Tuan Manullang, Soekarno orang Batak



Tanggal 03 Jul 2008
Sumber Harian Terbit

 

ORANG Batak ternyata memiliki tokoh yang diberi gelar ‘Soekarno dari Tanah Batak’. Dialah Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang yang diberi gelar Tuan Manullang. Gelar itu diberikan kepadanya karena keberaniannya melawan imperialisme Belanda demi membela kehormatan rakyat Indonesia, terutama orang Batak.

Tak hanya itu, wawasannya yang luas dan kepiawaiannya dalam berpidato sehingga membuat semua orang yang mendengar pidatonya terpukau dan terkagum-kagum, Analis Dr Lance Castle memberinya gelar sebagai ‘Singa Mimbar’ dan menyebutnya sebagai ‘Soekarno orang Batak’.

Selain pahlawan perintis kemerdekaan bangsa Indonesia, Tuan Manullang juga tokoh pejuang pers nasional, karena dialah yang mendirikan surat kabar pertama di Tanah Batak dengan nama “Binsar Sinondang Batak (BSB) yang secara harfiah artinya Terbit Sinar-terang Batak”. Penerbitan surat kabar ini jelas bertujuan untuk melawan imperialisme Belanda yang menghambat kebebasan orang-orang Batak.

Tuan Manullang juga layak disebut sebagai tokoh pendiri gereja-gereja di Tanah Batak dan tokoh antaragama, karena hubungannya dengan tokoh-tokoh agama Islam dan lainnya sangat baik.

Kini, kisah perjuangan Tuan Manullang itu telah diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Tuan Manullang, Pahlawan Perintis Kemerdekaan Bangsa Indonesia & Pelopor Semangat Kemandirian Gereja Di Tanah Batak 1887-1979” yang ditulis oleh budayawan Batak Dr PTD Sihombing MSc, SPd.

“Peluncuran buku ini sekaligus menyambut 100 tahun usia Kebangkitan Nasional agar generasi muda, terutama anak-anak muda Batak bisa mengetahui semangat perjuangan beliau,” kata Dharma U Manullang, cucu Tuan Manullang usai peluncuran buku tersebut di Jakarta, belum lama ini.

Sejarawan LIPI, Dr Hermawan Sulistyo pada acara peluncuran buku mengatakan, melihat dari semangat perjuangan dan keberaniannya melawan penindasan imperialisme Belanda serta kemampuannya ‘membuka mata’ orang Batak untuk melawan penindasan, sangat layak jika Tuan Manullang disebut sebagai salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap Kebangkitan Nasional.

Penulis buku Dr PTD Sihombing juga menyatakan kagum dan salut pada perjuangan yang dilakukan Tuan Manullang. “Saya sangat terkesan dan mengagungkan sifat dan sikap patriotik Tuan Manullang yang tidak mengenal takut melawan imperialisme Belanda, demi membela kehormatan rakyat Indonesia, terutama orang Batak,” ujar Sihombing pada acara peluncuran buku itu.

Akibat keberaniannya itu, lanjut Sihombing, maka tak heran beliau berkali-kali ditangkap dan ditahan Belanda. “Sebagai orang Batak saya salut dengan perjuangannya selama ini. Namun beliau terkesan sebagai pahlawan pejuang yang terlupakan,” katanya.

Dosen UI yang juga mantan Dubes RI di Amerika Serikat, Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dalam kata pengantarnya pada buku itu menyebut perjuangan Tuan Manullang mencakup kegiatan untuk memajukan pendidikan anak-anak bangsa, menyikapkan praktek pemerasan penduduk pribumi oleh pemerintah kolonial Belanda, dan penentangan terhadap tekanan berat yang dilakukan kepada perjuangan politik kebangsaan dan masyarakat.

Tak hanya itu, kata Dorodjatun, Tuan Manullang juga berusaha merebut kebebasan dalam membentuk organisasi gereja nasional yang mandiri, menentang terhadap proses pemiskinan rakyat pribumi melalui ‘pencaplokan’ lahan pertanian dan tanah ulayat mereka oleh kaum imperialis.

“Akhirnya, perjuangan Tuan Manullang dan organisasi politik HKB (Hatopan Kristen Batak) yang dipimpinnya berhasil membuat sebagian besar Tapanuli tidak jadi dikonsesikan kepada para pemodal Barat,” tulis Dorodjatun dalam buku setebal 398 halaman.

Tuan Manullang turunan dari Si Raja Oloan yang lahir tahun 1887, tak tahan melihat penderitaan rakyatnya akibat penindasan Belanda yang kala itu membuat berbagai peraturan seenaknya. Kebijakan Belanda yang sangat mengekang kebebasan dan menindas orang Batak, jiwa pemberontakan Tuan Manullang bangkit. Maka sejak ketika tempat ia belajar di ‘Sekolah Anak Raja’ (SAR) di Narumonda Kab Toba Samosir, mau dibubarkan dan diganti menjadi sekolah guru Injil oleh pihak Zending, Tuan Manullang memberontak.

Meski masih berstatus pelajar, ia pun mengorganisir 120 orang rekan sekolahnya memberontak lewat aksi demonstrasi. Akibat perlawanannya itu, pada 1905 ia dipecat dari sekolahnya. Bukannya malah takut, Tuan Manullang terus melawan dengan mengatakan, “Inilah pemberontakan siswa yang pertama di Indonesia.”

Ia gak kehabisan akal, untuk melanjutkan perjuangannya, bersama temannya menerbitkan surat kabar ‘Binsar Sinondang Batak’ (BSB) pada 1906, dan merupakan surat kabar pertama yang terbit di Tapanuli. Kemudian pada 1919, Manullang menerbitkan surat kabar yang sudah lama diidamkannya, mingguan ‘Soara Batak’ denga motto “olahlah Tanahmu supaya tidak diambil Belanda”.

Penerbitan surat kabar itu tentu saja mengagetkan para pejabat Belanda kala itu karena isinya mengritik kesewenang-wenangan maupun penindasan Belanda terhadap warga Batak. Juga mengritik Zending RMG yang sudah melayani 55 tahun di tanah Batak, tetapi tetap saja memperlakukan gereja Batak sebagai monopoli.

Setelah diburu Belanda sehingga BSB gak terbit lagi, Tuan Manullang dan sejumlah rekannya mengasingkan diri ke Singapura, belajar di Senior Cambridge School Singapura (1907-1909). Usai belajar, mereka mendirikan sekolah Methodist berbahasa Inggris di Bogor dan beberapa lokasi di Jabar.

Berkat dukungan dari Abdul Muis, Haji Agus Salim dan HOS Tjokro Aminoto, dia kembali ke Tanah Batak dan mendirikan organisasi politik warga Batak Kristen pertama bernama ‘Haropan Kristen Batak’ (HKB) pada tahun 1917.

Karuan saja, HKB yang dipimpinnya seringkali berbenturan dengan Gubernur Jenderal Van Limbung Stirum yang berkuasa saat itu akibat protes-protes kerasnya.

Untuk memperluas dukungan, Tuan Manullang juga mengajak kaum perempuan terutama ibu-ibu petani desa untuk melawan penyiksaan Belanda terhadap kaum perempuan. Soalnya, penyiksaan terhadap kaum ibu adalah sebagai penghinaan bagi ‘Bangso Batak’ yang sangat menghormati martabat kaum perempuan.

Pemberontakan terus dilakukannya, sehingga dia pun dipenjara selama 15 bulan di LP Cipinang Jakarta. Usai menjalani hukuman, Tuan Manullang kembali berjuang bergerilya langsung di bawah pimpinan Dr Ferdinand Lumbantobing, residen Tapanuli kala itu.

‘Singa Mimbar’ yang sudah berjuang sejak pendudukan Belanda, pendudukan Jepang, dan berlanjut pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia itu, menjalani masa pensiun dengan pangkat bupati pada usia 70 tahun.

Tuan Manullang, pahlawan perintis kemerdekaan wafat dalam usia 91 tahun dan 4 bulan di Jakarta, dan dimakamkan dalam upacara penuh kenegaraan di kampung halamannya, Silindung. Namanya kini diabadikan oleh Pemda Kab Tapanuli Utara pada seruas jalan di Kota Tarutung. (ali akbar)