan Jenazah Sri Puji Astuti,  Kemudian segera Pulangkan
2.. Berikan Hak-haknya sebagai Buruh Migran ; Gaji,  Santunan dan Asuransi

 3.. Pemerintah harus meminta pihak kepolisian Arab  Saudi mengusut Tuntas sebab  kematian Almarhumah Sri Puji Astuti

4.. Berantas penampungan-penampungan illegal sarang  kejahatan Trafficking dan Perbudakan
5.. Pemerintah harus mengevaluasi dan menghentikan  Pengiriman BMI ke Negara-negara pelanggar HAM Migran.
6.. Berikan Perlindungan yang menyeluruh kepada Buruh Migran

                STOP PELANGGARAN HAM BURUH MIGRAN !

                Jakarta , 15 Juli 2008

                Yuni Asriyanti , S.H.I (0817256872)               
Yudho Sukmo Nugroho, S.H (0818189964)

                Direktur IWORK LU Jakarta                             
         Direktur LBH Buruh Migran

FILSAFAT BUAH


Filsafat Buah

 


1. Jadilah Jagung, jangan Jambu Monyet. Jagung membungkus bijinya yang
banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma
satu-satunya.
Artinya : Jangan suka pamer.

 


2. Jadilah pohon Pisang. Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu
mati.
Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

 

3. Jadilah Duren, jangan kedondong. Walaupun luarnya penuh kulit yang
tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. Beda dengan kedondong, luarnya
mulus, tapi rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.
Artinya : Don’t Judge a Book by The Cover… jangan menilai orang dari
Luarnya saja.

 


4. Jadilah Bengkoang. Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi isi
umbinya putih bersih.
Artinya : Jagalah hati, jangan kamu nodai.

 

5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan. Tandan pete membagi
makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang. Tidak seperti rambutan,
ada yang kecil, ada yang
gede.
Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

 


6. Jadilah Cabe. Makin tua makin pedas.
Artinya : Makin tua makin bijaksana.

 

7. Jadilah buah Manggis. Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.
Artinya : Jangan Munafik.

 


8. Jadilah buah Nangka. Selain buahnya, nangka memberi getah kepada
penjual atau yang memakannya.
Artinya : Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yang baik).